<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454</id><updated>2011-04-21T15:32:02.153-07:00</updated><category term='Naskah Teater'/><category term='Reportase'/><category term='MAWALE MOVEMENT'/><category term='esei'/><category term='Cerpen'/><category term='Novel'/><category term='puisi'/><title type='text'>SASTRA MINAHASA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>119</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-9064456696695341159</id><published>2009-04-21T11:44:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.851-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Novel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerita Witho B. Abadi: "Golok Pembunuh Sapi" Bagian I</title><content type='html'>Kilatan halilintar yang diikuti pekikan guntur memanggil gumpalan awan hitam yang berkelebat menutupi langit. Di antara bayang-bayang pepohonan terlihat sebuah sosok bertudung hitam, seakan menyembunyikan identitas dirinya. Langkahnya cepat, namun sesekali terseok seolah menahan rasa sakit. Titik-titik merah mengikuti setiap jejak kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya ia terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menengadah ke langit yang semakin gelap. Tetesan air mulai berjatuhan dari angkasa. Ia mempercepat langkahnya. Dengan memaksakan diri ia menghentakkan kaki, melompat bagaikan melayang, menembus rimbunnya pepohonan. Ilmu kaki ringan yang mencengangkan. Pasti orang ini bukan orang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan turun teramat deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa menit, ia sampai di sebuah kuil kosong di penghujung hutan. Kuil ini sudah tua dan temboknya sudah banyak yang rusak. Warna di tembok itu sudah tak jelas lagi, tertutup lumpur di sana-sini. Papan nama kuil itu sudah patah menjadi beberapa bagian dan tak terbaca lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhenti sejenak, mengamati kuil itu, kemudian dengan perlahan dan hati-hati melangkahkan kakinya ke dalam. Kondisi di dalam kuil cukup mengherankan bila dibandingkan dengan keadaan luarnya. Meskipun lantainya banyak yang telah rusak, namun kondisi ruangannya terlihat rapi, seolah ada yang merawatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar, kembali terdengar bunyi guruh bersahut-sahutan dan kilatan halilintar yang tiada henti. Orang itu kembali memperhatikan sekitarnya dengan waspada. Tangannya bersiap di gagang pedang yang menyembul dari balik bajunya. Air bercampur darah menetes dari bajunya yang basah kuyup diguyur hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terseok-seok ia melangkah ke sudut ruangan, dimana terdapat bekas perapian. Di situ masih tersisa beberapa batang kayu bekas terbakar dan tumpukan jerami. Tampaknya kuil ini sering disinggahi orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merebahkan dirinya sejenak, mengatur nafasnya yang tersengal, kemudian menyalakan api. Saat ia membuka tudung dan bajunya untuk memeriksa lukanya, tampaklah bahwa ternyata ia adalah seorang gadis yang berparas jelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat sebuah sayatan yang cukup dalam merobek pinggangnya dan hampir merenggut nyawanya. Luka itu masih terus mengeluarkan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin yang bertiup dari kisi-kisi jendela kuil yang telah rusak membuat gadis itu meringis kedinginan dan mendekatkan diri ke perapian. Ia terbaring di samping perapian, kelelahan, dan lemah karena kehilangan banyak darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah suara tawa cekikikan. Dengan gerak refleks ia menyambar pedangnya dan berdiri dengan wajah meringis menahan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa disitu?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah loteng kuil yang gelap terdengar suara seorang laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ups!, ketahuan....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kau? Tunjukkan dirimu!!” suara gadis itu meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya keluar dari persembunyiannya, sang pengintip itu malah tertawa sejadi-jadinya, membuat gadis itu semakin waspada. Diambilnya sebilah kayu yang masih terbakar dari perapian dan melemparnya ke arah suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pengintip melompat, berkelit dari lemparan kayu bakar yang berapi-api itu. Ia mendarat tepat di depan si gadis dan mengelus wajahnya sambil tertawa kemudian melompat menjauh dengan gerakan salto di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa dipermainkan, si gadis segera mengayunkan pedangnya menyerang sang pengintip. Ilmu pedang gadis itu dapat dikatakan luar biasa, akan tetapi dalam keadaan terluka dan kelelahan gerakannya menjadi terbatas sehingga serangannya tidak efektif. Dengan mudah sang pengintip berkelit menghindari serangan gadis itu sambil terus tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa gerakan saja, kesadaran gadis itu mulai hilang. Langkahnya goyah dan ia terjatuh, pingsan. Sang pengintip dengan cepat menangkapnya sebelum tubuh gadis itu menyentuh tanah.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan gadis itu membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Ketika kesadarannya telah pulih, ia segera waspada dan beranjak bangun namun rasa nyeri di pinggangnya membuat ia harus kembali berbaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rasa nyeri di pinggangnya hilang, ia memandang sekeliling. Ia berada di sebuah kamar yang sederhana namun tertata rapi dan bersih. Cahaya matahari dari yang masuk dari jendela menandakan bahwa saat itu siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kamar terbuka dan seorang lelaki dengan tongkat di tangannya masuk membawa semangkok obat. Lelaki ini memiliki rambut dan janggut yang memutih, menandakan umurnya yang tidak muda lagi. Ia masuk sambil meraba-raba dengan tongkatnya, berjalan mendekati tempat tidur dimana gadis itu berbaring. Tongkat kayunya meliuk-liuk ke sana ke mari mencari jalan hingga akhirnya berhenti di dada gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm.... apa ini... kok kenyal...” gumannya sambil menusuk-nusuk dada gadis itu dengan perlahan dan penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat perlakuan seperti itu, si gadis melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu dada saya tahuuu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua itu terkejut dan mundur beberapa langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, kamu sudah sadar. Maaf saya buta, jadi tidak tahu kalau kamu sudah sadar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si gadis menggerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana saya?” tanya gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua-yang-buta itu duduk di samping si gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini rumah saya” katanya sambil menyodorkan mangkok berisi obat kepada gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minumlah dulu obat ini, biar kamu cepat sembuh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu menerima mangkok berisi obat itu dan meminumnya. Rasanya sangat pahit sehingga ia hampir muntah. Namun ia memaksakan diri menghabiskannya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa nama kamu?” tanya lelaki tua-yang-buta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namaku Cenderawasih. Aku biasa dipanggil Asih.” Jawab si Asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooh, nama yang bagus. Kalau saya biasa dipanggil Lukman”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asih tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda seorang tabib?” tanya Asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukman mengelus-elus jenggotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh.. semenjak saya buta, saya menjadi seorang ahli massage alias tukang pijit. Tapi sebelum itu saya pernah belajar ilmu pengobatan . . .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu mengangguk-angguk sambil meminum obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang semenjak saya buta, saya sering salah meramu obat sehingga banyak pasien saya yang mati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pfffffffffffff!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangkok di tangan gadis itu terlepas dan obat di mulutnya menyembur. Dengan terbatuk-batuk ia berusaha memuntahkan obat yang diminumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan khawatir, bukan saya yang meramu obat itu. Saya membelinya di apotik dekat terminal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oooh, maaf, saya kira....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa. Itu juga obat kadaluarsa yang saya beli setengah harga” kata Lukman sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hoeeekkk!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asih memasukkan jarinya sedalam mungkin ke dalam kerongkongannya, memaksa diri memuntahkan sisa-sisa obat yang terlanjur ditelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukman hanya tersenyum lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bah. Rasanya Asih ingin segera melompat dari tempat tidur dan pergi dari tempat itu saat itu juga. Entah mimpi apa dia saat pingsan hingga bertemu dengan orang tua yang aneh seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kalau boleh tahu, apakah anda yang menolong saya di kuil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Witho yang menolongmu dan membawamu ke sini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Witho? Siapa itu?” tanya Asih penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat Lukman menjawab pertanyaan itu, di depan pintu muncul seseorang laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu aku” kata laki-laki itu sambil menunjuk dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki bernama Witho itu adalah seorang muda yang tampan. Rambutnya panjang tergerai melewati bahunya. Di tangannya terpajang sebilah golok besar berwarna perak dengan batu-batu bulat berwarna merah di sepanjang sisi tumpulnya. di pangkal golok itu terdapat sebuah gambar tikus, dengan tulisan “Cap Tikus” yang melambangkan merek atau trademark dari pembuat golok itu. Di bagian tengah golok itu terdapat ukiran yang bertuliskan “WITHO PE GOLOK”. Di ujung golok itu terdapat sebuah stiker yang bertuliskan “Rp. 75000”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asih terpana dengan sosok di depannya. Orang inilah yang bertemu dengannya di dalam kuil. Hanya ada satu kata yang melintas dalam benak Asih; “Narsis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga yang mengganti bajumu” kata Witho dengan ekspresi dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Asih langsung tertuju pada baju di tubuhnya. Memang, ini bukan lagi bajunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan khawatir, aku tidak berbuat macam-macam . . .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Asih memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada juga sih... pegang-pegang sedikit... mumpung ada kesempatan...” ekspresinya yang tadinya dingin dan berwibawa berubah menjadi mesum diiringi tetesan air liur dari sudut bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Asih melotot ke arah Witho. Ingin rasanya ia melabrak laki-laki itu. Entah kutukan apa, begitu bangun dari pingsan, yang ditemuinya adalah dua orang aneh yang menjengkelkan. Tapi bagaimanapun juga, merekalah yang telah menyelamatkan dirinya. Setidaknya ia masih berhutang terima kasih kepada dua orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari luar terdengar keributan. Penduduk desa berkumpul di depan rumah Lukman sambil meneriakkan nama Witho. Lukman terkejut dan memandang Witho, namun karena ia buta, ia memandang ke arah dinding dapur. Wajah Witho yang tadinya mesum kini mengeras dan berubah menjadi serius. Senyum di wajahnya hilang berganti dengan ekspresi kejam. Asih bingung, tak mengerti apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saatnya membunuh” kata Witho dengan nada datar dan dingin, sambil berjalan keluar rumah dengan golok di tangannya, siap menumpahkan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi? Kemana ia pergi?” tanya Asih gugup. Ia merasakan ada sesuatu yang buruk telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, ia akan segera kembali” kata Lukman menenangkan Asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau istirahatlah, supaya cepat sembuh” lanjut Lukman sambil berjalan keluar kamar dengan tongkatnya meliuk-liuk mencari jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asih tak berkata apa-apa. Ia melongok ke luar jendela, mencari tahu apa yang terjadi namun kerumunan orang menghalangi pandangannya. Suara sabetan golok mendesah memecah teriakan dan sorak-sorai orang-orang yang berkerumun. Percikan darah berkelebat di udara yang membuat kerumunan itu mundur agar tak terkena percikan. Hembusan angin yang tadinya segar kini teracuni bau amis darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Asih bergetar hebat, dadanya sesak. Di hadapannya sedang terjadi sebuah pertumpahan darah yang ditonton layaknya sebuah hiburan. Sungguh, tempat apa ini . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memaksakan diri melompat keluar jendela dan berlari ke arah kerumunan itu dengan teriakan histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhentiiiiiiiiiiiiiiiii...!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorak-sorai itu terhenti dan semua mata memandang ke arahnya, ia menyeruak diantara kerumunan itu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia terjatuh ke dalam genangan darah dan di hadapannya tampaklah sebuah pemandangan yang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Witho berdiri dengan gagah menyandang goloknya yang berlumuran darah. Di hadapannya terbaring 3 sosok yang tak bernyawa lagi dengan isi tubuh yang berceceran di tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tak salah lagi, Witho baru saja membantai 3 ekor sapi yang tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan tadi membuat energi Asih terkuras habis, tubuhnya lunglai dan ia jatuh pingsan di antara sapi-sapi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://witho-sang-pembual.blogspot.com/2009/04/golok-pembunuh-sapi-bagian-i.html"&gt;Golok Pembunuh Sapi Bagian I&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-9064456696695341159?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/9064456696695341159/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/04/cerita-witho-b-abadi-pembunuh-sapi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/9064456696695341159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/9064456696695341159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/04/cerita-witho-b-abadi-pembunuh-sapi.html' title='Cerita Witho B. Abadi: &amp;quot;Golok Pembunuh Sapi&amp;quot; Bagian I'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-4922967626792140584</id><published>2009-04-14T20:52:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.862-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Greenhill G. Weol: "Mari Gabung (R)evolusi Linux!"</title><content type='html'>Membuat Linux Lebih Baik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kader Linux,  seandainya ada partai Linux pasti sudah saya contreng, tetapi maaf, pada tulisan ini saya malah akan berusaha mengungkap kelemahan-kelemahan dari Linux. Tulisan-tulisan tentang Linux biasanya hanya mengungkap kelebihan-kelebihan, memuji habis-habisan, atau paling-tidak bersikukuh bahwa Linux adalah OS yang paling simpatik. Sering saya menemukan tulisan-tulisan di web yang isinya melulu sentimen yang tidak sehat terhadap Windows. Ini menurut saya justru kontra-produktif. Tulisan ini saya buat di Linux, memakai OpenOffice, jadi saya bukan pro-Windows, maniak Windows, apalagi hooligan Windows. Tulisan ini juga bukan untuk mengajak pembaca memandang masalah ini secara objektif, malah menginginkan kita, pengguna Linux, menjadi sangat subjektif. Saya akan memprovokasi anda dengan beberapa pengibaratan: Jika sebuah OS bisa diibaratkan oksigen, maka hampir semua kita harus mengakui bahwa sewaktu kita pertama mengenal komputer, kita menghirup udara yang bernama Windows (atau DOS yang adalah setali tiga uang). Atau, jika sebuah OS itu layaknya bahasa, agak sulit menepis fakta bahwa mother tongue kita adalah Windows. Bahkan, walau mungkin mengada-ada, bisa jadi Windows adalah cinta pada pandangan pertama kita! Saya sendiri sulit untuk berkata I hate Windows keras-keras, padahal saya tahu bahwa Windows itu “tidak fair”, “kapitalis”, atau malah “jahat”. Namun, susah disangkal bahwa kita semua terlibat hate-love affair dengan Windows, setidaknya kita berhutang sesuatu kepada Bill Gates. Saya sendiri, sejujurnya, satu tahun terakhir ini ber-dual boot Ubuntu – Vista. Namun akhir-akhir ini saya dipusingkan oleh sebuah pertanyaan yang saya pertanyakan kepada diri sendiri: sebenarnya apa yang kurang dari Linux sehingga saya seolah tak mampu melupakan Windows? Pikiran ini begitu membebani sehingga akhirnya menjadi titik berangkat menulis tulisan ini, anggaplah sebagai sebuah sesi confession dalam sebuah kelompok rehabilitasi.&lt;br /&gt;Saya baru memiliki komputer sendiri sekitar lima tahun lalu. Oleh toko, komputer rakitan saya diinstali Windows XP ilegal. Saya ingat betul, RAM yang terinstal hanya 128 mb, berhubung komputer paket hemat. Pakai prosesor apapun, running Windows XP dengan RAM seperti itu pasti terasa lambat, kecuali hanya untuk putar musik dan mengolah kata. Opsi upgrade memori masih terhalang mahalnya modul RAM pada saat itu untuk ukuran kantong seorang mahasiswa. Belum lagi keluar dari kesulitan memori terbatas, tantangan berikut adalah mendapatkan software tambahan untuk keperluan-keperluan khusus semisal edit video, olah gambar, dan lain-lain. Alkisah, saya mulai berburu software ke teman-teman yang lebih dulu punya komputer pribadi. Saya pinjam CD-CD mereka, dan dengan modal CD kosong di-kopilah setumpukan software ilegal tersebut. Begitulah, tahun-tahun pertama berkomputer saya habiskan dengan cara yang 'pra-sejarah': berburu dan meramu! Sebenarnya ini tidak terlalu menarik untuk diceritakan karena anda mengalami hal yang sama, bukan? Tetapi, tunggu. Ada sebuah 'penemuan' yang kelak membawa saya memiliki kesempatan menuliskan kisah ini untuk anda. Setelah kurang-lebih tiga tahun menjadi 'manusia purba', suatu ketika, di antara tumpukan CD pinjaman yang diambil sekenanya dari seorang teman, saya temukan terselip sebuah CD yang setelah dieksplor ternyata tidak berisi satupun software. Sebuah CD merah dengan tulisan enigmatik: Ubuntu. Pendek cerita, saya kemudian mencoba banyak distro Linux. Beberapa diantaranya sangat bagus, sementara yang lain, bukan jelek, mungkin hanya tidak cocok untuk saya saja. Karena memiliki kecenderungan untuk 'cinta pada pandangan pertama', saya jadi lebih nyaman dengan Ubuntu (walaupun sebenarnya amat tertarik pada kecantikan Mandriva). Varian-varian Linux mini macam DSL dan Slax sebenarnya juga amat menarik karena tidak boros resource. Untuk Linux live USB saya pilih Slax. Ironis memang, justru setelah telah punya laptop berprosesor high-end dengan RAM 4 giga, saya menggunakan OS yang seharusnya saya gunakan empat-lima tahun lalu, andai saja saya kenal Linux lebih awal. Tetapi toh, kembali pada kejujuran, saya masih saja 'menyimpan' kekasih lama: CD installer Windows.&lt;br /&gt;Tak bisa disangkal, dunia hari ini adalah dunia yang cenderung menilai segalanya dari tampilan. GUI dalam OS bisa menjadi daya tarik yang luarbiasa, baik dari segi kemudahan maupun keindahan. Untunglah, Linux yang text-based sudah menjadi sejarah. Tidak perlu lagi menjadi seorang 'kutu kode' untuk mengoperasikan Linux. Sekarang fungsi terminal dan sejenisnya telah banyak tergantikan oleh interface yang lebih user-friendly. Malah, tampilan Linux sekarang tidak bisa dikatakan jelek. Kita punya Compiz yang menyimpan banyak 'sihir' untuk membelalakkan mata bahkan untuk seorang pengguna OS Mac sekalipun. Tetapi Linux punya masalah klasik tentang dukungan driver, salah satunya terhadap driver graphics, yang menyebabkan tidak di semua komputer bisa tercipta keindahan ala Linux (atau perlu proses panjang dan rumit, malah bisa gagal instal, seperti pada kasus chipset SIS). Lebih jauh, game yang adalah salah satu daya tarik dunia komputer yang terbesar harus menjadi warga negara kelas dua di Linux karena masalah di atas. Wine, PlayOnLinux, dan emulator Windows API lainnya masih dalam penyempurnaan, sementara saya sedang ketagihan main CS. Untunglah masih ada dual-boot…&lt;br /&gt;Ubuntu punya repository software yang melimpah, semua orang tau itu. Varian-varian Linux yang lain sebenarnya juga tidak kalah. Macam software yang tersedia juga lengkap, mulai dari pengelola resep makanan sampai meng-hack paswor WPA. Hampir semua software populer Windows memiliki match-nya di Linux, dengan kwalitas yang cukup baik. Penciptaan softwarenya pun terus berlangsung, mulai dari sumber resmi sampai yang community-maintained, dari seluruh dunia pula. Pokoknya semua tersedia gratis on-line. Tunggu! On-line? Aduh, jika anda punya koneksi internet yang tidak lelet, atau punya DVD Repo, pasti semuanya semudah satu-dua-tiga. Tetapi jika tidak? Ubuntu 8.10 out-of-the-box saja perlu codec multimedia yang harus diunduh dulu, untuk dapat memainkan file mp3 anda. Anda bisa saja berkunjung ke warnet terdekat dan menggoogle software yang anda butuhkan, tetapi kemudian jika yang anda temukan adalah sorce code atau paket yang perlu di-compile lagi sebelum bisa digunakan, pekerjaan bisa jadi panjang, untuk seorang advanced user sekalipun. Memang Linux punya 'exe'nya sendiri macam paket deb di Ubuntu yang memangkas keribetan, tetapi masih ada benturan jika dependensinya ternyata belum komplit. Eksekutabel Windows saya telah menumpuk puluhan CD. Perlu sebuah fungsi, tinggal cari, instal, dan kerja.  Rupa-rupanya faktor ketersediaan software masih sangat berpengaruh karena lagi-lagi saya mesti berpaling pada Microsoft...&lt;br /&gt;Linux is Freedom, begitu bunyi slogan yang sangat sering kita dengar. Kehadiran Linux adalah untuk memberikan kebebasan kepada pengguna PC untuk memilih dan juga mencipta apa yang mereka inginkan. Tidak salah, memang kebebasan memang layak diperjuangkan oleh, untuk, dan bagi siapa saja di dunia ini. Namun, kebebasan hanya akan benar-benar berarti serta berguna buat seseorang yang telah tau akan berbuat apa dengan kebebasannya itu, serta siap menerima konsekuensi-konsekuensinya. Perkaranya jadi lain buat orang yang tidak tau. Kebebasan, malah, bisa berarti chaos. Eksistensi Linux yang serba beragam  semestinya menjadikan kebebasan jadi sebuah nilai lebih bagi Linux. Tetapi kebebasan disini dapat menjadi kelemahan. Bagaimana bisa? Begini: Windows saja, dengan varian-variannya yang bisa dihitung dengan jari, GUI yang cenderung tak banyak perubahan (kecuali tambahan transparansi dan animasi) dan punya life-cycle bertahun-tahun itupun oleh pengguna PC umum sudah dibilang rumit. Nah, Linux dengan naturenya memberi kebebasan pilihan, yang hadir dengan beragam opsi, dari ragam distro sampai ragam desktop environment, menjadi kelihatan lebih rumit bagi banyak orang. Anda mungkin kemudian mengatakan bahwa Linux memang adalah sebuah media pembelajaran, agar yang tidak tau menjadi lebih tau. Linux seharusnya menjadi sarana memperkaya pengetahuan, menjadi batu gerinda otak. Itu benar dan saya juga berpikir demikian. Tetapi marilah kita jujur melihat kondisi mayoritas pengguna PC hari ini. Setelah membeli sebuah komputer, kebanyakan orang menginginkan sebuah PC itu bekerja untuk mereka, bukan sebaliknya. Komputer diinginkan sebagai sesuatu yang intuatif dan mudah dioperasikan, bukan sesuatu yang membuat  mereka mengkerutkan alis mata. Komputer bagi kebanyakan pengguna adalah sebuah alat untuk membuat hidup menjadi lebih mudah, bukan malah sebaliknya. Harus diakui, dalam memberikan kemudahan bagi penguna umum, Linux masih ketinggalan dibanding Windows. Kita jangan melupakan fakta bahwa pada produk teknologi kemudahan penggunaan adalah salah satu hal yang menentukan dan menjadi pertimbangan konsumen. Konsumen rela membayar mahal asalkan mereka mendapatkan kemudahan dan kenyamanan. Itulah penyebab mayoritas pengguna PC di dunia tetap menginstal Windows, walau bajakan, ketimbang Linux yang sudah legal, gratis lagi, dengan performa setara, bahkan lebih dari Windows dalam banyak hal. Namun, kelebihan Linux dibanding Windows sayangnya amat berhubungan dengan kemampuan pengguna (atau teknisi) untuk mengidentifikasi apa yang dibutuhkan, dari mana yang dibutuhkan itu bisa diperoleh, serta kemampuan mengetikkan jawaban-jawaban berupa beberapa baris bahasa biner dalam terminal. Rupanya, lebih banyak orang merasa lebih baik melanggar hukum atau merogoh kantongnya dalam-dalam asalkan tetap bisa point and click. Begitulah, sangat natural bagi manusia untuk menginginkan kemudahan. Teknologi memang diciptakan untuk memberikan kemudahan-kemudahan. Ada sebuah kisah tentang kemudahan yang saya alami belum lama berselang ini. Beberapa waktu lalu, seorang sahabat meminta saya membantunya untuk membangun sebuah warnet kecil-kecilan di rumahnya. Saya setuju membantu, asalkan hanya pada bagian merakit CPU dan menginstal OS, karena sejujurnya hanya itu yang saya bisa. Karena saya tidak bisa membangun jaringan, saya rekomendasikan seorang teman yang lulusan TI. Dalam sehari saja seluruh pekerjaan yang menjadi bagian saya telah selesai. Unit-unit telah terakit lengkap dengan OS yang super lengkap, hasil remaster dari Ubuntu. Tinggal menunggu 'orang jaringan' itu untuk datang menyambung-nyambung kabel dan jreng! Saya menyangka semua teknisi yang terdidik secara formal dan mampu membangun jaringan berbasis Windows akan mampu pula membangun jaringan berbasis Linux. Ternyata ia ‘buta’ Linux, jadi kelanjutannya mudah ditebak. Karena pemilik menginginkan kemudahan, sebagai konsekuensi warnetnya itu harus buru-buru tutup jika terdengar akan ada razia Windows. CD kopian Windows XP saya telah kembali menunaikan tugasnya...&lt;br /&gt;Begitulah kenyataan-kenyataan Linux yang saya hadapi. Silahkan anda menambahkan bagian anda. Namun, seharusnya kita tidak berhenti sampai di sini. Semua hal yang saya tulis di atas bukanlah untuk mereduksi Linux, justru sebaliknya, mengajak kita berpartisipasi bersama untuk membuat Linux menjadi lebih baik. Sebuah sesi kelompok terapi tak lengkap tanpa memberi ruang untuk prasaran, tentu saja menurut ideal masing-masing. Saya bukan pakar komputer, apalagi pakar Linux, saya hanya seorang sastrawan yang menggunakan Linux dalam berkarya. Mudah-mudahan sumbang saran saya berikut ini bisa diterima:&lt;br /&gt;Hari lepas hari Linux sudah semakin populer, terima kasih kepada Graphical User Interface yang semakin intuitif. Penggunaan Linux sebenarnya cukup sederhana untuk dipahami, asalkan dibiasakan. Alangkah baiknya jika pengunaan Linux bisa semakin luas dalam dunia pendidikan formal seperti SMP dan SMA (kalau memungkinkan Pre-School dan SD). Selain bisa mengajarkan tentang 'taat hukum' dengan tidak menggunakan produk bajakan, itu akan memperkenalkan Linux lebih dini kepada anak-anak usia sekolah yang masih punya daya ingat kuat. Sederhananya, mereka jadi tau bahwa selain Windows ada juga Linux, dan kemudian belajar mengoperasikannya, dan terlahirlah sebuah generasi yang selain melek huruf, juga melek Linux! Tidak heran jika di depan hari banyak yang akan menjadi operator, bahkan teknisi Linux yang handal. Linux memang bagian dari masa depan. Tinggal bagaimana para pengambil keputusan dalam Dunia Pendidikan Formal untuk menempatkannya dalam blue print bahan pembelajaran. Akan sangat menolong jika Linux dimasukkan kedalam Kurikulum Nasional, namun jika hal ini masih perlu perjuangan panjang, guru-guru mata pelajaran Komputer dapat memperpendek jalur dengan menyelipkan pembelajaran Linux. Secara informal pun sosialisasi Linux bisa dilaksanakan. Seminar-seminar tentang Linux sebaiknya lebih banyak diselenggarakan. Pelatihan-pelatihan Linux lebih gencar dilaksanakan. Linux User Group lebih banyak lagi dibentuk dan berperan. Forum-forum Linux di internet diperbanyak, yang telah vakum dihidupkan kembali.  Tulisan-tulisan berupa artikel, esei, atau opini tentang Linux diperbanyak. Jika memungkinkan, karya sastra – puisi, prosa, dan drama, dapat ditulis dengan menyelipkan penggambaran Linux. Lebih beragam media yang digunakan, akan lebih luas pengaruhnya.&lt;br /&gt;Fokus lanjut adalah kepada ketersediaan software. Saya tau ini tidak mudah, software-software Linux kebanyakan merupakan 'peghabis waktu senggang' dan 'proyek rumahan' dari para programer. Walau demikian, saya yang hanyalah pengguna Linux, selalu merasa bahwa orang-orang ini, para programer dan pengembang Linux, adalah tidak kurang dari para saint dan tidak lebih dari malaikat. Untuk karya yang dihasilkannya, kebanyakan dari mereka tidak menerima bayaran. Banyak proyek-proyek software Linux mengumpulkan dukungan dana lewat donasi dan dari berjualan kaos. Proyek-proyek software libre – open source sebenarnya mendapatkan bahan bakar hanya dari satu faktor: semangat. Tinggal bagaimana kita membantu mengobarkan semangat mereka.  Ada beberapa cara yang menurut saya dapat kita lakukan. Pertama, dengan mendownload hasil karya mereka, bahkan yang masih dalam versi beta sekalipun. Rating download bisa membuat pengembang merasa diperhatikan dan dihargai, serta versi-versi beta yang kita coba dapat membantu penyempurnaan sebuah proyek melalui feedback laporan bug dan saran-saran. Kedua, dengan membeli merchandise.  Ada sebuah ungkapan: “if you really love a project, then for goodness sake, buy a T-shirt!”. Ini agak rumit bagi yang berada di belahan berbada dari dunia, namun mereka yang punya kartu kredit sebenarnya tidak sulit. Nah, jika para pengembang sudah merasa didukung, saya pikir tidak akan menunggu lama untuk munculnya software-software baru yang berkwalitas. Mungkin juga, jika keadaan semakin membaik, para pengembang dapat duduk bersama dan menyatukan kepala mereka untuk memikirkan kemungkinan pengembangan software dengan cross-platform independent installer. Alangkah mudahnya jika semua eksekutabel Linux akan langsung terinstal tanpa perlu memusingkan dependensi, juga dapat langsung diinstal pada distro manapun, tanpa proses converting lagi. Jika standar universal dapat diadakan, tentunya tanpa mengganggu independensi antar-distro, sebuah (r)evolusi akan terjadi dalam dunia Linux, yang menurut saya akan membuatnya lebih baik.&lt;br /&gt;Di Windows saja kita sudah cukup kerepotan mengenai driver pada saat migrasi dari XP ke Vista. Paling-tidak nanti pada tahun kedua semenjak Vista RC mempublik barulah development driver dari manufaktur berhasil mengejar, padahal Vista adalah produk Microsoft, raksasa dengan kapital besar dan mengantongi perjanjian kerjasama dengan ratusan, malah mungkin ribuan, pengembang software dan manufaktur perangkat keras. Sebenarnya, permasalahan kompatibilitas perangkat keras di Linux membawa kita lebih jauh kepada permasalahan yang sangat fundamental. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dibalik ini semua? Saya bukan ahli ekonomi, ahli hukum, apa lagi ahli politik, namun saya cukup mampu melihat bahwa fakta Microsoft sebagai penguasa sebagian besar dari pasar OS di seluruh dunia adalah yang menciptakan ‘stagnasi’ dalam pengembangan yang intensif dalam soal dukungan software dan hardware terhadap Linux. Para pengembang software dan manufaktur perangkat keras tentu memilih mengembangkan dukungan terhadap OS yang paling populer, paling banyak market share, sebab akan lebih menguntungkan. Di lain pihak, Microsoft telah mengikat banyak dari pengembang software serta manufaktur hardware dalam kontrak-kontrak yang tentu saja berpihak kepadanya. Kemudian Microsoft ‘menyerang’ eksistensi dari proyek-proyek open source secara legal-formal dengan berbagai tuduhan pelanggaran hak paten. Selanjutnya, Microsoft ‘membelah’ dunia Linux dengan keberhasilannya ‘menggandeng’ SUSE Linux. Tak heran, dalam menghadapi pihak-pihak yang dianggapnya mengancam eksistensinya, Microsoft memang menerapkan kebijakan Embrace, Extend, and Extinguish, sebuah skenario tua kolonialisme/kapitalisme. Sebuah perusahaan dengan kapital tak terbatas memiliki kekuasaan atas pasar yang dominan dan ingin mengkekalkan diri dengan cara apapun. Kekuasaan selalu dominatif, dominasi berarti ekspansi, ekspansi memaksa perpecahan,  perpecahan berujung pada penaklukan. Menurut hemat saya, sebagai sebuah firma yang mengejar profit, Microsoft tidak dapat begitu saja kita salahkan. Mempertahankan penguasaan pasar adalah hal yang lumrah bagi sebuah perusahaan yang berdagang produk, selama itu dilakukan dengan cara-cara terhormat. Jika pertarungan Linux vs Windows dapat digolongkan kepada perang produk, apakah karena Microsoft adalah sebuah korporat raksasa maka dengan mudahnya Linux akan kalah? Saya yakin tidak. Dalam sebuah peperangan, selama ada yang tetap bergerilya, perlawanan masih akan terus berlangsung dan kemenangan tinggal menunggu waktu. Bentuk ‘gerilya’ untuk konteks ini adalah dengan memperkuat komunitas-komunitas yang tetap berkarya serta mendukung Linux. Bentuk perlawanan berikut adalah dengan menciptakan produk-produk Linux yang lebih user-oriented. Permasalahan driver memang cukup kompleks dan serius,. tetapi jika masalah driver ini terpecahkan, misalnya, saya dapat mengkonek semua periferal (termasuk gadgets) dan bisa langsung operasional, atau main game tanpa diskriminasi FPS, dengan akselerasi video yang baik pula, atau teman-teman saya yang menggunakan laptop dengan chipset yang tidak disupport Linux tidak terhalang hang diawal instalasi, saya kira Linux bisa membuat tersenyum beberapa bibir lagi.&lt;br /&gt;Pada 25 Agustus 1991, Linus Torvalds, seorang mahasiswa Universitas Helsinki, mengumumkan untuk pertama kali kepada dunia tentang yang secara jujur diakuinya sebagai sesuatu yang 'dilakukan layaknya sebuah hobi' dan 'mungkin tidak akan besar'. Namun nyatanya Linux tidak hanya seumur jagung. Hari ini, Linux digunakan sebagai OS mulai dari perangkat genggam sampai superkomputer. Ini berarti bahwa dunia membutuhkan Linux, tidak hanya Windows. Memang, panji-panji perseteruan telah dikibarkan dan tak mungkin diturunkan lagi. Saya tau, banyak pendukung Linux yang ‘militan’, yang melakukan apa saja untuk mengkonfrontasi Windows, mulai dari memaki-maki di forum, sampai membuat artworks yang melecehkan pihak Windows. Namun, marilah kita menempatkan perseteruan ini menjadi sebuah perlombaan yang terhormat antara dua ‘bangsa’ yang berdaulat. Perlombaan yang seharusnya berakhir dengan pengakuan eksistensi dari masing-masing pihak. Saya harus katakan: Linux tidak bisa mengalahkan Windows.  Linux memang tidak untuk mengalahkan Windows. Sebaliknya, Windows tidak akan menghancurkan Linux, selagi semangat kita masih berkobar untuk mempertahankan kebebasan kita untuk memilih. Linux harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan Windows. Linux adalah alternatif yang dibutuhkan oleh dunia. Linux hadir untuk mengatakan bahwa pilihan telah kembali ke tangan kita. Karena semuanya telah di tangan kita, mari membuat Linux menjadi lebih baik. Mari gabung  (r)evolusi Linux!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-4922967626792140584?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/4922967626792140584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/04/esei-greenhill-g-weol-gabung-revolusi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/4922967626792140584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/4922967626792140584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/04/esei-greenhill-g-weol-gabung-revolusi.html' title='Esei Greenhill G. Weol: &amp;quot;Mari Gabung (R)evolusi Linux!&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-7297343942537158610</id><published>2009-04-06T00:57:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.873-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Diskusi Kebudayaan Mawale Movement</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/SdmyhyQHdCI/AAAAAAAAAlY/9dxdh8wbBeI/s1600-h/DSC02785.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/SdmyhyQHdCI/AAAAAAAAAlY/9dxdh8wbBeI/s400/DSC02785.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321480728209749026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdmyh6JoYFI/AAAAAAAAAlQ/Y62lrWdV10U/s1600-h/Image0149.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdmyh6JoYFI/AAAAAAAAAlQ/Y62lrWdV10U/s400/Image0149.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321480730330030162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/SdmyhkOXt3I/AAAAAAAAAlI/jCKR665SFzA/s1600-h/CIMG0012.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/SdmyhkOXt3I/AAAAAAAAAlI/jCKR665SFzA/s400/CIMG0012.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321480724444329842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdmyhh1CDZI/AAAAAAAAAlA/9JFS5LfZ6y4/s1600-h/PICT6530.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdmyhh1CDZI/AAAAAAAAAlA/9JFS5LfZ6y4/s400/PICT6530.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321480723801181586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/SdmyhiXCO2I/AAAAAAAAAk4/cv01P6ThGPM/s1600-h/PICT9111.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/SdmyhiXCO2I/AAAAAAAAAk4/cv01P6ThGPM/s400/PICT9111.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321480723943799650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dokumentasi dari diskusi-diskusi kebudayaan telah dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mo di batu, di kobong, di gedung, di klas, di ruma, di radio, di televisi ato dimanapun, tong yang muda-muda bicara tentang Minahasa Hari Ini!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-7297343942537158610?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/7297343942537158610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/04/diskusi-kebudayaan-mawale-movement.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/7297343942537158610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/7297343942537158610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/04/diskusi-kebudayaan-mawale-movement.html' title='Diskusi Kebudayaan Mawale Movement'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/SdmyhyQHdCI/AAAAAAAAAlY/9dxdh8wbBeI/s72-c/DSC02785.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-8372688039239847130</id><published>2009-04-06T00:56:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.882-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Diskusi Kebudayaan Mawale Movement (Lagi!)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0WaTQ_oI/AAAAAAAAAmA/mm7oaYPjcNY/s1600-h/Image138.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0WaTQ_oI/AAAAAAAAAmA/mm7oaYPjcNY/s400/Image138.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321482731825200770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0WB1S1yI/AAAAAAAAAl4/rO5L9iAgKOI/s1600-h/PICT0999.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0WB1S1yI/AAAAAAAAAl4/rO5L9iAgKOI/s400/PICT0999.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321482725257041698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0WKdvrrI/AAAAAAAAAlw/jNOun3pByDU/s1600-h/CIMG0033.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0WKdvrrI/AAAAAAAAAlw/jNOun3pByDU/s400/CIMG0033.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321482727574187698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0V-R_NSI/AAAAAAAAAlo/iVPfUCQ750Q/s1600-h/CIMG0004.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0V-R_NSI/AAAAAAAAAlo/iVPfUCQ750Q/s400/CIMG0004.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321482724303648034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0Vh543RI/AAAAAAAAAlg/Pwu6-5w2xdc/s1600-h/CIMG0006.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0Vh543RI/AAAAAAAAAlg/Pwu6-5w2xdc/s400/CIMG0006.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321482716686376210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-8372688039239847130?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/8372688039239847130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/04/diskusi-kebudayaan-mawale-movement-lagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8372688039239847130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8372688039239847130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/04/diskusi-kebudayaan-mawale-movement-lagi.html' title='Diskusi Kebudayaan Mawale Movement (Lagi!)'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WDKL1mNILR4/Sdm0WaTQ_oI/AAAAAAAAAmA/mm7oaYPjcNY/s72-c/Image138.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-427839480861703882</id><published>2009-04-05T23:24:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.890-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Freddy Sreudeman Wowor: "PEMUDA MINAHASA DAN PERUBAHAN ZAMAN".</title><content type='html'>Salah satu masalah mendasar yang kerap kali menghantui kaum muda minahasa adalah masalah kepercayaan diri. Masalah kepercayaan diri ini, menurutku terkait sekali dengan politik pencitraan yang dilakukan oleh para penguasa dari setiap zaman di sepanjang lintasan sejarah orang Minahasa.&lt;br /&gt;Pada zaman kompeni-hindia belanda misalnya, kita disebut sebagai orang-orang alifuru yang berarti orang-orang yang tidak beradab. Usaha pembentukan citra kita sebagai orang yang tidak beradab terutama dilakukan dengan mengeksploitasi leluri-leluri atau kisah-kisah masa lalu kita terutama yang terkait dengan soal asal usul yaitu kisah Lumimuut dan Toar. Kisah Lumimuut dan Toar sebagai persetubuhan antara ibu dan anak yang semula hanya merupakan salah satu versi dari sekian versi yang ada di dalam leluri-leluri para walian di seluruh wilayah Malesung kemudian ditetapkan oleh para ahli dari eropa sebagai versi yang dominan. Hal ini jelas tidak bisa dilepaskan dari politik kebudayaan kaum orientalis yang senantiasa menetapkan bahwa barat beradab dan timur tidak beradab, barat paling maju dan timur paling terbelakang. Politik kebudayaan yang senantiasa menempatkan segala hal pada posisi oposisi biner. Wacana yang memang menjadi landasan dari politik imperialisme.&lt;br /&gt;Pada zaman awal kemerdekaan, orang minahasa disebut sebagai antek-antek atau kaki tangan penjajah. Orang-orang yang makan roti belanda. Citra ini dibangun dengan landasan pemikiran bahwa selama masa penjajahan Belanda, orang minahasa menikmati status lebih dibandingkan bangsa-bangsa lain di masa itu. Hal ini dibuktikan dengan melihat banyaknya orang minahasa yang terpelajar dan kemudian menjadi pegawai di kantor-kantor milik pemerintah atau menjadi tentara. Kedudukan-kedudukan ini menempatkan orang minahasa secara ekonomi lebih mampu. &lt;br /&gt;Pada era pemerintahan orde lama dan orde baru, orang minahasa juga mendapat status baru sebagai kaum pengkhianat. Ini terkait dengan peristiwa piagam Permesta yang telah mengakibatkan peperangan dan korban baik manusia maupun materi. Politik pencitraan dimasa ini sangat terkait dengan usaha sistematis untuk membatasi peran orang minahasa di bidang sipil dan militer. &lt;br /&gt; Pertanyaan kemudian yang bisa dimunculkan adalah mengapa harus ada usaha-usaha pembunuhan karakter terhadap orang minahasa dan bagaimana sebenarnya perkembangan kaum muda maesa di setiap zaman ?&lt;br /&gt; Menurutku, adanya usaha-usaha pembunuhan karakter ini justru sangat terkait dengan kehadiran kaum muda. Munculnya generasi baru di setiap zaman berarti munculnya motor penggerak perubahan dari sebuah zaman yang baru. Munculnya  generasi baru  sangat menentukan kemajuan dan masa depan Minahasa, untuk itulah maka generasi baru ini harus dibuat kehilangan jati dirinya. Kehilangan identitasnya. Kehilangan rasa percaya dirinya. Sebab generasi yang telah kehilangan rasa percaya dirinya akan senantiasa hidup dalam kebimbangan dan tidak bisa lagi menentukan sikap. Ia akan selalu ikut arus tidak perduli arus itu akan membawanya ke dalam jeram kehancuran. &lt;br /&gt; Adapun perkembangan kaum muda maesa di setiap zaman adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pada zaman colonial, kaum muda minahasa banyak yang menjadi guru dan sangat berperan dalam proses pendidikan di seluruh wilayah nusantara. Dalam perkembangan kemudian, kaum intelektual yang dengan sadar mengambil kelebihan dari pengetahuan barat ini menjadi pelopor ideologis maupun praktis bagi perjuangan melawan penjajahan colonial belanda. Kita bisa menyebut antara lain, Ward Kalengkongan, ahli budaya yang kemudian menjadi sahabat dekat dan guru ideology dari Douwes Dekker Tokoh Nasionalis pendiri Indische Partij yang menuntut Hindia diperintah oleh Orang Hindia – Indie voor de Indier. F.D.J Pangemanann, pengarang dan pelopor pers, J.H. Pangemanan, pelopor pers dan pendiri Rukun Minahasa di Semarang. Sam Ratulangi, pelopor pers, futurolog. Ketua indische vereniging (Perhimpunan Indonesia). Arnold Mononutu, wakil Perhimpunan Indonesia di Prancis.&lt;br /&gt;Pada zaman kemerdekaan,kita bisa menyebut antara lain J.F Malonda, sastrawan dan filsuf, penulis buku Membuka Tudung Filsafat Purba Minahasa. Giroth Wuntu, penulis roman Perang Tondano, H.M Taulu, penulis sejarah Minahasa dan Kisah pingkan Matindas (Bintang Minahasa), Jappy Tambayong (Remi Silado) Seniman serba bisa&lt;br /&gt;Pelopor puisi Mbeling. Benni Matindas, penulis karya filsafat setebal seribuan halaman berjudul Negara Sebenarnya. Harry Kawilarang, wartawan dan penulis buku tentang terorisme internasional.&lt;br /&gt;Pada penghujung era Orde Baru juga muncul gerakan budaya melalui kegiatan sastra,teater dan musik melalui Teater Kronis Manado, KONTRA, dan Teater Ungu. Gerakan budaya ini kemudian bermuara pada apa yang sekarang dikenal sebagai Mawale Movement : Gerakan Membangun Tempat Tinggal. Gerakan yang bertolak dari penulisan karya sastra berbahasa Melayu-Manado dan juga bahasa minahasa, eksperimentasi teater dan musikalisasi puisi serta pembangunan basis dan jaringan kebudayaan di seluruh Sulawesi Utara lebih khusus lagi Minahasa, Minahasa Selatan Minahasa Utara, Tomohon dan Minahasa Tenggara.&lt;br /&gt; Apa yang bisa dijadikan permenungan dari kisah kaum muda Minahasa dari zaman dahulu sampai zaman sekarang adalah semangat untuk senantiasa menuntut pengetahuan yang lebih maju dan sikap kritis serta semangat kepeloporan untuk melakukan perubahan. Si Tou Timou Tumou Tou.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-427839480861703882?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/427839480861703882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/04/esei-freddy-sreudeman-wowor-minahasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/427839480861703882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/427839480861703882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/04/esei-freddy-sreudeman-wowor-minahasa.html' title='Esei Freddy Sreudeman Wowor: &amp;quot;PEMUDA MINAHASA DAN PERUBAHAN ZAMAN&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-130046364990075671</id><published>2009-03-30T20:09:00.001-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.904-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Puisi Frisky Tandayu: "Pinabetengan Nyanda Mati".</title><content type='html'>Masa so berganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinabetengan nyanda mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanda cuma ganti kuli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinabetengan harga mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma besar deng nasi milu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinabetengan nda pernah malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia so datang deng era baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinabetengan nda ragu-ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang kampung gantong capatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For mo sambut tu hari baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinabetengan musti maju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanda Cuma baganti baju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo datang bulan desember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma bete dengan saguer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pada Cuma for pamer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nentau kote orang koruptor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ragu bangun tu kampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masi banya tana di gunung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar makang nda nasi gunung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal nyanda utang malendong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinabetengan tanah lahirku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanda cuma sampe bakuku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari samua baku beking maju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torang samua nda cuma batu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-130046364990075671?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/130046364990075671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/03/puisi-frisky-tandayu-nyanda-mati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/130046364990075671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/130046364990075671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/03/puisi-frisky-tandayu-nyanda-mati.html' title='Puisi Frisky Tandayu: &amp;quot;Pinabetengan Nyanda Mati&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-5196109809742729605</id><published>2009-03-22T20:27:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.912-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Denni Pinontoan: "Melampaui Demokrasi".</title><content type='html'>Demokrasi sebagai Pengganti Monarkhi?&lt;br /&gt;Praktek awal sistem demokrasi dalam usaha menata kehidupan bersama sebuah masyarakat terutama dalam kehidupan negara-kota telah dimulai di Yunani, kira-kira pada abad 6 SM. Kebanyakan kita sudah tahu bahwa kata demokrasi ini berasal dari dua kata Yunani, yaitu demos dan kratein. Demos berarti orang banyak dan kratein berarti memerintah. Dalam pengertian umum, demokrasi adalah sistem pemerintahan yang mengedepankan aspirasi orang banyak atau rakyat kebanyakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam dalam tampilannya yang modern, sistem pemerintahan demokrasi disebut-sebut sebagai kritik terhadap kekuasaan absolut monarkhi. Demokrasi yang kita kenal sekarang, sejatinya adalah produk dunia modern. Reformasi Luther di abad 16, antara lain telah melahirkan semangat kritik, kemajuan dan subjektifitas. Semangat inilah yang kemudian melahirkan beragam pendekatan keilmuan, antara lain rasionalisme, empirisme dan positivisme. Berikut berbagai ideologi, seperti kapitalisme, sosialisme, komunisme dan nasionalisme, adalah juga produk dari modernisasi dalam hal berpikir tersebut. Hasil dari modernisasi berpikir ini antara lain munculnya Revolusi Amerika 1775-1783, Revolusi Perancis pada tahun 1789 serta Revolusi Industri di Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi yang dikampanye-kampanyekan dan digalak-galakan di Dunia Ketiga, seperti di Indonesia dewasa ini, pada dasanya adalah untuk melanjutkan idealisme pemikiran modern Eropa itu. Negara bangsa di Dunia Ketiga, pada proses kelahirannya kebanyakan terinspirasi dari ide-ide demokrasi yang berkembang sejak Revolusi Amerika, Perancis dan Industri Inggris tersebut. Oswaldo de Rivero dalam bukunya The Myth Of Development (2008), bahkan dengan tegas mengatakan, Revolusi Industri di Eropa dan Amerika itulah yang telah memberi sentuhan terakhir kepada  bentuk Negara bangsa yang dikenal sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan-gagasan dasar demokrasi yang dihasilkan oleh pemikiran modern Barat itu berkisar pada kebebasan, keadilan, perdamaian, dan persamaan hak. Bandingkan dengan apa yang kemudian terkenal dari Revolusi Perancis itu: persaudaraan, persamaan dan kebebasan. Yang mendahului revolusi-revolusi itu adalah sejumlah pemikiran-pemikiran kritis di kalangan filsuf, seperti Thomas Hobbes, John Locke, Montesquieu, Rosseau dan lain sebagainya. Tapi, apakah benar, idealisme demokrasi itu benar-benar nyata dalam prakteknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi dan Proyek Hegemoni Negara&lt;br /&gt;Pada banyak hal, pemikiran-pemikiran yang rasionalistik sejumlah pemikir Eropa ini  juga telah ikut membidani lahirnya Revolusi Industri yang ikut melembagakan kapitalisme di bidang ekonomi. Globalisasi di bidang ekonomi yang masih merupakan persoalan di sejumlah negara bangsa di Dunia Ketiga hingga dewasa ini, antara lain juga adalah warisan dari sistem ekonomi yang lahir di masa-masa menguatnya rasionalisme abad 18-19 itu. Bahkan, bisa kita duga bahwa sistem pemerintahan demokrasi sepertinya adalah cara yang sengaja untuk dikampanyekan dan digalakkan di Dunia Ketiga pada masa-masa kelahirannya di awal abad 20 adalah untuk memuluskan penguasaan di bidang ekonomi oleh Negara-negara Eropa dan Amerika khusunya hingga hari ini. Kapitalisme, rupanya menemukan ruangan yang nyaman untuk berkembang ketika begara-negara bangsa melakukan eksprimen untuk menerapkan sistem demokrasi. Mudah-mudahan logika saya ini tidak keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, menariknya kekuasaan absolut negara yang disebut Hobbes dengan Leviathan, akhirnya kini berubah wajah dalam negara bangsa atas nama nasionalisme. Ketika suatu negara bangsa berhasil berdiri, dan mengalami euphoria yang luar biasa karena kebanggaan berhasil mengusir pihak penjajah asing dari tanahnya, maka demokrasi dipilih sebagai sistem alternatif untuk mengurus negara bangsa baru itu. Pemilu dilaksanakan, yang antara lain untuk memilih penguasa baru, di legislatife dan eksekutif khusunya. Kepala negara baru (presiden atau perdana menteri), yang dipilih berdasarkan suara terbanyak, diterima sebagai cara yang paling tepat untuk mengganti raja dalam sistem yang monarkhi. Dalam kampanye-kampanye, dan pewacanaanya, baik oleh negara maupun lembaga-lembaga ilmu pengetahuan, demokrasi akhirnya dibedakan secara radikal dengan sistem monarkhi apalagi teokrasi. Bahwa, dalam sebuah negara bangsa baru yang majemuk, mestinya pemimpin negaranya bukan karena berdasar pada geneologis, atau wangsit dari langit, tapi harus dipilih berdasarkan suara terbanyak dalam sebuah Pemilihan Umum (Pemilu) yang melibatkan rakyat. Itulah kehendak orang banyak orang yang terlembaga. Wakil-wakil rakyat juga harus dipilih oleh rakyat sebacara langsung, dan mereka yang mendapat suara terbanyaklah yang pantas menjadi media perjuangan aspirasi rakyat. Setidaknya begitu wacana-wacana demokrasi sampai hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, cerita berulang. Apa yang dipotret oleh Machiavelli di akhir abad 15 dan awal abad 16 tentang kejahatan politik seorang Cesare Borgia, dan apa yang menjadi ajaran Hobbes di Inggris pada abad ke 17 tentang kelahiran negara, yang pada dasarnya negara itu akhirnya menjadi lembaga hegemoni kebebasan individu, kini menjadi fenomena menyeramkan di negara-negara bangsa yang mempraktekkan sistem demokrasi modern. Leviathan tetap ada, dan menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat. Dalam negara bangsa, dia tak lagi seorang raja, melainkan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu untuk Menghasilkan Tirani Mayoritas&lt;br /&gt;Demokrasi, pada prakteknya, hanyalah bentuk lain dari sistem monarkhi. Bahwa, demokrasi bagaimanapun tetap mengandung kekuasaan. Dan, negara bangsa, yang telah memindahkan kekuasaan absolut itu dari diri seorang raja ke lembaga pemerintahan/rezim atau lebih tepatnya lembaga negara itu, pada akhirnya harus menggunakan kekuasaan untuk menundukkan kebebasan individu. Leviathannya Hobbes, ternyata tak berhasil dihancurkan oleh demokrasi. Ini terjadi, ketika rakyat hanya diposisikan dan ditempatkan sebagai individu-individu pemilih, bukan pengontrol atau yang ikut bersama-sama dalam proses pemerintahan. Rakyat, dengan segala taktik rezim yang terpilih berdasar suara terbanyak itu, selalu diusahakan untuk terasing dari proses bernegara/berpolitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan Umum (Pemilu), yang dipercayai sebagai satu-satunya cara ideal untuk memilih pemimpin negara dan wakil-wakil rakyat, dalam sejarahnya hanyalah kemudian untuk mengesahkan penguasaan mayoritas (elit yang memegang kendali kekuasaan/kuat secara kuantitas politik) terhadap minoritas (rakyat yang terasing dari kekuasaan/lemah secara politik). Suara terbanyak sebagai penentu kemenangan dalam sebuah kompetisi dan suksesi dalam sistem demokrasi akhirnya rawan menciptakan penguasa yang lalim dan otoriter (tirani mayoritas). Sejumlah penguasa tiran di era negara bangsa, adalah produk dari Pemilu dalam sistem demokrasi, di mana rakyat diminta harus datang ke tempat-tempat pemungutan suara, apapun bentuk partisipasinya untuk memilih calon-calon penguasa. Karena itulah sehingga Golput dianggap rezim sebagai sikap yang tidak bertanggungjawab untuk pembangunan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, sampai saat ini, apa yang disebut Samuel Huntington partisipasi aktif sebagai yang ideal untuk sebuah demokratisasi, belum terbukti, atau memang keliru. Dan era ini yang lebih gila ternyata. Kalau dulu, menjadi raja tiran karena berdasar mitos pemilihan dewa/ilah, tapi di era demokrasi ini menjadi penguasa tiran justru karena dilegitimasi oleh rakyat melalui Pemilu, dan tampilannya seolah-olah logis dan rasionalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye, seperti yang sedang ramai-ramainya di negara bangsa Indonesia sekarang ini, katanya sebagai sebagai salah satu tahapan Pemilu untuk mensosialisasikan visi, misi dan program-program partai politik. Sementara partai politik, pada kenyataannya adalah alat atau media negara untuk usaha penundukkan secara terselubung. Dan para caleg, adalah mereka-mereka yang dipersiapkan untuk menjadi pengkhotbah segala mitos kesejahteraan dari negara. Sebab, segala janji itu, akhirnya hanya akan menjadi mitos, dan barangkali tepatnya takhyul bagi rakyat. Partai politik atas nama demokrasi hanyalah candu bagi kebanyakan rakyat kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bukit inspirasi Tomohon, 22 Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-5196109809742729605?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/5196109809742729605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/03/esei-denni-pinontoan-demokrasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5196109809742729605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5196109809742729605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/03/esei-denni-pinontoan-demokrasi.html' title='Esei Denni Pinontoan: &amp;quot;Melampaui Demokrasi&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-405165528203324103</id><published>2009-03-12T08:58:00.001-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.940-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Esei Andreas Harsono: "Jurnalisme Warga (Gereja)".</title><content type='html'>Seri Pendidikan Media, Komunikasi dan Kebudayaan&lt;br /&gt;Yakoma PGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HASUDUNGAN Sirait mudah dikenali dengan kumis baplang ala Joseph Stalin. Namun nada bicaranya lembut. Celananya, warna krem model pendaki gunung dengan banyak kantong. Kesannya, bergaya anak muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang September lalu, saya menemui Sirait di kedai kopi Starbucks di Plasa Semanggi, sebuah mal Jakarta, untuk bicara soal kegiatannya dua tahun terakhir ini. Sirait beberapa kali membantu Yayasan Komunikasi Massa PGI (Yakoma PGI) melatih para pekerja media gereja. PGI singkatan dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Ia adalah organisasi payung 86 gereja-gereja Protestan di Indonesia sejak berdiri Mei 1950. Saya ingin tahu bagaimana Sirait memandang media komunitas gereja-gereja ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memesan kopi. Saya mengambil teh hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku latar belakang HKBP,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huria Kristen Batak Protestan, atau HKBP, adalah gereja dengan sekitar 3 juta anggota. Ini menjadikan HKBP sebagai gereja terbesar, bukan saja di Indonesia, namun juga di Asia Tenggara. Mayoritas anggotanya, tentu saja, orang Batak. Pusatnya ada di Pearaja, sebuah desa di Kabupaten Tapanuli Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirait menambahkan dia juga pernah memberi pelatihan berbagai media pesantren di Pulau Jawa. Institut Studi Arus Informasi, sebuah organisasi nirlaba Jakarta, pernah minta Sirait membantu pelatihan media pesantren. “Aku (dulu) lebih akrab dengan pesantren daripada gereja.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yakoma PGI minta dia ikut melatih media gereja, Sirait minta waktu untuk mempelajari beberapa penerbitan gereja. “Setelah Tobelo dan Batam, baru pemahaman aku lebih komprehensif,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tobelo, sebuah kota di Pulau Halmahera, didatangi Sirait ketika Yakoma PGI mengadakan lokakarya media gereja 24-28 April 2007. Dia juga bicara dalam acara pelatihan 25-29 Juni 2007, yang diadakan Gereja Batak Kristen Protestan, di Pulau Batam. Agustus lalu, Sirait ikut jadi instruktur semiloka “media rakyat” di Manado. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai mengenal Hasudungan Sirait ketika rezim Presiden Soeharto membredel mingguan Detik, Editor dan Tempo pada Juni 1994. Kami sama-sama protes pembredelan tersebut. Kami juga sama-sama ikut menandatangani Deklarasi Sirnagalih, pada 7 Agustus 1994, guna mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sebuah serikat wartawan untuk melawan sensor media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu ada peraturan bahwa satu-satunya organisasi wartawan yang diakui pemerintah Indonesia adalah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ikut meneken Deklarasi Sirnagalih berarti melanggar hukum. Departemen Penerangan dan PWI minta polisi menindak anggota-anggota AJI. Ada empat kawan kami masuk penjara: Ahmad Taufik, Danang K. Wardoyo, Eko Maryadi dan Tri Agus Siswowiharjo. Sirait dipecat dari PWI. Dia juga kehilangan pekerjaan dari Bisnis Indonesia. Dia lantas bekerja untuk mingguan D&amp;R selama tiga tahun, secara anonim. AJI baru bisa bergerak di atas tanah sesudah Presiden Soeharto mundur dari tahta pada Mei 1998. Empatbelas tahun berlalu, Sirait kini lebih sering jadi instruktur wartawan. Dia tinggal di Bogor, sudah menikah dengan dua anak, serta belakangan merintis majalah bulanan etnik Batak bernama Tatap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirait seorang trainer yang baik. “Wartawan berkualitas,” kata Jufri Simorangkir dari Suara GKPI, bulanan milik Gereja Kristen Protestan Indonesia, yang berpusat di Pematang Siantar. Pendeta Simorangkir mengenal Sirait ketika ikut program di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hasudungan Sirait, persoalan utama media gereja-gereja Protestan di Indonesia, baik di sebelah barat (Jawa dan Sumatera) maupun timur (Sulawesi, Sangir, Talaud, Halmahera, Ambon, Sumba dan sebagainya) adalah kekurangan perhatian dari para pemimpin sinode. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengurus media pesantren hebat, sumber daya manusia berlapis-lapis, training lebih sering diadakan di kalangan pesantren. Yang bisa menyamai teman-teman Muslim hanya media Katholik,” kata Sirait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecenderungan sinode (gereja Protestan) gagah-gagahan bikin media.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun alokasi biaya sedikit, tidak ada tim khusus, tidak ada guidance. “Kalau terbit ya sekali setahun atau dua kali.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi media gereja-gereja Protestan, cenderung masih hanya khotbah, peletakan batu pertama atau seremoni gereja. Dari segi tata letak, umumnya tidak menarik. Kebanyakan media gereja sangat tergantung hanya pada kerajinan dan ketekunan pengurus media itu sendiri. “Kalau yang ngurus rajin, ya sering terbit, kalau tidak, ya ngacak.” Banyak pengelola media gereja mengharapkan ada kebijakan khusus dari gereja agar media dikelola sungguh-sungguh. Namun ketika pengurus media bikin terobosan sendiri, mereka sering diveto oleh sinode. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menelepon Greenhill Weol di Tomohon untuk minta masukannya soal media gereja di Minahasa. Weol redaktur budaya radio Suara Minahasa. Tomohon adalah ibukota intelektual Minahasa. Markas besar Gereja Masehi Injili Minahasa, gereja terbesar di Pulau Sulawesi, juga terletak di Tomohon. Radio Suara Minahasa dikelola oleh Yayasan Suara Nurani pimpinan Bert A. Supit, seorang cendekiawan Minahasa, yang dulu juga mengurus GMIM. Weol mengatakan di Minahasa, GMIM juga punya beberapa penerbitan namun kadang-kadang terbit, kadang-kadang tidak. “Dana ada kalau ada proyek politik,” kata Weol. Maksudnya, bila ada politikus Minahasa lagi kampanye, dia bisa memberikan dana kepada penerbitan gereja. “Asal ada tiga atau lima fotonya dimuat,” kata Weol. Politisi Minahasa, tentu saja, suka berdekatan dengan GMIM mengingat gereja ini paling besar di Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeta Jufri Simorangkir cerita pada Februari 2006, dia ditunjuk sinode Gereja Kristen Protestan Indonesia menyunting Suara GKPI. “Dua tahun saya mengelola majalah ini sendirian. Saya yang mengetik. Saya yang ambil foto. Saya yang antar ke percetakan. Saya yang distribusi.” Tebal majalah antara 90 hingga 112 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bulan, Simorangkir mengambil hasil cetakan majalah di Medan. Dalam perjalanan pulang Medan-Pematang Siantar, biasa ditempuh tiga jam, Simorangkir dan seorang sopir mengantar 1,200 dari 3,000 Suara GKPI ke berbagai jemaat GKPI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, ketika ditunjuk untuk mengelola Suara GKPI, Simorangkir bahkan belum kenal komputer. “Modal kosong semua!” katanya. Dia harus belajar mengetik. Pelatihan Yakoma PGI, yang diikutinya di Batam, dinilainya sangat berguna. Dia belajar bahwa ruang redaksi dan usaha harus dipisah. Kini Suara GKPI sudah mendapat tambahan seorang karyawan. Simorangkir juga tidak menambah materi khotbah di Suara GKPI. Bahkan majalahnya kini sudah ada cerita pendek, humor dan banyak berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simorangkir memuji majalah milik Gereja Batak Karo Protestan dan Gereja Kristen Protestan Simalungun. “Mereka sudah lebih terbuka. Iklan-iklan sudah masuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya Sirait, dari pengalamannya melatih media gereja, media mana saja yang tergolong baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang paling baik GKJW Malang,” jawabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rapi sekali mereka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja Kristen Jawi Wetan, atau GKJW, adalah gereja Jawa timuran dengan pusat kota Malang. Mayoritas anggotanya, tentu saja, orang Jawa. Sinode gereja ini didirikan pada Desember 1931. Kini anggotanya sekitar 150,000 orang. Jumlah ini sangat kecil bila diingat Jawa Timur adalah basis Nahdlatul Ulama. Total populasi Provinsi Jawa Timur sekitar 34.5 juta dan sekitar 96 persen warga Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirait mengatakan ketika membaca Warta GKJW, dia merasa pengelola Warta GKJW terlihat upayanya serius melibatkan umat. Ada lembaran remaja, ada lembar orang tua, ada berita perkembangan di kitaran warga. Jufri Simorangkir juga setuju dengan kesimpulan Sirait. Simorangkir menyebut Warta GKJW mirip “majalah sekuler” … walau 80 persen isinya “soal rohani.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan HKBP sendiri, menurut Sirait, ada majalah Immanuel yang sudah berumur 120 tahun dan terbit dari Peuraja. Majalah bulanan ini terbit terus-menerus, tidak terganggu, dulu format kecil, kini format majalah. “Cuma isinya sabda pendeta semua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengasuhnya pendeta semua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengalami kesulitan menghubungi Siman P. Hutahean, pendeta yang merangkap pemimpin redaksi Immanuel. Saya hubungi lebih dari 10 kali lewat telepon HKBP Peuraja, namun tak berhasil. Hutahean termasuk pendeta yang ikut acara Yakoma PGI di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau format Immanuel tidak bisa ditawar, Sirait usul HKBP bikin outlet yang lebih interaktif, untuk remaja, anak-anak dan dewasa. Dunia media sudah berubah. Kini sudah ada televisi, internet, radio komunitas, blog, You Tube, Facebook dan macam-macam. Namun mayoritas media gereja masih bergulat dengan majalah. Media gereja kurang dalam banyak hal. “Cari duit nggak susah, cari orang yang susah. (Media) Katolik jauh lebih baik,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media gereja Protestan, juga kurang berkembang karena ada kekuatiran di kalangan sinode, media bisa jadi bumerang. “Takut disasar. Padahal tidak juga,” kata Sirait. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampaknya, ada kesenjangan informasi antara gereja dan umat. Umat sangat dinamis, dapat informasi dari mana-mana. “Itu tidak bisa diimbangi gereja. Paradigma gereja tidak berubah. Mereka cenderung menapis, semacam pakai kacamata kuda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau informasi umum juga ada di media gereja, maka gereja bisa memberitahu soal, misalnya, mengapa harga-harga bahan pangan naik atau mengapa banyak korupsi. “Gereja nggak hanya isinya khotbah soal keselamatan,” kata Sirait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berpendapat media gereja seharusnya jadi media komunitas, “Dari kita, untuk kita. Bagaimana antara jemaat gereja bisa sharing pengalaman? Itu tidak mereka dapatkan dari Kompas atau Suara Pembaruan atau Suara Merdeka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul dua siang, Hasudungan Sirait bilang mau pulang agar bisa tepat waktu untuk “memandikan anak.” Saya tersenyum. Si kumis baplang ini bahagia sekali bisa memandikan anak-anaknya setiap sore. Kami meninggalkan Plasa Semanggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA awal Juli 2008, selama empat hari saya jadi trainer dalam sebuah pelatihan situs web Panyingkul.com di Makassar. Kata "panyingkul" dalam bahasa Makassar artinya persikuan atau pertigaan. Panyingkul sebuah media nirlaba, yang mengusung citizen journalism atau "jurnalisme orang biasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesertanya ada 11 orang. Pelatihan diadakan di Biblioholic, sebuah perpustakaan publik, di Jl. Perintis Kemerdekaan Km 9. Perpustakaan ini terletak dalam sebuah rumah besar yang disewa oleh Matsui Kazuhisa, seorang konsultan Japan International Cooperation Agency. Matsui meminjamkan ruang tamu serta lantai dua rumah ini untuk kegiatan anak-anak muda. Siang malam, selalu ada anak muda berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panyingkul.com menyebut para wartawannya sebagai "citizen reporter." Sengaja dalam bahasa Inggris, sesuai terminologi aslinya dari Oh My News, sebuah situs web dari Korea Selatan, agar tak timbul salah paham. Lily Yulianti, redaktur Panyingkul, mengatakan rekan-rekannya dari Oh My News International di Norwegia, Israel maupun Brazil, juga tak menterjemahkan "citizen reporter" ke bahasa masing-masing. Mereka tetap pakai istilah “citizen reporter.” Lily kini bekerja sebagai wartawan radio NHK di Tokyo. Dia dulu juga pernah bekerja untuk harian Kompas dari Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panyingkul adalah sebuah fenomena penting dalam jurnalisme di Makassar. Tujuan mereka melawan dominasi media mainstream yang meletakkan loyalitas terhadap warga lebih rendah daripada loyalitas kepada pemilik media, penguasa maupun pemasang iklan. Lily rajin melancarkan kritik terhadap media Makassar macam harian Fajar maupun Tribun Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama empat hari, kami belajar dengan macam-macam contoh. Saya mengajak peserta diskusi soal-soal dasar dalam jurnalisme. Bagaimana bikin wawancara? Bagaimana merekam dan menulis deskripsi? Bagaimana menggunakan monolog dan dialog? Kami juga membaca beberapa naskah, termasuk "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" karya Alfian Hamzah, maupun "Hiroshima" karya John Hersey. Kami juga menonton dokumentasi pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Para peserta punya background macam-macam. Ada arkeolog, ada pelaut, ada peneliti. Beberapa mahasiswa juga ikutan. Ketika memeriksa pekerjaan rumah mereka, saya senang melihat kecepatan mereka menangkap materi latihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya-tanya mengapa media gereja tak mencoba mengarah pada citizen journalism macam Panyingkul.com? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panyingkul.com maupun Warta GKJW sama-sama merupakan media komunitas. Satu melayani komunitas Makassar. Satunya melayani komunitas gereja Jawa Timur. Mereka dipersatukan oleh semangat melayani warga masing-masing lewat jurnalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, kebanyakan media, dari Immanuel hingga Suara Pembaruan, dari BBC World Service hingga Al Jazeera, melayani komunitas sesuai khayalan mereka masing-masing. Internet membuat batas khayalan menjadi lebih terbuka. Internet membuat semua orang, yang mengerti bahasa media terkait, secara teoritis bisa membaca apa isi media tersebut. Media gereja teoritis bisa mengembangkan diri lewat citizen journalism dengan melibatkan warga-warga gereja ikut mengisi media mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Pendeta Jufri Simorangkir memberi tanggapan. “Kelemahan majalah gereja adalah dia jadi corong pimpinan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira pernyataan Simorangkir, maupun kritik Sirait, mengingatkan saya bahwa media gereja kebanyakan belum menjalankan jurnalisme. Ia lebih tepat dikategorikan sebagai public relation atau propaganda. Boro-boro bicara soal citizen journalism. Jurnalisme biasa pun belum berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Propaganda adalah suatu peliputan serta penyajian informasi dimana fakta-fakta disajikan, termasuk ditekan dan diperkuat pada bagian tertentu, agar selaras dengan kepentingan kekuasaan, yang menguasai media komunikasi tersebut. Jarak propaganda dan jurnalisme bisa lebar, tapi juga bisa sangat tipis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme adalah bagian dari komunikasi. Namun tak semua bentuk komunikasi adalah jurnalisme. Menyamakan propaganda dengan jurnalisme, atau menyamakan pengabaran injil dengan jurnalisme, saya kira akan menciptakan kebingungan yang serius, dengan daya rusak besar. Saya kira masalah ini perlu didiskusikan dengan jernih di kalangan gereja-gereja Protestan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media gereja seharusnya bekerja berdasar prinsip-prinsip jurnalisme umum. Bukan berdasarkan pada theologi Kristen. Bukan berdasar pula pada pendekatan gothak-gathok “jurnalisme Kristiani.” Saya harus menyebut isu ini karena belakangan ada saja orang yang mencoba menawarkan apa yang disebut sebagai “jurnalisme Islami.” Jargon-jargon ini akan menciptakan kekaburan. Kalau jurnalisme dikaitkan dengan pemahaman lain, entah itu fasisme, komunisme, kapitalisme atau agama apapun, definisi yang lebih tepat, saya kira, adalah propaganda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media gereja seyogyanya dipikirkan lebih luas untuk kepentingan umat. Ia lebih baik diletakkan secara independen dari struktur sinode. Para redakturnya tidak ikut duduk dalam kepengurusan sinode. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya juga sadar bahwa tidak semua orang, termasuk pengelola media gereja, bisa punya pemahaman yang serius terhadap suatu isu, apalagi banyak isu. Ini juga terjadi dalam dunia wartawan mainstream. Namun inilah tantangan rutin bagi setiap wartawan, profesional maupun amatir, dalam memahami suatu isu dan menuliskannya. Para pemimpin sinode sudah selayaknya mulai belajar memahami jurnalisme dan mengubah cara pandang mereka terhadap media gereja. Propaganda sebaiknya diubah jadi jurnalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apakah jurnalisme itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada April 2001, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dua wartawan Washington D.C., menerbitkan buku The Elements of Journalism. Mereka menyajikan sembilan elemen jurnalisme sesudah bikin diskusi dan wawancara dengan 1.200 wartawan selama tiga tahun. Buku itu segera dianggap sebagai referensi penting para wartawan. Ia diterjemahkan ke puluhan bahasa lain, termasuk Bahasa Indonesia, dan dijadikan pegangan banyak ruang redaksi. Di Jakarta, ia dipakai oleh Kompas, The Jakarta Post, Tempo, Republika, Jawa Pos dan sebagainya. Pada 2007, Kovach dan Rosenstiel menerbitkan edisi revisi dimana mereka menambahkan elemen kesepuluh khusus soal hak dan tanggungjawab warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira sepuluh elemen ini menerangkan dengan jernih apa jurnalisme itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran;&lt;br /&gt;• Loyalitas utama jurnalisme kepada warga;&lt;br /&gt;• Esensi jurnalisme adalah verifikasi;&lt;br /&gt;• Para praktisi jurnalisme harus menjaga independensi mereka dari sumber-sumber mereka;&lt;br /&gt;• Jurnalisme harus berlaku sebagia pemantau kekuasaan;&lt;br /&gt;• Jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga;&lt;br /&gt;• Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting jadi menarik dan relevan;&lt;br /&gt;• Jurnalisme harus menjaga agar berita menjadi komprehensif dan proporsional;&lt;br /&gt;• Para praktisinya harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka;&lt;br /&gt;• Warga punya hak dan kewajiban dalam jurnalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen kesepuluh muncul karena apa yang disebut Lily Yulianti sebagai citizen journalism. Intinya, warga punya hak dan kewajiban ikut berpartisipasi dalam mencari, melaporkan, menganalisis dan menyebarluaskan informasi. Elemen kesepuluh muncul, tentu saja, disebabkan oleh teknologi internet: blog, kamera telepon, You Tube, Facebook dan sebagainya. Ia membuat warga bisa berperan secara lebih luas dalam jurnalisme. Panyingkul.com membuktikan bahwa warga biasa, kebanyakan non-wartawan, bisa mengelola situs web, yang hendak menandingi media mainstream di Makassar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira media gereja sulit menghindar dari trend ini. Cepat atau lambat, bila gereja mau tetap relevan, mereka harus membuka pintu terhadap “citizen reporter.” Blog akan jadi ujung tombak perubahan. Saya mulai memperhatikan banyak sekali anak-anak muda Kristen bicara soal Tuhan lewat blog. Media gereja bisa berkembang dengan melakukan kolaborasi lewat blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priambodo RH dari Lembaga Pers Dr. Soetomo mengatakan Agustus lalu ada sekitar 650 ribu blog di Indonesia. Jumlahnya akan meningkat seiring meningkatnya penggunaan internet. “Perkembangan jurnalisme warga saat ini baru seumur kepompong, belum menjadi kupu-kupu. Karena itu untuk melahirkan jurnalisme warga yang indah dibutuhkan pembelajaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun banyak wartawan ragu apakah orang yang kurang terlatih dalam jurnalisme bisa menulis berita secara bertanggungjawab? Ada yang menyebut kehadiran internet menciptakan “tsunami informasi.” Isinya, kebanyakan copy-paste dan sampah. Kekuatiran ini bukan tanpa dasar. Mei lalu, Roy Thaniago, seorang mahasiswa Jakarta, menulis berita dalam blog miliknya http://thaniago.blogspot.com/ “Pastor Kemalingan, Karyawan Paroki Dipukul Polisi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thaniago mempertanyakan mengapa seorang karyawan Paroki Bunda Hati Kudus, dicurigai dan dilaporkan ke polisi oleh satu pemuka gereja gara-gara pastor kehilangan uang tunai Rp 15 juta dan dua kamera. Dia menulis tanpa melakukan verifikasi pada pastor maupun si pemuka gereja. Dia sempat bikin repot gereja. Cukup ramailah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citizen journalism bukannya tanpa masalah. Priambodo membuat 10 panduan bagi “citizen reporter.” Mereka tidak boleh melakukan plagiat; harus cek dan ricek fakta; jangan menggunakan sumber anonim; perhatikan dan peduli hukum; utarakan rahasia secara hati-hati; hati-hati dengan opini narasumber; pelajari batas daya ingatan orang; hindari konflik kepentingan; dilarang lakukan pelecehan; serta pertimbangkan setiap pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya makin bermutu jurnalisme dalam suatu komunitas, maka makin bermutu pula informasi dalam komunitas itu. Maka makin bermutu pula komunitas tersebut. Saya juga percaya senantiasa ada orang macam Hasudungan Sirait, yang tulus membantu para “citizen reporter” maupun media gereja untuk belajar jurnalisme dengan teratur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar sekali kritik Pak Hasudungan itu. Kalau GKPI punya orang macam Pak Hasudungan Sirait, pasti kami pakai orang berkualitas itu,” kata pendeta Simorangkir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red:&lt;br /&gt;Andreas Harsono wartawan, pernah bekerja untuk harian The Nation (Bangkok), Associated Press Television (Hong Kong), The Star (Kuala Lumpur) dan Yayasan Pantau (Jakarta). Ia mendapatkan Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard 1999-2000. Kini sedang menulis buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-405165528203324103?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/405165528203324103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/03/esei-andreas-harsono-warga-gereja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/405165528203324103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/405165528203324103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/03/esei-andreas-harsono-warga-gereja.html' title='Esei Andreas Harsono: &amp;quot;Jurnalisme Warga (Gereja)&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-4950464604502135879</id><published>2009-03-03T01:44:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.952-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Teater'/><title type='text'>Naskah Teater Andre GB: "Tentang Penantian".</title><content type='html'>DAFTAR PEMERAN: &lt;br /&gt;1.Sosok I (laki-laki/mayat)&lt;br /&gt;2.Sosok II (perempuan/mayat)&lt;br /&gt;3.Sosok III (laki-laki/penarik tandu)&lt;br /&gt;4.Sosok IV (perempuan/wajah duka)&lt;br /&gt;5.Sosok V (laki-laki/penari 1)&lt;br /&gt;6.Sosok VI (perempuan/penari 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar musik mengalun. Sedang di tengah panggung terdapat dua buah bangku dari kayu panjang yang tanpa sandaran punggung dan sandaran tangan diletakkan sejajar. Posisi dua buah bangku tersebut adalah vertikal. Memanjang memotong panggung. Terdapat jarak sekitar dua depa laki-laki dewasa diantara kedua bangku tersebut. Dan sebuah loyang hitam (bisa terbuat dari plastik atau kaleng) berada sebagai pemisah kedua bangku kayu tersebut. Dalam loyang tersebut, ada berbagai jenis tangkai bunga yang semuanya terbuat dari plastik. Sangat banyak hingga menggunung didalam loyang tersebut. Sedang di kedua sisi bangku kayu tersebut ada dua buah gundukan tak dikenali yang diselimuti oleh kain hitam seutuhnya. Lalu di sisi luar yang semakin mengarah ke pinggiran sayap panggung, terdapat tungku kecil yang mengepulkan asap berbau kemenyan. Asap putih namun pekat. Sedang di sekeliling semua itu, ada nyala lilin yang melingkari. Tak kalah menyengat bau pewangi mayat yang ikut meramaian kelam.&lt;br /&gt;Di atas kedua bangku kayu tadi, masing-masing terbaring sosok tubuh. Di bangku sebelah kanan (arah kiri penonton) terdapat tubuh perempuan berjubah destar terusan bermotif bunga. Warna-warninya begitu semarak. Kepalanya berada di depan panggung, sedang kepala sosok tubuh yang disebelahnya berada dalam posisi yang berlawanan meski kedua tubuh sosok itu sama-sama memandang keatas. Sedang diatas bangku kayu yang terletak disebelahnya, terdapat tubuh seorang lelaki. Telanjang dada. Sedang celana panjang yang selimuti kakinya berwarna hitam tanpa motif. Menelan pekat busana sosok disebelahnya. Tangan kedua tubuh ini terjalin dan menyatu di atas dada. Menuju ketenangan abadi. Sedang dari atas panggung tampak berjatuhan serpihan kelopak kembang kamboja berwarna putih. Jumlahnya seperti salju.&lt;br /&gt;Salju kelopak kamboja berhenti ketika muncul sosok lain dari sayap kiri panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok III: (Dari arah sisi kiri panggung muncul dengan wajah tertunduk dengan langkah pelan dan berat, menarik sebuah tandu yang terbuat dari kayu dan dianyam dengan rotan hutan. Di atas tandu tersebut terdapat sebuah sarang burung yang terbuat dari ilalang liar, tiga buah nisan beton belum bertulis nama, dan sebilah parang panjang berlumur darah hingga mengeluarkan bau amis. Ada juga beberapa daun kering berukuran besar diatasnya. Menjadi alas dari bangkai ayam jantan yang juga termuat di atas tandu tersebut. Rambutnya yang basah terurai kebawah sedikit menutupi wajahnya.)&lt;br /&gt; (Berjalan terus hingga ke tengah panggung. Tepat membelakangi loyang dan menghadapi sebatang lilin tunggal. Tandu terlepas dari genggaman hingga menghempas tanah. Wajahnya kini diangkat tegak. Terlihat jelas duka dan amarah berpeluk jadi satu. Beberapa saat mengelilingi lilin tersebut lalu kemudian jatuh tersungkur. Tangis yang tertahan terdengar darinya.)&lt;br /&gt; (Mengambil salah satu nisan tak bernama tersebut lalu dengan meski terlihat kasar mengacungkannya ke langit dengan kedua tangannya. Di sertai raungan parau pedih)&lt;br /&gt; Ini adalah sisa dari mezbah nazarku. Janji dan rindu yang dianyam oleh luka menjadi satu. (Nisan secara perlahan mulai diturunkan, kemudian dengan tangan sebelah kiri di sangga berdiri). Ini adalah kelana sukmaku menembus batas sepi. Pelangi yang gagal kulukis di atas bebatuan, cermin yang retak ketika salju senja dan menua, purnama yang yang kutitipkan namun hilang dicium sajak-sajak amis.&lt;br /&gt; Ini adalah kenajisan Tuhan yang bersemayam di pucuk air yang kemarin dikirim kebumi. Tentang tandusnya senyum yang kusalib di sudut-sudut rindu. (Meraung).&lt;br /&gt; (Suara meninggi). Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh. Akan kucincang waktu yang telah meleraiku darimu. Kan kusembelih leher malam yang beri padaku tangis. (Mengambil lilin lalu mengacungkannya keatas). Dalam kesemuan abadi, ditepian remah-remah gelap, kukirimkan doa untukmu. Doa dalam sebentuk daging yang kuiris dari kusut bilik jantungku. Masih merah dan segar, setawar getir yang kini sedang kukunyah. (Menikamkan lilin keperut).&lt;br /&gt;Sosok IV: (Muncul dari sisi kanan panggung. Rambutnya terurai dan menyembunyikan wajahnya yang luka dan duka. Destar terusan putih yang dia gunakan memeluk tubuhnya yang berjalan gontai dan lemah).&lt;br /&gt; Pabila memang Tuhan mau kabulkan pintaku, aku hanya memohon agar waktulah yang mati. Lalu kenapa selalu janji yang harus teringkari? Aku bukan pendendam sepi yang ingin tidur lelap dicambukan bisu. Aku sekedar raga raga sederhana yang percaya pada airmata pasir yang mengendap dilangit, kemudian bersua lagi ketika dewasa. Aku adalah racikan kopi polos dalam lipatan gula. Lagipula daun-daun yang mekar dimusim gugur tak pernah sombongkan diri. (Memeluk tubuh sosok III).&lt;br /&gt; Aku berikan sumpahku padamu, juga pada Tuhanku. Disetiap sujudku, cintamu adalah syahadat bagiku, tanpa kerumitan bahasa. Apakah kau masih ingat ketika kunyalakan korek lalu dengan getir yang terlahir senyum, kudapati sendiri pekat nikotin itu menyetubuhimu. Dan aku jelas cemburu. Sebab kau telah kutebus dari Tuhanmu bahkan dari Tuhanku sekalipun. Kau telah jadi milikku. Biar jadi embun yang menanti surya, meski lupa akan karib kita. Tak mengapa. Bukankah itu juga cinta? &lt;br /&gt; (Berjalan didepan sosok III). Lalu kenapa keabadian ini yang kau pilih? Kenapa bukan tebing yang kau daki? Kenapa bukan arus yang kau perangi? Kau dan aku sama-sama tak kenal siapa itu waktu. Bukankah untukmu telah kubunuh gemerlap masa lalu? Namun, jika ini pilihan, maka jalanmu adalah sunah bagiku. (Mengambil posisi duduk di samping kiri sosok III/sebelah kanan penonton, mengambil botol kecil dari balik kantong bajunya lalu meminumnya). &lt;br /&gt; Kuharap surga kita sama hingga esok pagi bisa kutemukan senyummu untukku. (Mati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik mengalun, dan perlahan dua gundukan yang tertutupi oleh lembaran kain hitam yang berada di samping kedua bangku tampak bergerak. Ternyata ada dua manusia dibalik itu. Seorang laki-laki (Sosok V) dan seorang lagi perempuan (Sosok VI). Laki-laki yang muncul belakangan berada disamping tubuh perempuan yang berada diatas bangku tersebut, sedang perempuan yang muncul belakangan berada disamping tubuh tubuh laki-laki yang terbaring diatas bangku kayu tersebut. Gerakan mereka sangat pelan. Mendekati kedua bangku yang berada disamping mereka. Dari ujung kaki, sampai keujung kepala mereka gerayangi kedua tubuh yang tergeletak di atas bangku tersebut. Masing-masing sendiri. Tenggelam dalam kebisuan gerak yang mereka tarikan. Setelah itu, kedua sosok (Sosok V dan VI) yang muncul belakangan melangkahi kedua kepala masing-masing tubuh yang terbaring diatas bangku tersebut. Lalu bergerak mendekati loyang yang terletak ditengah-tengah pembaringan kedua tubuh tadi. Membongkar gundukan bunga plastik yang ada didalamnya. Mencari sesuatu. Hingga tangkai-tangkai bunga plastik tersebut berhamburan keudara. Setelah tangkai-tangkai bunga didalam loyang tersebut habis dan benda yang mereka cari tak ditemukan, keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Berusaha untuk saling mengenal. Kemudian saling mendekat dan saling menggerayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok VI: Jika memang ini adalah mata yang bekukan hati, kenapa tak kulihat ada namaku terpahat didalamnya?&lt;br /&gt;Sosok V: Dalam pandangku, hanya ada sebentuk rindu dalam sepotong puisi bagi satu cinta saja. Apakah kau bait sajak berikut tuk lengkapi goresan rindu ini?&lt;br /&gt;Sosok VI: Aku adalah kepingan senja bagi harimu, tapi kenapa tak ada tangan angin yang memeluk dan berikan aku kebenaran yang tak kutemukan dari rahim yang melahirkanku?&lt;br /&gt;Sosok V: Nestapaku kini tlah kuceraikan jika memang jumpa ini adalah ikrarku yang terbayarkan. Lalu untuk apa mengundang angin? Biarkanlah angin pergi berlalu seperti masa laluku yang kubunuh dijurang ingat.&lt;br /&gt;Sosok VI: Bumi adalah senyum dalam musim, angin adalah nafas untuk pelangi.&lt;br /&gt;Sosok V: Adalah percuma menangisi musim, nanti juga ia kan berpulang. Sedang pelangi, usahlah kau kejar, sebab jatuhnya selalu kan kebumi meski tanpa kehadiran angin sekalipun.&lt;br /&gt;Sosok VI: Pelangi adalah titian hati menjemput mimpi. Jalan menuju sudut sepi agar kita mencumbui sunyi setibanya disana, dalam genggaman. Apakah kau si pemilik tangan itu?&lt;br /&gt;Sosok V: Cinta hanya sekedar rasa. Sebuah ingin memiliki sampai mati. Genggaman tak pernah abadi, ciuman tak selalu hangat ketika dingin. Janji hanya upaya agar jantung tak membeku di musim panas.&lt;br /&gt;Sosok VI: Lalu apakah jantungmu pernah membeku karena teriris waktu? Dapatkah aku melihat bekas guratan itu?&lt;br /&gt;Sosok V: Itu tinggal kenangan demi gadisku karena tlah kusalibkan masa lalu.&lt;br /&gt;Sosok VI: Aku adalah tubuh yang mencintai ingatan.&lt;br /&gt;Sosok V: Aku juga bukan pemuja lupa.&lt;br /&gt;Sosok VI: Apa kau adalah mentari dalam layu gemerlap malam? Apa kau si pencari embun yang menantiku sejak gelap?&lt;br /&gt;Sosok V: Aku adalah malam yang mencari tetes resapan kemarin.&lt;br /&gt;Sosok VI: Maka kau bukanlah dia, dan ini bukanlah surga yang kau tuju. Karena ini adalah taman penantianku terhadap nazar cinta.&lt;br /&gt;Sosok V: Aku adalah kelana menembus sepi dan kau bukanlah purnama itu. Tapi aku yakin inilah adalah surgaku karena disinilah ku bangun candi janjiku pada kasihku, sang bulan yang tak mampu menyanyi.&lt;br /&gt;Sosok V &amp; VI: Kita bukanlah takdir yang dirajut agar bersama. Kita adalah temu yang terlarang. (Bergerak saling menjauh, kemudian kembali mengerayangi kedua tubuh yang terbaring diatas bangku kayu).&lt;br /&gt;Sosok VI: Mungkinkah kau si empunya pandang yang didalamnya tertulis namaku? Cintamu yang kini menyusulmu dalam kejaran waktu?&lt;br /&gt;Sosok V: Apakah kau si empunya nama yang tersimpan dalam lihatku? Cintamu yang kini menyusulmu dalam kejaran waktu?&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, kedua tubuh (Sosok I dan Sosok II) yang terbaring diatas bangku bangkit perlahan. Kemudian menggeleng.&lt;br /&gt;Sosok I: Kembara ini baru kumulai. Dan entah dimana akan berakhir.&lt;br /&gt;Sosok II: Meski waktu akan tua dan layu bersamaku, hati ini takkan lelah terus menunggu kedatanganmu.&lt;br /&gt;Sosok I dan sosok II kemudian kembali lagi berbaring diatas panggung (lampu padam).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-4950464604502135879?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/4950464604502135879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/03/naskah-teater-andre-gb-penantian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/4950464604502135879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/4950464604502135879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/03/naskah-teater-andre-gb-penantian.html' title='Naskah Teater Andre GB: &amp;quot;Tentang Penantian&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-558551895336021360</id><published>2009-03-03T01:05:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.961-07:00</updated><title type='text'>Puisi Charlie Samola: "INTROSPEKSI MOMAKE ORANG SULUT"</title><content type='html'>Ada yang bilang “Babi !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran Babi sadap kalu so jadi Babi Putar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang “Anjing !’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran Anjing sadap kalu so beking jadi RW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang “Cuki !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran samua orang suka Baku Cuki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang “Pendo !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran Parampuang biasa suka terima Pendo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang “Lubang Puki !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran Laki-laki suka skali bage tu Lubang Puki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalu ada yang bilang “Cuki Mai !”,”Kuda Cuki !”deng “Pemai !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran apa kang ? mo kase alasan apa ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-558551895336021360?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/558551895336021360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/03/puisi-charlie-samola-momake-orang-sulut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/558551895336021360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/558551895336021360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/03/puisi-charlie-samola-momake-orang-sulut.html' title='Puisi Charlie Samola: &amp;quot;INTROSPEKSI MOMAKE ORANG SULUT&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-8927876275195401422</id><published>2009-02-06T21:45:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.968-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Puisi Chandra Dengah Rooroh: "I Will Not Sell My Minahasa".</title><content type='html'>I will not sell Minahasa&lt;br /&gt;with kawasaran, maengket, watu pinawetengan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will not sell Minahasa&lt;br /&gt;with religion, politics, lands and prides...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will not sell Minahasa&lt;br /&gt;with Keke, tuama, pakakaan, paadean...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will not sell minahasa&lt;br /&gt;with everything comes from Minahasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;why...&lt;br /&gt;because I will keep Minahasa&lt;br /&gt;with kawasaran, maengket, watu pinawetengan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will keep Minahasa&lt;br /&gt;with tumatenden, waruga, tumotowa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will keep minahasa&lt;br /&gt;with religion, pakampetan, pasaruan, pasuwengan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will keep Minahasa&lt;br /&gt;with waraney, Tounaas, walian, Ukung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;why...&lt;br /&gt;because I'm Minahasa...&lt;br /&gt;I'm MINAHASA!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;and Minahasa is Victory...&lt;br /&gt;if you are Minahasa, you are free..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I JAJAT U SANTI!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-8927876275195401422?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/8927876275195401422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/02/puisi-chandra-dengah-rooroh-will-not.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8927876275195401422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8927876275195401422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/02/puisi-chandra-dengah-rooroh-will-not.html' title='Puisi Chandra Dengah Rooroh: &amp;quot;I Will Not Sell My Minahasa&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-3227063952583935327</id><published>2009-02-03T18:40:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.975-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Denni Pinontoan: "Neoliberalisme dan Gerakan Kultural Tou Minahasa"</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;Wajah Lain Kolonialisme dan Imprealisme dalam Neoliberalisme&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Awal dari kolonialisme Bangsa Barat (Spanyol, Portugis, dan menyusul Inggris serta Belanda) terjadi sekitar akhir abad 15, yaitu antara lain ditandai dengan ditemukannya benua Amerika oleh Colombus. Kolonialisme kemudian semakin gencar dilakukan bangsa Barat kira-kira mulai awal abad 16. Sejak itu perlahan tapi pasti dunia mulai berporos pada satu peradaban, yaitu Bunia Barat. Sementara Dunia Timur dianggap kafir, bodoh dan terkebelakang. Padahal, di dunia Timur ini jauh sebelum kelahiran peradaban Barat itu, telah lebih dulu lahir beragam kebudayaan dan agama, misalnya Hindu dan Budha di India dan Tao dan Kong Hu Cu di Cina. Kelahiran agama-agama itu sekaligus juga menandai adanya peradaban maju di Dunia Timur sejak berapa abad SM. Di Dunia Timur inilah terdapat beragam sumber daya alam yang kemudian diincar oleh bangsa Barat. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Kolonialisme dan Imprealisme Bangsa Barat kepada Bangsa Timur berjalan bersamaan dengan Misi Kristen (lihat David J. Bosch, &lt;i style=""&gt;Tranformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah. &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: BPK, 1999, hlm. 353-357). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pemahaman teologis gereja Barat, bahwa agama Kristen sebagai satu-satunya wadah keselamatan dunia seolah-olah melegitimasi bangsa Barat untuk menjajah dan mengeksploitasi Bangsa Timur sampai kira-kira pertengahan abad 20. Penjajahan oleh Bangsa Barat ini kemudian berjalan bersamaan dengan kapitalisme, yang antara lain dimungkinkan dengan menguatnya rasionalisme, dan pola pikir subjek-objek di abad Pencerahan. Bangsa Timur akhirnya menjadi objek selama berabad-abad untuk dieksploitasi tenaga manusia dan sumber daya alamnya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Selama ini, misi Kristen terus menjadi semangat bagi usaha penaklukan itu. Soal korelasi antara pemahaman teologis Kristen, khusus aliran teologi Calvin telah dikaji oleh Max Weber dalam bukunya &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Die protestantische Ethik und der 'Geist' des Kapitalismus&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi &lt;i style=""&gt;Etika Kristen Protestan dan Kapitalisme &lt;/i&gt;yang&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;diterjemahan dari terjemahan bahasa Inggris &lt;i style=""&gt;The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism&lt;/i&gt;. Weber menulis bahwa kapitalisme berevolusi ketika etika Protestan (terutama Calvinis) mempengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler, mengembangkan perusahaan mereka sendiri dan turut beserta dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan untuk investasi. Dalam kata lain, etika Protestan adalah sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi masal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme. Pemikiran ini juga dikenal sebagai "Thesis Weber".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Soal kaitan misi Kristen di beberapa abad lampau itu dengan kolonialisme dan imprealisme Bosch berkata: “Dengan datangnya puncak era imprealisme, setelah 1880, tidak dapat lagi keraguan mengenai persekongkolan lembaga-lembaga misi dan usaha kolonial. Kesejajaran antara perkembangan-perkembangan puncal imprealisme dan puncak misi menjadi semakin jelas tampak (Bosch: 1999, 473). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Berabad-abad dalam suasana terjajah, ternyata telah melahirkan semangat bagi bangsa-bangsa jajahan di dunia Timur untuk memerdekakan diri. Sampai di jelang pertengahan abad 20, sejumlah negara jajahan di Asia, misalnya Indonesia, berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme dan imprealisme Barat. Sejumlah &lt;i style=""&gt;nation state &lt;/i&gt;kemudian lahir di Asia. Bahkan R.A.D Siwu juga menjelaskan bahwa sejak itu negara-negara bangsa baru bekas jajahan itu kemudian giat melakukan pembangunan yang antara lain dengan cara modernisasi dan industrialisasi (Siwu dalam &lt;i style=""&gt;Exouds&lt;/i&gt; No. 16, Tahun XII, 2005. Tomohon: Fakultas Teologi UKIT, 2005,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hlm. 34). Tapi itu ternyata belum akhir cerita penaklukan Barat terhadap sebagian bangsa yang baru lahir di Asia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Kolonialisme dan imprealisme kemudian tampil dalam wajah lain, yaitu &lt;i style=""&gt;kapitalisme&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;neoliberalisme. &lt;/i&gt;Dari sekian masalah di negara bekas jajahan di &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt;, yang masih ada hingga sekarang adalah kemiskinan. Ini menjadi sangat kontras dengan sumber daya alam melimpah yang dimiliki oleh sebagian besar bangsa bekas jajahan itu. Meski berkorelasi langsung dengan masalah jumlah penduduk yang tinggi, serta urbanisasi, tapi kapitalisme dan neoliberalisme yang antara lain dimungkinkan oleh globalisasi yang digalakkan oleh Amerika juga harus dipertimbangkan sebagai faktor penting penyebab persoalan tersebut. Mansour Fakih (dalam Jurnal &lt;i style=""&gt;Wacana, &lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;: Insist, 2000) sangat fasih mengulas “monster” kapitalisme dan neoliberalisme sebagai faktor penting penyebab sejumlah persoalan di masyarakat Dunia Ketiga. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Fakih menjelaskan, &lt;i style=""&gt;globalisasi &lt;/i&gt;sebagai pengganti &lt;i style=""&gt;pembangunan&lt;/i&gt; yang bercorak kapitalis (yang telah gagal itu), ditandai lewat mendunianya sistem pasar, investasi dan produksi perusahaan-perusahaan transnasional (&lt;i style=""&gt;TNCs&lt;/i&gt;). Ketiga aktor utama globalisasi menurut Fakih adalah World Trade Organization (WTO) atau organisasi perdagangan global, IMF (International Monetary Fund) atau Dana Moneter Internasional, dan World Bank atau Bank Dunia. Dua lembaga keuangan terakhir tersebut adalah lembaga-lembaga pemberi utang di Dunia Ketiga, yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat dipengaruhi oleh Amerika.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Mengenai istilah Dunia Ketiga ini, mengutip Peter Worsley, Noer Fauzi, dalam bukunya &lt;i style=""&gt;Memahami Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga &lt;/i&gt;(Yogyakarta: Insist, 2005), menjelaskan: “Istilah ‘Dunia Ketiga’ pertama kali diperkenalkan pada Agustus 1952 oleh Alfred Sauvy, seorang ahli demografi Perancsi untuk menggambarkan negara bangsa yang baru bermunculan di akhir Perang Dunia ke-2 terutama Asia dan Afrika. Istilah “Dunia Ketiga” kian popular setelah konsolidasi Negara-negara anti kolonialisme dan Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, yang kemudian dalam golongan ini kemudian masuk pula Negara-negara Amerika Latin. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Soal istilah kapitalisme, Samir Amin (dalam Jurnal &lt;i style=""&gt;Wacana, &lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;: Insist, 2000) mengatakan: “Revolusi Industri, 1800-1920 merupakan tahap panjang pertama kapitalisme, sekaligus merupakan periode mekanisasi industri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mengenai istilah “Neoliberalisme” oleh sejumlah pakar mengkaitkannya dengan fenomena kebangkitan kembali liberalisme lama di masa yang baru. Menurut Fakih, “&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penganut faham ekonomi neo-liberal percaya bahwa pertumbuhan ekonomi dicapai sebagai hasil wajar dari adanya ‘persaiangan bebas’.” Sementara Globalisasi dalam bidang ekonomi di abad 21 lebih dipahami sebagai proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pentingnya Gerakan Rakyat Berbasis Kultural Bagi Tou Minahasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 27pt;" class="MsoNormal"&gt;Pegelaran kuasa-kuasa Neoliberalisme yang tampak dalam sejumlah perubahan pengaturan politik dan ekonomi global telah memberikan dampak bagi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; bahkan menjadi negara yang mempraktekan sistem kapitalisme atau menjadi kaki tangan dari negara-negara kapitalis. Henk Schulte Nordhot dan Gerry van Klinken dalam buku yang disunting mereka, &lt;i style=""&gt;Politik Lokal di Indonesia, &lt;/i&gt;(&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;: KITLV, 2007) mengulas pengaruh kapitalisme dan neoliberalisme bagi tata politik dan ekonomi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Nordhot dan Klinken dalam buku itu bahkan mengatakan, kondisi ini membuka ruang yang lebar untuk terjadinya korupsi. Selama 30 tahun rezim Orde Baru berkuasa, 30 % dari bantuan asing yang mencapai 30 miliar dolar AS dikorupsi oleh penguasa dan kroni-kroninya. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 27pt;" class="MsoNormal"&gt;Selama berkuasa, rezim Orde Baru yang tunduk pada pola dan sistem neoliberalisme secara sistematis melakukan upaya penyeragaman kultur, pemusatan kekuasaan, dan eksploitasi atas kekayaan alam masyarakat daerah. Pola manajemen pemerintahan yang kapitalistik bisa dikatakan sebagai faktor penting penyebab terberangus dan terpinggirnya nilai-nilai masyarakat adat. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Kearifan local sebagai &lt;i style=""&gt;modal social &lt;/i&gt;masyarakat adat perlahan-lahan terkikis oleh terjangan kapitalisme. Negarapun akhirnya dengan sengaja lebih memilih pola kapitalisme dalam melaksanakan usaha pembangunannya. Tapi kita lihat sendiri, selama 30 tahun Soeharto dengan pola manajemen pemerintahan yang seperti itu tidak berhasil membawa rakyat Indonesia ke era tinggal landas, malahan yang didapat kandas di tengah jalan. Negarapun akhirnya mengorbankan keragaman kulturnya termasuk mengeksploitasi secara besar-besaran sumber daya alam demi capaian pembangunan yang kuantitas itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Atas nama modernisasi, pemerintahpun membuat kebijakan yang kebanyakan di antaranya tidak berpihak pada keragaman kultur dan rakyat. Tarikan modernisasi ternyata lebih kuat dari pada usaha menjaga dan melestarikan identitas bangsa. Industrialisasi yang tampil bersamaan dengan modernisasi, dan itu yang dulunya Soeharto bilang sebagai pembangunan Indonesia, pada akhirnya hanya meminggirkan rakyat kecil. Akhirnya, ketika globalisasi yang memakai perangkat modernitas telah menjadi keniscayaan, maka tersentaklah kita. Apa kekuatan kita menghadapinya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fakih mengatakan: “…sesungguhnya globalisasi tidak ada sangkut paut dengan slogan kesejahteraan rakyat atau keadilan social di Negara-negara Dunia Ketiga, melainkan lebih didorong oleh kepentingan modal berskala global milik Negara-negara kaya dan perusahaan raksasa.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Bahkan menurut Fauzi, neoliberalisme di Dunia Ketiga merupakan babak kelanjutan dari pembangunisme. Namun, menurut Fauzi, neoliberalisme yang menggelar kuasa-kuasanya dengan cara yang berbeda dengan pembangunanisme, telah menjadi konteks baru dari gerakan-gerakan rakyat berbasis kultural di Dunia Ketiga. Maksudnya, kuasa-kuasa neoliberalisme yang hanya mengeksploitasi dan memiskinkan itu mendapat tantangan dengan lahirnya suatu kesadaran baru yang berwujud dalam gerakan-gerakan rakyat. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 27pt;" class="MsoNormal"&gt;Agaknya, meski kondisi kita, rakyat dan masyarakat adat ibarat anak manusia yang kondisi tubuhnya lemah akibat perang, tapi, revolusi, kebangkitan peradaban dan pembebasan selalu datang dalam kondisi yang hampir rusak seperti ini. Kondisi yang menyengserakan seolah-olah mendorong kita untuk memaksimalkan semua potensi dalam melakukan gerakan perlawanan. Maka, sebuah gerakan rakyat berbasis kultural bagi Tou Minahasa adalah harga mati untuk sebuah perjuangan membebaskan diri dari cengkeraman totaliterianisme negara dan neoliberalisme global. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 27pt;" class="MsoNormal"&gt;Gerakan rakyat berbasis kultural mari kita pahami sebagai cara untuk menemukan makna sebenarnya menjadi manusia dengan maryarakatnya yang merdeka. Gerakan rakyat berbasis kultural adalah gerakan pembaruan pemikiran dan aksi dalam merespon atau bahkan melawan kuasa-kuasa yang menindas, termasuk kuasa penyeragaman oleh negara yang masih berlanjut dan kuasa neoliberalisme yang telah menghancurkan kearifan lokal Tou Minahasa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 27pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apa yang harus kita buat dalam konteks gerakan rakyat berbasis kultural itu? &lt;i style=""&gt;Pertama, &lt;/i&gt;menurut saya adalah dengan cara memaknai kembali budaya kita Minahasa. Ini terkait dengan usaha pembaruan pemikiran kebudayaan kita. Interpretasi baru terhadap sejumlah sistem nilai peninggalan leluhur, seperti &lt;i style=""&gt;mapalus, &lt;/i&gt;prinsip “Si Tou Timou Tumou Tou”, semangat egaliter dan demokratis yang khas Minahasa perlu dilakukan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Kedua, &lt;/i&gt;semua elemen masyarakat Minahasa mestinya memiliki kesadaran bersama yang berwawasan nasional dan global yang berpijak dari perspektif lokal untuk memahami fenomena-fenomena yang sedang berlangsung. Misalnya, kita barangkali perlu bertanya, kenapa kita tiba-tiba menjadi konsumtif dan hedonis dengan gemar menikmati produk-produk kapitalis yang sebenarnya hanya mengeyangkan perut kita sesaat, tapi memiskinkan kaum kita? &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kenapa kita kemudian berkelahi dengan kehadiran perusahaan-perusahaan milik asing seperti PT. MSM di Likupang? Tidak bisa kah kita sepahaman untuk menolak kuasa-kuasa ekonomi yang berbahaya bagi keselamatan Tanah ini? Kita juga perlu bertanya, apakah desentralisasi yang kita maknai antara lain dengan melakukan pemekaran di sana-sini, memang adalah kebutuhan kita? Berikut kita juga perlu mencermati fenomena korupsi yang dilakukan oleh kepala-kepala daerah atau pejabat-pejabat di daerah kita. Apakah mereka itu (yang diduga atau telah terbukti melakukan korupsi) memang rakus adanya, atau jangan-jangan otonomi daerah ini adalah perangkap yang sengaja dirancang oleh rezim untuk menghancurkan persatuan dan kesadaran kultural kita? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 27pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; gereja-gereja atau agama-agama lain di Tanah Minahasa perlu melakukan evaluasi terhadap model berteologi yang sedang dijalankan sekarang. Sebab, pendahulu kita, telah cukup melakukan beberapa pencitraan negatif terhadap Tanah Minahasa dengan mengkafirkan sejumlah kearifan lokalnya. Berteologi dengan memperhatikan kekhasan dan kesakralan Tanah Minahasa adalah upaya teologis gereja atau agama-agama dalam ikut serta pembaharuan kehidupan peradaban Tanah Minahasa. &lt;i style=""&gt;Keempat,&lt;/i&gt; perguruan-perguruan tinggi, negeri atau swasta mestinya menjadi basis bagi (calon) pemikir-pemikir Minahasa untuk usaha kebangkitan Minahasa bersama. Di UKIT (YPTK), khususnya Fakultas Teologi, saya tahu memiliki kepedulian yang tinggi bagi usaha kemajuan Tanah Minahasa. Sejumlah hasil penelitian dosen maupun mahasiswa, menunjukkan semangatnya untuk memaknai Injil dalam konteks Tanah Minahasa. Usaha ini positif karena dengan begitu kita kemudian tidak mensubordinasi kebudayaan Minahasa di atas Injil. Pengalaman lalu, dengan masih kuatnya dominasi teologi Barat gereja tak lebih dari sebuah lembaga “sakral” yang kerjanya hanya medikte kebudayaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 27pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kita memang akhirnya tak lagi harus berharap banyak dari negara untuk kemajuan tanah kita. Sebab, negarapun ada dalam penderitaannya sendiri akibat dikoyak-koyak oleh kuasa neoliberalisme sebagai bentuk kolonialisme dan imprealisme yang baru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 27pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: right; text-indent: 27pt;" class="MsoNormal" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Inilah tantangan Tou Minahasa di abad &lt;i style=""&gt;globalisasi&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;postmodern&lt;/i&gt; ini.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right; text-indent: 27pt;" class="MsoNormal" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="IT"&gt;Tulisan ini pernah dipublikasikan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;                                                                                                      &lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Harian Komentar Edisi 28 dan 29 November&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-3227063952583935327?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/3227063952583935327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/02/esei-denni-pinontoan-dan-gerakan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3227063952583935327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3227063952583935327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/02/esei-denni-pinontoan-dan-gerakan.html' title='Esei Denni Pinontoan: &amp;quot;Neoliberalisme dan Gerakan Kultural Tou Minahasa&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-5837879821082249749</id><published>2009-01-16T19:08:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.986-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Sylvester "Ompi" Setligt: "Sorga Tak Selamanya Indah"</title><content type='html'>Di ruangan ukuran 3x4 itu kita menjadi satu&lt;br /&gt;Hanya ada sebatang lilin yang diam-diam mengintip&lt;br /&gt;Dengan suara jangkrik sayub-sayub terdengar&lt;br /&gt;Menambah adrenalin yang memang sudah tak tahan untuk di ledakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasrah..&lt;br /&gt;Kata yang bisa di gambarkan dalam kepalaku&lt;br /&gt;Nikmat..&lt;br /&gt;Kata yang dapat di lukiskan di kanvas wajahku&lt;br /&gt;Menyesal..&lt;br /&gt;Kata yang sangat tepat untuk menambah pengorbananku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah terbayang&lt;br /&gt;Begitu cepat aku bertemu sorga&lt;br /&gt;Saat mental belum siap&lt;br /&gt;Dan aku pun harus memikul sorga itu sendiri&lt;br /&gt;Kalau hadiah yang kau berikan ini&lt;br /&gt;Adalah hukuman padaku atas hilafku&lt;br /&gt;Akan ku jaga sampai waktu tak mengizinkan ku lagi&lt;br /&gt;Tapi izinkan aku berharap&lt;br /&gt;Sebelum dunia mencampakanku&lt;br /&gt;Jangan kau timpali kesalahanku&lt;br /&gt;Pada generasi berikutku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal yang buruk bagi sebuah kebahagiaan&lt;br /&gt;Tapi sorgaku bukan sorgamu&lt;br /&gt;Aku bukan gladiator yang siap bertarung &lt;br /&gt;Untuk mendapatkan ciuman permaisuri&lt;br /&gt;Aku hanyalah anak polos&lt;br /&gt;Yang berusaha menjadi lagar&lt;br /&gt;Maaf bila ku langgar komit di kamar itu&lt;br /&gt;Masih ada bintang yang belum ku petik&lt;br /&gt;Dan itu bukan kau atau dia&lt;br /&gt;Maaf bila aku hanya bisa berikan egoku&lt;br /&gt;Sebagai pengganti tanggung jawabku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit untuk di ingat&lt;br /&gt;Sakit pula bila di lupakan&lt;br /&gt;Waktu selalu sama&lt;br /&gt;Tapi bumi berputar&lt;br /&gt;Tetap berjuang kawan&lt;br /&gt;Buat dia bisa melihat dan menikmati&lt;br /&gt;Anehnya dunia ini&lt;br /&gt;Cayooo....!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Admin: Ini puisi pertama Ompi yg da publikasi di blog. Setelah pastiu main teater, akhirnya dia batulis puisi... adu bage di mana eee)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-5837879821082249749?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/5837879821082249749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/01/puisi-sylvester-setligt-tak-selamanya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5837879821082249749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5837879821082249749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/01/puisi-sylvester-setligt-tak-selamanya.html' title='Puisi Sylvester &amp;quot;Ompi&amp;quot; Setligt: &amp;quot;Sorga Tak Selamanya Indah&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-3916785061883512906</id><published>2009-01-16T18:56:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:48.994-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Chandra Dengah Rooroh: ”Batu Lisung &amp; Batu Nona, Batu Siouw Kurur, dan Tenget Watu! Pembawa Pesan yang mulai hilang Tujuan”</title><content type='html'>Secuil catatan 2 dari Ekspedisi Tonsea, Makalisung, kema, Sagerat dan Treman&lt;br /&gt;02 - 05 November 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Manusia) menjadi bebas terhadap ikatan- ikatan yang berasal dari luar. Yang mencegahnya bertindak dan berpikir menurut apa yang mereka anggap cocok. Ia akan bertindak dengan bebas jika ia tau apa yang hendak di inginkan, dipikirkan, dan dirasakan. Tapi masalanya ialah bahwa ia tidak tahu, dan karena ia akan menyesuaikan diri dngan penguasa- penguasa yang tidak dikenal dan ia akan mengiyakan hal- hal yang tidak disetujuinya. Semakin ia bertindak demikian, semakin ia tidak berdaya untuk merasa dan semakin ia ditekan untuk menurut! Manusia modern, meskipun dipulas dengan optimisme dan inisiatif, dikuasai oleh perasaan amat tidak berdaya bagaikan orang lumpuh yang hanya mampu menatap malapetaka sebagai tak terhindarkan.- Erich Fromm, Escape from freedom”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perasaan yang lucu campur malu secara pribadi bagi saya terasa ketika perjalanan kami dimulai di wilayah Tonsea, maklum disinilah saya berasal yaitu di wanua (kampung) kecil yang bernama Treman (bukan Preman ok) diwilayah minawerot, daerah antara Airmadidi dan Bitung dibawah kaki gunung Klabat, 28kilometer dari titik nol kota Manado. Langkah kami (Mawale Movement), Saya, Greenhill weol, Fredy Wowor, Frisky Tandaju dan Bodewyn Talumewo dan Kent Oroh berayun ke desa yang paling jauh diwilayah Minahasa Utara bernama Makalisung langsung disambut dengan hujan dan petir begitu kami sampai disana otomatis basah kuyub yang kami terima, permulaan yang menyenangkan pikir saya dongkol. Untunglah ada sebuah keluarga yang sangat baik hati dapat meluangkan tempat untuk kami berteduh sementara sekalian memberikan informasi tentang keadaan sekitarnya termasuk keberadaan situs Batu Lisung itu. Tanpa ba-bi-bu lagi begitu langit memperlihatkan senyumnya kepada alam untuk membuka jalannya, kami bergegas mencari tempat itu. Di perjalanan yang sedikit menguras tenaga karena pendakian kami sedikit dibingungkan oleh beberapa buah objek yang sering kami anggap bahwa itulah tempatnya (maklum itu pertama kali kami mencarinya), sehingga kami sudah terdampar jauh hampir 1200 meter melewati lokasi itu, kamipun kembali dan berhubung salah satu teman saya (Bode) mempunyai perasaan yang kuat dengan tempat- tempat seperti itu akhiranya bukit yang disebalah timur itu diklaim sebagai tempat situs itu.&lt;br /&gt;Ternyata memang benar inilah tempatnya, tapi selain sulit untuk menaikinya dan Greenhill harus berjuang beberapa melewati barisan tentara alam dan akhirnya harus terjungkal juga karena tagate di tali pohong (semak pohon), sampailah kami dipuncaknya. Ada sekitar lebih dari 20-an batu yang berbentuk lisung ditempat itu. Heran bercampur takjub kami terus mencari lagi sisa batu itu dengan menyisir sebagian timur bukit itu dan tak disangka saya dikagetkan oleh kepakan sayap burung yang lembut namun lebar itu terbang kelangit.”Titikak!” (sejenis Burung Hantu), temanku berkata. Dalam hati saya membenarkan saja karena saya telah melihatnya sendiri, dengan alis yang menyembul keluar dan muka seperti perangai yang marah, mungkin itulah jenis burung Hantu yang dipakai sebagai lambang Minahasa. Yang lebih menarik lagi, burung tadi telah meniggalkan seekor bayi burung tergeletak dengan sayap terbuka. Secara refleks kami menjauhi tempat itu dengan perasaan yang sangat bersalah tapi memang bukan itu tujuan kami, mengganggu keberadaannya. Di sisi jurang bagian utara kami menemukan sebuah batu yang sangat besar lubangnya serta ada guratan- guratan dibagian pinggir batu itu. Hati saya senang sekali, berpikir bahwa tidak banyak orang- orang khususnya orang Minahasa yang mampu melihat benda seperti ini yang konon telah melewati perjalanan waktu ini dan mungkin menitipkan pesan bahwa sebelum kami sudah pernah ada orang (Leluhur) yang telah hidup disini.&lt;br /&gt;“Sebuah konsep latar pertahanan yang kuno namun sangat efektif untuk tempat ini dimana orang- orang dulu bisa berlindung”. Lamunan kami dikagetkan oleh perkataan fredy. Memang benar setelah dianalisa, tempat ini adalah sebuah bukit kecil, dngan bebatuan disekelilingnya, mampu menjangkau penglihatan sampai ke daerah yang sangat jauh kedalam tanah minahasa maupun luar minahasa, dapat mengintai setiap pergerakan disekitar wilayah itu baik teman maupun lawan! “ah, lihat bentuk tempat ini seperti altar pemujaan pada jaman dahulu” Greenhill kemudian menimpali… Ada benarnya juga. Semoga tetap menjadi pembawa saksi untuk generasi selanjunya, kalaupun saja ada orang- orang yang mau peduli dengan tempat yang seperti ini. Setelah puas dan sedikit mengabadikan tempat itu, kamipun turun, dan kembali ke kampong untuk bersiap- siap melanjutkan perjalanan ke desa kema.&lt;br /&gt;Sesudah berpamitan kepada saudara yang telah menerima kami dengan sangat baik tadi kamipun segera meluncur ke Kema dengan menempuh sekitar 20 menit perjalanan. Desa Kema adalah sebuah desa diwilayah bagian tenggara Tonsea- Minahasa yang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 45menit dari titik nol kilometer kota Manado. Dengan sebagian besar lanskape wilayah perairan itu pada umumnya masyarakat disini bergantung hidupnya pada mata pencaharian dilaut. Aaah.. cukup penjelasannya, toh saya sudah melihatnya sendiri. Sampai diperempatan desa kema kami berbelok kea rah kanan dan mulai memasuki daerah wisata Batu Nona. Perasaan saya mendadak jadi aneh, demikian juga ketika melihat sebagian teman- teman yang hanya tersenyum- senyum kecut pada saya! Saya menjelaskan bahwa wilayah daerah wisata itu berada dibalik bukit sebelah sana, kataku menyimpulkan!&lt;br /&gt;Namun apa mau dikata, terkejut, terhina, malu, marah, frustasi, hancur, dan hamper menangis, semua semua perasaan bercampur jadi satu keluar saja dari pikiranku begitu melihat tempat itu. Batu Nona, kenapa wajahmu terlihat buruk? kenapa terlihat sendu? Tempat yang dulu sangat asri, sejuk dengan pantai yang jernih kini menjadi keruh, 2 bukit yang hijau disebelah sana yang dulu begitu hijau kini terasa panas dan gersang, perahu- perahu berserakan dimana- mana, rumah- rumah yang entah mempunai ijin atau tidak berdiri dimana- mana, coret- coretan dimana- mana, galian- galian lubang harta karun dari orang- orang yang tidak bertanggung jawab terlihat disana- sini, ada juga segerombolan orang- orang sedang mennggak minuman keras disekitar situ, dan yang lebih mengejutkan saya lagi ada sebuah bangunan permanent bertuliskan “pabrik es mini”. Pikiranku langsung menegaskan bahwa ini bukan daerah wisata batu Nona dulu itu, ini bukan tempat berkunjung/ berwisata dan tempat memperlihatkan betapa cantiknya daerah malesung yang sebenarnya itu, ini PELABUHAN!! Bukan, pelabuhanpun tidak seberantakan ini… tapi yang pasti ini bukan lagi proyek pemerintah pariwisata dan budaya yang dulu telah menghabiskan miliaran rupiah demi pembangunan dan pemeliharaan tempat ini. Apakah orang- orang disekitar sini telah melupakannya?? Dimana canda tawa anak- anak rombongan wisata itu, dimana pedagang gorengan yang selalu mangkal di pinggir Los rumah sebelah sana? Dengan linangan airmata saya berlari sekuat tenaga mencari batu itu, sesampai didepannya, tatapan nanar seakan menatapku didepan mataku sendiri, mungkin hendak mengatakan, “kamana ngana selama ini, kyapa baru datang lia pa qta skarang? (kemanakah engkau selama ini, kenapa baru menemuiku sekarang?”. seluruh tenaga saya keluarkan untuk berteriak sekuat- kuatnya ditempat itu.&lt;br /&gt;Apa dayaku? mungkin tak berdaya saat itu… tidak ada lagi tempat untuk menyombongkan diri dihadapan teman- temanku, tidak ada lagi sebuah tempat diwilayahku yang akan kuberitahu pada dunia bahwa disini ada sebuah fenomena alam yang sangat menarik. pikiranku hancur saat itu, apakah mungkin Waruga yang ada di dalam air itu sudah tidak ada lagi?? Mari kita pikirkan kembali dan kalo siapa saja yang ingin atau pernah ketmpat ini pasti sudah pernah mengenal tempat ini dan saya jamin 100% kalau kalian datang lagi sekarang pasti akan salah jalan. Semua ingatan langsung terhapus menyaksikan kegilaan ini… dengan langkah gontai dan dendam yang sudah tersulut demikian besarnya. saya mengajak teman- teman untuk meneruskan perjalanan ke Sagerat, dengan perasaan kurang semangat saya memimpin rombongan yang harus eberapa kali tersesat karena belum tau pasti dimana lokais situ situ berada, tapi satu semangat yang masih membara memaksakan kami yang pada akhirnya sampai di tujuan.&lt;br /&gt;Sebuah tempat yang bkata orang bernama Erpak adalah suatu tempat yang mungkin buat saya adalah tempat yang fenomenal, lihat saja sepanjang perjalanan tadi, tak satupun ada bebatuan yang saya lihat tapi didepan saya sudah berdiri megah sebuah batu yang diameternya mungkin lebih dari 15meter itu membuat saya terheran- heran sekaligus melupakan kejadian tadi. Itulah Batu siouw kurur. Situs ini berada di geo-strategy 4km dari titik nol kota Bitung. dinamakan seperti itu karena diangkat dari sosok urban legendnya orang Minahasa Opo Siouw Kurur, Dia adalah salah satu dari 3 penasihat Opo Muntu Untu jaman pertamanya hidup orang Minahasa, mengemban tugas sebagai penasihat, Kurir sampai tukang Raghes (algojo pemotong kepala). Dan batu ini adalah salah satu pos persinggahannya diwilayah Tonsea bagian timur, sebelumnya juga dikatakan warga masyarakat bahwa ada juga batu seperti ini dibeberapa wilayah di Tonsea seperti Toka Tawalan &amp;amp; tokaimarang desa Treman dan Bukit Makawembeng! Sedikit berlepas lelah dan bertukar pikiran, sambil menukar persepsi dan data hingga diskusi Grenhill sampai ke pojok Permesta, bersenda gurau kami lakukan disitu sehingga tak terasa perut kami keroncongan dan memaksa kami untuk pulang. Lucunya, saya tidak melihat juru kunci disitu sama seperti tempat- tempat yang lain. Tapi tetap pernyataan saya bahwa tana’ orang Minahasa sampai jauh ke utara tangkai Celebes ini dan sudah ada buktinya! tapi apakah orang minahasa telah menyadarinya? Apakah mereka tau akan kehadiran batu itu?&lt;br /&gt;Sampai di Treman kami langsung dihadiakan kopi pahit panas oleh orang tua saya, kontan saja kami langsung tangingi- ngingi sanang ( tersenyum lebar) karena tadi harus bergulat dengan dinginnya alam. Setelah selesai makan kami berencana untuk istirahat tapi Greenhill sangat bersih keras untuk segera melihat tenget Watu (batu Lisung), sebuah situs yang ada di Treman yang berlokasi di wilayah perkebunan Eris. Dengan langkah gontai tapi masih diikat dengan semangat, tim yang tinggal saya, Freddy dan Greenhill itu mengarah ke selatan desa Treman. Jujur saja, cukup sulit untuk menemukan Tenget Watu karena selama hidup saya baru 2 kali saya melihat keberadaannya disitu. Satu hal yang membuat saya sangat kecewa sesampainya disana setelah beberapa kali bertanya, keadaannya tidak lagi terurus, jalan masuknya saja sulit diketahui orang, bagaimana orang lain akan mengetahuinya, mungkin saja saya menjamin bahwa generasi sekarang orang kampung Treman pun sudah tidak tau lagi tempat ini, tempat yang pernah menjadi Puser in tana’ nya orang- orang Tareuman ( artinya ; yang pertama, atau pembaharuan dari nama desa Treman sekarang), saksi perjalanan yang hebat dari Malesung Besar mencari dunia baru, mungkin saja orang- orang Treman sekarang sudah tidak mengerti lagi bahwa Dotu Tua pembawa leluhur- leluhur Treman adalah orang kuat yang Bergelar Lengkong Waya… mungkin saja disini dimulainya peradaban orang Tonsea kalawat pertama sehingga menjadi rumpun Tonsea yang besar ketika memulai perjalanan yang eksotis dari kelewer dan keraris termasuk eris sampai ke minawanua dan berakhir di Tareuman jaya.. apakah kita sudah mengetahuinya?? Saat ini kita sudah kabur dan sudah tidak tau- menau akan sebenarnya darimana tempat kita berasal, dan mungkin saja sebentar kita akan kehilangan tempat dimana kita berasal… mungkin saja…&lt;br /&gt;Dan mungkin saya harus mengakhiri catatan ini dengan Satu pertanyaan yang melingkar dikepala sampai saat ini, apakah sebagian wilayah di ujung utara Malesung ini masih Tana’ adatnya orang Minahasa Tonsea lagi atau bukan??? Impian saya, mengembalikan harkat dan martabat tanah &amp;amp; masyarakat yang saya cintai ini… (Qta lapas napas panjag lia samua ini, nda sadar minahasa so jaga baganti kuli, dalang hati kita Cuma rasa manages deng batahang diri. Cuma satu yang tatap tabakar dihati, mo ambe ulang qta pe tana deng I jajat U santi!!!, kutipan dari buku puisi bahasa manado JONGEN SPOKEN, Ch. D. Rooroh).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-3916785061883512906?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/3916785061883512906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/01/esei-chandra-dengah-rooroh-batu-lisung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3916785061883512906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3916785061883512906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2009/01/esei-chandra-dengah-rooroh-batu-lisung.html' title='Esei Chandra Dengah Rooroh: ”Batu Lisung &amp;amp; Batu Nona, Batu Siouw Kurur, dan Tenget Watu! Pembawa Pesan yang mulai hilang Tujuan”'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-1567754469205898080</id><published>2008-12-23T22:21:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.004-07:00</updated><title type='text'>Esei Denni Pinontoan: "Mesias Lahir Di Pinabetengan"</title><content type='html'>Sebuah Usaha Memaknai Natal Yesus Kristus dalam Konteks Minahasa Kontemporer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Denni Pinontoan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa (9/12) malam lalu, di Watu Pinabetengan sekelompok anak muda Minahasa merayakan Natal Yesus Kristus dengan cara mereka sendiri. Tidak ada lagu Natal. Tidak tampak hiasan yang khas perayaan Natal, semisal pohon Natal, lampu kelap-kelip, dan tidak ada lilin-lilin yang diatur berbentuk salib untuk secara bergantin dinyalakan oleh orang-orang berkelas. Dan juga tidak ada khotbah dan doa yang dogmatis dari seorang pendeta atau evangelis. Khotbah diganti dengan diskusi intelektual, pujian-pujian diganti dengan pembacaan puisi secara bergantian, terang lilin diganti dengan nyala lampu petromaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian depan bangunan yang menutup Watu Pinabetengan yang monumental itu, sekelompok anak muda Minahasa ini duduk melingkar. Ada yang bersila sambil menyandarkan badan di dinding beton bangunan itu, dan yang lainnya bersila di atas lantai yang terbuat dari semen. Malam itu memang tidak tampak ada sekelompok orang yang sedang merayakan Natal Yesus Kristus, sebagaimana lazimnya umat Kristen merayakan Pohon Terang. Tapi bagaimanapun, bagi mereka itu adalah perayaan Natal. Tapi, apapun bentuknya acara malam itu, yang jelas, bagi mereka inilah cara praktis tapi bermakna dalam usaha memaknai Natal Yesus Kristus dalam konteks Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok anak muda Minahasa ini terdiri dari berbagai elemen, antaranya dari Komunitas Pinabetengan Muda (anggotanya kebanyakan dari pemuda Desa Pinabetengan), Mawale Movement dan perwakilan Teater Unggu UNIMA. Mereka memang berada dalam komunitasnya masing-masing, tapi semua berada dalam spirit yang sama, yaitu sedang dalam usaha melakukan pergerakkan Keminahasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema perayaan Natal Yesus Kristus oleh anak muda Minahasa di malam itu adalah: ”Mesiah Lahir di Pinabetengan”. Sebuah tema yang provokatif tapi sebenarnya relevan dan penuh makna dalam usaha memaknai Injil Yesus Kritus dalam konteks penggerakan Minahasa. Barangkali bagi banyak orang ini kontroversi, sebab sejak sekolah Minggu umat Kristen telah diajarkan bahwa Yesus lahir di Betlehem bukan di tempat lain, apalagi di Pinabetengan. Tapi tema ini sebenarnya sedang usaha memaknai makna dalam dalam kekinian dan kedisinian Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watu Pinabetengan sengaja dijadikan sebagai tempat untuk melakukan ritual intelektual itu mengingat dalam pemaknaan sekarang bagi Tou Minahasa Watu ini memiliki nilai historis dan kultural yang tidak bisa dilepaskan dalam merefleksikan keminahasaan. Menurut Freddy Wowor dan Greenhill Weol (penggiat Mawale Movement) dan Fryski Tandaju (dari Pinabetengan Muda), ini adalah cara yang tepat dalam memaknai nilai Watu itu. Sebab menurut mereka, Watu Pinabetengan sejatinya adalah tempat berdiskusi dan bermusyawarah seperti yang dilakukan oleh para dotu Minahasa tempo dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi malam itu berlangsung alot dan penuh makna dalam usaha memikirkan keminahasaan kontemporer. Pembicaraan yang serius mengarah ke dua pertanyaan, yaitu, ”Siapakah Yesus dalam Konteks Minahasa?” dan ”Siapa Tou Minahasa itu?” Dua pertanyaan ini akhirnya menjadi pemicu dalam usaha menginterpretasi ulang makna kelahiran Yesus, dan usaha menjawab tentang jati diri Tou Minahasa yang terus berdialektika dalam sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendiskusikan pertanyaan, ”Siapakah Yesus dalam Konteks Minahasa?” saya kemudian teringat pertanyaan Yesus kepada murid-murid-Nya yang ditulis oleh para penulis Injil. Lukas 9:20-21 (dapat juga dibaca dalam Mat. 16:15-6 dan Mrk. 8:29) menulis: ”Yesus bertanya kepada mereka: ’Menurut kamu, siapakah Aku ini?’ Jawab Petrus: ’Mesias dari Allah.’” Matius menulis jawaban Petrus itu dengan: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Sementara Markus menulis: ”Engkau adalah Mesias!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pertanyaan yang mestinya dijawab oleh gereja (sebagai sistem nilai maupun sebagai lembaga) sepanjang abad. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin menegaskan pengakuan iman dan kepercayaan atas kemesiasan Yesus, Raja yang diurapi, pembebas dari segala bentuk kuasa yang mencengkeram dan menindas. Injil Yesus Kristus mestinya berkisar pada spirit atau semangat pembebasan, pemerdekaan, keadilan dan damai sejahtera bagi yang tertindas, kaum yang lemah karena diskriminasi dan marginalisasi oleh kuasa apapun termasuk kekuasaan negara yang represif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan siapakah Yesus menurut kita, sekarang ini menjadi pokok pembicaraan dalam diskusi-diskusi gereja-gereja Asia. Dalam usaha menemukan siapa Yesus dalam konteks Asia itu akhirnya mengarahkan kita pada apa makna Injil Yesus dalam konteks yang plural (SARA), totaliterianisme kekuasaan negara, kemiskinan, kuasa neoliberalisme dan berbagai persoalan lainnya. Ini sebenarnya sama juga dengan bertanya: ”Siapa Yesus dalam konteks kebudayaan kita?” Akhirnya, mau tidak mau, jawaban atas pertanyaan ini akan menyentuh persoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya kita. Dengan demikian, Injil Yesus Kristus dan makna pengosongan diri Allah melalui kelahiran Yesus tidak hanya akan menjadi kata-kata indah untuk disyairkan yang hanya membuat umat atau rakyat tertidur secara terpaksa dalam keadaan lapar akibat pemiskinan oleh kuasa neoliberalisme, menderita karena konflik/peperangan, dan tertindas di tanah sendiri akibat kamuflase politik negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natal dan Injil Yesus Kristus akhirnya harus bermakna pembebasan, pemerdekaan, penerimaan, keadilan dan damai sejahtera. Dalam konteks kebudayaan kita Minahasa, Natal dan Injil Yesus tentu bukan lagi bermakna mendikte dan menvonis salah nilai dan bentuk budaya yang dipahami dan dipraktekkan Tou Minahasa, melainkan lebih sebagai spirit dan semangat dalam usaha penggerakkan keminahasaan yang berhadapan dengan ancaman neoliberalisme, kekuasaan negara yang mutlak, dan perilaku pragmatis dalam Pilkada, Pilcaleg, serta kerja politik elit kita di lembaga eksekutif dan legislatif. Dengan penuh keyakinan kita mestinya merumuskan pengakuan iman kita orang Minahasa dengan memaknai Natal dan Injil Yesus sebagai spirit perlawanan terhadap segala kuasa yang menyesatkan itu. Itulah jawaban kita Tou Minahasa atas pertanyaan Yesus: ”Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?” Dengan demikian, sebuah pengakuan iman khas kebudayaan Minahasa telah kita rumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan itu, kita juga harus menjawab pertanyaan: ”Sei sia se tou Minahasa?”, ”Siapa Orang Minahasa?” Dalam diskusi di Watu Pinabetengan itu berhasil disimpulkan bahwa orang Minahasa bisa berdasarkan geneologis, berdarah Minahasa dan juga bisa siapapun dia, dari manapun asalnya, tapi tinggal di Tanah Minahasa dan mampu membuktikkan komitmennya atas perjuangan Minahasa untuk mencapai cita-citanya. Minahasa memang bermakna pluralisme. Minahasa berarti bersatu dalam perbedaan, atau keberagaman yang berkomitmen berjuang bersama-sama untuk mencapai cita-cita yang sama. Itulah bangsa Minahasa secara kultural. Sehingga Minahasa tidaklah harus diidentikkan dengan agama Kristen. Bahwa nilai kekristenan telah mempengaruhi atau memberi isi bagi kebudayaan Minahasa sampai hari ini, ya, tapi agama Kristen identik dengan Minahasa secara teritorial dan politik barangkali tidak, dan keliru kalau kita menyamakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Yesus, ”Menurut kamu, siapakah Aku ini?”, memberi ruang bagi manusia dalam ruang dan waktunya untuk mengekspresikan imannya kepada Yesus sebagai Mesias Anak Allah, yang membawa kabar damai sejahtera, kebebasan dan keadilan. Jawaban yang diberikan tentu akan bermacam-macam. Tapi bentuk jawaban itu akan selalu berdasar pada dua hal, yaitu siapa yang memberi jawab dan dalam kebudayaan (ruang dan waktu) apa si pemberi jawab itu hidup. Injil Yesus Kristus sebagai spirit melampaui ruang dan waktu manusia, tapi cara mengekspresikannya mestinya berbentuk hasil dialog antara makna Injil yang tetap itu dengan ruang dan waktu manusia yang selalu berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Natal dan Injil Yesus Kristus mestinya bukan hanya soal ”surga” yang akan datang dan konon itu, tapi terutama adalah soal sekarang, hari ini. Minahasa hari ini, adalah Minahasa yang sedang bergolak hebat dengan persoalan sentralisme kekuasaan negara, serbuan kuasa kapitalisme dan neoliberalisme yang memakai perangkat globalisasi, serta pragmatisme elitnya – yang kebanyakan adalah Tou Minahasa – dalam jabatan-jabatan politik serta ekonomi yang dengannya terbentuk kelas-kelas sosial yang saling menindas. Spirit Natal dan Injil Yesus Kristus mestinya bermakna perlawanan terhadap segala kuasa yang sesat itu. Sebab keselamatan mestinya juga bermakna hari ini, yaitu keselamatan atau pembebasan atas segala kuasa dunia yang menindas dan memiskinkan (Luk. 4:18-19).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-1567754469205898080?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/1567754469205898080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/esei-denni-pinontoan-lahir-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/1567754469205898080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/1567754469205898080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/esei-denni-pinontoan-lahir-di.html' title='Esei Denni Pinontoan: &amp;quot;Mesias Lahir Di Pinabetengan&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-5419708059552151852</id><published>2008-12-15T17:16:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.014-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen Denni Pinontoan: "Pohon Besar Itu".</title><content type='html'>Perkenalkan, aku Pinkan. Aku anak perempuan berusia 11 tahun. Aku tinggal di sebuah rumah kayu di sebuah wanua1 di bagian Selatan Minahasa. Tahun ini aku akan tamat sekolah dasar. Doakan, ya agar aku bisa lulus dalam ujian akhir yang dua bulan lagi itu. Aku memang butuh doa. Karena kata guruku, ujian kali ini sangat ketat. Soal-soalnya dikirim dari pusat dan nanti dibuka amplopnya ketika ujian akan dimulai. Aku harus memang butuh dukungan doa, agar aku dijauhkan dari cobaan untuk menyontek atau menerima bantuan dari guru. Sebab, guru juga kadang suka membocorkan soal-soal ujian. Sebenarnya bukan untuk pertama-tama melakukan perbuatan yang melanggar aturan, melainkan untuk membantu kami murid mereka yang tersayang.&lt;br /&gt;      Tapi, lupakan dulu ya, soal ujian itu. Toh, aku sudah belajar keras dan juga sudah meminta doa dari mama, papa, kakak dan kalian semua. Tuhan mana yang mau membiarkan anak-anak-Nya jatuh dalam ketidalulusan?&lt;br /&gt;      Ada persoalan penting yang ingin aku ceritakan pada kalian. Minggu lalu wanua kami heboh dengan kejadian tanah longsor di ujung wanua kami. Untung kejadian itu tidak sampai memakan korban jiwa manusia, kecuali beberapa pohon cengkih sansibar milik om Alo. Tapi ada juga yang perlu disayangkan. Sapi milik Om Yantje yang bernama Bongko itu, tewas tertimbun tanah. Sampai sekarang cuma ekornya yang tampak keluar dari timbunan tanah bercampur batu. Tubuh si Bongko yang malang perlahan tapi pasti sementara membusuk dalam tanah. Kasihan memang. Padahal, menurut cerita Om Yantje, si Bongko sedang mengandung anaknya. Om Yante dan istrinya, tante Neli aku lihat sangat sedih. Aku apa lagi, si anak perempuan kecil ini.&lt;br /&gt;      Warga di wanua kami memang belum melakukan apa-apa membereskan longsoran tanah itu. Sebab hujan baru berhenti kemarin. Hukum Tua2 bilang sudah menelepon ke pemerintah kabupaten untuk mendatangkan alat berat mengangkat timbunan tanah itu. Tapi, aku tak tahu mengapa hingga sekarang belum muncul juga alat berat itu. Warga pun hanya ramai membicarakan perihal tanah longsornya, yang merobohkan pohon cengkih dan membunuh si Bongko yang sedang bunting.&lt;br /&gt;      Sore ini kakek, ayah dari ibu datang ke rumah. Kedatangan kakek ke rumah selain sekedar untuk melihat keberadaan kami yang rutin dilakukannya, tapi juga untuk menanyakan kabarku. Bukan kabar soal apakah aman dari tanah longsor atau tidak, melainkan persiapanku untuk ujian akhir yang lagi dua minggu itu. Kakek memang selalu mengikuti perkembangan sekolahku, ini barangkali karena dia mantan guru di wanua kami. Kakek dulu kata ibu, adalah guru matematika di sekolah tempat aku bersekolah sekarang. Setelah memastikan bahwa aku sudah siap mengikuti ujian akhir, aku lihat kakek dan ayah bercerita di teras rumah.&lt;br /&gt;      Aku berada di dalam rumah sibuk mengisi latihan soal-soal ujian akhir. Antara aku dengan ayah dan kakek di teras rumah itu hanya dipisahkan oleh dinding rumah sehingga aku masih bisa menguping pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;      "Makanya, apa kata para orang tua mestinya kita dengar. Jangan sekali-kali menebang pohon beringin itu. Kamu tahu, usia pohon itu sudah setua wanua kita. Masakan tidak dihormati lagi. Kami dulu, menebang cabangnya saja harus minta permisi." kata Kakek pada ayah yang  duduk di kursi sebelahnya. "Pohon beringin itu ditanam oleh leluhur kita untuk menjaga wanua ini."&lt;br /&gt;       "Yah, ini barangkali karena musim hujannya sudah sangat sering sehingga tidak bisa tertahan lagi oleh tanah. Alam memang sudah berkehendak begitu untuk menegur kelakuan kita manusia di wanua ini yang telah sangat jauh dari Tuhan. Kalau soal bahwa pohon beringin itu adalah penjaga kampung ini, aku pikir itu tinggal cerita lama, yang sekarang telah menjadi takhyul. Masakan kita orang yang sudah Kristen masih percaya takhyul. Karena itulah sehingga Tuhan marah," ujar ayah.&lt;br /&gt;      Kakek tak langsung menanggapi pemikiran ayah. Segelas kopi hitam yang dihidangkan ibu, diraih kakek dari meja. Seteguk cairan berkafein itu masuk ke kerongkongannya. Sebatang rokok kretek menyusul kemudian di bibirnya. Segera setelah itu kakek pun melepaskan kepulan asapnya. Sedangkan segelas berisi teh panas untuk ayah masih diam mematung di meja, hanya uapnya yang menari-nari.&lt;br /&gt;      Setelah dua kali mengeluarkan kepulan asap rokok, kakek pun berkata, "Ini bukan takhyul, Rob. Untung bukan Yantje atau kita yang menjadi korban. Bongko itu mati tertimbun longsor karena memang penjaga pohon beringin itu meminta tumbal. Ini karena kita tidak menghargainya lagi," kakek berkata menjelaskan. Tangannya ikut bergerak. Sebatang rokok kretek itu masih terjepit pasrah di antara jari-jarinya yang berurat.&lt;br /&gt;      "Sudahlah, yah. Ini bukan soal tumbal atau penjaga pohon itu sedang marah. Ini karena wanua kita ini harus sadar diri. Lihat, perjudian, percabulan dan pencurian semakin hari semakin marak terjadi di wanua kita ini. Itu semua dosa, yah. Untung Tuhan menegur kita masih lewat tanah longsor yang korbannya hanya Bongko dan pohon cengkih sansibar. Coba kalau gempa yang membela tanah dan sakit menular, seperti flu burung atau Aids. Sudah saatnya orang-orang di wanua ini melakukan pertobatan massal," Ayah agaknya mulai terpancing mengkhotbai kakek. Ini memang besar kemungkinan terjadi, karena ayah selain sebagai PNS di kantor kecamatan, juga sebagai penatua3 di gereja kami, yang kerjanya adalah juga mengkhotbai orang.&lt;br /&gt;      Aku berhenti sejenak dari kesibukanku mengisi latihan soal-soal ujian akhir. Aku tiba-tiba terkejut bahkan bulu romahku sampai merinding mendengar percakapan yang sudah sangat serius itu. Aku pun keluar ingin ikut memberikan pendapat di tengah percakapan antara kakek dan ayah. Aku  melangkah ke teras rumah dan berkata, "Begini pak, kek,..."&lt;br /&gt;      Belum selesai aku berbicara, ayah langsung memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar aku tidak usah ikut berbicara seraya berkata, "Pinkan, ayah sudah berkali-kali bilang, kalau orang tua lagi berbicara, kamu tidak boleh mengganggu. Kamu masih kecil tidak boleh mengganggu percakapan orang dewasa."&lt;br /&gt;      Larangan seperti itu memang selalu aku dengar. Alasanya selalu sama, kata ayah, karena aku masih kecil. Ini tidak adil. Padahal, Yesuspun sangat menghargai anak kecil. Tidak demokratis dan egaliter kalau begitu. Padahal, aku pernah baca buku, katanya orang Minahasa dulu sangat demokratis dan egaliter. Semua punya hak bicara asalkan sudah tahu bicara dan tentu sopan. Tapi bagaimanapun aku harus bicara, percuma aku sekolah kalau tidak boleh mengemukakan pendapat. Aku harus bicara sekarang.&lt;br /&gt;      "Ayah..."&lt;br /&gt;      Sekali lagi ayah melarangku. Tapi kakek membela.&lt;br /&gt;      "Rob, biarkan Pinkan bicara," kata kakek membela. "Apa yang ingin kau katakan, Pinkan?"&lt;br /&gt;      Ayah rupanya tak bersikeras melarangku berbicara. Ayah pun tiba-tiba hanya diam tak memandangku. Kakek malah menatapku dan siap mendengar apa yang akan aku katakan.&lt;br /&gt;      "Begini, kek, tanah longsor itu, kata guru Pinkan di sekolah antara lain di sebabkan oleh erosi. Air hujan tak lagi meresap ke dalam tanah. Ini karena tak ada lagi akar pohon-pohon yang menahannya. Tanah di ujung kampung itu 'kan tak ada lagi pohon besar. Jadi kalau hujan datang, airnya langsung mengikis tanahnya," kataku mengutip kata guru IPA-ku di sekolah.&lt;br /&gt;      "Itu sebabnya, kata kakek kepada ayahmu ini, bahwa tanah itu longsor karena kita tak lagi menghormati kehidupan tumbuhan di sana. Kita seenaknya menebang pohon, tanpa minta permisi kepada penjaganya," ujar kakek membalas apa yang aku bilang.&lt;br /&gt;      "Tapi, bagaimana dengan kata alkitab bahwa manusia harus menguasai dan menaklukan alam ini?" kata ayah menyela.&lt;br /&gt;      "Tapi, yah, tidak harus rakus. Harus ada keseimbangan antara pemanfaatan alam dan pemeliharaannya," ujarku. Lagi-lagi aku mengutip kata guruku di sekolah.&lt;br /&gt;      "Benar, Pinkan. Dulu kakek masih melihat orang menebang pohon dengan memakai semacam gergaji besar yang digerakkan oleh tenaga dua orang. Waktu itu memang orang juga menebang pohon, tapi tidak terlalu merusak, karena yang diambil adalah kayu di hutan yang usianya sudah sangat tua dan cara penebangannya pun masih tradisional dengan mengikuti petunjuk para tua-tua. Selain itu karena memang orang masih percaya bahwa alam adalah sahabat karibnya. Antara manusia dan hutan misalnya masih dianggap memiliki kesatuan. Dan, meski memang agama menyebut penghormatan kepada pohon yang para leluhur kita lakukan sebagai berhala, tapi seingat kakek kampung ini tidak pernah terjadi longsor. Sekarang manusia sudah semakin rakus dan tidak menghormati alam. Di belakang rumah pun kita sudah bisa mendengar raungan gergaji mesin. Sementara hampir setiap hari lewat truk-truk besar yang mengangkut kayu yang di tebang di hutan kita," kakek memberi penjelasan panjang lebar.&lt;br /&gt;      Ayah aku lihat sedikit terkesima dengan penjelasan kakek sehingga tidak berbicara lagi. Aku pun ketika mendengar itu bergegas masuk ke dalam rumah mengambil kliping koran yang aku gunting dari sebuah koran harian lokal. Aku ambil kliping itu dan membacakannnya untuk kakek dan ayah. Begini isi berita itu,&lt;br /&gt;      "Kerusakan hutan di Sulawei Utara yang telah mencapai 60 persen, diduga kuat sebagai pemicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor yang mem-porak-porandakan sejumlah wilayah Sulut, selang tahun 2007. Kerusakan hutan di daerah ini telah mencapai 60 persen dari 788.691 hektar luas kawasan hutan yang ada. Kenyataan ini berimbas pada munculnya lahan kritis yang luasnya sudah mencapai sekitar 473.214 hektar. Sementara data lain menyebutkan bahwa laju keruskan hutan di seluruh Indonesia mencapai 2,8 juta hektar per tahun."&lt;br /&gt;      "Nah, itu dia. Ini karena manusia telah memusuhi alam. Ini antara lain ya, itu tadi karena manusia tidak lagi menghargai kearifan budaya yang telah ditinggalkan oleh para leluhur. Manusia sekarang menjadi liar karena berburu kaya. Hutan yang adalah kehidupan kita mereka rusak. Jadi jangan heran kalau alam juga marah. Ini sudah hukum alam," tandas kakek.&lt;br /&gt;      "Setuju, kek!" aku berkata semangat.  &lt;br /&gt;      Ayah hanya diam tapi kentara sedang berpikir. Dia seolah-olah sedang menganalisa data dari kliping koran yang aku bacakan dan pemikiran kakek. Bahkan teh yang di meja itu aku lihat baru seteguk yang ayah minum. Tidak ada lagi tarian uap dari gelas itu. Sementara gelas kopi milik kakek tinggal dasarnya yang hitam. Mudah-mudahan diam ayah berarti perenungan untuk menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab terhadap alam. Kalau kakek biarlah dia menjadi orang tua yang Kristen tapi tetap Minahasa. Sementara aku hanya berharap mudah-mudahan alam tidak cepat-cepat rusak. Aku masih harus menjalani kehidupan yang panjang.&lt;br /&gt;      Dan perlu kalian tahu, kalau nanti aku tak bisa lagi merasakan nikmatnya hidup di alam yang hijau dan lestari, yang aku tuntut adalah kamu semua, manusia-manusia dewasa, yang kata kakekku semakin rakus karena nafsu kaya dan berkuasa. Ingat itu!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pojok Suara Minahasa, 93,3 FM&lt;br /&gt;      Jumat, 25 April 2008 17:36 pm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-5419708059552151852?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/5419708059552151852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/cerpen-denni-pinontoan-besar-itu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5419708059552151852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5419708059552151852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/cerpen-denni-pinontoan-besar-itu.html' title='Cerpen Denni Pinontoan: &amp;quot;Pohon Besar Itu&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-1150078497889392087</id><published>2008-12-15T17:11:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.023-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Puisi Ran: "BUNGA TENGA JALAN".</title><content type='html'>Tataru diatas beton yang babla jalan jadi dua&lt;br /&gt;Dalam pot ta ukir&lt;br /&gt;Ada juga yang tataru di trotoar&lt;br /&gt;Jadi panghias kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Estetika yang so nda ada etika&lt;br /&gt;Asik ba kase gaga kota deng warna bunga&lt;br /&gt;Mar yang di atas sana&lt;br /&gt;Itu dang yang jadi tampa ba simpang aer&lt;br /&gt;Ta biar kong so jadi bota’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas datang bencana&lt;br /&gt;Rame – rame bacirita hutan so gundul&lt;br /&gt;Gundul ngana pe nene moyang&lt;br /&gt;Cuma tenga kota yang ngoni kase gaga&lt;br /&gt;Kong itu disana ngoni kase biar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abis itu le bicara macam – macam&lt;br /&gt;Supaya kata, salah nyanda dapa kantara&lt;br /&gt;Danau so kurang stenga tiang&lt;br /&gt;Hutan so jadi lahan proyek&lt;br /&gt;Bencana datang&lt;br /&gt;Yang ada cuma baku kase sala&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-1150078497889392087?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/1150078497889392087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/puisi-ran-tenga-jalan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/1150078497889392087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/1150078497889392087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/puisi-ran-tenga-jalan.html' title='Puisi Ran: &amp;quot;BUNGA TENGA JALAN&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-3687569293042487129</id><published>2008-12-15T17:09:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.030-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Mya: "Kita Hebat".</title><content type='html'>Kita Hebat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu derap langkah terdengar semakin mendekat&lt;br /&gt;Sebagian besar dari mereka begitu asing bagiku&lt;br /&gt;Hanya satu aroma keringat yang cukup bisa akur dengan udara disini&lt;br /&gt;Di tempatku berakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelilingku riuh, mulai gusar&lt;br /&gt;Benda-benda angkuh yang mengkilap terselip diantaranya&lt;br /&gt;Diantara pemilik langkah-langkah itu&lt;br /&gt;Si tipis-tajam pembunuh sadis, musuh besar bangsaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dia tak bersuara cempreng seperti saudara sesukunya&lt;br /&gt;Yang panjang, bergigi dan sangat jelek&lt;br /&gt;Namun kali ini sepertinya dia kan putuskan lagi mata-mata yang ingin nikmati musim berjalan&lt;br /&gt;Ku tak bisa biarkan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana sahabat sejati datang sebagai pahlawan&lt;br /&gt;Walau terbang kesana kemari dengan wujudnya yang hancur penuh darah&lt;br /&gt;Namun dia tau apa yang harus dia lakukan&lt;br /&gt;Dengan harus melawan mantra dan kemenyan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah itu sebuah wujud balas budi karena aku tlah berikan dia tempat berdiam&lt;br /&gt;Dan kurasa hubungan seperti ini hanya ada di duniaku&lt;br /&gt;Yang tak tercemar picik dan licik, sisi hitam fungsi sebuah akal&lt;br /&gt;Dan tak tersentuh peraturan yang kata si punya akal, ada untuk dilanggar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan….. hore sahabat, mereka mundur&lt;br /&gt;Mereka berbalik arah sambil menenteng si tipis-tajam pembunuh sadis&lt;br /&gt;Kembalilah disejuknya hembus nafas rimbun daunku&lt;br /&gt;Semua pantas kau terima karena kita selamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka air dalam bumi masih akan membujuk untuk kuhisap&lt;br /&gt;Hingga bugarlah aku&lt;br /&gt;Maka udara yang bersih akan mempersembahkan tarian khasnya&lt;br /&gt;Hingga damailah kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 Agustus 2007&lt;br /&gt;Untuk : Suatu tempat di Tabongo Timur&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-3687569293042487129?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/3687569293042487129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/puisi-mya-hebat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3687569293042487129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3687569293042487129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/puisi-mya-hebat.html' title='Puisi Mya: &amp;quot;Kita Hebat&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-3635209659533941459</id><published>2008-12-10T01:23:00.001-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.043-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Angga: "TaPeTo"</title><content type='html'>Dong bilang maitua Tondano gaga-gaga&lt;br /&gt;Bodi montok, feis fasung&lt;br /&gt;Beking paitua pe mata tabuka lebar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So dari tadi paitua bagara&lt;br /&gt;Maitua sok jual mahal&lt;br /&gt;Pura-pura acuh&lt;br /&gt;Ato pura-pura nda dengar?&lt;br /&gt;Padahal depe hati&lt;br /&gt;So bagetar sama deng tambor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nda apa-apa katu&lt;br /&gt;Paitua denga maitua malo-malo kucing&lt;br /&gt;Asal satu kita bilang&lt;br /&gt;Jang sampa paitua Cuma mo beking&lt;br /&gt;Depe maitua jadi “TAPETO”&lt;br /&gt;Apa so tu TAPETO?!?&lt;br /&gt;(Tampa PEgang Toto, bogO!!!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-3635209659533941459?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/3635209659533941459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/puisi-angga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3635209659533941459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3635209659533941459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/puisi-angga.html' title='Puisi Angga: &amp;quot;TaPeTo&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-5621443797823623914</id><published>2008-12-10T01:21:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.050-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Kevin Mikael Eman: "Kematian Tuhan".</title><content type='html'>Langit mendung kala itu.&lt;br /&gt;    Dari kejauhan aku menyaksikan upacara penguburan itu. Air mata-air mata palsu menghantarkan dia ke kegelapan bumi yang paling gelap. Ya ........ orang yang membenci dia pun akhirnya “menangis”, “bersedih” atas kepergiannya. Mereka mengeluarkan sebanyak-banyaknya air mata yang mereka punya hanya agar dilihat orang-“kalau tidak menangis di saat orang meninggal berarti tidak berduka!”-itu kata mereka.&lt;br /&gt;    Aku heran, bahkan orang tuanya pun tidak mempedulikan dia, orang-orang banyak pun tidak ada yang menyukainya dan mau berteman dengan dia. Kalau pun ada itu semata hanya “akting” belaka karena orang tuanya seorang pejabat. Ahh......... memang dunia telah menjadi serba kepura –puraan. Nampaknya hanya aku orang yang mau berteman dengan dia.&lt;br /&gt;    Orang–orang bertanya-tanya kepadaku ”kenapa saudara mau berteman dengan dia”-“jauhi dia, nanti saudara menjadi “buruk” dan “hina” seperti dia”-segala macam pertanyaan mereka lemparkan kepadaku. Aku sendiri pun tidak tahu kenapa aku mau berteman dengan dia. Aku pikir di jaman sekarang ini baik dan buruk sudah tidak dapat dibedakan, Iblis telah menjadi Tuhan, Tuhan telah menjadi Iblis. Jadi menurutku tidak perlu dipersoalkan dia buruk atau tidak, yang aku yakin ia hanya manusia sama seperti aku.&lt;br /&gt;    Dia pernah berkata ”saudara, apakah aku seburuk itu, sehina, dan selicik Iblis? Hingga orang-orang membenci dan menjauhi aku. Kalaupun mereka dekat, aku tahu itu hanya topeng yang mereka gunakan. Hanya kau temanku saudara!”&lt;br /&gt;    Dia diam sejenak lalu berkata lagi “saudara, apa pandanganmu tentang Tuhan? Apa Tuhan tidak boleh dilawan, harus patuh 100% terhadapNya? Aku sudah muak denganNya, Ia memberi yang aku tidak minta, Ia tidak memberi yang aku minta!” ia tertawa, tertawa untuk siapa dan karena apa, aku tidak tahu. Mungkin ia hanya membersihkan batinnya.&lt;br /&gt;    Aku hanya diam memikirkan apa yang ia katakan, memikirkan memang begitu adanya Tuhan, memikirkan memang begitu adanya manusia, memikirkan segala perintah dan laranganNya, karena jika aku yang memerintah dan melarang maka Akulah Tuhan.&lt;br /&gt;    “Saudara!” dia membangunkanku dari pikiranku. “Bagaimana jika aku menyalahkan Tuhan atas semua ini, menyuruh dia bertanggung jawab atasku, bagaimana jika aku meninggalkanNya?” Lalu aku menjawab&lt;br /&gt;    “Tuhan adalah ciptaan setiap manusia yang merasa kecil dan sendirian di dunia yang kejam ini. Di saat kau merasa sudah tidak membutuhkanNya, buanglah!!!” dia diam, lalu aku berkata lagi “Tapi, terlepas dari itu, persalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi dalam hidupmu! Jangan persalahkan orang lain, apalagi Tuhan! Kau sendiri yang bertanggung jawab atas-mu. Hanya kau saudaraku!”dia masih diam sejenak, lalu berkata,&lt;br /&gt;    “Saudara, terimakasih atas pemikiranmu. Tapi apa aku tidak boleh kecewa padaNya?”&lt;br /&gt;    Memang kecewa itu manusiawi. Itu percakapan kami yang terakhir. Suatu hari aku mendengar kabar bahwa ia sakit keras, belum sempat aku menjenguknya ia sudah mati. Mati meninggalkan dunia yang tidak adil baginya dan bagi banyak orang.&lt;br /&gt;    .....................&lt;br /&gt;    Setiap kematian orang seperti dia, kematian orang “berdosa”, menandakan kematian Tuhan, kematian Tuhan untuk kedua kalinya, kematian perlahan Tuhan. Karna Tuhan telah gagal sebagai pencipta. Karna seorang lagi  anakNya tidak bersama sama dengan Dia.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Upacara penguburan itu telah selesai. Aku mendekat ke kuburnya.Saat aku melihat tulisan yang ada di batu nisan, aku cukup terkejut ”Tuhan inilah aku anakMu, terimalah aku di nerakaMu!” Huhhh.......itulah manusiawi.&lt;br /&gt;Langit masih mendung kala itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-5621443797823623914?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/5621443797823623914/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/cerpen-kevin-mikael-eman-tuhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5621443797823623914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5621443797823623914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/cerpen-kevin-mikael-eman-tuhan.html' title='Cerpen Kevin Mikael Eman: &amp;quot;Kematian Tuhan&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-5029177827536951772</id><published>2008-12-10T01:14:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.059-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Grace O'Nelwan: "Peri Kenangan yang Tinggal di Akar Pohon di Taman Keabadian".</title><content type='html'>.&lt;br /&gt;(Grace O’Nelwan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini berawal dari sebuah taman. Taman indah yang bernama “Taman Keabadian”, tempat para penyair berkumpul dan menghabiskan waktu mereka untuk bertemu dan berdiskusi dengan sesama penyair yang lain. Tapi “Taman Keabadian” hanyalah awal kisah saja, karena bukankah segala sesuatu harus mempunyai awal. Dan seperti hal - hal  lain yang juga memiliki awal dan awal adalah hal yang penting dalam suatu peristiwa, maka awal kisah ini juga penting untuk dibaca. Jadi, dianjurkan untuk membaca kisah ini dari awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Taman yang Dipenuhi Pohon Buku&lt;br /&gt;Ada sebuah taman kecil yang dipenuhi pohon-pohon buku, (yah benar, yang aku maksudkan adalah pohon-pohon yang berbuah buku-buku). Pohon-pohon itu hanya tumbuh di taman milik seorang penyair yang baik hati, yang selama hidupnya tak pernah kaya dan selalu sendiri. Bukan karena tidak bisa menjadi kaya, tapi karena memang tidak berniat untuk menjadi kaya. Pernah dalam hidupnya dia mendapatkan 1 kesempatan besar untuk menjadi kaya raya, lebih kaya dari raja Midas. Menurut cerita yang dapat dibaca dari salah satu buku yang tumbuh di dahan pohon dalam tamannya, dulu sekali Dewi Juno, sang Ratu Angkasa pernah datang mengunjunginya. Dewi Juno sangat terkesan dengan sebuah syair yang ditulis penyair tadi. Sebuah syair sederhana yang menceritakan tentang bagaimana damainya hidup di Negeri Awan Biru, sebuah negeri yang megah indah di angkasa yang berdiri diatas gumpalan-gumpalan awan dan di pimpin oleh seorang Ratu cantik yang arif bijaksana. Tentu saja, Dewi Juno sangat tersanjung.&lt;br /&gt;Di suatu sore setelah hujan turun Dewi Juno yang cantik berkenan mengunjungi sang Penyair. Berkendara kereta kencana yang ditarik Pegasus, dibalut pakaian indah yang bergelombang warna-warni dengan kepala dihiasi sebuah mahkota emas bertaburan mutiara dan sebuah tongkat emas berukir burung elang berada ditangannya. Dewi Juno memasuki rumah tua sang penyair, didampingi peri-peri pelangi yang bertugas membukakan jalan untuknya. Tentu saja sang penyair terkaget-kaget, mendapati dirinya dikunjungi Dewi Angkasa. 1 permintaan dihadiahkan sang Dewi untuk sang penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah keinginanmu, apa saja, dan aku akan mengabulkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang penyair, yang seluruh hidupnya diabdikan untuk syair-syairnya, tak mempunyai keinginan apa-apa selain mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Karena itu dia hanya meminta dibuatkan sebuah taman yang ditumbuhi banyak pohon-pohon. Tapi bukan pohon buah-buahan (karena dia tidak takut kelaparan) ataupun pohon yang dapat berbuah emas (seperti yang kukatakan tadi, dia tidak berniat untuk menjadi kaya). Dia hanya menginginkan pohon-pohon yang dapat berbuah buku yang lahir dari pemikirannya, lahir dari pengalamannya. Pohon-pohon yang dapat membantu dia dan memudahkan dia untuk menyimpan kenangan dalam bentuk tulisan. Walaupun terkejut dan merasa aneh, Dewi Juno mengabulkan keinginan sang Penyair yang baik hati ini. Dalam sekejap mata, sebuah taman dengan pohon-pohon yang berbuah buku, terbentang indah didepan mata sang penyair. Pohon-pohon dengan akar kuat yang menancap ketanah, dengan dahan-dahan kuat yang menampung beragam buku-buku. Walaupun daun yang menutupi pohon-pohon di taman itu sudah bereinkarnasi ratusan kali, tetap saja, tak ada sebuah bukupun yang jatuh dan lepas dari tangkainya. &lt;br /&gt;Seiring dengan bertambahnya waktu, buku-buku di pohon itu makin bertambah. Yah, karena setiap kali sang Penyair mengalami sesuatu hal, sebuah buku baru akan muncul dari pohon di tamannya, bila sebuah ide melintas di otaknya, sebuah buku yang lain akan keluar dari ujung-ujung cabang yang di lindungi daun-daun berwarna kuning dan coklat. Setelah sang Penyair meninggal dalam kesendirian 179 tahun yang lalu, pohon-pohon di tamannya berhenti mengeluarkan buku. Tapi buku-buku yang ada di taman itu tetap ada disana. Tidak membusuk seperti lazimnya buah-buah yang lain. Tetap abadi bersama pikiran dan kenangan penyair yang baik hati tadi. Bertahun-tahun lewat, banyak sekali penyair dari seluruh dunia yang datang ke taman berpohon buku tersebut, untuk menemukan kearifan dan rahasia kehidupan di dunia lampau lewat pemikiran penyair tadi. Untuk mengenang sang Penyair, mereka menamakan taman itu “Taman Keabadian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Penyair Muda dan Segelas Kopi&lt;br /&gt;Ada dua orang penyair muda yang sedang duduk di bawah sebuah pohon buku, di Taman Keabadian.”&lt;br /&gt;Diatas meja kecil, yang dengan sengaja diletakan di bawah pohon, ada gelas besar berisi kopi panas. Dinginnya udara di taman dan panasnya kopi, membuat uap putih yang melingkar-lingkar  keluar dari mulut gelas tadi.&lt;br /&gt;“Ah, dari kumpulan cairan hitam, keluar asap putih. Ajaib!”  gumam salah seorang dari kedua penyair tadi. Tangannya langsung mencoret-coret kertas putih dipangkuannya. Dalam hitungan detik, sebuah puisi yang terinspirasi dari kopi hitam dan asap putih yang melingkar keluar dari kopi telah selesai dia tulis. Tanpa diminta dia membacakan puisinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Dalam kumparan kegelapan&lt;br /&gt;        Menembus kabut putih yang pekat&lt;br /&gt;        Kureguk nikmatnya kelam&lt;br /&gt;        Di tengah manisnya malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membacakan puisinya, dia menatap penyair kedua dan bertanya,”Apa pendapatmu?”&lt;br /&gt;Hanya sebuah hembusan nafas keras yang diterimanya sebagai jawaban. Penyair kedua, yang kelihatannya lebih pendiam, sedang berkutat dengan sebuah usaha yang sia-sia. Kedua tangannya sibuk menangkap uap-uap putih yang mengepul. Sunyi sesaat dan penyair kedua membuka mulutnya,” Uap putih ini ibarat kenangan. Membuat gambar dan bentuk dalam sekejap, detik berikutnya akan berbaur dengan udara dan waktu, untuk kemudian hilang, lenyap, dan yang tinggal hanyalah kehampaan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau tahu tentang kenangan?.” Penyair pertama kini meniup-niup mulut gelas berisi kopi, membuat uap putih dengan bentuk-bentuk abstrak berliak liuk dengan genitnya. “Kita berada di “Taman Keabadian” yang termasyur, semua kenangan tertulis dengan rincinya pada setiap buku yang bergelantungan di pohon-pohon ini. Bagaimana bisa kau samakan kenangan dengan kehampaan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair kedua yang tadi sibuk menangkapi uap-uap putih, kini meluruskan badannya. Kedua tangannya dia letakan menyilang di atas kepala, dan berkata seolah-olah pada dirinya sendiri,” Benarkah semua kenangan telah terkungkung abadi dalam buku-buku sang Penyair? Tak adakah kenangan yang terlewati dari keabadian tulisan dan menguap menjadi sebuah kehampaan? Atau tak adakah kenangan yang dengan sengaja dilupakan dan dibiarkan lalu bersama angin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair pertama memandang temannya dengan pandangan jengkel,” Tak baik bila kita terus berdebat.” Katanya lagi. “Lebih baik kita membaca bersama kisah yang diperuntukan untuk kita hari ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tangan kirinya, dia menyentuh satu dahan pohon, meraih sebuah buku. Saat tangan sang penyair menyentuhnya, dengan lembut dahan kokoh itu merendahkan tubuhnya dan membiarkan buku yang diraih penyair pertama tadi mencapai meja. Angin membantu kedua penyair membuka lembaran-lembaran buku tersebut. Dan matahari yang tadinya malu-malu mengintip lewat celah daun-daun membacakan sebuah kisah yang ditulis dalam lembaran-lembaran tersebut. Kisah tentang sebuah permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Kisah Dari Sebuah Buku di “Taman Keabadian”&lt;br /&gt;Ini adalah kisah yang dibacakan matahari kepada dua penyair dari sebuah buku di “Taman Keabadian”&lt;br /&gt;Di Rumah Kaca&lt;br /&gt;Prolog:&lt;br /&gt;Kutuliskan pada selembar daun&lt;br /&gt;“Disini terbaring hati yang telah mati”&lt;br /&gt;Daun ditiup angin..&lt;br /&gt;Terbang tinggi… menghilang….(entah ke mana..)&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Bagian  I&lt;br /&gt;Kemarin, di rumah kaca,&lt;br /&gt;Dia datang, membawa kopi hangat dan selusin donat&lt;br /&gt;Duduk didepanku, dan berkata&lt;br /&gt;“kau adalah cermin diriku..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, di rumah kaca,&lt;br /&gt;Berteman kopi pahit dan donat manis&lt;br /&gt;Aku duduk diam mendengarnya bercerita,&lt;br /&gt;Tentang pahit, tanpa manisnya cinta..&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Tak akan ku bertanya “Mengapa”&lt;br /&gt;     Tapi ku tahu engkau terluka&lt;br /&gt;     Akupun pernah merasakannya&lt;br /&gt;     Terluka dalam yang tak berdarah,&lt;br /&gt;     Perihnya merobek jiwa, sakitnya tak terhingga.&lt;br /&gt;     Tak akan ku bertanya “Siapa”&lt;br /&gt;     Tapi ku tahu ‘dia’ orang tercinta&lt;br /&gt;     Akupun pernah mengalaminya&lt;br /&gt;     Ketika memberikan seluruh hatiku,&lt;br /&gt;     Kemudian  menemukannya, membeku teraniaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, di rumah kaca&lt;br /&gt;Setelah kopi dan donat habis&lt;br /&gt;Kubiarkan dia melanjutkan kisah,&lt;br /&gt;Tentang keberanian hati yang pernah terluka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aku tak tahu apa yang kau rasakan&lt;br /&gt;    Tapi aku tahu rasanya “ingin mati”&lt;br /&gt;    Jangankan bertemu penderitaan&lt;br /&gt;    Kebahagiaanpun terasa menyakitkan&lt;br /&gt;    Aku tak tahu apa yang kau inginkan&lt;br /&gt;    Tapi aku ingin memberimu cinta&lt;br /&gt;    Cinta yang juga dulu pernah terluka&lt;br /&gt;    Saat mencintai dengan buta&lt;br /&gt;    Aku tak tahu apa yang kau harapkan&lt;br /&gt;    Tapi aku harap kau menerima hati ini&lt;br /&gt;    Hati yang  penuh tambal sulam&lt;br /&gt;    Dari kisah yang selalu tak indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian II&lt;br /&gt;Hari ini, di rumah kaca&lt;br /&gt;Dia datang tanpa kopi hangat dan donat&lt;br /&gt;Duduk di depanku dan berkata&lt;br /&gt;“aku membawakanmu cinta”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, di rumah kaca&lt;br /&gt;Tanpa kopi pahit dan donat manis&lt;br /&gt;Dia duduk diam didepanku&lt;br /&gt;Mendengar kisah hati yang telah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hatiku telah menemui ajalnya&lt;br /&gt;    Ketika dia terluka dan terluka lagi&lt;br /&gt;    Luka tak berdarah yang ternyata parah&lt;br /&gt;    T’lah kukuburkan hatiku&lt;br /&gt;    Pada sebuah daun&lt;br /&gt;    Dan kuluruhkan bersama angin&lt;br /&gt;    Tak kusesalkan matinya hati&lt;br /&gt;    Karena hati selalu rapuh.&lt;br /&gt;    Semuanya lebih mudah, tanpa hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, di rumah kaca&lt;br /&gt;Dia merogoh kantongnya&lt;br /&gt;Daun yang diterbangkan angin,&lt;br /&gt;Kini dalam genggamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kau mengira hatimu benar-benar mati&lt;br /&gt;    Sehingga luka cinta  tak terasa sakit lagi&lt;br /&gt;    Tapi  percayalah&lt;br /&gt;    Hatimu  hanya membeku, bukan mati&lt;br /&gt;    Dan cinta dapat mencairkan kebekuannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, di rumah kaca&lt;br /&gt;Tanganku dalam genggamnya&lt;br /&gt;Dalam hening kudengar dia berkata…&lt;br /&gt;“aku bisa membuktikannya”&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Epilog&lt;br /&gt;Kutuliskan pada selembar daun&lt;br /&gt;“Maukah kau menungguku?”&lt;br /&gt;Daun ditiup angin,&lt;br /&gt;Terbang tinggi… (kini ku tahu kemana.)&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba hening… Kedua Penyair menanti matahari untuk melanjutkan kisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ayolah matahari, ceritakan pada kami, bagaimana akhir kisah ini?” pinta kedua penyair tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi matahari tak lagi melanjutkan kisah, karena kisah ini memang hanya berakhir di sini saja. Mataharipun meminta diri untuk membacakan kisah yang lain bagi penyair yang lain. Kedua penyair yang tak merasa puas dengan kisah yang menurut mereka belum tuntas, ingin melanjutkan kisah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu, apakah dia akan menunggunya?” Tanya penyair pertama kepada temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sanggupkah orang menunggu tanpa batas waktu?” Jawab penyair kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi menurutmu, dia tidak akan menunggunya?” Desak penyair pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adakah kemungkinan, dia yang meminta untuk ditunggu, malahan tak pernah datang?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair pertama menjadi kesal kepada temannya yang selalu menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan yang lain. Dia memilih untuk tidak bertanya lagi. Kesunyian kemudian hadir diatara mereka, dan makin melingkupi mereka. Mata kedua penyair itu semakin berat, dan akhirnya mereka tertidur dibelai angin senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Kenangan Yang Tahu Segala Sesuatu&lt;br /&gt;Namaku kenangan. Aku ada di mana-mana. Aku berada di antara akar pohon-pohon rindang, aku ikut mengalir bersama air sungai, terbang bersama angin, berpesta dengan badai, berdansa dengan gelombang, berjalan bersama kebahagian dan ikut menemani kesedihan. Dan aku tahu akhir kisah cerita Di Rumah Kaca yang dibaca oleh kedua orang penyair tadi. Kisah itu adalah potongan awal dari sebuah penantian panjang  sang penyair pemilik taman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, saat penyair pemilik ‘Taman Keabadian’ masih muda, pernah dia mencintai seorang gadis malang, yang selalu saja kehilangan. Penyair yang baik hati ini menemukan sang gadis ketika sang gadis sedang sekarat. Hati gadis malang itu telah membeku, penuh luka dan bekas luka yang masih terlihat dengan sangat jelas. Bukti nyata atas  kepedihan dan kehilangan yang selalu dialaminya. Dengan sepenuh jiwa dibalutnya luka-luka hati sang gadis dengan hatinya sendiri, dan dibuatkan puisi-puisi pengobat duka. Melihat kebaikan hati sang penyair, gadis inipun mengumbar sebuah janji; ”Tunggulah aku, sampai luka cinta ini sembuh, dan aku akan mencintaimu.” Tapi setelah luka hati sang gadis sembuh, saat perihnya duka hilang, sang gadispun menghilang… Bertahun lewat sampai saat Dewi Juno datang memberikan hadiah 1 permintaan pada penyair, tapi gadis yang dia sembuhkan luka hatinya tak pernah kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Dewi Juno mengunjungi sang penyair, aku berada didekatnya, berbaur dengan udara yang dihirupnya, masuk kedalam hatinya dan memaksa penyair ini untuk meminta Dewi Juno menghadirkan gadis punyaanya. Tapi dia tidak mau mendengarkan kata hatinya. Aku tak menyerah. Akupun berenang bersama darah dan menembus otaknya, dan memaksa sang penyair untuk meminta kekayaan dunia, tapi sang penyairpun tak mendengar otaknya. Dia hanya mengikuti keinginannya. Karena itulah Sang penyair lebih memilih dibuatkan Taman Keabadian. Taman tempat dia mengabadikan sebagian kenangan dalam kehidupannya. Yah.., bukan semua kenangan yang dia abadikan, seperti yang dipikirkan orang-orang. Penyair kedua itu benar. Ada bagian peristiwa dalam hidup sang penyair pemilik taman ini yang tak dia abadikan dalam buku-bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian tentu merasa heran, dari mana aku mengetahui semua hal ini. Tidak… aku tidak bermaksud sok tahu. Ingat, aku adalah kenangan itu sendiri, yang selalu hadir dalam setiap kejadian dalam perjalanan hidup manusia. Aku hadir dalam setiap helaan nafas dan selalu meninggalkan jejak dalam setiap peristiwa. Aku adalah ingatan tentang kebahagiaan sekaligus kesedihan. Ingatan akan kebersamaan dan juga kesendirian. Manusia sering mengira bahwa aku berwajah dua; Kenangan Indah dan Kenangan Buruk. Tapi sebenarnya tidak. Aku tak memiliki dua wajah dan aku tak pandai merubah wajah. Manusialah yang merubah wajahku dan kemudian menamaiku sesuai dengan keinginannya; yang ingin diingat dikatakan Kenangan Indah, dan yang ingin dilupakan dinamakan Kenangan buruk.&lt;br /&gt;Sang penyairpun pernah menamakan aku Kenangan Buruk. Dan dengan sengaja dia coba menghilangkan ingatan akan sang gadis malang dengan luka hati yang berhasil dia sembuhkan. Gadis yang menghilang dengan meninggalkan sebuah janji “tunggulah aku, … aku akan mencintaimu.” Sang Penyair berusaha keras mengusirku dari ingatannya. Menekanku kepojok-pojok gelap ruang ingatan. Tapi seperti biasanya, aku tidak mudah menyerah. Aku berupaya sedemikan kerasnya untuk tetap berada dalam ingatanya. Kulingkarkan erat tanganku dalam ingatanya. Aku menjadi gurita kenangan. Makin keras dia mengusirku, makin ketat aku menggengam ingatannya.&lt;br /&gt;Sang penyair akhirnya mengaku kalah, dan membiarkan aku tetap dalam ingatanya, hanya saja dia tidak bersedia mengabadikanku dalam tulisan-tulisannya. Tapi aku selalu abadi, dan terus tinggal bersama dengan sang penyair dalam tidur abadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku adalah Kenangan. Aku ada di mana-mana. Aku berada di antara akar pohon-pohon rindang, aku ikut mengalir bersama air sungai, terbang bersama angin, berpesta dengan badai, berdansa dengan gelombang, berjalan bersama kebahagian dan ikut menemani kesedihan. Aku juga tahu kisah kedua penyair yang kini sedang tidur lelap di Taman Keabadian. Dan, oh yah, bukan itu saja, aku juga tahu tentang kisahmu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tomohon, Desember 07 – Januari 08)&lt;br /&gt;Menghapus kenanganan adalah sebuah kesia-siaan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-5029177827536951772?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/5029177827536951772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/cerpen-grace-o-kenangan-yang-tinggal-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5029177827536951772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5029177827536951772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/12/cerpen-grace-o-kenangan-yang-tinggal-di.html' title='Cerpen Grace O&amp;#39;Nelwan: &amp;quot;Peri Kenangan yang Tinggal di Akar Pohon di Taman Keabadian&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-5503315004656381552</id><published>2008-11-06T04:10:00.000-08:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi-Puisi Charlie Samola</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;pre&gt;AYANG KAMPUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalu siang, pegang polpen tinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalu malam, pegang meneer pe polpen!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAE-BAE NGONI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini malam Alo pigi ke corner&lt;br /&gt;Bagaya sama deng model Taiwan&lt;br /&gt;Mar di popoji ada isi pokos-pokos&lt;br /&gt;Besi putih ta isi di pinggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini malam Ungke pigi ke ha ha&lt;br /&gt;Bapake gaya penyanyi rap negro&lt;br /&gt;Mar ada piyanaung di popoji&lt;br /&gt;Tumbaka ta isi di pinggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini malam Olop pigi mento di kobong&lt;br /&gt;Cuma pake mantel deng tas kaeng&lt;br /&gt;Di popoji cuma ada tabaku sek&lt;br /&gt;AK 47 komang yang di tas kaeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGIMANA EEH !!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketik A, spasi B, spasi C, spasi D…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuki…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dang !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUDAYA SINEMA&lt;br /&gt;AMOR…RRAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada felem Indonesia baru lagi&lt;br /&gt;Kita ada lia de pe extra di TV&lt;br /&gt;Minggu depan somo putar di TO&lt;br /&gt;Mar felem tentang…cintaaa lagi !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti banya bege-bege lei yang bauni&lt;br /&gt;Felem yang nda kalah deng sinetron&lt;br /&gt;Memang bagitu kalu mo iko pasaran&lt;br /&gt;Di pasar kan banya jual ikang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Tolong ! babagini trus jo dang !&lt;br /&gt;Kapan orang Indonesia mo lebe pande&lt;br /&gt;Apalagi tu pranggang deng muda-muda&lt;br /&gt;Tu hati deng ontak masih di bawa puru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDONESIA TOP 40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beking rawoy, beking ta sono&lt;br /&gt;Pa kita didalang oto mikro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poot ange, bawa puru ange&lt;br /&gt;Itu-itu jo, manganto no !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JATI DIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dudu sandiri mangada langit&lt;br /&gt;Sibuk rekeng tu bintang-bintang&lt;br /&gt;Sampe timbul pertanyaan&lt;br /&gt;“Kita ini orang Bumi ?”&lt;br /&gt;“Atau orang Planet ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANTRA  CINTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Bola dapa Lapang&lt;br /&gt;Ampa Bola dapa Spuluh&lt;br /&gt;Satu Liter Satu Jam&lt;br /&gt;Dompet Bangka Pande Bodok&lt;br /&gt;Macam-macam Tai Minya&lt;br /&gt;Jago jago dapa Senang&lt;br /&gt;Cundang dapa Tamang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINAHASA UNDERCOVER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tole deng keke badugem di score&lt;br /&gt;So pastiu deng disko tanah ngoni ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tole minung tekila, keke minung long aylen&lt;br /&gt;Masih suka cap tikus deng saguer ngoni ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tole deng keke minung sampe muntah-muntah&lt;br /&gt;Mo muntah ubi lei dorang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tole deng keke baku ciong gaya perancis&lt;br /&gt;Awas jang tatigo lidah ngoni dua !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NASIONALISME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Konto sama-sama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Graakkk !!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NONA-NONA JAMAN SKARANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang yang besae-besae&lt;br /&gt;Yang mangarti bae itu Cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang gaga-gaga…..&lt;br /&gt;Cuma tau beking mati itu Cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta lebe-lebe&lt;br /&gt;Boleh beking saki Jiwa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ONANI 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tu tadi, tu tadi, tu tadi&lt;br /&gt;Tu sana, tu sana, tu sana&lt;br /&gt;Tu tadi, tu sana&lt;br /&gt;Tu sana, tu tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaaa……..no !!!&lt;br /&gt;Biar jo dang !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ONANI 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadap nyanda sadap&lt;br /&gt;Barguna nyanda barguna&lt;br /&gt;Senang Susah&lt;br /&gt;Untung Rugi&lt;br /&gt;Puas Tagantong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So parcuma kasiang !&lt;br /&gt;Banya yang kurang senang !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SyG,KmU Lag NgApz ?&lt;br /&gt;Aq KnGen LhO aMa Kmu&lt;br /&gt;Gw Mw KtmU aMa Kmu SyG”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SyG….D Blz Donk!!!&lt;br /&gt;Plizzz………….&lt;br /&gt;Ini PuLzAku Yg t’Akir LhO!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woy,balas kwa kalu ada pulsa !&lt;br /&gt;Somo muntah ubi kita !&lt;br /&gt;Beking malo akang,kita so mangkage !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMANG-TAMANG DEKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lala mulu ngoni!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rawoy!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMBIO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowo, sini kwa !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beli kwa pa kita !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar lebe gampang deng ada diskon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngana musti ada bola ampa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau paling rendah bola dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nda harga kalu Cuma ngana pe tolor !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  VALENTINE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opa Santo, mana yang betul ?&lt;br /&gt;Banya blum tau ngana pe sejarah&lt;br /&gt;Atau memang pura-pura nintau&lt;br /&gt;Atau so sadar mar gengsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So banya yang kase tau bae-bae&lt;br /&gt;Mar dorang malas malas mo mangarti&lt;br /&gt;Cuma ambe de pe sadap-sadap&lt;br /&gt;Bunga deng coklat dorang tambah alasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kasih sayang skarang&lt;br /&gt;So nda beda deng hari Halloween&lt;br /&gt;Banya jadi kaum hedon pe ideologi&lt;br /&gt;Korban propaganda cinta tai minya !&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-5503315004656381552?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/5503315004656381552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/11/puisi-puisi-charlie-samola.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5503315004656381552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5503315004656381552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/11/puisi-puisi-charlie-samola.html' title='Puisi-Puisi Charlie Samola'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-3461723428072002508</id><published>2008-10-23T04:31:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.078-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Grace O'Nelwan: "Ketika Cupido Belajar Memanah"</title><content type='html'>Menanti Esok.&lt;br /&gt;Namaku Cupido. Panggil saja aku Abu-abu. Semua penduduk Negeri Awan Biru memanggilku Abu-abu. Karena warnaku memang Abu-abu.&lt;br /&gt;Kini aku berusia 1999 hari. Besok aku genap berumur 2000 hari. Itu berarti aku akan masuk kelas persiapan menjadi Dewa Asmara. Pasti sangat menyenangkan. Bekerja bersama bunda Aphrodite membantu manusia menemukan pasangan jiwanya.&lt;br /&gt;Aku tak sabar lagi.. Besok.. besok… ah… masih sekian ribu detik sebelum besok benar-benar datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas Bunda Aphrodite.&lt;br /&gt;Aku datang sepagi-paginya. Ternyata aku bukanlah yang pertama. Cupido-cupido lain yang sudah duduk manis di kelas persiapan. (Pasti manusia merasa heran, karena Cupido bukan hanya satu, tapi banyak.) Ada si Putih yang diam di pojokan, Si Merah dan Hijau yang sedang bercanda, Biru sedang membaca, Kuning sedang memainkan sayapnya. Ruangan ini penuh warna, karena kami para Cupido memang berwarna. (Tidak seperti yang di gambarkan manusia dalam buku-buku mitologinya.) Hmmm, semua Cupido sama tak sabarnya seperti aku. Semua segera ingin bisa ‘memanah’ dengan busur asmara dan anak panah cinta.&lt;br /&gt;Bunda Aphordite datang. Kami semua berusaha tenang. Ah, Bunda cantik sekali pagi ini. Rambut birunya yang bergelombang indah dibiarkan tergerai menebarkan aroma buih laut yang menyengarkan.&lt;br /&gt;“Semua pasti tahu kenapa kalian berada disini”&lt;br /&gt;Kami semua mengangguk, anggukan serangam, terbius kelembutan suara Bunda.&lt;br /&gt;“Yah, kita berada di sini untuk membantu manusia. Membantu mereka menemukan pasangan hatinya, pasangan jiwanya.”&lt;br /&gt;“Mengapa kita harus membantu manusia Bunda, bukankah manusia terkenal pandai?” tanya si Unggu yang duduk di belakangku.&lt;br /&gt;“Manusia memang sangat pandai, tapi untuk urusan hati, manusia tidak berdaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Bunda Aphrodite tentang Manusia&lt;br /&gt;Jaman dahulu kala, manusia tidak terbagi dan terkotak-kotak seperti sekarang. Tak ada ras, suku dan agama. Tak ada laki-laki dan perempuan. Hanya ada satu jenis manusia, yang disebut androgynus. Manusia jenis ini berkepala 2, bertangan 4, berkaki 4 tapi hanya memiliki 1 buah hati. Bisa dibayangkan betapa kuat dan pintarnya manusia androgynus ini dan dengan hatinya yang utuh, manusia selalu kukuh dalam pendiriannya, tidak plin-plan seperti manusia-manusia sekarang. Kekuatan, kepintaran dan kekukuhannya dalam bertindak membuat para dewa takut dan khawatir, jangan-jangan satu saat nanti manusia akan menguasai para dewa. Karena itu Raja Zeus membelah manusia menjadi 2. Sehingga manusia hanya memiliki 1 kepala, 2 tangan, 2 kaki dan ½ hati. Raja Zeus kemudian memisahkan manusia dan melemparkan mereka kedalam pengembaraan panjang di bumi. Ketika saling terpisah, manusia selalu rindu pada pasangan hatinya. Rindu pada ½ hatinya yang lain. Karena itu dalam setiap pengembaraan manusia, mereka selalu mencari cara untuk dapat bersatu lagi dengan pasangan hatinya. Tersiksa oleh rindu dan mendambakan pasangan hatinya, membuat manusia menjadi lemah (Ada air menggenang di mata Bunda Aphrodite). Dalam kelemahannya manusia kemudian terlalu sering menyerah dengan mengikatkan diri pada potongan hati pertama yang dia temukan, tapi setelah berapa saat, manusia sadar, itu bukanlah pasangan jiwanya. Karena itu seringkali terjadi perceraian diantara manusia.  Pernikahan bukan titik akhir dari pencarian pasangan jiwa. Kelemahan ini yang membuat manusia menjadi sering terluka dan menderita. Raja kita, Zeus, merasa bersalah melihat penderitaan manusia. Untuk menebus rasa bersalahnya Zeus menugaskan kita membantu manusia menemukan pasangan hatinya yang paling tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kanan Bunda Aphrodite kini menggegam sebuah busur indah yang terbuat dari emas dan dengan tali-tali perak yang dijalin dari rumput laut. Tengahnya dihiasi mutiara hijau dan abu-abu.&lt;br /&gt; “Ini adalah Busur Asmara kita yang termasyur. Hanya Cupidolah yang berhak memakainya. Tak ada dewa lain yang dapat menggetarkan tali-tali busur asmara ini.”&lt;br /&gt;Dan kemudian Bunda mengangkat tangan kirinya yang menggengam sepasang anak panah kembar. Bentuknya panjang dan pipih. Ujungnya lancip berwarna pelangi dan diselimuti kabut tipis, beraroma sandalwood.&lt;br /&gt;“Ini adalah panah asmara kembar. Anak panah ini dibuat sepasang-sepasang, tak ada sepasang panah yang sama. Karena manusia hanya memiliki 1 pasangan jiwa.&lt;br /&gt;Busur asmara ini akan dipinjamkan pada kalian selama 1 minggu. Setelah itu kalian akan dievaluasi, bila minggu pertama gagal,  kalian akan diberi kesempatan pada minggu kedua, bila kalian gagal lagi, maka kalian akan masuk dalam kelompok “stupid cupid”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, aku tak pernah akan memaafkan diriku kalau sampai aku gagal dalam masa magang menjadi dewa asmara dan menjadi stupid cupid! What a nightmare, kalau sampai itu terjadi. Stupid Cupid adalah gelar yang diberikan pada cupido-cupido pecundang yang gagal melewati magang ‘menentukan pasangan hati.’ Dan biasanya Stupid Cupid harus menunggu 2000 hari lagi sebelum mendapatkan kesempatan menjadi dewa asmara. Dan selama 2000 hari stupid cupid hanya akan menjadi mahluk bersayap tanpa busur dan anak panah. Tanpa kesempatan membuat manusia bahagia. Dan tanpa membahagiakan manusia, cupido tak akan bisa bahagia. Sangat memalukan! Sangat menyedihkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas hampir usai. Satu-satu kami berdiri, menerima dengan penuh sukacita, sebuah busur asmara dan sekantong anak panah cinta, buku manual memanah, buku UUM dan AUPH (Undang-undang Memanah dan Aturan Umum Penyatuan Hati).&lt;br /&gt;“Ingat, teliti dulu sebelum memanah. Check en recheck itu perlu. Salah memasangkan hati maka manusia akan menderita, dan penderitaan manusia kan menyayat hatimu juga. Jangan buat kesalahan itu! Yang terbaik berhak mendapatkan Dewa Zeus Award.  Sampai jumpa pada evaluasi memanah, minggu depan. Selamat bekerja”.&lt;br /&gt;Bunda Aphroditepun berlalu….&lt;br /&gt;Rambut birunya bergoyang-goyang, busur asmara dan panah cinta di bahunya turut bergoyang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu Memanah&lt;br /&gt;Aku sangat bahagia. Ingin kubantu manusia menemukan pasangan hatinya yang paling tepat. Ingin kubantu Raja Zeus tercinta, mengurangi rasa bersalahnya, dengan mengutus aku, si Abu-abu. Cupido yang tepat, Cupido yang tak akan berbuat kesalahan.&lt;br /&gt;Aku harus berhati-hati dalam mencocokan pasangan. Aku harus menemukan potongan-potongan yang paling tepat… yah ..yang paling tepat.&lt;br /&gt;Alangkah menyenangkan membuat manusia bahagia dan Bunda Aphrodite bangga.&lt;br /&gt;Aku kini melayang-layang, bersembunyi di awan-awan. Mengintip manusia… aha.. ini dia, satu pasangan telah kutemukan. Kucocokan dengan catatan, kucocokan dengan potongan hati, mereka klop. Anakpanahpun kuluncurkan…&lt;br /&gt;Hati-hati ku bidikan. Tepat pada sasaran… aku berhasil…!!! Manusia kini kembali menjadi 2 kepala, 4 tangan, 4 kaki, dan 1 hati. Sempurna…!!! PERFECTO!!!&lt;br /&gt;Kini pasangan yang lain juga… anak panah berujung pelangi menancap di hati… la..la..la.. aku bernyanyi. Trilili aku menari… Dewa Zeus Award… pasti jadi miliku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekacauan di Negeri Manusia.&lt;br /&gt;Di sebuah Gym (Kisah Astrid)&lt;br /&gt;Sambil berjalan di atas treadmill, Asrid memandang kelas body builder yang hanya dibatasi kaca tembus pandang. Ada Ajie di sana. Ajie memang tampan. Badannya atletis tak berlebihan. Tak ada otot-otot yang terlalu besar, tapi keseluruhan tubuhnya tegap dan kencang. Dia selalu tersenyum, dan matanya sangat indah. Ajie sangat ramah dan penuh perhatian. Tak tahu kapan rasa itu datang, tiba-tiba saja Asrid menemukan dirinya jatuh cinta pada Ajie. Dia yakin Ajiepun mencintainya, tapi mungkin Ajie malu untuk mengakuinya. Tapi  Aku harus mendapat kepastian perasaan Ajie. Asridpun berlari penuh semangat diatas treadmillnya.&lt;br /&gt;Melihat Ajie keluar dari ruangan. Asridpun berhenti berlari, dan dengan handuk kecil di bahunya Asrid mengejar Ajie. Pasti Ajie menuju café di lantai bawah. Baru 7 anak tangga yang dia lewati, dilihatnya Ajie, tapi dia tidak sendiri. Ajie sedang berciuman mesra dengan Rodi, istruktur senamnya. Bibir mereka bertaut dan tubuh mereka melekat erat. Asrid membeku di tempatnya… ah Ajieku ternyata homo!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah Gereja: (Kisah Pendeta Dian)&lt;br /&gt;Tiba-tiba Ketua Jemaat, memanggil seluruh majelis jemaat untuk rapat mendadak. Sore itu semua telah hadir di ruangan konsistori Gereja. Rapat ini diadakan untuk membicarakan persoalan pendeta Diana. Kabar baru yang terdengar, Pendeta Diana menjalin hubungan khusus dengan Bernard, seorang narapidana yang divonis 15 tahun penjara, karena tuduhan membunuh kakaknya. Pendeta Diana memang bertugas untuk memimpin ibadah-ibadah di penjara. Dan ternyata, di penjara pula pendeta Diana, jatuh hati pada Bernard.&lt;br /&gt;Suara 1: Jadi, tindakan apa yang harus kita ambil?&lt;br /&gt;Suara 2: Pecat saja&lt;br /&gt;Suara 1: itu bukan wewenang kita, tapi itu wewenang Sinode&lt;br /&gt;Suara 3:Kalau begitu bawa saja persoalannya ke   Sinode&lt;br /&gt;Suara 4: Kucilkan saja dari Gereja, itu perbuatan yang memalukan&lt;br /&gt;Suara 2: Diskors dulu, tidak bisa memimpin ibadah, bahkan tidak boleh masuk gereja!&lt;br /&gt;Suara 1: bagaimana kalau kita melakukan pemilihan suara. Masing-masing menuliskan gajaran apa yang paling pantas untuk pendeta Diana…&lt;br /&gt;Koor : Setuju!!!!&lt;br /&gt;Kini para majelis dan para pendeta pelayan sibuk mencoret-coret secarik kertas….&lt;br /&gt;Entah apa putusan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah Café: (Kisah Arimbi dan Anita)&lt;br /&gt;Dipojok O La la Café, dua wanita cantik duduk. Keduanya berambut panjang sebahu, yang satu di cat burgundy, yang lainnya di cat dark blue. Sepotong black forest dan sepiring french fries masih utuh di depan mereka. Begitu juga dengan frappucino milik Arimbi dan hot chocolate yang sekarang telah menjadi cold chocolate, milik Anita, belum tersentuh sama sekali. Itu karena tangan-tangan Arimbi dan Anita sangat sibuk. Sibuk bergegaman dan membelai di bawah meja. Tak ada suara, karena semua komunikasi dilakukan lewat mata. Dan kedua pasang mata biru dan coklat, karena efek kontak lens itu, saling mengerti, bahwa cinta adalah milik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah RSJ (Kisah Dokter Bayu)&lt;br /&gt;+ Apa???? Gak masuk di akal? Dia kan dokter muda tercakep serumah sakit ini.&lt;br /&gt;tapi ini benar-benar terjadi&lt;br /&gt;+ dari mana kamu dapat gosip murahan ini&lt;br /&gt;kemarin aku sempat mendegar waktu dokter Bayu, berbicara dengan dokter Tio.&lt;br /&gt;+ oh My my… dunia benar-benar sudah gila. Apa kurang banyak dokter atau suster yang cantik di rumah sakit ini, sampai-sampai dokter kita jatuh cinta ke orang gila…&lt;br /&gt;orang gila yang juga cantik…&lt;br /&gt;+ tetap saja gila…&lt;br /&gt;tetap saja cantik, dan dokter Bayu tetap saja mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah Rumah Mewah (Kisah Meta)&lt;br /&gt;Mama: Meta, sudah berkali-kali mama ingatkan, Allan bukanlah laki-laki yang pantas untukmu!&lt;br /&gt;Meta:  Kenapa gak pantas, ma? Karena ibunya hanya seorang tukang pijat?&lt;br /&gt;Mama:  Bukan itu saja, tapi kamu dari kecil sudah ditunangkan dengan Bobby.&lt;br /&gt;Meta:   Loh,ma, akukan gak pernah minta untuk ditunangkan dengan bobby.&lt;br /&gt;Mama:    Meta!!!!&lt;br /&gt;Meta:   Mama, aku mencintai Allan. Dan sampai kapanpun akan tetap mencintai Allan&lt;br /&gt;Mama: Kamu boleh 1000 kali mencintai Allan, mencintainya sampai akhir hidup, tapi kamu tak akan pernah menikah dengannya. Kau boleh pilih, menikahi Bobby, atau tinggalkan rumah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah Baba Liem (Kisah Han)&lt;br /&gt;: kamu itu anak laki-laki satunya dalam keluarga, kamu harus menikah dengan Mei-lan&lt;br /&gt;- Tapi pa, aku mencintai Keke,  bukan Mei-Lan&lt;br /&gt;: Tidak bisa Han, kamu harus tetap menikah dengan Mei-Lan. Jangan membantah papa. Apa kata paman A San kalau kamu membatalkan pertunangan ini.&lt;br /&gt;- Tapi Pa….&lt;br /&gt;: Tidak ada tapi-tapian… Paman A San sudah banyak membantu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah Pesantren (Kisah Ustad Yus)&lt;br /&gt;Apakah aku bersalah kalau aku mencintai Ayu, ya Allah. Bukankan cinta adalah anugrahmu? Dan kenapa Anugrah sangat menyakitkan seperti ini.&lt;br /&gt;Aku mencintaiMu yah Allah. Tapi aku juga mencintai ciptaanMu. Dan Ayu.., Ida Ayu Oka Laksmini adalah ciptaanMu yang kucintai. Aku mencintai kelembutannya, kebaikannya dan keindahannya. Tapi dia Hindu….&lt;br /&gt;Apakah aku bersalah padaMu kalau ku-impikan membangun rumah tangga bahagia bersamanya? Allahku kalau cinta adalah anugerah, kenapa anugerah harus se-membingungkan ini? Apa yang harus kukatakan pada santri-santri di sini jika mereka mengetahui rahasia hatiku? Apakah aku harus jujur dengan perasaanku, ataukah harus kututupi demi sebuah kedamaian?&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah sekolah (Kisah Bu Lian)&lt;br /&gt;8 tahun, choy..!!! Mereka beda 8 tahun…&lt;br /&gt;Oh yah???&lt;br /&gt;Iyah… Armen itu, mantan murid Bu Lian.&lt;br /&gt;Oh… Armen yang anak 99 itu?&lt;br /&gt;Iya.. Armen yang itu..&lt;br /&gt;Mungkin Armen hanya mengejar duit Bu Lian…&lt;br /&gt;Tidak mungkin!!!&lt;br /&gt;Mungkin saja… Bu Lian sudah tua, lagian Armen bukan laki-laki jelek.&lt;br /&gt;Kalau soal uang.. tidak mungkin… Armen kan tidak miskin…&lt;br /&gt;Atau mungkin… Armen kena guna-guna Bu Lian..??&lt;br /&gt;Guna-guna?? Hari gini???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi para Cupido&lt;br /&gt;Hari ini Evaluasi memanah.&lt;br /&gt;Bunda Aphrodite akan memberikan hasil evaluasi memanah kami minggu ini. Jadwalku bertemu Bunda jam 10 pagi, sesudah Cupido kuning. Tapi aku sudah berada di depan ruangan Bunda Aphrodite jam 9.17 pagi. Aku tak sabar dan sangat tak sabar untuk mendengar hasil evaluasi Bunda. Aku sangat yakin bahwa aku akan lulus dengan pujian. Aku sudah bekerja keras sepanjang minggu. Pasti Bunda Aphrodite akan sangat bangga dengan hasil kerjaku. Pasangan hati yang aku persatukan tak akan mungkin meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Kuning keluar dari ruangan Bunda. Wajahnya menunjukan expresi sedih.&lt;br /&gt;“Mengapa” tanyaku prihatin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memperlihatkan hasil evaluasinya. Dia lulus dengan nilai lumayan; SCB (Sudah Cukup Baik).&lt;br /&gt;“Dari 10 pasangan yang kupasangkan, ada 2 yang bukan pasangan hatinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paling tidak, kamu lolos jadi Dewa Asmara..” ku coba menghiburnya dengan tanpa bisa menyembunyikan kegembiraanku. Kuning yang terpandai diantara kami hanya mendapat nilai SCB. Kuning berhasil lolos… tapi bukan yang terbaik…&lt;br /&gt;Aku tersenyum… kasihan Kuning. Membuat 2 kesalahan fatal.. dan aku.. ho..ho.. aku si Abu-abu yang sangat teliti. Kesalahan seperti itu tak akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk ke ruangan Bunda dengan kepercayaan diri penuh. Ruangan Bunda yang sangat melegenda. Karena dari ruangan inilah kami diputuskan untuk menjadi ‘the real Dewa Asmara’ atau hanya sebatas ‘Stupid Cupid’ yang pasti terlihat sangat stupid!!!&lt;br /&gt;Bunda duduk di atas kursi yang terbuat dari kerang mutiara. Mejanya yang berwarna – warni terbuat dari potongan pelangi. Cahaya merah, kuning, birunya berpendar-pendar indah. Di depan meja Bunda ada sebuah kursi indah yang dudukannya dianyam dari rumput laut dan awan-awan putih ditumpuk-tumpuk menjadi batalan empuk.&lt;br /&gt;Aku duduk di kursi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda Aphordite masih menundukan wajahnya, mempelajari hasil evaluasiku. Aku masih tersenyum sampai Bunda mengangkat wajahnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa-apaan ini? Kekacauan apa yang kamu perbuat?”&lt;br /&gt;Wajah Bunda yang cantik terlihat sangat masam, membuat senyumku langsung surut.&lt;br /&gt;Kekacauan?? Aku tidak mengerti..&lt;br /&gt;“Abu-abu, bukan hanya tidak ada satu pasanganpun yang sesuai, kamu bahkan telah membuat gempar negeri manusia..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda, aku benar-benar tidak mengerti. Dengan sangat teliti aku memasangkan potongan-potongan hati manusia. Aku telah berusaha menggabungkan potongan hati yang paling tepat… tapi mengapa aku dikatakan pembuat onar yang menggemparkan negeri manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abu-abu, kita lihat kasus Arimbi dan Anita, keduanya adalah perempuan. Ajie dan Rodi, keduanya lelaki, kau tidak bisa memasangkan mereka. Pasangan itu harus laki-laki dan perempuan. Kasus Han juga, kenapa tak kau pasangkan Han dengan Mei- Lan. Mereka cocok dan dari etnik yang sama. Bu Lian, dia terlalu tua untuk Armen. Menurut peraturan yang tidak tertulis laki-laki harus lebih tua dari perempuan.  Kau juga membuat ibu Meta pusing karena memasangkan Meta dengan Allan. Meta terlalu kaya untuk Allan. Dan  kasus Ustadz Yus, apa kau mau membuat dia dibenci para santrinya? atau kamu mau perang? Kau membuat  semuanya kacau, tak sesuai pakem… tak sesuai aturan umum yang berlaku.” Mata Bunda Aphrodite menatapku tajam..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Bunda, aku sudah sangat berhati-hati mempelajari UUM dan AUPH. Tak kutemukan pasal yang mengatakan bahwa pasangan hati itu harus hetrogen, tak ada pasal yang menyebutkan soal suku dan strata sosial, tak ada pasal yang menyebutkan gradasi kecantikan, tak ada pasal yang menyebutkan usia, tak ada pasal yang menyebutkan soal agama, tak ada pasal yang menyebutkan soal kaya - miskin. Dan Aku sudah sangat hati-hati dan berkali-kali menguji kecocokan pasangan sebelum akhirnya memanahkan panah cinta, dan mereka benar-benar pasangan jiwanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abu-abu, kamu benar soal isi UUM dan AUPH. Tapi seharusnya kamu lebih bayak melihat dan mendengar dari senior-seniormu. Benar, tak ada hukum atau pasal yang mengharuskan pasangan itu hetrogen, sama suku, ras atau agamanya. Tak ada juga pasal yang menulis soal penetapan usia tiap pasangan. Tapi itu terangkum dalam hukum-hukum kuno yang tidak tertulis. Hukum yang lebih kuat daripada hukum yang tertulis. Dan karena itu… kita bisa kompromi, bila pasangan hatinya sudah sedikit ‘pas’ walaupun tidak benar-benar pas…kita dapat mempersatukan mereka. Kita bisa memodifikasi sedikit. Bisa kita tutupi di sana-sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Bunda, bila pasangan hati saja bisa dimanipulasi, bagaimana kita mengajarkan kemurnian cinta pada manusia? Apakah menjadi Dewa Asmara harus pintar memanipulasi? Apakah kini, kita para Dewa, jadi seperti manusia. Ikut menyokong perbedaan strata, ras dan kelas, ikut membedakan warna-warna….?” Aku coba beradu argumentasi dengan Bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau akan mengerti… satu hari nanti kau akan mengerti, Abu-abu.”  Kali ini tatapan Bunda melembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar dari ruangan Bunda dengan HML di tanganku. Nilai yang paling menyedihkan (Harus Mencoba Lagi). Jangankan Dewa Zeus Award, luluspun aku tidak. Bukan itu saja. Dalam dua hari ini aku juga harus mengerjakan hal yang paling tidak disenangi dan yang paling dibenci oleh semua Cupido; mencabut panah asmara! Kasihan manusia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencabut panah-panah dan hati-hati yang terluka&lt;br /&gt;Abu-abu terpaksa mencabut semua anak panah cinta yang terlajur melesat dari busur asmaranya. Dibuka lagi buku UUM dan AUHP, mencari pembenaran lewat hukum-hukum yang tertulis rapi. Semua pasal membenarkan tindakannya. Tapi toh dia tetap saja salah. Percuma saja ada UUM dan AUHP, karena yang paling penting adalah peraturan umum yang berlaku… walaupun tak tertulis, tapi peraturan-peraturan ini yang dipakai.&lt;br /&gt;Kini, Abu-abu pergi kesetiap pasangan yang telah dipersatukannya. Kali ini, dia harus mencabut setiap anak panah yang telah ditancapkannya… Tapi oh… dia tidak boleh mencabut kedua anak panah kembar sekaligus. Dia hanya boleh mencabut satu anak panah dari setiap pasangan, (Dia juga baru diberi tahu, saat dia mencabut 1 anak panah dari satu pasangan, ada luka tak berdarah yang tertinggal di dada, tapi yang merasakan sakit adalah orang yang panahnya tidak dicabut)&lt;br /&gt;Dan dari setiap anak panah yang dicabutnya, abu-abu juga merasakan kepedihan. Kepedihan karena perasaan bersalah. Itu konsekwensinya.&lt;br /&gt;Tapi dia hanya ingin lulus ‘ujian’ memanah dan menyatukan hati’&lt;br /&gt;Kalau dia tidak lulus, apa yang harus dia kerjakan? Karena sebagai Cupido, tugas satu-satunya adalah memasangkan dan menyatukan hati.. Tak ada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf manusia….&lt;br /&gt;Aku terpaksa harus memasangkan dan menyatukan hati kalian menurut peraturan ‘tak tertulis yang berlaku sejak dahulu kala’.. Kalau ada hati yang tersakiti, jangan salahkan cinta. Cinta tak pernah salah. Cupido yang salah…Tapi.. sekali lagi.. aku hanya ingin lulus ujian..&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tomohon, November 2007: malam setelah diskusi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-3461723428072002508?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/3461723428072002508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/10/cerpen-grace-o-cupido-belajar-memanah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3461723428072002508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3461723428072002508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/10/cerpen-grace-o-cupido-belajar-memanah.html' title='Cerpen Grace O&amp;#39;Nelwan: &amp;quot;Ketika Cupido Belajar Memanah&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-179127602947518367</id><published>2008-10-20T07:31:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.090-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Chandra Dengah Rooroh: "Bukit kasih, Bukit Miste"Religius"</title><content type='html'>Bagian kecil catatan dari ekspedisi Pinawetengan, Tonsewer, Kinali dan kanonang&lt;br /&gt;28-29 September 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masyarakat yang mengalami “masifikasi” adalah masyarakat yang sudah memasuki proses sejarah, tetapi kemudian dimanipulasi oleh golongan elit untuk dijadikan kelompok yang tidak berpikir dan mudah dikendalikan. Proses ini disebut “masifikasi”, lawannya adalah “konsientisasi”, yakni proses untuk mencapai kesadaran kritis.&lt;/span&gt; (look on Karl Popper, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Open Society and its Enemies&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya terhenyak ketika menginjakkan kaki di tempat ini Perasaan heran bercampur sakithati berbaur tak karuan dalam pikiranku. Apakah aku berada ditempat yang benar seperti kata teman- temanku ataukah aku sudah berada di tampat lain yang mirip dengan tempat ini?? Ternyata memang benar saya memang berada di tempat yang bernama bukit kasih. Sebuah lokasi wisata alam yang terletak desa Kanonang- kawangkoan, kurang lebih 60 km jarak dari kota manado dan ditempuh dengan waktu 1 jam 30 menit ini sudah berada dihadapanku kembali, yang di jaga kokoh oleh sebuah menara raksasa yang bernama menara kasih.. bersama- sama dengan teman- teman dari ekspedisi mawale movement (sastra_minahasa.blogspot.com) online, diantaranya Greenhill Weol, freddy Wowor, Bodewyn Talumewo, juga teman- teman dari Pinawetengan Muda Frisky Tandaju, Roy Najoan, Frits Singal dan Jolen Kawulur, sampailah kami di tempat ini setelah menempuh perjalanan dari desa Pinawetengan, Kinali dan Tonsewer.&lt;br /&gt;Pijakan kaki kananku jatuh setelah turun dari motor Thunder kesayangan Green dan langsung membuat pikiran menerawang ini ke masa yang lalu, 16 juni 2003 adalah tanggal pertama kali saya datang ketempat ini dengan rombongan yang berbeda dan kapasitas yang berbeda pula. Decakan kagum terus keluar dari mulutku pada waktu itu. Bagaimana tidak berdiri dihadapan saya sebuah bukit yang sangat indah, dilengkapi dengan sekitar 12000an anak tangga yang memadai untuk mengadakan perjalanan religius (via do lorosa), patung- patung leluhur minahasa berdiri begitu gagah yang meninggalkan kesan betapa kentalnya adat dan budaya dan persatuan kita sebagai orang Minahasa, bangunan- bangunan ibadah dari berbagai golongan berdiri berjejeran di lereng bukit yang seakan- akan memperlihatkan hubungan kerjasama antar umat beragama di daerah ini sangat kuat plus sambutan yang ramah dari masyarakat sekitar menandakan bahwa orang daerah sini sudah siap menemui pengunjung dari mana saja, yang artinya akan menyukseskan program WOC (world ocean confrencce) 2009. belum lagi bangunan- bangunan rekreasi berdiri megah disepanjang pandangan bukit itu… begitu saya menginjakkan kaki di anak tangga yang ke 100an lebih terciumlah bau yang menyengat. Ya, itu tidak lain adalah bau belerang yang memang keluar dari tempat ini karena memang tempat ini salah satu lokasi gas alam yang tersebar di beberapa daerah di minahasa.&lt;br /&gt;Yang lebih mengejutkan saya lagi ketika samar- samar saya mendengar suara nyanyian rohani, dengan tergesa- gesa saya langsung naik terus menuju asal suara itu dan benar juga, saya sudah terhenti di jarak 7 meter dari lokasi itu karena didepan saya jelas sekali ada sebuah bangunan besar pertama saya temui yang bernama Gereja Masehi Injili di Minahasa. Yang lebih menyentuh hati saya yaitu sebuah tulisan berbahasa daerah yang tertera dibawah tulisan tadi, (Wale ni Amang Kasuruan Wangko). Dalam hati perasaan senang dan takjub kembali mengelilingi tubuhku, betapa tidak sebagai orang yang dibaptis dari ajaran ini sangat bangga melihat tempat ibadahnya dibangun ditempat seperti ini. Sangatlah sulit untuk mengutarakan ini namun menurut pemikiran saya bahwa agama Kristen sangat lekat sekali dengan budaya serta tradisi orang minahasa. Apa pasal nya, mungkin karena cara penyembahan leluhur kita sama dengan pandangan beribadahnya orang Kristen yang selalu mmenyebut Tuhan Allah yang maha besar (Opo Wailan Kasuruan Wangko), itu saya belum tau pasti. lagi Perasaan yang sulit digambarkan juga adalah ketika saya sampai di patung yang berbentuk leluhur minahasa (Toar Lumimuut) dari gesturnya terlihat sepasang orang minahasa pertama itu seakan- akan sedang menunjuk seluruh tempat didaerah ini. Memang benar kalo kita coba menghadap kearah seperti yang di tunjukkan oleh patung itu maka kita akan melihat hampir seluruh daerah minahasa. Pantas saja kalo tempat itu bernama bukit Kekeretan (tempat meneriakkan sesuatu jika ingin menyampaikan berita kepada seluruh sub-etnis diminahasa dalam hal ini Tontemboan, tolour, tombulu, tonsea, tonsawang, pasan, ponosakan, bantik dan babontehu). secara harafiah juga dipercaya tempat ini seseorang tidak boleh sembarangan membuat keributan karena akan menimbulkan gejala alam seperti hujan dan lain- lain. Banyak masyarakat minahasa juga menyebut tempat ini dengan nama bukit Toar Lumimuut. Sebelum melanjutkan perjalanan melingkari bukit itu Tak sengaja saya menengok kearah kanan bawah dan melihat sebuah setapak kecil kearah hutan bukit seberang dan menghilang, kemudian saya bertanya kepada penduduk disekitar situ, katanya itu adalah jalan ke Watu Pinawetengan. Tapi kenapa tidak diperbaiki dalam hati saya berkata?? Apakah pembangun tempat ini tidak mau memperlihatkan tempat berkumpulnya orang- orang tua minahasa dulu yang merupakn tempat musyawarah, tempat yang notabene melahirkan pikiran- pikiran terbesar sepanjang masa? Apakah ada ketakutan tersendiri dari pembangun tempat ini supay tetap terjaga kesan religius dari objek wisata ini? Lalu kenapa ada patung- patun leluhur berdiri megah disini? kenapa tempat ini dipercaya sebagai tempat pengiriman pesan lisan jaman dahulu? Ataukah ada masalah- maslah daerah kepolisian sehingga menghambat pembangunan daerah wisata ini menjadi lebih besar?&lt;br /&gt;Lamunan saya hancur ketika salah seorang teman saya menepuk pundak saya untuk melanjutkan perjalanan ke atas, ternyata sebagian teman- teman ekspedisi kami sudah meninggalkan kami jauh di atas. Dan kali ini setelah kurun waktu 5 tahun saya kembali kesini. persaan terkejut, decakan kagum, heran bercampur sakithati itu tetap sama diraut muka saya! Bukit kasih yang dulu tak seperti bukit kasih yang sekarang, sampah bertebaran dimana- mana, objek- objek situs- situs yang ada disitu sudah penuh dengan coret- coretan akibat perbuatan tangan jahil, bangunan- bangunan tempat ibadah yang sudah rusak ada dimana- mana, juga pendopo- pendopo tempat peristirahatan yang sudah tidak mempunyai pengaman lagi dan berbahaya bagi para pengunjung karena lokasi wisata ini terletak di lereng gunung ini. Seperti sudah tidak ada yang tidak memperdulikannya lagi. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah tampat ini milik seseorang ataukah milik orang Minahasa! Furious mind saya mulai berkecamuk dikepala ini, secara sosiolog apabila seseorang itu mempunyai sesuatu untuk dipelihara maka dia akan menjaganya sampai akhir hayatnya, tapi setelah dia meninggal, siapa yang akan menjaganya apabila anak cucunya tidak ingin menjaganya. Sebaliknya apabila suatu generasi itu mempunyai sesuatu untuk dijaga maka mereka akan menjaganya dan walaupun satu generasi itu hilang masih ada beberapa orang di antara generasi yang baru itu akan tetap menjaganya karena mungkin dari generasi yang lama sudah ada pengkaderisasi untuk sesuatu tersebut. Mungkin benar kata orang- orang bijaksana bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati, lebih mudah membuat daripada memelihara.&lt;br /&gt;Kesan religius saya sontak berputar 180derajat ketika saya melihat kembali kedua patung leluhur itu masih berdiri tegak di atas sana dan masih dengan gaya yang sama namun ada perbedaan lain dari kedua wajah itu, dulu dengan bangganya menunjuk dan memperlihatkan seluruh daerah dan generasinya kepada setiap pengunjung yang datang ketempat itu, kini terlihat lusuh, lelah, rusak, kotor, kebanggan mereka berdua seakan- akan perlahan sirna, mulai tidak ada lagi semangat diwajah itu seperti yang dulu, tidak ada lagi jiwa persatuan yang melekat seperti orang minahasa di kedua tubuh itu,serasa ingin mengucapkan bahwa semangat orang minahasa mulai pudar, seperti mewakili tempat itu dan ingin meneriakkan sesuatu (kekeret) kepada kita semua bahwa mungkin ada hal- hal yang perlu di perbaiki, ada hal- hal yang harus kita jaga, ada hal- hal yang harus kita hindari, ada hal- hal yang harus kita korbankan, ada waktu kita bergerak, ada waktu kita melakukan sesuatu sebelum terlambat dan mungkin memang sudah waktunya. karena siapa lagi yang akan membangun sekaligus memelihara daerah minahasa kita kalau bukan kita orang minahasa sendiri. Mngkin saya akan menutup catatan saya ini dengan falsafah yang pernah dikatakan oleh seorang presiden amerika “jangan bertanya apa yang telah Negara berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang telah kau berikan kepada negara".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Jajat U Santi!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-179127602947518367?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/179127602947518367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/10/esei-chandra-dengah-rooroh-kasih-bukit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/179127602947518367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/179127602947518367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/10/esei-chandra-dengah-rooroh-kasih-bukit.html' title='Esei Chandra Dengah Rooroh: &amp;quot;Bukit kasih, Bukit Miste&amp;quot;Religius&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-4493586281765571876</id><published>2008-10-05T09:12:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.098-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Benni E. Matindas* : "Negara Gagal"</title><content type='html'>Menyusul peristiwa rusuh massa yang menimpa para mahasiswa sebuah sekolah tinggi theologi di Jakarta Timur belum lama ini, sebuah stasiun televisi memasukkan warta itu dalam rubrik tetapnya berupa interaksi dengan pemirsa yang memilih sendiri berita yang ingin ditayangkan ulang. Telepon berdering. Dan suara seorang perempuan terdengar memberi salam. Ia seorang ibu, tinggal di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi peristiwa di STT Setia Arastamar itu, dan peristiwa-peristiwa sejenis yang nyaris rutin, misalnya seorang Camat yang ikut dengan massa yang menuntut penutupan sebuah gereja, si ibu menyimpulkan: “Negara ini sudah gagal!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang lebih telak, tepat, utama, dan penting, daripada simpulan demikian dalam menanggapi fakta menjadi rutinnya perlakuan tak adil atas kaum minoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sama tahu raison d’etre atau that’s why adanya Negara yang dijelaskan Hobbes dan kemudian disempurnakan oleh banyak pemikir lain termasuk Sumual: Setiap manusia dilahirkan dengan hak asasi; termasuk hak mempertahankan hidupnya dan miliknya dari serangan orang lain. Tapi usaha pertahanan diri itu tak boleh sepenuhnya diserahkan kepada warga, karena demi menjamin keberhasilan pertahanan tersebut setiap orang akan saling curiga, menyerang lebih dulu, membangun kekuasaan sendiri-sendiri tanpa batas, atau mengusahakan bala bantuan sebanyaknya dari luar. Dan itu niscaya menjurus pada bellum omnium contra omnes — perang semua melawan semua. Maka, semua warga itu mengadakan kontrak untuk membentuk satu badan pemegang kekuasaan bersama — yakni Negara — dan memilih pemerintah serta organ lain buat menyelenggarakan negara itu. Fungsi negara yang utama dan minimal adalah menjaga keamanan warga beserta hak-hak mereka, dan harus adil agar kekuasaan itu tak dimanfaatkan kelompok warga lainnya untuk hanya menguntungkan keamanan pihak mereka. Karenanya, negara harus dinilai gagal bila fungsi minimal — keamanan dan keadilan — itu kenyataannya tak tertangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di situ, di tataran konsep, siapapun (termasuk ibu penelepon tadi) setujuan. Tetapi praktiknya yang selalu jadi lain itu semestinya menyadarkan siapapun bahwasanya ada tataran konseptual yang lain lagi, yang selama ini mengarahkan praktikal aktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain? Ya, misalnya, di tataran “iman”. Di sini ada “perintah agama” yang, walau bertentangan dengan keharusan menjaga keamanan dan keadilan, dinilai “harus ditunaikan”. Amanat agama melampaui harkat hukum negara maupun negara itu sendiri. Dan penghayatan iman serta pengamalannya yang seperti ini bukan saja dalam satu agama tertentu di wilayah negara tertentu. Juga tak hanya di masa tertentu, seperti penyalahgunaan kekuasaan gereja untuk menebar teror dan ketidakadilan di sepanjang Zaman Pertengahan, atau Afghanistan di masa rezim Taliban. Para penganut Budhisme di Thailand dan Srilanka menyesak kaum minoritas Islam dan Hindu. Para penganut Yudaisme di Israel, pada hari Sabath, memukuli orang-orang di jalan yang tidak pergi ke sinagoge. Sejumlah orang Hindu di India berlomba membunuh warga Muslim dan membakar masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini hanya dapat selesai secara tuntas bila masyarakat telah mencapai taraf kecerdasan memadai. Lebih cerdas dalam beragama. Lebih tahu mana wujud takwa yang utama di mata Allah, yakni meneladani sifat-sifatNya yang rahmani dan rahimi. Bukan mengutamakan lain-lain berdasar bermacam tafsir manusia. Rahmani dan rahimi, pengasih dan penyayang. Jauh dari laku kekerasan dan ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai taraf kecerdasan memadai itu pun adalah fungsi negara. Bukan fungsi minimal, melainkan fungsi ideal — yang seharusnya sudah beres, mengingat kebudayaan homo sapiens ini sudah menggauli negara dan agama selama beribu tahun. Fungsi ideal ini — yang dirumuskan lewat bermacam kata-kata oleh Plato, Al-Farabi, Martin Luther dan Rousseau — masih gagal diperankan negara. Tepatnya: bangsa. Bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga bangsa belum pernah berhasil mengajukan konsep negara yang sebenarnya — yang antaranya mengenai fungsi minimal sampai fungsi ideal Negara — sehingga tak pernah bisa mencapai kondisi ideal itu. Yang kendati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa — melalui International Covenan on Economic, Social and Culture Rights (ICESCR) — sebetulnya sudah pula diabsahkan sebagai kewajiban minimal suatu negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara harus menjadi lokomotif dari apa yang oleh UUD 45 dirumus “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Termasuk di dalamnya: kehidupan beragama yang cerdas. Lebih mampu mensistematisir ajaran agama — jelas mana inti dan mana implementasi berdasar kondisi situasional, kultural, historis — sehingga lebih ajeg, konsisten, menumbuhkan takwa. Dengan demikian, sebagai inti dan dasar, agama tetap bisa diposisikan pada harkat lebih tinggi di atas hukum dan negara, dan secara ajeg serta konsisten. Dengan kecerdasan pun maka setiap insan dapat mencapai kemajuan puncak tanpa harus meluncur ke sekularisme dan hambar imannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragama secara lebih cerdas, dan seterusnya membina agama yang mencerdaskan generasi-generasi selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Benni E.Matindas,&lt;br /&gt;Filsuf Minahasa, penulis buku “Negara Sebenarnya”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-4493586281765571876?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/4493586281765571876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/10/esei-benni-e-matindas-gagal.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/4493586281765571876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/4493586281765571876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/10/esei-benni-e-matindas-gagal.html' title='Esei Benni E. Matindas* : &amp;quot;Negara Gagal&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-6059386125300333103</id><published>2008-10-05T09:06:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.107-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen Cyanthi Manoppo: "Cincin Kaweng..."</title><content type='html'>Alkisah hiduplah Lintje dan Antje di desa Tomohon[1]. Antje lahir di tahun 50-an. Tiga tahun sesudahnya Lintje dilahirkan. Pada waktu itu, para tetua desa dan para orang tua lagi kegandrungan menamai anaknya dengan akhiran..-tje (Baca : -Ce). Selain Antje ada adiknya Martje dan Vence. Lintje memiliki 3 orang kakak yakni  Katotje, Dortje dan Suntje. Tambahan pula teman sepermainan mereka si Sartje, Yantje dan Mintje. Maka, setiap hari Ibu Guru memanggil daftar hadir siswanya : Katoce, Dorce, Marce, Ance, Sarce, Yance, Lince, Mince, Vince, Sunce… Ya, berhubung usia mereka berdekatan dan keterbatasan prasarana, semua generasi –ce –ce di desa itu belajar bersama-sama. Rukun dan damai.&lt;br /&gt;Lintje dan Antje selalu bersama-sama.&lt;br /&gt;Rumah mereka berdekatan, orang tua mereka berkawan dan mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama sejak SD yang jaraknya hanya 15 menit jalan kaki dari rumah hingga masuk SMP yang jaraknya 1 jam lebih 15 menit jalan kaki dari rumah. Maka bisa di duga mereka akhirnya menikah juga. Hidup rukun dan damai.&lt;br /&gt;Tapi, Ini bukan kisah dongeng dari negeri antah berantah. Maka hidup rukun dan damai tidaklah mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami I&lt;br /&gt;Saat itu olahraga adu semangat yang paling ramai adalah mengadu Ayam milik siapa yang paling jago di seantero kampung. Mereka yang ketagihan seperti saling menghormati norma baru yakni yang memiliki ayam paling jago kira-kira bisa disamakan dengan yang paling jago di kampung. Walah…padahal andil empunya para ayam jago paling banyak meneriaki para ayam dan memberi mereka makanan lebih dari takaran biasa. Tak tanggung-tanggung taruhannya dari Jagung sekarung sampai uang ratusan ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya niat awal Antje menyabung ayam malam minggu itu bukanlah niat jahat. Antje bermaksud memberikan hadiah istimewa pas hari Valentin 14 Februari yang tinggal seminggu lagi, pada juwita puspita hatinya Lintje : membelikan coklat berbentuk buah hati bertuliskan I Love You yang hanya dijual di pertokoan kota Manado. Berhubung masih termasuk barang langka di kampung, biaya transportasi ditambah harga beli coklat setara dengan tiga kali hasil jualan di pasar.&lt;br /&gt;Apa pasal ? Yach… seperti sikap dasar manusia, kalau ada cara mudah menggapai sesuatu mengapa tidak ? Tapi Antje salah perhitungan ketika dalam menyambung ayam niat awalnya berubah di tengah jalan. Hari itu jualan para pedagang sayuran laris manis, harga taruhan pun naik setinggi langit. Antje tak mau kalah dan kecoplosan menawar cincin kawin emasnya.&lt;br /&gt;“Astaganaga…Antje, nyanda salah ngana se gadai itu cincin kaweng ?” teriak Ventje adik kandung Antje.&lt;br /&gt;“Hush..kita pe ayam paling jago. Tenang jo kwa, nanti kita kase bagian MAR jangan bilang pa maitua neh !” seru Antje tak kalah semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roda kehidupan tidak ada yang tahu,&lt;br /&gt;                                                           kata pujangga.&lt;br /&gt;Kegagalan adalah awal kesuksesan,&lt;br /&gt;                                                           kata filsuf.&lt;br /&gt;Bahtera rumah tangga pasti ada riak kecil,&lt;br /&gt;                                                           tutur Ventje selaku saksi, ikut nyambung&lt;br /&gt;Demi Langit dan Bumi, nyanda sengaja cintaku&lt;br /&gt;                                                           ratap Antje&lt;br /&gt;Kita binci pa ngana, kalo minta cere bukang bagini depe cara,&lt;br /&gt;                                                           tangis Lintje&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjual cincin kawin untuk menebus kekalahan menyambung ayam bukanlah hanya riak kecil bagi seorang istri seperti Lintje. Hilang sudah cokelat valentine idaman malahan Tsunami menggemuruh mengalir deras di setiap sel darah Lintje.&lt;br /&gt;Masalah Cincin Kaweng di keluarga Antje dan Lintje diredakan oleh si kecil Celia. Hhmm…sejauh ingatku, akulah yang mendamaikan Mama Lintje dan Papa Antje. Tepat seminggu perang dingin, tepat hari kasih sayang sedunia,  aku yang masih cadel dan baru belajar menulis memberikan surat bagi mama dan papa.&lt;br /&gt;Isi suratkku :&lt;br /&gt;===============================================================&lt;br /&gt;14 Februari,&lt;br /&gt;Mama LinCE + Papa AnCE = ade CELiA&lt;br /&gt;Celia sayang pa mama deng papa. Baku bae jo neh ??&lt;br /&gt;===============================================================&lt;br /&gt;Sampai sekarang, suratku dibingkai dan dipajang di ruang tamu. Padahal tulisannya cakar ayam alias tidak karuan. Haha..Dewasa ini aku baru tahu ternyata Om Ventje yang cerdik sangat berjasa mendamaikan mama papa. Isi suratnya diajarai Om Ventje selama seminggu penuh maka, selama 7 hari berturut-turut setiap selesai latihan menulis surat, Celia kecil mendapatkan permen Hopjes [2]&lt;br /&gt;Masalah penggadaian cincin kawin demi valentines day akhirnya reda di hari valentines. Kembali pada kewajaran, Antje dan Lintje hidup rukun dan damai.&lt;br /&gt;Sekali lagi,Ini bukan kisah dongeng dari negeri antah berantah. Maka hidup rukun dan damai tidaklah mutlak.&lt;br /&gt;Lintje dan Antje hampir tidak pernah memiliki riak kecil dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka. Sebagai gantinya mereka langsung menghadapi Tsunami dan kali ini Tsunami menggemuruh mengalir deras di setiap sel darah Antje.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami II&lt;br /&gt;Aku berumur 17 tahun kala itu. Celia, si keke yang berkulit putih menjadi bintang kelas di sekolahan bertekad melanjutkan belajar di kuliahan di ibukota. Sebagai anak semata wayang, mama Lintje dan papa Antje sangat besemangat untuk menyaksikan Celia bisa meraih gelar insinyur. Hanya saja tekad dan semangat harus bertempur dengan uang. Pertempuran yang sengit, dimana anak usia sekolah dengan keadaan ekonomi keluarga pas-pasan kalau tidak mau disebut orang miskin, pastilah tidak menyanggupi biaya spp, buku cetak, transport pergi-pulang kampung-kota-kampung. Belum lagi biaya tak terduga lain-lain.&lt;br /&gt;Berdasarkan musyawarah tertutup - Bapak, Ibu dan Anak. Mama memutuskan : menjual cincin kawin untuk biaya kuliahku. Papa yang tahu memainkan perannya membuat mama harus sukarela menjual barang kesayangannya. Toh, cincin itu sudah tidak ada pasangannya, bujuk papa. Toh, tanpa cincin itu kita saling mencintai sampai tua, rayu papa.&lt;br /&gt;Akhirnya waktunya tiba. Om Ventje datang hendak membeli cincin kawin mama.&lt;br /&gt;Sudah satu jam. Tapi, cincin itu tidak bisa terlepas dari jarimanis mama.&lt;br /&gt;“Aduh..Vence, kita nyanda batowo kasiang. Pe setengah mati skali, nyanda tacabu ini cincin kaweng “ seraya berusaha memutar, menarik, me…, me…, menarik cincin kawinnya&lt;br /&gt;“Lince dapa lia kwa..riki so merah do ngana pe jare manis. Santai jo”&lt;br /&gt;Waktu terus berdetak dan tak pernah mau berhenti&lt;br /&gt;Detik ke-60 menjadi menit&lt;br /&gt;Menit ke-60 menjadi jam&lt;br /&gt;Dan jam ke-3, dentang itu mengundang Tsunami&lt;br /&gt;“Mama, so basangaja sto kang ? Papa nda abis pikir, masa cuma mo sekaluar itu barang spanggal so tiga jam ? “&lt;br /&gt;“Aduh.. Papa jang asal-asal malontok. Tanya kwa pa Vence, so goso sabong, minyak goreng, minyak kalapa, minyak tawon, nyanda talapas ini cincin”&lt;br /&gt;“Papa jang baku sedu..Mo apa itu peda ? Aaaahhhh…mama nimau !! “&lt;br /&gt;Hari Jumat, kantor perguruan tinggi hanya buka setengah hari. Karena itu papa jadi tidak sabaran dengan usaha mama melepas cincin kawin dari jari manisnya. Papa sudah mengatur agenda bahwa hari itu juga, pembayaran awal kuliahku harus terjadi dan papa termasuk orang yang tidak mau mengubah apa yang sudah direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 tahun dibesarkan mama dan papa, aku tentu saja mengenal mereka lebih dalam. Peda [3] itu hendak digunakan papa untuk memotong cincin emas yang sangat lengket di jari manis mama. Tentu saja wanita separuh baya seperti mama sangat ketakutan membayangkan bahwa jari manisnya bisa ikut putus dalam sekali tebas. Mama menangis keras dan mengulang kalimat yang sama dengan 13 tahun lalu saat Tsunami pertama melanda, “Kita binci pa ngana, kalo minta cere bukang bagini depe cara”&lt;br /&gt;Itulah pertama kalinya aku terpikir, mungkin tanpa Cincin Kawin sebuah keluarga justru tidak akan pernah terpikir tentang perceraian.&lt;br /&gt;Masalah cincin kawin kali itu diselesaikan si ABG Celia dan Om Ventje. Om Ventje membawaku mengikuti tes masuk gratis untuk siswa berprestasi. Aku masuk sebagai 5 besar dan memberi mama waktu 6 bulan atau sama dengan 1 semester untuk menurunkan berat badan hingga jari manisnya menjadi lebih ramping dan tanpa ditebas dengan parang, cincin kawin itu bisa dikeluarkan dan dijual oleh Om Ventje.&lt;br /&gt;Siklus hidup manusia memainkan jemarinya.&lt;br /&gt;Selesai kuliah, ditanya kapan kerja&lt;br /&gt;Sementara kerja, ditanya kapan menikah&lt;br /&gt;Sebagai Psikolog, Aku tentu menyadari kehendak mama dan papa untuk segera menimang cucu. Sebagai tameng agar tidak dipaksa untuk segera menikah, aku mengatakan pada mama dan papa bahwa aku benarlah serius hanya akan menikah dengan pria yang mencintai dan menerimaku apa adanya. Termasuk menerima kehendak anehku, menikah tanpa pernik Cincin Kawin.&lt;br /&gt;Semuanya baik-baik saja. Aku hidup rukun dan damai dengan keluarga, teman, kolega, pasien… dan kekasih di belahan benua yang lain.&lt;br /&gt;Lagi-lagi,Ini bukan kisah dongeng dari negeri antah berantah. Maka hidup rukun dan damai tidaklah mutlak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami III&lt;br /&gt;Tepat Valentines Day, 14 Februari. Tiba saatnya Aku harus menanggulangi Tsunami ku sendiri.&lt;br /&gt;Anaknya tante Martjee dan om Vintje tiba-tiba datang di tempat praktek, bukan kenalan biasa.&lt;br /&gt;Marvin, pacarku semenjak SMU muncul sambil membawa gelar Master ekonomi dan pilihan kado di kedua tangannya. Dia memang selalu lebih pintar dari aku, to the point, tanpa basa basi dan sama-sama aneh kata sebagian orang.&lt;br /&gt;“Celia…pilih yang mana ? coklat valentine untuk pernikahan ATAU cincin untuk persahabatan”&lt;br /&gt;Haha…Celia yang anti dengan aksesoris bernama cincin tidak mungkin memilih barang itu kan ? Kurasakan tsunami ini bukan gemuruh yang meluap marah, tapi debar jantung kegugupan dan luapan kebahagiaan, karena terjawab sudah salah satu permohonan doa: Semoga, akulah empunya tulang rusuknya yang konon hilang satu.&lt;br /&gt;Begitu tanganku menyentuh coklat valentine, Marvin mendekapku erat sambil berbisik :&lt;br /&gt;Honey…&lt;br /&gt;In the long run we are all dead[4],&lt;br /&gt;In the short run we will marry!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut hari ke-empat belas, di bulan kedua, tahun 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1] Kota Tomohon dicapai melalui transpotasi darat 45 menit dari kota Manado, ibukota Sulawesi Utara&lt;br /&gt;[2] Permen yang paling terkenal di Tomohon pada tahun 1960-an&lt;br /&gt;[3] Parang, semacam pisau besar&lt;br /&gt;[4] kalimat salah satu ekonom dunia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-6059386125300333103?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/6059386125300333103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/10/cerpen-cyanthi-manoppo-kaweng.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/6059386125300333103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/6059386125300333103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/10/cerpen-cyanthi-manoppo-kaweng.html' title='Cerpen Cyanthi Manoppo: &amp;quot;Cincin Kaweng...&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-6754065242197977314</id><published>2008-09-17T04:46:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.119-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naskah Teater'/><title type='text'>A JOURNEY OF JOY, Oleh: Hans Liberty Makalew</title><content type='html'>Sebuah Liturgi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Doa Pembukaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Puji-pujian oleh jemaat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(masuk iblis)&lt;br /&gt;Iblis : Beking apa di sini?&lt;br /&gt;Mo ba apa ngoni di sini?&lt;br /&gt;Eh! Ngana! Kiapa ngana di sini? (sambil menunjuk ke salah seorang jemaat)&lt;br /&gt;Io! Ngana!&lt;br /&gt;For apa ngana kamari!?&lt;br /&gt;Suara : Ibadah. . .&lt;br /&gt;Iblis : Ibadah?! Ibadah pa sapa leh?!&lt;br /&gt;Hari gini, Masih pake yang ba-bagini? Basi tau!&lt;br /&gt;Ibadah ini kan, cuma tradisi.&lt;br /&gt;Yang artinya, nyanda penting!&lt;br /&gt;Yang penting kan, itu . . . apa kote?. . . Eee. . . iman.&lt;br /&gt;Io, iman!&lt;br /&gt;Lagian kan, tu ibadah yang babagini kwa cuma ja beking fugado jo.&lt;br /&gt;Io to?&lt;br /&gt;(masuk malaikat)&lt;br /&gt;Iblis : (menoleh kearah malaikat)&lt;br /&gt;Huuuh! . . . napa leh pengacau, so ada . . .&lt;br /&gt;Beking apa leh ngana kamari? (kepada malaikat)&lt;br /&gt;Ngana do’ kurang da iko-iko pa kita eh!&lt;br /&gt;Kiapa, naksir?&lt;br /&gt;Malaikat : Eh! So jaga tembus di tampa bagini ngana e?!&lt;br /&gt;Iblis : Oh io. . . Skarang, tampa mana kong kita nimbole tumbus. . .&lt;br /&gt;Mo rumah basar, mo rumah kacili, mo di utang, mo di kampung, mo di kota, mo di pasar, mo di mol, mo di internet, mo di hendphon, mo di tampa-tampa ibadah, mo di mana ke’, samua kita pigi akang!&lt;br /&gt;Malaikat : Surga dang?!&lt;br /&gt;Iblis : Lala mulu ngana!&lt;br /&gt;De pe inti kan, cuma manusia . . .&lt;br /&gt;Kita pe tujuan kan ngana so tau!&lt;br /&gt;Malaikat : Mar, kan kalu di tampa bagini ngana salalu nyanda pernah untung.&lt;br /&gt;Iblis : Apa?&lt;br /&gt;Eh! Lamu! Coba ngana lia tu di blakang sana. Tu anak dua dari tadi kurang da bermain-bermain HP.&lt;br /&gt;Napa le tu tiga nona sana dari tadi cuma da ba karlota trus.&lt;br /&gt;Tu nyong sana kumang somo ta cabu de pe mata da haga-haga tu parampuang-parampuang pasung.&lt;br /&gt;Sini! eh... ngana lia tu mache sana! De pe dalam hati dari tadi cuma, ‘so dapa lia gaga kita nyanda e?. . . Aduh talalu sadiki kote kita pe smengken. . .’&lt;br /&gt;Tu paitua sana kumang, dia ada ganu-ganu pa itu pache sana.&lt;br /&gt;Samua dorang pe pikiran nyanda di ibadah!&lt;br /&gt;Yang dorang pikir cuma. . . kita. . .kita. . .kita. . .trus.&lt;br /&gt;Narsis!&lt;br /&gt;Tu cinta kasih yang ngana da bangga-banggakan, dorang cuma jaga pake for dorang pe diri sandiri.&lt;br /&gt;Jadi, biar ngana mo bantu le, so nya’ ngaruh.&lt;br /&gt;Malaikat : Eh, mar ngana musti inga itu kasih karunia dari Yesus Kristus nyanda akan pernah mo setinggal pa dorang.&lt;br /&gt;Iblis : Adoh, bage di mana e. (berpikir)&lt;br /&gt;Io no, kita le tau samua tu ngana pe bos pe karya.&lt;br /&gt;Mar, ngana lia ini dunia ini skarang.&lt;br /&gt;Sapa yang merajalela?&lt;br /&gt;Bu’!!!&lt;br /&gt;Malaikat : Bu’? (kebingungan)&lt;br /&gt;Iblis : Kita, noh!&lt;br /&gt;Dunia skarang geger dengan teror, perang, deng kerusuhan.&lt;br /&gt;Blum lagi itu praktek-praktek mesum, bahugel, narkoba, miras, traficking, korupsi, pancuri, kolusi, baruci, dola-dola orang, deng laeng sebagainya yang terangkum dalam dosa.&lt;br /&gt;Malaikat : Mar, samua itu so nda akan bertahan lama.&lt;br /&gt;Iblis : Heh! di Buser, di Patroli, di Derap Hukum, Delik, Dunia Dalam Berita, Sekilas Info, Breking Nyuws, Fenomena, berita-berita di Indovision apa le e...&lt;br /&gt;Mo di koran-koran, majalah, tabloit, mo di buku-buku sejarah!&lt;br /&gt;Samua kita pe karya yang di bicarakan, kong tiap hari ada.&lt;br /&gt;Malaikat : Mar, ngana nyanda akan pernah menyamai Yesus Kristus.&lt;br /&gt;Iblis : Aaargh...salah!&lt;br /&gt;Dia itu yang nyanda akan pernah mo sama deng kita!&lt;br /&gt;Manusia so berbondong-bodong kase tinggal pa dia kong datang pa kita.&lt;br /&gt;Malaikat : Hoi, sadar jo! So lebe dari dua ribu taon, itu nama Yesus Kristus masih terus diagungkan, dimuliakan, deng disembah di muka bumi ini.&lt;br /&gt;Deng, orang-orang yang mengimani tu nama itu terus berjuang mo kase kalah pa ngana.&lt;br /&gt;Buktinya, napa skarang, ini orang-orang pe smangat skali mo ba ibadah menyambut kelahiran Yesus Kristus sang Juruslamat.&lt;br /&gt;Iblis : Memang lala mulu ja bacirita deng ngana no.&lt;br /&gt;( berjalan seperti akan keluar, namun kembali lagi)&lt;br /&gt;Eh!!! Ngana masih inga tu kejadian sepuluh milenium yang lalu di taman Eden?&lt;br /&gt;Malaikat : Kiapa?&lt;br /&gt;Iblis : Masih inga pa Hawa?&lt;br /&gt;Malaikat : Kiapa dia?&lt;br /&gt;Iblis : Masih inga itu pohong?&lt;br /&gt;Malaikat : Hmmmm...kong kiapa?&lt;br /&gt;Iblis : Itu buah dang?&lt;br /&gt;Malaikat : Io, kong?&lt;br /&gt;Iblis : Itu ular dang?&lt;br /&gt;(Di depan panggung iblis beraksi dengan gaya mempersembahkan suatu pertunjukan, sesudah itu keluar)&lt;br /&gt;Malaikat : Hmmm...&lt;br /&gt;(setelah sempat terpaku ke arah panggung malaikat keluar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak I&lt;br /&gt;Adegan I&lt;br /&gt;Setting: Taman Eden&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tirai panggung dibuka. Masuk Adam sambil mengurus tanaman-tanaman di taman itu. Kemudian tertidur. Ular mengamat-amati Adam dari belakang pohon pengetahuan. Hawa bangkit perlahan kemudian menghampiri Adam. Adam terbangun dan kaget. Setelah menyadari siapa Hawa sebenarnya Adam mulai bersuara.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam : Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Adam kemudian mengajak Hawa berjalan-jalan mengelilingi taman Eden. Keduanya kemudian sibuk merawat tanaman, hingga akhirnya terpisah. Ular datang menghampiri Hawa.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ular : Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa : Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ular : Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ular kembali bersembunyi di balik pohon. Hawa yang termakan dengan rayuan Ular akhirnya memetik buah tersebut dan membawanya kepada Adam. Kemudian Hawa mengajak Adam untuk memakan buah itu. Adam menanyakan pada Hawa asal dari buah tersebut. Hawa mengajak Adam ke tempat dimana ia memetik buah itu. Setelah itu Adam menjadi panik. Hawa terus membujuk Adam kemudian ia memakan buah itu. Semula Adam menolaknya, namun kemudian ia pun memakan buah tersebut. Seketika setelah Adam memakan buah itu keduanya mendapati dirinya telanjang, kemudian mereka lari bersembunyi. Terdengar suara langkah kaki.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara : Di manakah engkau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam : Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara : Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon yang Kularang engkau makan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam : Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara : Apakah yang telah kauperbuat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa : Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara : (kepada Hawa)&lt;br /&gt;Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.&lt;br /&gt;(kepada Adam)&lt;br /&gt;Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mereka akhirnya di usir dari taman Eden. Tirai panggung ditutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jemaat menyanyi lagu ”Indah Sebagai di Eden”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Masuk malaikat dan iblis)&lt;br /&gt;Iblis : Hua ha ha hahahaha.....&lt;br /&gt;Pangge-pangge ujang ini.&lt;br /&gt;Bae leh itu lagu bukang for kita.&lt;br /&gt;Kacau...total!&lt;br /&gt;Hua ha ha hahahaha....&lt;br /&gt;Malaikat : De pe inti kwa dari hati. Dorang so berusaha mo kase yang terbaik pa Yesus Kristus lewat pujian.&lt;br /&gt;Yah, kalu ada fals-fals dikit, ato nda ta iko ketukan, ato ada yang manyanyi sambil menghayal, ato yah, memang suara blek kan patut di maklumi. Manusia jo no.&lt;br /&gt;Lantaran kan nda samua ada bakat di manyanyi.&lt;br /&gt;Iblis : Butul, memang so dari sononya rata-rata manusia pe bakat bukang di manyanyi mar di bidang kekacauan, kekerasan, kesombongan, kenyanda-sabaran, kemunafikan yang samua-samua itu maso pa kita pe bidang.&lt;br /&gt;Hua ha ha hahahaha....&lt;br /&gt;Naraka!!!&lt;br /&gt;Malaikat : Iiiiih...tttakuuut...(mengolok iblis)&lt;br /&gt;Iblis : Dunia skarang deng dunia dulu masih sama!!!&lt;br /&gt;Samua lantaran kita! Kita!! Kita!!!&lt;br /&gt;Dari Eden sampe skarang, manusia nyanda akan pernah lolos dari kita pe kuasa!&lt;br /&gt;Hua ha ha hahahaha....&lt;br /&gt;(keluar Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan II&lt;br /&gt;Setting: Padang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tirai panggung dibuka. Adam dan Hawa yang telah beranak-cucu berjalan perlahan memasuki panggung. Menggambarkan sebuah perjalanan kehidupan yang meletihkan dari suatu keluarga yang besar. Makin lama jumlah mereka semakin bertambah. Terjadi kekacauan, keributan, kegilaan, dan perkelahian di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu. Beberapa berusaha melerai juga menenangkan, namun kekacauan terus terjadi. Dalam perjalanan itu mereka menemukan sumber air. Mereka bersukaria. Perlahan air mulai naik, dan mereka terus bersuka-ria. Setelah beberapa saat air terus naik, mereka menjadi panik dan berusaha menyelamatkan diri. Air terus naik hingga akhirnya menenggelamkan mereka. Terlihat bahtera di atas permukaan air. Setelah air surut masuk beberapa orang yang terlihat kelaparan dan sakit-sakitan. Masuk seorang nabi berpakaian raja dan bawahan-bawahannya yang kemudian langsung merawat dan memberi makanan pada orang-orang itu. Mereka bersuka-ria. Setelah orang-orang itu bersuka-ria nabi itu keluar. Mereka terus berpesta pora. Masuk orang-orang yang mengusung patung lembu yang terbuat dari emas yang kemudian disembah oleh orang-orang tadi. Masuk seorang nabi dengan membawa dua loh batu, yang kemudian segera murka setelah melihat suasana itu. Setelah memecahkan dua loh batu yang bertuliskan ke-sepuluh perintah Tuhan, nabi itu keluar. Mereka lalu mamecah-mecahkan dan kemudian memakan patung lembu itu. Kemudian mereka berjalan keluar dan terlihat sangat menderita. Masuk dari kiri dan kanan panggung orang-orang yang siap berperang. Mereka membentuk barisan di pinggiran panggung kemudian saling meneriakan cacian. Masuk seorang nabi yang berusaha melerai perang itu, namun sia-sia. Kedua kubu akhirnya maju berperang. Sang nabi keluar. Panggung menjadi arena pembantaian. Akhirnya semua tewas terkapar. Masuk perempuan-perempuan yang meratapi sosok-sosok mayat itu. Tirai panggung ditutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 260 Ayat 1 dan 3 “Dalam Dunia Penuh Kerusuhan”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Masuk Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;Iblis : hua ha ha ha...&lt;br /&gt;Sengsara!!!&lt;br /&gt;Sampe skarang itu kata itu masih terus terngiang di talinga!&lt;br /&gt;Malaikat : Kasih!&lt;br /&gt;Itu kata itu ley masih terus terngiang di telinga.&lt;br /&gt;Iblis : Io, mar manusia semakin terpuruk dalam kita pe belenggu. Sampe-sampe yang ngana lia cuma kemunafikan. Yang ngana kira nda ada di antara orang-orang ini, mar sebenarnya ada, kong banya le!!! Ada saat-saat dorang bakampanye tentang cinta, kasih, deng Tuhan, deng ada saat-saat dorang bakampanye tentang.....ngana so tau to itu. Karna apa?&lt;br /&gt;Malaikat : Hoaaaayem (sambil mengolok)&lt;br /&gt;Iblis : Karna, ngana pe bos nyanda pernah butul-butul kase ampun pa dorang, manusia.&lt;br /&gt;Malaikat : Masih inga itu kejadian sesudah tu ngana pe cerita tadi?&lt;br /&gt;Iblis : Hmm.. bagimana?&lt;br /&gt;(keluar Malaikat dan Iblis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan III&lt;br /&gt;Setting: Dunia masa Perjanjian Lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tirai panggung di buka, perempuan-perempuan yang menagis tadi terlihat sedang memindahkan jasad-jasad korban peperangan ke luar panggung. Masuk nabi Yesaya dan langsung bergabung dengan perempuan-perempuan tadi untuk memindahkan jasad-jasad.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Yesaya : (Sambil memindahkan jasad)&lt;br /&gt;Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.&lt;br /&gt;Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan.&lt;br /&gt;Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian.&lt;br /&gt;Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api.&lt;br /&gt;Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Keluar nabi Yesaya)&lt;br /&gt;(Masuk nabi Mikha langsung bergabung memindahkan jasad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Mikha : (Sambil memindahkan jasad)&lt;br /&gt;Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel. Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, dan dia menjadi damai sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Keluar nabi Mikha)&lt;br /&gt;(Masuk nabi Zakharia yang kemudian langsung memindahkan jasad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Zakharia : Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.&lt;br /&gt;Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Setelah semua jasad telah di pindahkan, nabi Zakharia berjalan keluar. Perempuan-perempuan itu segera merespon nubuatan yang baru saja mereka dengarkan dari ketiga nabi itu dengan tarian pengharapan. Masuk beberapa orang masuk bergabung dengan mereka sehingga jumlah orang yang menantikan kedatangan Mesias semakin bertambah. Masuk Iblis yang langsung menghasut satu-persatu dari mereka. Lama-kelamaan satu-persatu mulai memisahkan diri dan keluar. Hingga akhirnya tersisa dua orang. Tirai panggung ditutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 81 Ayat 1,2,5 “O Datanglah Imanuel”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(masuk Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;Iblis : Hua ha ha hahahaha...&lt;br /&gt;Apa yang ngana mo banggakan dari tu cerita itu?!&lt;br /&gt;Itu tiga pace itu?&lt;br /&gt;Ha ha haha...&lt;br /&gt;Malaikat : Nubuatan!!!&lt;br /&gt;Iblis : Oh....(mengangguk)&lt;br /&gt;Mar ngana so lia kita pe andil?!&lt;br /&gt;Akhirnya kan nda ada orang yang percaya tu ramalan itu.&lt;br /&gt;Kalu cuma sekedar tau, ada!&lt;br /&gt;Mar kalu soal percaya, no wey!!!&lt;br /&gt;Malaikat : Mo ada orang percaya ke’, mo nyanda ke’, kalu namanya kehendak Tuhan, pasti mo jadi. Buktinya ngana.&lt;br /&gt;Iblis : Kiapa kita?&lt;br /&gt;Malaikat : Dapa user dari surga no.&lt;br /&gt;Iblis : Bukang dapa user, kita yang suka pigi dari situ.&lt;br /&gt;Malaikat : Oh, bagitu eh...&lt;br /&gt;Kalu soal andil, ngana pasti tau tu kejadian di satu rumah di kota Nazaret.&lt;br /&gt;(keluar Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak II&lt;br /&gt;Adegan I&lt;br /&gt;Setting: Sebuah rumah di kota Nazaret&lt;br /&gt;(Tirai panggung dibuka. Yusuf dan Maria yang sedang dilanda asmara sudah berdiri di tengah panggung. Yusuf berpamitan pada Maria lalu kemudian keluar. Maria mengantarnya sampai di depan pintu. Maria sejenak melamun sambil tersenyum-senyum, kemudian dengan suka-cita mulai membersihkan ruangan dan perabotan, lalu tertidur. Masuk Malaikat Gabriel yang menari-nari mengelilingi ruangan, kemudian membangunkan Maria.)&lt;br /&gt;Gabriel : Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.&lt;br /&gt;Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.&lt;br /&gt;Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.&lt;br /&gt;Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,&lt;br /&gt;dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria : Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gabriel : Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.&lt;br /&gt;Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria : Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Setelah itu Gabriel keluar sambil menari-nari dari ruangan itu. Tidak lama kemudian Maria ikut keluar.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Beberapa bulan kemudian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Masuk Marta dan Maria. Maria sedang mengandung)&lt;br /&gt;Maria : Terlalu sulit!&lt;br /&gt;Sulit untuk dilupakan...&lt;br /&gt;Senyumannya...masih terus terlukis di pikiran.&lt;br /&gt;Gaya bertuturnya...&lt;br /&gt;Aku...mencintaimu...Maria...(menirukan suara Yusuf)&lt;br /&gt;masih terus terngiang di telinga.&lt;br /&gt;Bahasa tubuhnya...ahh&lt;br /&gt;Aku tidak bisa begitu saja melupakan orang yang telah mencuri hatiku...&lt;br /&gt;Mungkin Tuhan telah menghukumku dengan mengambil kewarasanku, Marta saudariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta : Itu adalah hal yang wajar, saudariku Maria yang sementara dipenuhi semerbak bunga kasmaran dari Eden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria : Tapi...tapi...Marta saudariku yang keteduhan hatinya mengalahkan laut mati.&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang ku takutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta : Serbuk pahit apa yang berhasil di masukan iblis kedalam kepala putri Sion yang termanis ini sehingga dia melupakan sang penuntunnya yang setia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria : Dengarkan dulu Marta saudariku yang kesetiaanya melebihi pengawal di serambi raja Salomo.&lt;br /&gt;Sang pencuri hati sungguhlah seorang yang gagah, dan pastilah semua yang ditatapnya bertekuk-lutut. Sedangkan aku...lihatlah aku sekarang. Sang pencuri pasti segera membuang barang curiannya ke tanah dan segera akan diinjak orang jika barang curiannya itu ternyata hanya seonggok tanah liat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta : Oh, saudariku yang malang. Terkutuklah semua pahlawan di Sion yang gagah perkasa jika hati putri Sion ini harus terinjak oleh salah satu dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara : Marta...Marta....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta : Maria saudariku, hati itu sedang di hinggapi kupu-kupu yang membawa serbuk cinta sejati. Janganlah pernah membiarkan kupu-kupu itu lari dari padamu. Karena seluruh Israel menantikan hari pembuahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara : Marta...Marta....Marta....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta : Sebentar. (ke arah suara itu)&lt;br /&gt;Tegarkanlah hatimu yang suci itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Marta berlari keluar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria diam termangu dan sesekali termenung. Masuk Marta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta : Oh, saudariku Maria yang dipenuhi rahmat Tuhan, menangislah. Tapi bukan dengan tangisan kematian itu. (memeluk Maria)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria : Kesedihan berusaha untuk terus merasuki hati yang tinggal sepenggal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Masuk Yusuf)&lt;br /&gt;Yusuf : Jika demikian jangan biarkan dia menggantikan penggalan hati yang hilang itu. Biarlah hati yang tinggal sepenggal ini juga yang menggantikannya.&lt;br /&gt;(jeda)&lt;br /&gt;Aku ingin mengambil sebagai istri seorang putri yang sebagian hatinya pernah aku curi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Masuk seorang imam yang datang bersama Yusuf untuk menikahkan Maria dan Yusuf, juga masuk beberapa orang yang menyaksikan pernikahan tersebut. Setelah upacara pernikahan itu usai masuklah seorang utusan kaisar Agustus untuk membacakan suatu pengumuman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utusan kaisar : Pengumuman, pengumuman!&lt;br /&gt;Kepada seluruh penduduk di bawah pemerintahan kekaisaran Romawi, agar supaya mendaftarkan diri di tiap-tiap daerah asalnya sendiri atau daerah asal suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tirai panggung ditutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jemaat menyanyikan lagu dari Kidung Jemaat No. 85 Ayat 1 dan 8 “Ku Songsong Bagaimana”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(masuk Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;Iblis : Boleh jadi Maria deng Yusuf so melakukan adegan itu... lebe dulu, kong so babuah, jadi dorang mo tutu itu aib dengan yah... cerita itu, supaya nyanda malo.&lt;br /&gt;Malaikat : Jadi menurut ngana, itu kejadian itu nyanda butul dang....&lt;br /&gt;Iblis : Bukang menurut kita. Itu pemikiran dari tu cewe sana.&lt;br /&gt;Talalu leh kong kita nintau tu kejadian itu. Sampe deng itu dorang pe perjalanan ka Betlehem le kita tau.&lt;br /&gt;Yang kita nintau, ngana pe maksud mo cerita tu kejadian yang nyanda penting itu.&lt;br /&gt;Malaikat : Kita pe maksud deng tujuan kan ngana so tau.&lt;br /&gt;Mo jaga pa manusia.&lt;br /&gt;Iblis : Hua ha ha hahahaha.....&lt;br /&gt;Ngana kira kita mo kalah?!&lt;br /&gt;Sedangkan ngana pe bos okat pa ana’, kong ngana le.&lt;br /&gt;Coba jo!!!&lt;br /&gt;Hua ha ha hahahaha....&lt;br /&gt;Malaikat : Simak jo ini cerita!&lt;br /&gt;(keluar Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan II&lt;br /&gt;Setting: Jalanan kota Betlehem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tirai panggung dibuka. Masuk Maria dan Yusuf yang berjalan mencari tempat penginapan. Saat tiba di penginapan pertama mereka bertemu dengan pemiliknya yang adalah seorang pengusaha muda yang terlihat begitu sibuk melayani pelanggan-pelanggannya yang lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf : Apakah di sini ada tempat bagi kami untuk menginap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha : (memperhatikan Maria dan Yusuf dengan seksama)&lt;br /&gt;Oh..ya..&lt;br /&gt;Tunggu sebentar ya....(sibuk melayani pelanggannya yang lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha : Sebaiknya tuan dan istrinya duduk dulu di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yusuf dan Maria duduk di kursi. Saat pelanggan yang dilayani pengusaha tersebut tinggal sedikit, Yusuf menghampirinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf : Bagaimana, apakah masih ada tempat bagi saya dan istri saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha : Aduh, maaf sekali tuan. Orang yang seharusnya sudah keluar hari ini malah masih menambah waktu sewanya, jadi sampai saat ini belum ada kamar yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf : Ya, sudahlah kalau begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Maria dan Yusuf kembali berjalan untuk mencari penginapan. Di tengah perjalanan yang berangin itu, mereka berpapasan dengan tiga orang prajurit Romawi. Setelah melewati Maria dan Yusuf, salah seorang prajurit tadi berbalik dan menghampiri Maria dan Yusuf yang dikuti oleh kedua rekannya untuk memberikan kain jubahnya pada Yusuf agar dikenakan Maria. Setelah menerima kain tersebut Yusuf segera memakaikan kain tersebut pada Maria. Ketiga prajurit keluar. Maria dan Yusuf meneruskan perjalanannya. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan yang pemiliknya adalah seorang wanita pesolek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf : Apakah di sini ada tempat bagi saya dan istri saya untuk menginap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita : Ada...ada.&lt;br /&gt;Tapi kamar yang tersisa hanya tinggal satu, dan ukurannya pun kecil.&lt;br /&gt;Harganya tiga dinar untuk sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf : Uang kami tinggal sedikit.&lt;br /&gt;Untuk membayar biaya kamar itu selama dua hari saja sudah tidak cukup.&lt;br /&gt;Sekiranya ibu dapat menolong kami.&lt;br /&gt;Istri saya akan segera malahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita : Oh...begitu.&lt;br /&gt;Hmmmm.....(perpikir sejenak)&lt;br /&gt;Berapa jumlah uang kalian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf : lima dinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita : Hmmmm.....(berpikir)&lt;br /&gt;Baiklah.&lt;br /&gt;Mari ikut aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ketiganya bergegas berjalan ke luar panggung, tapi langkah mereka segera terhenti setelah terdengar suara seseorang. Masuk seorang pria yang terlihat begitu tergesa-gesa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria : Siapakah pemilik penginapan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita : Ya...saya sendiri.&lt;br /&gt;Ada apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria : Oh, kebetulan sekali.&lt;br /&gt;Saya sudah berkeliling di kota ini untuk mencari penginapan, tapi semua penginapan yang sudah saya datangi semuanya sudah penuh.&lt;br /&gt;Mmmm...apakah di tempat ini masih ada kamar yang kosong?&lt;br /&gt;Kalau ada, saya akan menginap selama seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita : Oh....begitu....&lt;br /&gt;Hmmmmm....(berpikir)&lt;br /&gt;Sebenarnya penginapan ini juga sudah penuh, tapi ada sebuah kamar kecil yang bisa digunakan.&lt;br /&gt;Harganya per hari empat dinar.&lt;br /&gt;Bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria : Hmmmmmm....(berpikir)&lt;br /&gt;Baiklah, saya ingin melihat kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita : Oh ya...&lt;br /&gt;Mari ikut saya.&lt;br /&gt;(kepada Maria dan Yusuf) Maaf ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Wanita dan Pria bergegas berjalan keluar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf : Tapi bagaimana dengan kami?&lt;br /&gt;Kumohon tolonglah kami...&lt;br /&gt;Istri saya akan segera melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita : Sebaiknya kalian cari penginapan yang lain saja, yang cukup dengan uang kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Wanita dan Pria keluar)&lt;br /&gt;(Yusuf dan Maria kembali berjalan mencari penginapan. Di tengah perjalan mereka berpapasan dengan beberapa orang anak kecil yang menari-nari di jalanan. Setelah berputar-putar mengitari Yusuf dan Maria, dua orang dari anak-anak itu memasangkan mahkota bunga kepada Yusuf dan Maria. Sesudah itu anak-anak keluar. Maria dan Yusuf terus berjalan untuk mencari penginapan, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan milik seorang lalaki tua yang bungkuk dan pincang. Setelah cukup lama Yusuf mengetuk pintu penginapan, baru pemiliknya keluar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf : Apakah di sini ada tempat bagi saya dan istri saya untuk menginap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua : (menghela nafas panjang)&lt;br /&gt;Tempat ini sudah seperti kandang.&lt;br /&gt;Bangunan ini sudah hampir roboh karena harus menahan kesesakan orang-orang yang ada di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf : Kiranya bapak sudi menolong kami.&lt;br /&gt;Istri saya ini sudah mau melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua : (menarik nafas panjang)&lt;br /&gt;Sebenarnya saya ingin sekali menolong kalian, tapi mau bagaimana lagi, selain pelanggan, saudara-saudara saya yang dari luar kota juga menginap di sini untuk mendaftarkan diri. Jadi saya sarankan sebaiknya kalian mencari tempat lain saja.&lt;br /&gt;(Menengadah ke langit) Hari sudah mau hujan.&lt;br /&gt;Jika ingin berteduh-berteduhlah di situ. (menunjuk arah kandang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lelaki Tua keluar, Yusuf dan Maria berjalan ke arah kandang. Tirai panggung ditutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 94 Ayat 1 dan 4 “Hai Kota Mungil Betlehem”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(masuk Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;Iblis : Hoaaaayaaaam...(mengantuk)&lt;br /&gt;Membosankan...&lt;br /&gt;Riki pastiu kita da tunggu depe bagian akhir.&lt;br /&gt;Malaikat : Cerita itu nda akan pernah mo klar. Sampe kapan pun.&lt;br /&gt;Cerita itu mo ada trus, secara turun menurun.&lt;br /&gt;Iblis : Kita leh ada cerita yang nyanda akan pernah mo klar.&lt;br /&gt;Cerita perang......deng......keangkuhan!!!&lt;br /&gt;(Keluar Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan III&lt;br /&gt;Setting: Balai Istana Herodes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tirai panggung dibuka, Herodes dan prajurit-prajurit Israel sudah berada di panggung. Herodes duduk di kursi Raja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua : Demi kejayaan bangsa kita !&lt;br /&gt;Untuk kejayaan tanah air!&lt;br /&gt;Hidup raja agung terbesar kita!&lt;br /&gt;Hidup Caesar yang sudah memberikan kepercayaannya pada raja kita Harodes!!!&lt;br /&gt;(Masuk istri Herodes beserta pelayan-pelayan istana. Istri Herodes duduk di kursi Permaisuri)&lt;br /&gt;Permaisuri : Cukup!&lt;br /&gt;Roma dan Caesar tidak akan pernah seperti sekarang ini, kalau saja tidak ada suamiku Herodes!&lt;br /&gt;Peperangan ini....&lt;br /&gt;Kemenangan ini adalah milik Herodes Yang Agung!&lt;br /&gt;Semua karena jasa-jasanya, sehingga Yang Mulia Herodes pantas di sebut Raja Agung Terbesar.&lt;br /&gt;Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!&lt;br /&gt;Hidup yang mulia raja Herodes!&lt;br /&gt;Herodes : Daerah-daerah di pinggiran Palestina yang merupakan garis terdepan Romawi sudah ku taklukkan.&lt;br /&gt;Sebentar lagi Arab yang berlimpah minyak akan segera menyusul.&lt;br /&gt;Dan dunia ini sepenuhnya akan jadi milikku.&lt;br /&gt;Ha ha ha hahahaha.....&lt;br /&gt;Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!&lt;br /&gt;Herodes : Kalian semua adalah pejuang-pejuang terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Berbahagialah ibu yang melahirkan kalian, karena sudah terbukti bahwa pasukan ini adalah pasukan yang tak terkalahkan.&lt;br /&gt;Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!&lt;br /&gt;Hidup yang mulia raja Herodes!&lt;br /&gt;(Herodes tertawa, masuk seorang kurir)&lt;br /&gt;Kurir : Yang mulia raja Herodes, di depan istana ada tiga orang yang mengaku raja dari timur yang datang untuk menemui raja terbesar di tanah Palestina.&lt;br /&gt;Herodes : Hua ha ha ha hahahaaha....&lt;br /&gt;Ternyata keagungan dan kemuliaan namaku sudah tersebar sampai ke kerajaan-kerajaan di timur.&lt;br /&gt;Hua ha ha hahahahahaha....&lt;br /&gt;Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!&lt;br /&gt;Herodes : Suruh mereka masuk!&lt;br /&gt;Kurir : Daulat tuanku! (keluar)&lt;br /&gt;Perwira I : Mungkin, mereka mulai ketakutan, karena dipikirnya pasukan kita akan bergerak ke timur, ke wilayah mereka.&lt;br /&gt;Semua : (tertawa)&lt;br /&gt;Perwira II : Mungkin mereka kemari dengan membawa bendera putih.&lt;br /&gt;Semua : (tertawa)&lt;br /&gt;Perwira III : Atau, mereka ingin menjadikan kita sekutu. Dan memberikan upeti kepada raja teragung, termulia, dan terbesar.....Herodes.&lt;br /&gt;Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!&lt;br /&gt;Hidup yang mulia raja Herodes!&lt;br /&gt;Hidup yang mulia raja Herodes!&lt;br /&gt;(Masuk kurir dan ketiga orang Majus)&lt;br /&gt;Herodes : Ada perlu apa, sehingga datang dari jauh-jauh kemari?&lt;br /&gt;Majus I : Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.&lt;br /&gt;Herodes : Apa...? Baru dilahirkan? Lelucon apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(semua orang di istana Herodes menjadi terkejut dan tercengang-cengang. Terdengar suara kasak-kusuk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herodes : Cepat kumpulkan semua imam kepala dan ahli taurat.&lt;br /&gt;(gelisah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(masuk ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herodes : Siapa raja orang Yahudi yang kau maksudkan itu, sehingga alam pun turut menyembahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(para imam dan ahli taurat sejenak berbisik-bisik, beberapa dari mereka membuka kitab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli Taurat : Dia adalah Mesias. Raja yang akan memimpin Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herodes : Ini pemberontakan! Di mana dia akan lahir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(para imam dan ahli taurat sejenak berbisik-bisik, beberapa membuka kitab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Kepala : Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herodes : Ini mustahil!!! (terbata-bata, gelisah, gugup, sempoyongan)&lt;br /&gt;Tidak mungkin di tanah ini ada raja yang lebih besar dari aku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Para Ahli Taurat dan para Imam kepala terlihat sedang memperdebatkan sesuatu. Herodes mendekati orang-orang Majus dan kemudian berbisik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herodes : Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Keluar orang-orang Majus. Herodes memanggil kurir dan mengisyaratkan agar mengikuti orang-orang majus itu. Keluar kurir. Tirai panggung ditutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jemaat manyanyikan Kidung Jemaat No. 95 Ayat 1-3 “Gita Sorga Bergema”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(masuk Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;Malaikat : Raja paling besar!&lt;br /&gt;Bukang cuma di Israel, mar di dunia.&lt;br /&gt;Yang Dia pe kerajaan nyanda akan pernah berakhir!&lt;br /&gt;Bayangkan!!!&lt;br /&gt;Iblis : Tunggu kita mo bayangkan (mengolok Malaikat)&lt;br /&gt;Malaikat : Tuhan deng Manusia ada depe pendamai.&lt;br /&gt;Yesus Kristus!&lt;br /&gt;Yang Ilahi yang ada jadi manusia!&lt;br /&gt;Iblis : Intsrupsi!!!&lt;br /&gt;Di dunia ini dia pe kerajaan bukang satu-satunya yang paling pai deng abadi!&lt;br /&gt;Ada dua kerajaan yang sama-sama pai.&lt;br /&gt;Tau to sapa punya tu satu?!&lt;br /&gt;Malaikat : Mar, de pe laste kan ngana pe kerajaan mo kalah!&lt;br /&gt;Lantaran so ada tatulis.&lt;br /&gt;Iblis : Kita nyanda akan pernah kalah!!!&lt;br /&gt;Yang tatulis di situ salah!!!&lt;br /&gt;Kita pe tujuan yang sebenarnya, mo buktikan kalu samua itu salah.&lt;br /&gt;Samua yang tatulis di kitab-kitab itu salah!!!!&lt;br /&gt;Malaikat : Ngana masih inga itu kejadian pa gembala-gembala di padang rumput?&lt;br /&gt;Apa yang tatulis pasti mo jadi.&lt;br /&gt;(keluar Malaikat dan Iblis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan IV&lt;br /&gt;Setting: Padang Rumput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tirai panggung dibuka. Gembala-gembala sedang menjaga kawanan dombanya)&lt;br /&gt;Gembala I : Apakah semuanya sudah bersiap-siap?&lt;br /&gt;Gembala II : Kami semua sudah siap sejak dari rumah. Tapi saya pikir mereka tidak berani macam-macam, karena jumlah kita cukup banyak.&lt;br /&gt;Gembala III : Ya, pencuri-pencuri itu sebenarnya adalah orang-orang pengecut. Mereka hanya berani merampas jika jumlah gembala penjaganya di bawah tiga orang.&lt;br /&gt;Gembala I : Ia, tapi kan kita harus tetap berjaga-jaga.&lt;br /&gt;Gembala IV : (dengan nada bercanda) Padahal dulu, walaupun tidak di jaga, domba-domba ini pasti tidak akan hilang.&lt;br /&gt;Gembala V : Zaman ini sudah semakin sulit sejak kedatangan orang-orang Romawi itu.&lt;br /&gt;Gembala VI : Benar sekali. Mereka memungut pajak yang terlampau tinggi, sehingga kita harus membanting tulang dua kali lipat.&lt;br /&gt;Gembala VII : Ssssst, jangan keras-keras....&lt;br /&gt;Gembala V : Kenapa harus takut.&lt;br /&gt;Ini adalah tanah kita!&lt;br /&gt;Ini adalah bangsa kita!&lt;br /&gt;Gembala I : Simeon! Diamlah!&lt;br /&gt;Gembala VIII : Apa yang dikatakannya itu benar. Kita benar-benar sudah dibodohi.&lt;br /&gt;Pencuri-pencuri itu adalah dari bangsa kita juga. Mereka menjadi seperti itu karena biaya hidup yang semakin tinggi.&lt;br /&gt;Gembala IX : Bodoh! Mereka tidak lebih dari orang-orang bodoh! Karena mencuri adalah suatu tindakan yang paling hina. Dan Tuhan mengutuk tindakan itu.&lt;br /&gt;Gembala X : He he he...(sinis)&lt;br /&gt;Bukankah Tuhan sudah mati?&lt;br /&gt;Lihatlah! Kita akan tetap berada dalam kesengsaraan. Kita tidak benar-benar keluar dari lingkaran setan itu. Sejak pembuangan di Babel Tuhan sudah tidak ada lagi. Lihatlah kini yang di hadapan kita adalah orang-orang Romawi gila dan kawanan pencuri domba bodoh.&lt;br /&gt;Hukuman itu tidak akan pernah berakhir!&lt;br /&gt;Gembala I : Eliezer! Ada apa denganmu?! Setan apa yang sedang merasukimu?!&lt;br /&gt;Gembala X : Setan-setan apa!&lt;br /&gt;Jangankan setan, Tuhan pun sudah tidak ada artinya lagi sekarang. Yang tertinggal hanyalah cerita hasil rekaan kakek-kakek gila hormat yang bekerja di bait suci itu...&lt;br /&gt;Gembala IX : Eliezer! Apa kau sudah gila?!&lt;br /&gt;Sudah lupakah kau pada nubuatan para nabi tentang akan datangnya Mesias?&lt;br /&gt;Gembala X : Ahhh...lagi-lagi soal mesias. Aku sudah bosan hidup dalam penantian yang tidak jelas. Aku tidak mengharapkannya lagi.&lt;br /&gt;Aku tidak perduli lagi pada hal ke-tuhan-an.&lt;br /&gt;Semua Gembala: Eliezer!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(masuk Malaikat. Saat melihat Malaikat para gembala sangat takut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat : Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(masuk malaikat-malaikat yang lain yang berdiri di belakang malaikat pertama.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SemuaMalaikat: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Malaikat-malaikat keluar. Gembala-gembala menjadi takjub)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembala I : Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(semua gembala setuju dan berjalan keluar, kecuali gembala X. Dia duduk termenung sendirian dan terlihat gelisah, namun akhirnya keluar mengikuti gembala yang lain. Tirai panggung ditutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(jemaat menyanyikan Nyanyian Kidung Baru No.62 Ayat 1-3 ”Gembala Yang Ada di Padang”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Masuk Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;Malaikat : Pantasan ngana so jaga tumbus di tampa-tampa ibadah.&lt;br /&gt;Kiapa so mulai abis stok di neraka?&lt;br /&gt;Iblis : Hua ha ha hahahaha...&lt;br /&gt;Ngana tau kote.&lt;br /&gt;Dorang samua pasti mo iko pa kita ka neraka!!!&lt;br /&gt;Malaikat : Malawang mimpi ngana!&lt;br /&gt;Iblis : Mimpi?!&lt;br /&gt;Kebanyakan kita dapa pengikut dari tampa-tampa bagini.&lt;br /&gt;Deng, so dorang-dorang itu yang jadi paling setia pa kita, kalu ngana mo tau!&lt;br /&gt;Malaikat : Kalu di sini susah ngana mo dapa. Lantaran Yesus Kristus sayang skali pa dorang.&lt;br /&gt;Iblis : Sama!!! Kita le sayang skali pa dorang!&lt;br /&gt;So itu kita mo pangge pa dorang!&lt;br /&gt;Hua ha ha ha hahahaha....&lt;br /&gt;Malaikat : Ngana pe usaha nda akan berhasil!!!&lt;br /&gt;Nanti ngana lia!&lt;br /&gt;(keluar Iblis dan Malaikat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan V&lt;br /&gt;Setting: Kandang domba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tirai panggung dibuka. Maria dan Yusuf duduk di dalam kandang. Di tengah mereka ada palungan. Malaikat-malaikat memegang lilin sambil berdiri di samping kiri dan kanan kandang. Di depan Maria dan Yusuf ada empat malaikat yang sedang menari-nari.. Malaikat-malaikat yang ada di samping kandang berjalan ke arah jemaat dan membagikan api dari lilin yang dipegangnya masing-masing kepada jemaat. Sesudah itu kembali naik ke atas panggung)&lt;br /&gt;(Masuk gembala-gembala yang berjalan kearah kandang. Mereka memperhatikan bayi Yesus dengan seksama)&lt;br /&gt;(Masuk ketiga orang Majus yang dibuntuti oleh kurir Herodes. Berjalan kearah kandang dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Bersamaan dengan itu beberapa malaikat berjalan ke arah jemaat dan menjalankan pundi persembahan. Sesudah itu malaikat-malaikat kembali ke panggung. Keluar kurir Herodes. Tirai panggung ditutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 123 Ayat 1-4 “S’lamat S’lamat Datang”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(masuk Iblis—murung dan gelisah—dan Malaikat)&lt;br /&gt;Malaikat : Kiapa? Rupa dapa lia suak-suak ini.&lt;br /&gt;Iblis : Suak-suak di rumah saki!&lt;br /&gt;Jangan dulu sanang, blum kalah ini.&lt;br /&gt;Malaikat : Oh, mo tamba leh?&lt;br /&gt;Iblis : Ha ha...(sinis)&lt;br /&gt;Suka-cita yang nda akan bertahan lama!&lt;br /&gt;Nda mungkin mo se kalah pa kita!&lt;br /&gt;Malaikat : Dapa lia ngana yang so nda mo bertahan lama di sini.&lt;br /&gt;Iblis : (semakin gelisah) Pasti ada celah!&lt;br /&gt;Pasti ada! (berpikir keras)&lt;br /&gt;Hmmmm....(tersenyum)&lt;br /&gt;Logika...(berbisik)&lt;br /&gt;Samua rekayasa!!!&lt;br /&gt;Samua tai minya!!!&lt;br /&gt;Samua yang tatulis di situ (menunjuk ke Alkitab) nda ada yang butul!!!&lt;br /&gt;Hua ha ha hahaha....&lt;br /&gt;Samua dusta!!!&lt;br /&gt;Itu ada beking supaya...supaya....&lt;br /&gt;Malaikat : Kalu itu Alkitab de pe isi dusta samua, berarti ngana le nda ada!&lt;br /&gt;(Malaikat mengampiri Iblis, kemudian berusaha menyeretnya keluar dari ruangan)&lt;br /&gt;Iblis : Tunggu! Tunggu!!!&lt;br /&gt;Kita blum kalah!!!&lt;br /&gt;Coba pikir!!!&lt;br /&gt;(Malaikat terus menyeret Iblis keluar)&lt;br /&gt;Planet-planet!!! Kiapa nyanda tatulis di Alkitab?!&lt;br /&gt;Dinosaurus!!! Kiapa nda ada di Alkitab?!&lt;br /&gt;Samua salah!!! Samua salah!!!&lt;br /&gt;Manusia!!! Depe asal dari yaki!!!&lt;br /&gt;Sebenarnya ngoni...ngoni yaki kong jadi!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Malaikat menyeret Iblis sampai ke luar ruangan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan VI&lt;br /&gt;Setting: Kandang domba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tirai panggung dibuka. Maria dan Yusuf duduk di dalam kandang. Para Malaikat, para gembala, dan orang-orang majus berbaur dalam tarian kesuka-citaan. Tirai panggung ditutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jemaat menyanyikan lagu Hai Dunia Gembiralah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Doa Penutup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-6754065242197977314?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/6754065242197977314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/09/journey-of-joy-oleh-hans-liberty.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/6754065242197977314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/6754065242197977314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/09/journey-of-joy-oleh-hans-liberty.html' title='A JOURNEY OF JOY, Oleh: Hans Liberty Makalew'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-2828306207296083898</id><published>2008-09-05T07:09:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.134-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Greenhill Galnvon Weol: "Gereja vs Seni: Sebuah Perang AntiTuhan"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sebuah apresiasi terhadap PSR dan FSP GMIM &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;lewat eksistensi Sanggar Remiks,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Minahasa Utara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;The Church of our days in general does not recognize Her cultural mission.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;She should be here to give meaning and support for all genuine efforts to enlarge our knowledge of reality and deepen our perception of the mystery of life.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;We have to cultivate our personal life, to integrate our faith with contemporary thinking, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;to integrate our devotion and adoration with a certain sensitivity towards contemporary arts.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;(Daniel Pastircˇak, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Artistic Creativity and Christian Spirituality)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Pelaksanaan PSR (Pesta Seni Remaja) GMIM yang beberapa hari lagi akan mengambil tempat di Tomohon, kemudian dilanjutkan dengan FSPG (Festival Seni Pemuda GMIM) yang direncanakan akan dilaksanakan di Tondano akan menjadi event kesenian dan kebudayaan Minahasa yang terbesar tahun ini. Setidaknya, pelaksanaan kedua perhelatan ini akan menjadi semacam “penawar” dari ketidakberhasilan lembaga kerohanian menampakkan &lt;i style=""&gt;prophetic mission&lt;/i&gt;-nya akhir-akhir ini. Setelah GMIM, yang adalah denominasi terbesar sekaligus sebagai sebuah ikon utama kekristenan di Tanah Minahasa, terlarut dalam konflik interen yang memang berlarut-larut itu (ini adalah sebuah ‘rahasia umum’, jadi tolong jangan diceritakan kesiapa-siapa), akhirnya, seni kembali menjadi “juru selamat yang hidup!”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Mengapa saya berkata demikian? Pertama, karena saya ingin berkata demikian. Jika anda mempunyai pendapat berbeda, silahkan. Kedua, sebab, meminjam sebuah kalimat bijak (yang telah saya sedikit sesuaikan), “saat politik &lt;i style=""&gt;deadlock&lt;/i&gt;, seni harus mampu memberi &lt;i style=""&gt;alternative&lt;/i&gt;”. Politik? Bukankah kita sedang membahas lembaga keagamaan? Mengapa kita jadi melenceng ke politik? Begitu mungkin anda merespon. Jangan tanya saya &lt;i style=""&gt;tamang, enter kita le heran&lt;/i&gt;. Menurut saya, yang paling mampu menjawab ini adalah para politisi kita yang ramai-ramai menggunakan predikat-predikat jabat-gereja dalam memperpanjang nama mereka, dalam upaya menggalang suara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Baru-baru ini saya diundang seorang teman &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;jaring budaya Mawale Movement dari Tonsea, Chandra Dengah Rooroh, untuk turut hadir dalam latihan yang dilanjutkan semacam sebuah ibadah pengutusan dari Sanggar Remiks yang bernaung dibawah Jemaat GMIM Efrata, Kolongan Tetempangan, Kalawat. Jemaat ini masih berusia muda, sekitar satu tahunan mekar dari induk. Peribadatan pun masih menempati sebuah bangunan sederhana dari papan. Bangunan permanent sedang dibangun, dan telah kelar sekitar 30 persen. Tetapi, semua itu tidak menyita perhatian saya, sungguh, cukuplah sudah mengukur pencapaian keberhasilan ‘pembangunan kerohanian’ lewat segala sesuatu yang berbentuk bangunan fisik. Yang menarik justru adalah keberadaan puluhan pemuda-remaja yang giat berkesenian. Remiks berniat turun (atau naik?) dalam lomba teater dan grup vokal pada PSR ini. Namanya juga remaja, seserius-seriusnya mereka, tetap gelak-tawa dan canda-ria bergema. Tetapi, terlihat kesungguhan hati dimata mereka, dan, ini yang penting, terbersit sebuah cahaya di mata mereka. Cahaya semacam ini sering terlihat di mata paramuda kala mereka sedang berusaha membuktikan eksistensi mereka lewat kegiatan-kegiatan yang ‘kurang rohani’ semisal &lt;i style=""&gt;mabo, dola orang, bapajak, bakalae, antar motor rupa gila, pake narkoba&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;seks bebas,&lt;/i&gt; dan sejenisnya. Pendeta Donny Simbar Sth., ketua gereja, berkata bahwa dengan adanya &lt;i style=""&gt;venue&lt;/i&gt; penyaluran kreativitas yang disediakan gereja, energi-energi berlebih yang sudah secara alamiah dimiliki oleh paramuda bisa disalurkan kearah yang lebih benar, sebab, biar bagaimanapun mereka harus melepaskan itu. “Tinggal bagaimana mengarahkan emosi-emosi ini di tempat yang seharusnya”, simpul Simbar. Memang benar, secara teoritik, seni memang menawarkan sarana ‘pelampiasan’ emosi, baik dari yang menjadi performans, maupun para apresian. Demikian &lt;span style="color: black;"&gt;dikatakan &lt;i style=""&gt;Theory of Literature&lt;/i&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;The function of literature, some say, is to relieve us, either writers or readers, from the pressure of emotions. To express emotions is to be free of them&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt; (Wellek dan Warren, 1956:36). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Lebih jauh, paling-tidak gereja bisa (kembali) menyangkal Marx yang berkata “agama adalah candu” dengan menunjukkan bahwa, &lt;i style=""&gt;hei sob!&lt;/i&gt; gereja tidak hanya mengajarkan umatnya untuk duduk-diam dan meredam gejolak emosi (gejolak seperti ini bisa disebabkan apasaja, dari represi/depresi politik, sampai naiknya hormone seksual) dengan doa dan ibadah saja dan berkata bahwa &lt;i style=""&gt;so ini tu salib yang torang musti pikul&lt;/i&gt;, tetapi juga menyediakan ruang penyaluran! Aaahh…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sanggar Remiks, abreviasi keren dari “Remaja Milik Kristus”, saat ini mewadahi setidaknya belasan pemuda-remaja dalam sayap teaternya, begitu kata Carlos Manatar yang dipercayakan sebagai koordinator teater. Jika anda lebih akrab dengan kata ‘drama’, secara teknis drama menunjuk pada ‘teks atau naskah’. Drama yang dipentaskan disebut ‘teater’. Gereja dan Teater adalah dua kata yang sebenarnya tidak terlalu jauh terpisah. Menurut banyak literatur, seni performans ini pada awalnya memang sangat religius. Teater adalah bagian penting dari ritual-ritual dimana terjadi pemujaan kepada unsur-unsur “metafisis”. Pada zaman pertengahan, kekristenan mulai mengadopsi teater dalam ibadah. “&lt;i style=""&gt;Nativity Play&lt;/i&gt;” digunakan untuk menampilkan gambaran peristiwa kelahiran Yesus. “&lt;i style=""&gt;Moral Play&lt;/i&gt;” menjadi popular sebagai sebuah metode untuk mengajarkan akhlak kepada konstituen gereja. Syahdan, Zending, yang “membawa berita keselamatan” ke Tanah Minahasa, juga menggunakan teater sebagai media pelayanan, yang menyebabkan sampai saat ini ibadah-ibadah Natal kita seolah tak lengkap jika tanpa lakon “Maria-Yusuf” dan prosesi Pawai Paskah kita lengkap dengan serdadu-serdadu Romawi yang dengan kejam mencambuki seseorang berambut gondrong yang sedang memanggul balak. Jadi, memang sudah seharusnya, tradisi peribadatan kita memberi ruang sebesar-besarnya pada teater.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Benni Matindas, filsuf Minahasa, senantiasa berpesan bahwa peradaban Minahasa, yang adalah merupakan ‘suluh’ kekristenan di Indonesia, hanya dapat dibangun dengan mengembangkan “kesenian kreatif”, yakni bentuk-bentuk kesenian yang memberi ruang sebesar-besarnya kepada kreatifitas, kepada pencarian-pencarian ranah-ranah baru dalam dunia ide dan filsafat. Kesenian kreatif adalah satu-satunya cara untuk mendidik, membentuk moralitas yang runtuh, mengingatkan identitas, serta membangun peradaban. Mohon maaf kepada bentuk kesenian lain, kesenian yang hanya bersifat &lt;i style=""&gt;repetitive,&lt;/i&gt; hanya mengulang-ulang (tarik suara sebagai misal), bahwa hanya Sastra- prosa, puisi dan drama, yang memiliki kriteria ‘kesenian kreatif’. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Seingat saya, setelah absen puluhan tahun, GMIM baru kembali mengadakan lomba teater dua tahun lalu. Walau demikian, kesenian secara umum masih sering mendapatkan resistansi dari dalam gereja sendiri. Saya sering menjadi tempat &lt;i style=""&gt;curhat&lt;/i&gt; dari remaja-remaja yang merasa ditolak untuk berkesenian di gereja. Alasan yang sering diberikan adalah bahwa gereja adalah sebuah tempat yang sakral, yang khusus, sehingga yang dapat dilakukan di dalamnya juga tidak sembarangan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saya tidak menyangkal bahwa gereja adalah sesuatu yang bernilai religius, tapi, waduh!, rupa-rupanya sebuah bentuk Gnostisisma masih saja mencengkram erat kristenitas di Minahasa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya juga bangga berkata bahwa ‘saya anak Allah’, &lt;i style=""&gt;no karna itu kita nimau jadi anak yang biongo&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Arthur F. Holmes, dalam bukunya “The Idea of a &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Christian&lt;/st1:PlaceName&gt;  &lt;st1:placename st="on"&gt;College&lt;/st1:PlaceName&gt;&lt;/st1:place&gt;” menuliskan sebuah amaran:&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;This kind of Gnosticism keeps the Christian from cultural involvement, from artistic appreciation and creativity, from political and social action, and it generates a misdirected fear of science and philosophy and human learning. It produces needless tensions between faith and culture, a defensive attitude and sometimes even outright anti−intellectualism. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Teater, sebagai sebuah bentuk kesenian kreatif, selalu bertendensi memiliki daya kritis. Sebuah naskah drama yang baik akan menggambarkan pencarian-pencarian akan nilai-nilai kebenaran, menghantam ketidak adilan, dan memperjuangkan kebaikan. Nah! Nilai-nilai inilah yang kerap membuat banyak jemaat (atau para pimpinan jemaat) &lt;i style=""&gt;gagawang&lt;/i&gt;, merasa ditelanjangi keburukannya. Penolakan terhadap teater dari gereja menjadi pasti, mengatasnamakan kesantunan dan kesenonohan. Padahal, jika kesenian menyuarakan keadilan dan kebenaran, bukankah itu adalah nilai-nilai Ketuhanan? Menurut amatan saya, ada tiga kriteria yang sering digunakan ‘orang kristen’ untuk menilai sastra. Pertama, ada-tidaknya unsur-unsur yang dinilai eksplisit, yakni kekerasan, seksualitas dan profanitas. Kedua, ada-tidaknya pemujaan atau penghujatan terhadap nilai-nilai non-kristen. Ketiga, ada-tidaknya penampilan pemikiran, tindakan serta prilaku yang dianggap ‘berdosa’. Padahal, sebuah kajian terhadap sastra akan menyangkut unsur-unsur wacana, struktur penarasian, pemilihan kata, metafora, idiom, alegori dan sebagainya. Sastra yang baik adalah sastra yang berhasil memadu-padankan unsur-unsur diatas dengan sempurna. Pemaknaan paripurna terhadap sastra, pada gilirannya, akan muncul jika kita berhasil menggabungkan unsur-unsur diatas secara holistik. Pemahaman sastra harus senantiasa &lt;i style=""&gt;a posteriori&lt;/i&gt;, bukan &lt;i style=""&gt;a priori&lt;/i&gt;. Oh ya, tidak tahukah anda bahwa Alkitab adalah sebuah mahakarya sastra? (baca tulisan saya: “Alkitab: Karya Sastra Teragung” di &lt;a href="http://www.sastra-minahasa.blogspot.com/"&gt;www.sastra-minahasa.blogspot.com&lt;/a&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Allah, kreator alam semesta, pencipta diatas segala pencipta, telah melakukan semuanya dengan sempurna. Kejadian 1:31 menuliskan “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik”. Kebenaran juga adalah manunggal dengan-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” Yohanes 14:6. Maka, “All beauty, is God’s beauty, wherever it may be. All truth, is God’s truth, wherever it be found.”. Seni-budaya dan Gereja tidak untuk dipertentangkan. Mereka yang coba-coba mempertentangkannya silahkan berurusan langsung dengan Tuhan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sekarang teater dilombakan baik pada &lt;i style=""&gt;rang&lt;/i&gt; remaja juga pemuda. PSR yang segera dilaksanakan di Tomohon, menurut kabar terakhir, telah terdaftar 30-an jemaat, untuk lomba teater saja. FSPG juga mencatat puluhan peserta. Semenjak tahun lalu KGPM juga telah membentuk &lt;i style=""&gt;wing&lt;/i&gt; teater dalam kepemudaannya yakni Congregational Theater Center (CTC) yang ditujukan untuk membentuk serta membina teater-teater di seluruh jemaat. Tinggal menunggu denominasi-denominasi lain bergabung. Sebuah awal baru orientasi seni-budaya harus dimulai oleh gereja di Minahasa. Salah satu fungsi utama dari kesenian adalah sebagai sebuah ‘cermin’. Kita, Orang Kristen, seharusnya senantiasa mencerminkan &lt;i style=""&gt;imago Dei &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;a capite ad calcem&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;, imej Khalik Langit dan Bumi. Juga, ini jangan dilupakan, kita harus senantiasa bercermin melihat diri kita sendiri, melihat kekurangan-kekurangan kita, sehingga kita dapat menemukan cara untuk memperbaikinya. Jadi, para pembaca yang budiman, rasanya saya harus menutup tulisan yang sangat serius maknanya ini dengan &lt;i style=""&gt;bakusedu:&lt;/i&gt; &lt;b style=""&gt;Ora et Labora deng Bakaca!&lt;/b&gt; Hehehe...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-2828306207296083898?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/2828306207296083898/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/09/esei-greenhill-galnvon-weol-vs-seni.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/2828306207296083898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/2828306207296083898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/09/esei-greenhill-galnvon-weol-vs-seni.html' title='Esei Greenhill Galnvon Weol: &amp;quot;Gereja vs Seni: Sebuah Perang AntiTuhan&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-6827702240867151466</id><published>2008-09-05T07:05:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.155-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Hendra Tandayu: "GREM, Anggota Dewan, Kyapa Re'en"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Karya : Hendra Ch. Tandaju&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngana bentuk pe kacili&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngana pe isi pe sadiki&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngana kebanyakan dari glas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngana bole ja isi di popoji&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngana pasti ada di warong-warong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalu mo ba pancing sadiki &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dorang pake pa ngana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalu mo beking kukis cucur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dorang pake pa ngana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dorang bilang 1 sloki&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dorang bilang pancing harga 1000&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalu kita bilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;GREMMMMMMMMMMMMMM&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" lang="IN"&gt;ANGGOTA DEWAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menebar senyum............................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Memberi sumbangan .....................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mengumbar janji ...........................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mencari simpati ............................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berbagai macam cara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Harus kamu lakukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berbagai macam trik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Harus kamu upayakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Demi mendapatkan dukungan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah itu ..............&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kamu disebut sebagai yang terhormat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kamu disebut sebagai wakil rakyat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kamu disebut sebagai anggota legislatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Katanya tugas kamu ...............&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akan sering bertemu dengan rakyat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Membawa aspirasi rakyat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Memperhatikan kebutuhan rakyat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menjadi alat kontrol eksekutif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun.... apa yang kami dapat ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nasib kami belum berubah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jalan kami masih berlubang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lapangan kerja masih sulit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kami masih yang dikorbankan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kesimpulan kami .......&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masihkah kami harus percaya kamu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masihkah kami harus menunjang kamu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masihkah kami harus mendukung kami?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masihkah kami harus memilih kamu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hilang sudah simpati kami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hilang sudah kepercayaan kami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hilang sudah dukungan kami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mana mungkin kami memilih kamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Janjimu tinggal janji&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jangankan wajah mulusmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Punggungmupun saat ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tak pernah kelihatan lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;So i say good bye for you......&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" lang="IN"&gt;KIAPA RE’EN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kita bicara...................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kita badiam ................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kita ba gra...................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kita nda mucul ...........&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalu nda cocok deng ngana pe mau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngana pasti bilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kiapa re’en .....................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang Manado pasti tatawa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang Manado pasti langsung kenal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang Manado tau kita dari gunung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang Manado langsung mo ba tamang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalu kita mo bilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kiapa re’en ....................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngoni pasti bingo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngoni pasti penasaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngoni pasti musti mo baca&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalo kita beking puisi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dia pe judul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kiapa re’en .................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-6827702240867151466?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/6827702240867151466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/09/puisi-hendra-tandayu-anggota-dewan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/6827702240867151466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/6827702240867151466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/09/puisi-hendra-tandayu-anggota-dewan.html' title='Puisi Hendra Tandayu: &amp;quot;GREM, Anggota Dewan, Kyapa Re&amp;#39;en&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-4524464052621037749</id><published>2008-08-12T06:42:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.164-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Frisky Tandaju: "Orang Kampung"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:17;"  lang="IN" &gt;Orang Kampung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10;"  lang="IN" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Sayor popaya deng dabu dabu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Nasi milu deng ubi kayu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Sayor rubus isi di bulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Orang kampung nyanda bolotu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Bawa bekal milu songara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Mar nyanda lupa for mo skola&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Mama deng papa kurang maraya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Yang penting anak jadi sarjana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Orang kampung...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Pigi kobong masi glap glap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Pulang kobong hari so glap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Se skola anak deng dada tegap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Asal nyanda hasil suap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Makase banya so dengar akang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Kita ini cuma orang kampung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Yang pastiu cuma merenug&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Verdana;"&gt;Lebe bae bangun tu kampung&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style=";font-family:lucida grande;font-size:14;"  lang="EN-GB" &gt;(penulis adalah pemuda peduli budaya asal Pinabetengan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-4524464052621037749?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/4524464052621037749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/08/puisi-frisky-tandaju-kampung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/4524464052621037749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/4524464052621037749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/08/puisi-frisky-tandaju-kampung.html' title='Puisi Frisky Tandaju: &amp;quot;Orang Kampung&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-6207260772327730931</id><published>2008-07-22T05:37:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.173-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Matulandi PL Supit: "PANDANGAN SAM RATULANGI TENTANG KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA"</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;(Red: Tulisan ini sudah berumur hampir satu dekade, namun masih terasa kontekstual hari ini, bahkan mungkin sampai puluhan tahun mendatang. Nyanda rugi mo baca boz!) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan penyelenggaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan UUD 1945 selama 39 tahun terhitung sejak Dekrit Presiden 5 Juli 1959 hingga Mei 1998 didapati beberapa kelemahan internal yang mendasar. Kelemahan - kelemahan tersebut akibat konstitusi yang "singkat dan fleksibel", memberi peluang kepada setiap penguasa untuk menafsirkan sesuai dengan keinginannya. Disisi lain UUd 1945 menghendaki penguasa adalah seorang yang jujur, saleh, dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Untuk memahami kelemahan yang terkandung dalam UUD 1945, sebaiknya diperhatikan proses terjadinya negara Republik Indonesia. Hematnya dibagi dalam 3 periode yaitu, persiapan kemerdekaan, membentuk negara dan pembangunan (terdiri dari "penguatan" dan "pengembangan"). Periode persiapan kemerdekaan diawali pada tahun 1928 ketika di Deklarasikan Sumpah Pemuda. Inti deklarasi tersebut adalah "persatuan" atas wilayah, natie dan bahasa yang kemudian dikristalisir dalam "Pancasila". "Persatuan" dijadikan isu strategis politis karena kondisi rakyat yang sebagian besar menderita dan terkekang oleh penjajahan Belanda. Melalui isu "persatuan" dikembangkan dengan janji perbaikan kondisi memotivasi seluruh komponen rakyat untuk menuntut kemerdekaan hingga pada akhirnya diproklamirkan kemerdekaan Indonesiap pada 17 Agustus 1945 dalam suasana memanfaatkan momentum kekalahan Jepang pada "Sekutu" di Pasifik. Kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 dideklarasikan konstitusi sebagai salah satu syarat adanya negara setelah Rapat Besar Panitia Persiapan Penyelidik Kemerdekaan Indonesia (Konstituante I). Adapun konstitusi yang dikenal dengan UUD 1945 menurut catatan sejarah yang resmi dikeluarkan oleh Pemerintah merupakan karya Badan Penyelidik Urusan Kemerdekaan Indonesia, terdiri dari "jurist - jurist", mulai bekerja sejak 28 Mei s/d 16 Juli 1945. Memperhatikan perumusan konstitusi oleh Sam Ratulangi dan beberapa anggota lainnya menegaskan bahwa konstitusi itu tidak menggambarkan keinginan rakyat secara keseluruhan. Pertama, perumusannya didasari atas kondisi nasionalisme, internasionalisme, perang, kemerdekaan dan filsafat hukum. Kedua, dalam suasana yang terburu - buru. Penegasan kelemahan konstitusi (UUD 45) tersebut jelas dalam pasal 3 yang berbunyi, "MPR menetapkan UUD dan GBHN" dan Aturan Tambahan pasal 37 (2) yang berbunyi "Dalam 6 bulan sesudah MPR dibentuk, majelis itu bersidang untuk menetapkan UUD". Periode kedua yaitu perumusan bentuk negara yang sesuai dengan keinginan seluruh rakyat Indonesia berlangsung sejak 1950 s/d 1959. Hasil pemilihan umum tahun 1955 menghasilkan Dewan Konstituante guna merumuskan Konstitusi yang sesuai dengan keinginan seluruh rakyat Indonesia. Perdebatan sengit mengenai bentuk negara (Kesatuan dan Federasi) terjadi antara fraksi - fraksi di dewan. Unitaris yang terdiri dari Nasionalis, Komunis dan sebagian Islamis mendukung bentuk Negara Kesatuan berhadapan dengan Federalis yang didukung oleh golongan minoritas dan sebagian Islamis. Sementara di lapangan terjadi pemberontakan melawan pemerintah seperti PRRI, Permesta, DI-TII dan lain - lain. Debat yang tidak selesai dimanfaatkan oleh Soekarno sebagai sesepuh Unitaris untuk kembali ke UUD 1945. Dekrit 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945 didasari atas alasan bahwa untuk menyelamatkan rakyat yang menderita akibat krisis ekonomi dan politik. Hal ini tergambar dalam Manifes Politik 17 Agustus 1959 sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Biar kaum imperialis di luar negeri geger ! Mereka menuduh kita, bahwa UUD 1945 adalah bikinan Jepang, Mereka menuduh pula, bahwa kekuasaan Presiden dalam rangka UUD 1945 sekarang ini, dilandaskan kepada kediktatoran militer. Sekali lagi biar mereka geger ! UUD 1945 bukan bikinan Jepang, UUD 1945 bukan Japanese - made. UUD 1945 adalah asli cerminan kepribadian (identity) bangsa Indonesia, sejak zaman purbakala - mula mendasarkan sistem pemerintahannya kepada masyarakat dan mufakat dengan pimpinan satu kekuasaan sentral ditangan seorang sesepuh, - seorang tertua -, yang tidak mendiktatori, tetapi memimpin, mengayomi. Demokrasi Indonesia sejak zaman purbakala - mula adalah demokrasi terpimpin, dan ini adalah karakteristik bagi semua demokrasi - demokrasi asli di benua Asia." (Prof. Mr. Muh. Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945 Jilid III 1960 : 716)&lt;br /&gt;Perjuangan memposisikan Unitaris melalui UUD 1945 dituntaskan pada Rekayasa Politik (resminya Suksesi Kepemimpinan) 1965 yang melahirkan "Orde Baru". Pemerintahan yang baru dibawah Orde Baru bertekad meletakkan dasar negara dan pemerintahannya melalui penegasan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Periode Pembangunan melalui Orde Baru diawali dengan tahap penguatan komponen - komponen pembangunan yang puncaknya pada pembulatan tekad melalui Konsensus Nasional tahun 1985 tentang Azas tunggal Pancasila dan UUD 1945. Tahap berikutnya adalah pengembangan, komponen - komponen vital yang telah dikuasai dikembangkan secara sistematis guna mencapai tujuan akhir Unitarisme yakni homogenitas sosial di segala aspek.&lt;br /&gt;Tahap kedua dari periode ketiga mendapat hambatan ketika krisis ekonomi melanda republik ini. Kekacauan ekonomi memicu eksistensi politik yang telah dibangun selama 39 tahun. Perkembangan terakhir justru mengarah pada krisis kenegaraan ketika Otonomi Daerah Yang Seluas - luasnya diangkat kepermukaan oleh daerah - daerah. Perdebatan di tahun 50an menjadi hangat kembali di era 1998 (era reformasi) walaupun dengan atau tanpa kaitan dengan angkatan 50an.&lt;br /&gt;Latar belakang obsesi unitarisme menciptakan negara kesatuan adalah kesuksesan dua imperium yang pernah ada di masa lalu yaitu, Sriwijaya (imperium pertama) dan Majapahit (imperium kedua) dengan gamblang tergambar dalam pidato - pidato provokatif Soekarno, "..... berpuluh - puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk memerdekakan tanah air kita. Bahkan telah beratus - ratus tahun !". (Manifes Politik 17 Agustus 1959) dan argumentasi ilmiah Mr. Muhammad Yamin (Lihat Persiapan Naskah UUD 1945 oleh Prof. Mr. Muh Yamin, 1960).&lt;br /&gt;Kedua imperium pernah menguasai hampir semua pulau yang tersebar disekitarnya (sekarang ini disebut wilayah RI). Bentuk monarkhi absolut merupakan pola pemerintahan yang dijalankan guna menguasai daerah - daerah seberang. Jadi daerah - daerah seberang ditaklukkan untuk kemudian wajib memberi upeti kepada kaisar sebagai penguasa tunggal. Berdasarkan gambaran masa lalu disusun strategi unitarisme untuk membentuk imperium ketiga yaitu Republik Indonesia. Perwujudan obsesi tersebut tergambar pada kata Pancasila hingga bahasa Indonesia yang dominan mengkonversi kata dari bahasa Sansekerta serta penamaan ruangan - ruangan di Gedung MPR - RI. Penyelenggaraan negara yang nepotis merupakan konsekuensi logis daripada negara berkedaulatan raja (monarkhi) yang terselubung melalui UUD 1945 (rezim Soeharto) guna melestarikan bentuk negara sekaligus kekuasaan. Pembenaran atas tujuan adalah, "Program (politik) Nasional itu ialah perjuangan sejak runtuhnya Negara Indonesia yang kedua yaitu, Majapahit pada permulaan abad XVI, dengan tidak berorganisasi sampai penghabisan abad XIX dengan berorganisasi modern dengan menjalankan massa aksi teratur dalam abad XX". (Muh. Yamin 1960 : 51)&lt;br /&gt;Secara umum disimpulkan bahwa Soekarno adalah inisiator dan fasilitator imperium ketiga dengan jargon Revolusioner dan Soeharto sebagai kaisar pertama yang memerintah dengan jargon Pembangunan. Mengamati kedua jargon beserta isinya maka jelas tahapan strategis yang telah dibuat oleh unitarisme selama kurun waktu 70 tahun (1928 s/d 1998).&lt;br /&gt;Momentum 1998 adalah saat yang ditunggu - tunggu oleh semua pihak yang didustai dan tersingkir selama 39 tahun. Celah waktu yang diciptakan melalui gerakan reformasi Mei 1998 merupakan saat yang paling merdeka bagi seluruh rakyat untuk menentukan sikap bagi masa depan, apakah kembali pada komitmen 1959 atau menciptakan sesuatu yang baru. Proses tersebut sedang berlangsung diantara ketiga kelompok yaitu yang mempertahankan sistem imperium melalui UUD 1945 dengan segala kelemahan dan keburukannya, yang menghendaki revisi UUD 1945 sesuai dengan nilai - nilai yang hidup dalam masyarakat dewasa ini (living law) melalui amandemen (revisionist sampai retooling); dan yang menghendaki membuat konstitusi baru.&lt;br /&gt;Solusi yang tepat guna mengatasi krisis kenegaraan akibat krisis ekonomi adalah otonomi daerah yang seluas - luasnya (konfederasi) atau federasi. Melalui solusi seperti ini negara dapat dipertahankan eksistensinya dan ekonomi dapat dipulihkan dalam tempo yang singkat. Mempertahankan sistem imperium melalui UUD 1945 jelas sudah bangkrut. Upaya - upaya menggunakan UUD 1945 sebagai alat guna mencapai kesejahteraan sosial tidak dipercaya lagi oleh banyak orang. Untuk itu kesempatan emas yang telah terbentang dihadapan kita merupakan jalan menuju pembaruan strategi kesejahteraan rakyat di masa depan.&lt;br /&gt;KEBEBASAN&lt;br /&gt;Nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat mengkristal dalam hukum meliput seluruh aspek kehidupan. Hukum meliputi hak dan kewajiban perorangan dan pribadi hukum (subyek hukum).&lt;br /&gt;Hak-hak tidak dapat berdiri sendiri karena tanpa dibatasi akan cenderung mengancam atau memangsa sesamanya (homo homini lupus), untuk itu perlu dibatasi oleh kewajiban-&lt;br /&gt;kewajiban.Namun demikian Manusia Dilahirkan merdeka (bebas), dan dimana dia terbelenggu dengan rantai, J.J. Rousseau dalam bukunya Kontrak Sosial 1762.&lt;br /&gt;Implementasi pandangan Rousseau tergambar dalam Piagam Virginia Amerika Serikat 12 Juni 1776 pasal 1 berbunyi, bahwa segala manusia adalah menurut alam sama-sama bebas dan merdeka, serta mempunyai beberapa hak yang tidak terpisah darinya, yaitu kesenangan hidup dan kemerdekaan. Sebulan kemudian dikuatkan oleh Thomas Jefferson dengan ucapan, bahwa semua manusia dijadikan sama dan merdeka, diberkati oleh yang menjadikan beberapa hak yang tidak terpisah-pisah dan diantaranya yaitu hidayat, kebebasan dan tuntutan kesenangan : bahwa untuk menjamin hak-hak itu, maka dibentuklan pemerintahan di antara manusia, yang mengalirkan kekuasaan mereka yang benar dari persetujuan yang diperintah.&lt;br /&gt;Kesepakatan yang dicapai oleh masyarakat di benua Eropah pada tanggal 27 Agustus 1789 melahirkan Deklarasi Hak-hak Azasi Manusia dalam pasal 1 berbunyi, bahwa manusia lahir dan tetap bebas, serta mempunyai hak yang sama. Dan pasal 2 berbunyi, tujuan segala susunan politik ialah melindungi hak manusia alamiah dan tidak terpisah-pisah. Hak-hak itu ialah kemerdekaan, hak milik, keamanan dan perlawanan terhadap penindasan.&lt;br /&gt;Untuk itu hak - hak diartikan sebagai kebebasan / kemerdekaan diperinci sebagai berikut, Kebebasan rohani yaitu kebebasan menyatakan pendapat dan berorganisasi; Kebebasan dari kekurangan; Kebebasan dari ketakutan; Kebebasan beragama dan menjalankan ibadat.&lt;br /&gt;Kebebasan rohani meliputi menyatakan pendapat dan berorganisasi merupakan hak yang melekat pada kehidupan. Dalam konteks manusia sebagai mahluk yang berpikir / berakal maka penyampaian buah pikiran / gagasan tidak dapat dihalangi sepanjang tidak bertentangan dengan nilai - nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Operasional kebebasan ini pada masyarakat dapat disesuaikan dengan kondisi setempat, berbeda aplikasinya antara kondisi masyarakat liberal dan konservatif. Berdasarkan proposisi ini maka generalisasi aplikasi kebebasan menyatakan pendapat dan berorganisasi pada keragaman suku bangsa di Indonesia adalah mustahil dengan begitu integralisme / unitarisme solusi yang tidak tepat.&lt;br /&gt;Tentang kebebasan dari kekurangan menekankan pada penghargaan yang layak terhadap jasa - jasa. Hal ini berkaitan dengan tingkat pendapat guna pemenuhan kehidupan yang layak meliputi pangan, sandang dan papan. Berbicara bebas dari kekurangan secara riil meliputi beberapa aspek pendukung seperti kapasitas SDM dan perekonomian suatu masyarakat. Kondisi SDM dari perekonomian tidak sama pada masing - masing komunitas yang ada di Indonesia, hal ini nyata berlangsung dalam perjalanan negara kesatuan RI. Keragaman bukan menjadi perhatian utama unitarisme karena diyakini melalui strategi pertumbuhan ekonomi dapat menjawab permasalahan. Untuk itu diterapkan otonomi terbatas bagi daerah guna memudahkan penyelenggaraan perekonomian secara menyeluruh. Pembatasan kewenangan daerah berdampak pada pengembangan potensi lokal sehingga ketergantungan merupakan kondisi yang diciptakan guna menjamin kelangsungan integralisme. Pemiskinan struktural terjadi didaerah - daerah melalui ketergantungan pada pusat dan ekonomi biaya tinggi (prosedur biaya tinggi) yang terjadi dalam rangkaian birokrasi. Pertumbuhan ekonomi suatu daerah sangat ditentukan oleh kemurahan hati pemerintah pusat.&lt;br /&gt;Tentang kebebasan dari ketakutan meliputi kepastian dan perlindungan hukum dibidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Pelaksanaan hak dan kewajiban perorangan dan lembaga dalam praktek cenderung terjadi penyelewengan oleh penguasa karena diberikan peluang oleh aturan yang tidak jelas / pasti atau belum diatur oleh peraturan. Kedua kemungkinan tersebut terjadi dalam penyelenggaraan NKRI berdasarkan UUD 45. Konstitusi yang sangat singkat dan fleksibel seperti UUD 45 membutuhkan penyelenggara yang bermoral dan saleh sementara manusia adalah binatang berakal. Fleksibilitas tersebut memberikan peluang kepada setiap penyelenggara untuk menafsirkan sesuai dengan keinginannya sehingga bentuk - bentuk kekuasaan fascis dan diktator bukan sesuatu yang menyalahi konstitusi. Konsekuensinya terhadap kepastian dan perlindungan hukum bukan berdasarkan keinginan / kehendak terbanyak (voluntee generale) melainkan kehendak seseorang atau kelompok orang. Politik pendidikan yang mengacu pada unitarisme mengharapkan keseragaman kurikulum diseluruh wilayah negara, disamping itu rekayasa sejarah merupakan syarat mutlat guna menekan serta menghilangkan pemahaman tentang fakta - fakta. Indoktrinasi halus seperti pemberlakuan ketentuan pers dan penerbitan yang bertanggung jawab dan indoktrinasi kasar melalui P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang diwajibkan pada segala tingkatan usia sekolah. Kemutlakan ideologi merupakan prasyarat guna menopang nasionalisme. Nasionalisme mengandung egoisme, sektarianisme dan seterusnya sehingga upaya internal untuk mempertahankannya adalah devide et impera melalui isu SARA.&lt;br /&gt;Tentang kebebasan beragama dan beribadat adalah hak setiap manusia untuk menjalankan agamanya dengan merdeka. Namun sejarah menunjukkan bahwa agama dipergunakan sebagai alat politik yang ampuh guna mempertahankan kekuasaan dan atau melebarkan kekuasaan. Contoh sederhana di bekas Yugoslavia antara Serbia dan Bosnia yang serupa dengan di Inggris. Demikian juga dengan internasionalisme Kristen pada permulaan tarikh masehi yang melahirkan negara - negara Kristen berdasarkan kedaulatan Tuhan (Theokrasi). Internasionalisme Islam pada abad 20 yang melahirkan negara - negara Islam yaitu perpaduan antara ketuhanan dan sosialisme. Contoh diatas menunjukkan keampuhan agama sebagai alat politik untuk menguasai manusia di bagian - bagian dunia. Perseteruan tersebut menjadi isu paling diminati oleh manusia karena keyakinan merupakan impuls manusia yang paling rapuh untuk dipermainkan dalam segala tingkatan kesadaran. Walaupun agama telah dimanfaatkan untuk kepentingan politis dari masa kemasa, bukan menjadi alasan guna membatasi kebebasan manusia untuk memeluk agama dan melaksanakan ibadatnya.&lt;br /&gt;Keempat kebebasan yang dibicarakan di atas banyak diselewengkan oleh kekuasaan di berbagai negara, baik secara sadar (sudah jelas dalam konstitusi) maupun tidak sadar (penafsiran konstitusi akibat ketidakjelasan aturan). Kaitannya dengan negara Indonesia yang berbentuk kesatuan (NKRI) terhitung sejak Dekrit 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945, menunjukkan penyelewengan yang nyata terhadap keempat kebebasan diatas. Untuk itu rakyat sebagai pemilik kebebasan harus bertindak mereposisi melalui konsensus berdasarkan mekanisme yang diatur oleh rakyat sendiri.&lt;br /&gt;OTONOMI&lt;br /&gt;Penyelenggaraan pemerintahan seperti diatur dalam pasal 18 UUD 1945 menjadi dasar Desentralisasi dan Dekosentrasi seperti tertuang dalam UU No. 5/1974 tentang Pokok - Pokok Pemerintahan Di Daerah. Adapun definisi beberapa istilah yang digunakan dalam UU No. 5/1974 masing - masing Pemerintah Pusat adalah Perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta pembantu - pembantunya. Desentralisasi adalah penyerahan urusan pemerintahan dari Pemerintah atau Daerah tingkat atasnya kepada Daerah menjadi urusan rumah tangganya; Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah atau Kepala Wilayah atau Kepala Instansi Vertikal tingkat atasnya kepada Pejabat - Pejabat di daerah; Otonomi Daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang - undangan yang berlaku; Daerah Otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang - undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;UU No. 18/1965 tentang Pokok - Pokok Pemerintahan di Daerah menganut prinsipil riil dan seluas - luasnya dicabut dan digantikan dengan UU No. 5/1974 tentang hal yang sama dengan prinsip nyata dan bertanggung jawab. Perbedaan prinsip antara riil dan seluas - luasnya dengan nyata dan bertanggung jawab menurut penjelasan UU No. 5/1974 didasari atas kekhawatiran bahwa, pengertian riil dan seluas - luasnya ternyata dapat menimbulkan kecenderungan permikiran yang dapat membahayakan keutuhan NKRI dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah sesuai dengan prinsip - prinsip yang digariskan didalam GBHN. Memperhatikan kekhawatiran tesebut maka jelas pemerintah pusat tidak rela untuk memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah dengan alasan klise membahayakan keutuhan NKRI. Hematnya bahwa prinsip riil dan seluas - luasnya bertentangan dengan konsep Negara Kesatuan seperti yang tercantum dalam UUD 1945. Hal tersebut jelas terbaca dalam penjelasan UU No. 5/1974 angka I.1.e.i. Dengan begitu UU ini merupakan bagian dari periode ketiga (pembangunan) tahap pertama sepertu yang digambarkan pada bagian I diatas.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan kekhawatiran tersebut maka Otonomi daerah yang diberikan oleh pemerintah pusat diarahkan ke daerah tingkat II (Kabupaten dan Kotamadya), dengan kewenangan mengatur rumah tangga sendiri dalam batas - batas tertentu. Pemerintah daerah hanya memiliki kewenangan terhadap sektor - sektor tradisional seperti, galian C, pajak bumi dan bangunan, retribusi pasar, pajak kendaraan bermotor dan lain - lain. Sementara sektor strategis diatur langsung oleh pemerintah pusat. Dikaitkan dengan jumlah pendapatan asli daerah (PAD) dibandingkan dengan suplai anggaran melalui APBN, jelas PAD jauh lebih kecil jumlahnya. Apabila dihitung menyeluruh maka pendapatan asli daerah akan jauh lebih besar dibanding suplai melalui APBN. Contoh sederhan di sektor pertambangan emas, produksi emas PT. Newmont Minahasa Raya sebesar 58.000 ons / kwartal (Manado Post Selasa, 9 Juni 1998). Jika dinilai dengan rupiah pada standar harga jual emas Rp 75.000 / gram maka penghasilan bruto kurang lebih 1.3 trilyun/tahun. Bisa dibayangkan kekayaan daerah secara keseluruhan yang disedot ke pusat. Kenyataan ini tidak dapat disangkal karena merupakan konsekuensi logis pelaksanaan UU No. 5/1974.&lt;br /&gt;Di bidang politik berdasarkan UU No. 5/1974 penjelasan angka I.4.d. menunjukkan bahwa pemerintah daerah adalah Kepada Daerah dan DPRD dengan tujuan tercapainya kerjasama yang serasi antara KDH dan DPRD untuk mencapai tertib pemerintahan di daerah. Keterangan ini menunjukkan pemerintah pusat berupaya menyatukan kekuasaan legislatif dan ekskutif guna menekan keinginan rakyat yang dapat merusak tatanan dalam konsep NKRI.&lt;br /&gt;Dibidang Hukum, pengambilan keputusan baik dalam bentuk kebijakan Kepala Daerah maupun Peraturan Daerah harus sesuai dengan kerangka yang telah ditetapkan pemerintah atasannya. Hal ini merupakan konsekuensi NKRI dalam kaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden (sistem kabinet pressidentil).&lt;br /&gt;Sesuai dengan petunjuk pasal 88 UU No. 5/1974 bahwa, pengaturan tentang pemerintahan desa ditetapkan dengan undang - undang, melalui UU No. 5/1974 tentang Pemerintahan Desa diatur sistem pemerintahan di tingkat desa. Semangat yang dikandung undang - undang ini mengacu pada induknya yaitu UU No. 5/1974 antara lain tujuan penyeragaman pemerintahan di seluruh pelosok negara. Namun dalam redaksi judul Menimbang huruf b., terdapat kerancuan antara tujuan penyeragaman dan mengindahkan keragaman keadaan desa dan ketentuan adat istiadat yang masih berlaku. Dua penegasan yang tidak dapat dipertemukan itu memberi kesan bahwa keterangan yang tertuang dalam judul menimbang huruf b., hanya sebagai slogan guna menutupi agenda utama yang (penyeragaman).&lt;br /&gt;Undang - Undang ini sejiwa dengan induknya (UU No. 5/1974 jo. GBHN jo UUD 1945) dengan prinsip sesuai dengan kerangka NKRI bahwa, Negara Indonesia itu suatu eenheids staat, maka Indonesia tidak akan mempunyai daerah dalam lingkungannya yang bersifat staat juga (penjelasan pasal 18 UUD 1945).&lt;br /&gt;Memperhatikan teori yang dikemukakan oleh Robert C. Fried, The Italian Prefects (dikutip dari Hukum dan Pembangunan 1978 hal. 441) bahwa, tipologi pemerintahan daerah dibagi dalam tiga jenis sistem yaitu, sistem fungsional, sistem prefektur tak terintegrasi, sistem prefektur terintegrasi.&lt;br /&gt;Penyelenggaraan pemerintahan di daerah menurut UU No. 5/1974 menganut sistem prefektur terintegrasi seperti tergambar dalam pasal 2, 74(1) &amp;amp; (2), 79(1) &amp;amp; (2), 80, 81, 85(1). Penganutan sistem ini dipengaruhi oleh proses sejarah dan ditopang oleh berbagai faktor ekologis lainnya. Sistem ini berasal dari zaman Merkantilisme dan kemudian dikembangkan di Perancis oleh Napoleoon Bonaparte. Untuk mendalami sistem ini lebih lanjut diperlukan pendekatan "behavioralism". Pola militer (vini, vidi, vici) jelas mempengaruhi sistem ini, bahkan menurut pengamatan Fried, sistem prefektur terintegrasi seringkali dipergunakan sebagai senjata untuk mengatasi ancaman bahaya yang datang dari suku - suku atau kekuatan sosial dan ekonomi yang berkonsentrasi di wilayah - wilayah tertentu. Dengan jalan menempatkan seorang gubernur di wilayah - wilayah itu dengan segala atribut yang dimilikinya, maka Gubernur dapat melakukan keseimbangan kepentingan, menetralisir keadaan dan menciptakan stabilitas politik diwilayahnya.&lt;br /&gt;Kenyataan itu telah berlangsung sejak ditetapkannya UU No. 5/1974. Tidak dapat disangkal seperti ucapan Satjipto Rahardjo, ....... hal itu pada hemat saya disebabkan oleh karena saya mencoba untuk menegaskan penggunaan dari pada hukum itu sebagai sarana sosial engineering yang sekarang ini merupakan kemungkinan yang berkembang dikalangan hukum. Dan dengan demikian maka saya mencoba untuk menekankan betapa hukum itu dipakai sebagai suatu sarana yang sistematis, yang terencana, yang diucapkan dengan dasar untuk melakukan perobahan - perobahan dalam masyarakat atau untuk menuju pada suatu susunan masyarakat yang dicita - citakan. (Hukum dan Pembangunan No. 4 Tahun ke-IX Juli 1979).&lt;br /&gt;Menengok kebelakang ketika perumusan UUD 1945, Sam Ratulangi mengingatkan bahwa, ..... supaya daerah pemerintahan di beberapa pulau - pulau besar diberi hak seluas - luasnya untuk mengurus keperluannya menurut pikirannya sendiri, menurut kehendaknya sendiri, tentu dengan memakai pikiran persetujuan, bahwa daerah - daerah itu adalah daerah daripada Indonesia, dari satu negara. (Risalah Sidang BPUPKI 1992, 312). Menyimak pandangan Sam Ratulangi tentang bentuk negara maka jelas kearah federasi. Beliau mengerti dengan jelas bahwa eksistensi suku bangsa yang tersebar dalam wilayah Republik Indonesia adalah riil dan tidak bisa dinegasikan dalam kerangka negara yang baru dibentuk.&lt;br /&gt;Jelas sudah penipuan - penipuan oleh utopist yang menghendaki negara ini seperti di zaman Majapahit. Berdasarkan kenyataan itu maka daerah - daerah harus mempersiapkan diri guna merebut kembali hak - hak yang telah dirampas itu. Untuk itu harus segera dilaksanakan penguatan rakyat melalui revitalisasi hak adat maupun hak - hak kepemilikan yang diakui masyarakat lokal guna mengisi dan mendukung perjuanga merebut hak tersebut daru tangan penipu - penipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM KERAKYATAN&lt;br /&gt;Konsep Pengelolaan Sumberdaya Alam Kerakyatan (disingkat PSAK) dibangun atas alasan mendasar yaitu, penyelenggaraan kekuasaan berdasarkan NKRI dan perekonomian berdasarkan pertumbuhan seluruhnya menegasikan hak - hak rakyat atas pemilikannya. Sebagai contoh pembangunan yang didukung oleh perundang - undangan berdasarkan alasan tersebut di sektor pertambangan, kehutanan, perdagangan, pertanian, perikanan, perindustrian dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;Seluruh proses pembangunan di sektor ini mulai dari perencanaan hingga pengawasan dilakukan oleh pemerintah pusat, sementara pemerintah daerah hanya mengikuti pola yang telah ditetapkan. Pemerintah daerah hanya memiliki wewenang mengatur sektor - sektor tradisionil seperti galian C, pertanian rakyat, perikanan rakyat dan lain - lain. Yang paling menyedihkan adalah, setiap jengkal tanah dan laut maupun isinya di seluruh Indonesia telah diperjualbelikan antara pemerintah pusat dan pengusaha besar (konglomerat) di Jakarta. Sementara rakyat di daerah / desa sebagai pemilik sah atas sumberdaya alamnya merasa aman dibawah perlindungan aturan - aturan hukum yang dibuat bukan untuk melindunginya seperti, UU No. 5/1960 tentang Pokok - Pokok Agraria. UU ini merupakan cerminan konstitusi dalam hal penguasaan tanah oleh negara (Hak Menguasai Tanah oleh Negara disingkat HMN). Tujuan akhir UU ini adalah penyeragaman hak - hak tanah di seluruh Indonesia. Hal ini didukung oleh ungkapan Soekarno dalam Manifesto Politik 17 Agustus 1959, .... kita mewarisi dari zaman beberapa hal yang harus diberantas. Antara lain apa yang dinamakan hak eigendom di atas sesuatu bidang tanah. Mulai sekarang kita coret sama sekali hak egendom tanah dari hukum pertanahan Indonesia. Tak dapat kita benarkan, di Indonesia Merdeka ada sesuatu bidang tanah yang di eigendomi oleh orang asing, in casu orang Belanda ! Kita hanya kenal hak milik tanah bagi orang Indonesia, sesuai dengan pasal 33 UUD 1945. (Muh. Yamin 1960 : 712)&lt;br /&gt;Dalam laporan Residen Manado E. J. Jellesma 1903 bahwa, menurut penerapan verklaring di Keresidenan Manado atas pertimbangan agar membatasi / menghalangi penguasaan tanah oleh para Hukum Besar secara semena - mena.&lt;br /&gt;Keterangan ini dibenarkan oleh Agrarische Wet 1870 yang tercantum dalam pasal 51 Indische Staatsregeiing berisi sebagai berikut, Gubernur Jenderal tidak diperbolehkan menjual tanah, Gubernur Jenderal menjaga jangan sampai pemberian tanah - tanah itu melanggar hak - hak rakyat, Persewaan tanah oleh rakyat asli kepada orang - orang bukan rakyat asli berlaku menurut peraturan undang - undang.&lt;br /&gt;Memperhatikan ketentuan di atas maka nampak bahwa orang asing tidak diperbolehkan memiliki tanah yang belum dikonversi menurut Agrarische Wet, dengan demikian hak asli didudukkan sebagai hak yang terkuat. Hak pemilikan tersebut tidak saja atas tanah tetapi juga terhadap apa yang terkandung didalamnya, sehingga kebebasan untuk menikmati pemilikan perorangan dijamin oleh pemerintah. Dikaitkan dengan PSA, jelas hak - hak pengelolaan yang dilakukan oleh rakyat. Kelihatannya kolonialisme Belanda tidak sampai menekan hak - hak pengelolaan yang dilakukan oleh rakyat. Kelihatannya kolonialisme Belanda tidak sampai menekan hak - hak rakyat atas tanah seperti pasal 33 : 3 UUD 1945 yang dianggap sebagai produk bangsa merdeka. Benar ungkapan salah seorang wakil fraksi dalam Majelis Konstituante bahwa, Lebih mudah merebut hak dari penjajah daripada merebut hak dari bangsa sendiri. Kondisi yang berlangsung setelah kemerdekaan Indonesia tidak lebih dari ungkapan, penjajah putih pergi digantikan dengan penjajah hitam (bangsa sendiri).&lt;br /&gt;Menurut Van Vollenhoven bahwa, di wilayah Hindia Belanda tidak kurang dari 300 suku bangsa yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan. Kehidupan suku bangsa sebelum kolonialisme Belanda adalah merdeka / bebas dalam arti mengatur sendiri kepentingan komunitasnya. Hal ini sesuai dengan ungkapan J.J. Rousseau bahwa, Manusia terlahir merdeka / bebas, namun dimana - mana dia terbelenggu. Berdasarkan kenyataan itu maka tidak seorangpun melalui kekuasaan yang dimilikinya mematikan kemerdekaan / kebebasan yang dimiliki oleh sesamanya. Untuk itu masyarakat lokal sebagai pemilik sah atas SDA nya berhak mengelola sesuai dengan prinsip - prinsip yang berlaku dalam komunitas itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Juni 1999&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-6207260772327730931?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/6207260772327730931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/esei-matulandi-pl-supit-sam-ratulangi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/6207260772327730931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/6207260772327730931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/esei-matulandi-pl-supit-sam-ratulangi.html' title='Esei Matulandi PL Supit: &amp;quot;PANDANGAN SAM RATULANGI TENTANG KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-8376431114996002988</id><published>2008-07-14T21:36:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.186-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Greenhill G. Weol: "Kembali ke Jalan yang Benar: MARI MENJADI ANARKIS!"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Anarchy-symbol.svg" title="Anarchy-symbol.svg" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-9.85pt;" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\02\clip_image001.png" href="file:///G:\anarchy\History_of_anarchism_files\110px-Anarchy-symbol.png"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 1; left: 0px; margin-left: -13px; margin-top: 18px; width: 110px; height: 110px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;In the minds of the general public, anarchism stands for an endorsement of anarchy, which is thought by many to mean a state of chaotic lawlessness. It would therefore seem to be diametrically opposed to the affirmation of community. In fact, anarchism refers to two absolute, apparently contradictory but complementary virtues toward which a good life must strive: the integrity of the individual human conscience, resistant to the dictates of both institutional power and the mob; and the dedication of the individual to the general good”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(Encyclopedia of Community: From the Village to the Virtual World)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Sebelum Anda Membaca…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Pembaca yang terhormat, jika anda terkejut dengan judul tulisan ini, saya tidak akan menyalahkan anda, malah mungkin justru anda yang buru-buru menyalahkan saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka, tetaplah terus membaca, sebab mungkin anda akan mengkoreksi pemikiran anda itu, paling tidak sedikit demi sedikit. Tetapi, saya &lt;b style=""&gt;tidak&lt;/b&gt; menulis untuk mempengaruhi anda. Anda tidak perlu percaya kepada saya, sebab anda punya hak untuk tidak percaya kepada saya. Saya menulis tulisan ini agar anda &lt;b style=""&gt;mengerti&lt;/b&gt; apa yang sedang saya pikirkan. Mudah-mudahan di akhir tulisan ini saya sebagai penulis dan anda sebagai pembaca bisa saling baku mangarti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Mengartikan Anarkisma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penggunaan kata &lt;i style=""&gt;anarki&lt;/i&gt; yang tertua ditemukan pada naskah drama karya Aeschylus, &lt;i style=""&gt;Seven Againts Thebes&lt;/i&gt;, bertahun 467 SM. Dalam naskah ini, tokoh Antigone menolak menjalankan perintah dari penguasa dengan kalimat “&lt;i&gt;ekhous apiston tênd anarkhian polei”. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;Mengartikan apa itu Anarkisma adalah sesuatu yang tidak gampang, mengingat kata ini telah terlalu lama dilekati oleh lebih banyak makna negatif. Media-masa kini yang menggunakan kata “anarkis” sebagai sebuah terma yang menggambarkan aksi-aksi destruktif, vandalis, dan khaotik, malah memperburuk pemaknaan. Bereferensi kepada “bahasa media”, yang seharusnya adalah bahasa “orang-orang terdidik” (baca Rudolf Rocker: &lt;i style=""&gt;Anarkisme &amp;amp; Anarko-Sindikalisme&lt;/i&gt;), ternyata tidak akan banyak membantu kita mengerti banyak, sebab bagaimanapun media bertendensi untuk menggunakan kata-kata yang “&lt;i style=""&gt;eye/ear catching&lt;/i&gt;” dan kedengaran bombastis agar lebih menarik perhatian publik. Lucunya, pelajar dan akademisi juga latah memahami kata ini hanya dari makna negatifnya. Pejabat Pemerintahan malah seolah “melegalkan” makna negatif ini lebih lanjut. &lt;/span&gt;Pemaknaan Anarkisma secara negatif sebenarnya bermula dari penggunaan kata ini dalam Perang Saudara Inggris (English Civil War) oleh para &lt;i style=""&gt;Royalist&lt;/i&gt;, pendukung monarki/imperialisma, untuk menghujat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam orang yang tidak sepaham dengan mereka.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Anarchism&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt; terderivasi dari bahasa Grika &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Tahoma;font-size:12;"  lang="IN" &gt;ἀ&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;ν&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt; (tanpa) + &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Tahoma;font-size:12;"  lang="IN" &gt;ἄ&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;ρχειν&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt; (pemerintah) yang secara lebih bebas berarti "tanpa penguasa". &lt;span style=""&gt;Sebagai pengimbang, mungkin akan lebih netral jika kita mencoba mengartikan kata ini secara “bahasa kamus”. &lt;i style=""&gt;Webster Dictionary&lt;/i&gt; mengartikan Anarki sebagai “&lt;i style=""&gt;non-existence or incapability of govermental rule”, &lt;/i&gt;ketiadaan atau ketidakmampuan kekuasaan pemerintahan. Selanjutnya, &lt;/span&gt;Anarkisma didefinisikan dalam buku &lt;i&gt;The Concise Oxford Dictionary of Politics&lt;/i&gt; sebagai &lt;i style=""&gt;"the view that society can and should be organized without a coercive state."&lt;/i&gt; Pengartian selanjutnya dapat kita temukan dalam &lt;i style=""&gt;Dictionary of Politics and Government &lt;/i&gt;yang menulis: &lt;b&gt;anarchism &lt;/b&gt;sebagai&lt;i&gt; “&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;the belief that there is no need for a system of government in a society”&lt;/i&gt; dengan tambahan komentar: “&lt;i style=""&gt;Anarchism flourished in the latter part of the 19th and early part of the 20th century. Anarchists believe that there should be no government, no army, no civil service, no courts, no laws, and that people should be free to live without anyone to rule them”&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Saya kemudian menemukan kesimpulan dalam &lt;i&gt;The Concise Oxford Dictionary of Politics&lt;/i&gt; yang menggambarkan Anarkisma sebagai &lt;i style=""&gt;"a cluster of doctrines and attitudes centered on the belief that government is both harmful and unnecessary”,&lt;/i&gt; Anarkisma adalah sebuah faham yang menganggap pemerintahan/kekuasaan adalah sesuatu yang tidak perlu, bahkan pada ekstrimitasnya, berbahaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;(Sampai pada titik ini, mungkin ada lebih baik anda coba menganalisa kembali makna Anarkisma yang selama ini telah ada di benak anda sebelumnya, dibandingkan dengan makna Anarkisma yang saya paparkan diatas. Jangan langsung terpengaruh oleh kata-kata saya, anda saya sarankan untuk membaca terus.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Memahami Anarkisma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Walau masih diperdebatkan bukti-bukti antropologisnya, Harold Barclay dalam &lt;i&gt;People Without Government: An Anthropology of Anarchism&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; menuliskan bahwa umat manusia telah hidup ribuan tahun dengan damai dalam sebuah masyarakat tanpa pemerintahan. &lt;/span&gt;Jared Diamond, penulis &lt;i&gt;The Worst Mistake in the History of the Human Race&lt;/i&gt;, menggambarkan Masyarakat Adat sebagai sangat egaliter. &lt;span style=""&gt;Kemunculan masyarakat hirarkislah yang kemudian menciptakan politik dan melahirkan pemaksaan kekuasaan dalam bentuk kekerasan. &lt;/span&gt;Louis-Armand, &lt;i style=""&gt;Baron de Lahontan&lt;/i&gt;, dalam bukunya yang dipublikasikan tahun 1703, “&lt;i&gt;Nouveaux voyages dans l'Amérique septentrionale”&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;New Voyages in Northern America&lt;/i&gt;), menggambarkan penduduk asli Amerika yang tak memiliki negara, hukum, dan penjara, sebagai sebuah masyarakat anarki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Ide awal Anarkisma sebagai sebuah perspektif pemikiran lahir sebagai respons terhadap represi kekuasaan dan institusi politik. Filsuf Zeno dari Citium, pendiri mashab Stoik, berargumen dengan Plato bahwa &lt;i&gt;akal &lt;/i&gt;harus menggantikan kekuasaan/pemerintahan dalam membina unsur-unsur kemasyarakatan. Ia berpendapat bahwa dalam walaupun dalam insting manusia telah terpatri “egoisme”, kita juga dikaruniakan “rasa sosial” sebagai penyeimbang. Filsuf Arristippus, seperti dikutip Sean Sheehan dalam bukunya &lt;i&gt;Anarchism&lt;/i&gt;, berkata bahwa “yang bijak seharusnya tidak memberikan kekuasaan kepada negara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Dalam dunia filsafat timur, Lao Tze, seperti tergambar dalam Tao Te Ching, mengembangkan filosofi “tanpa kekuasaan” yang kemudian mengantar para penganut Taoisma hidup dalam pola Anarkisma. Para penganut Anarkisma Nasrani berpendapat bahwa tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi dari “kekuasaan Tuhan”, dan menentang segala bentuk kekuasaan lain yang “didirikan manusia”. Ajaran Kristus dinilai sangat mengandung nilai-nilai Anarkisma dan kehidupan jemaat mula-mula juga jelas-jelas mempraktekkan hal yang sama. Kelompok Kristen Anabaptis di Eropa pada abad 16 adalah para praktisi Anarkisma Nasrani. Bertrand Russell dalam bukunya &lt;i&gt;History of Western Philosophy&lt;/i&gt; menulis bahwa penganut Anabaptis &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;"repudiated all law, since they held that the good man will be guided at every moment by the Holy Spirit..."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;. &lt;span style=""&gt;Sepanjang sejarah umat manusia, banyak gerakan religius yang meletakkan landasannya di atas pemahaman Anarkisma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;The Oxford Companion to Philosophy&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;, berkata bahwa &lt;i style=""&gt;"there is no single defining position that all anarchists hold, beyond their rejection of compulsory government, and those considered anarchists at best share a certain family resemblance"&lt;/i&gt;. Pilar-pilar Anarkisma &lt;b style=""&gt;mendukung: otonomi, perdamaian, konsensus, kooperasi, partisipasi, kolektivitas, de-birokrasi, persamaan hak dan kewajiban, persamaan derajat, saling tolong menolong, kepemilikan pribadi, kesadaran dan kebebasan berkumpul dan asosiasi pekerja independen, penyelamatan alam, perlawanan budaya.&lt;/b&gt; Anarkisma sendiri &lt;b style=""&gt;menolak: autoritarisma, pensensoran, kekerasan, ekploitasi, hirarki sosial (pengkastaan), fasisma, imperialisma, paternalisma, politisasi/kekuasaan agama, statistika massa, sosialisma negara dan ekonomi terencana.&lt;/b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Adalah Pierre-Joseph Proudhon yang kemudian dianggap sebagai yang pertama mendeklarasikan diri sebagai seorang anarkis, melalui bukunya yang menghebohkan, &lt;i style=""&gt;What is Properti?&lt;/i&gt;, terbit tahun 1840. Kalimat yang paling terkenal dari karyanya ini adalah &lt;i style=""&gt;"Liberty is the mother, not the daughter, of order”. &lt;/i&gt;Oleh karena pemikirannya ini, Ia disebut-sebut sebagai penggagas dari Anarkisma Modern. Proudhon &lt;b style=""&gt;mengoposisi&lt;/b&gt; dua paham, &lt;b style=""&gt;Kapitalisma&lt;/b&gt; dan &lt;b style=""&gt;Komunisma&lt;/b&gt; sekaligus. Dan, oleh karena pilihan ideologinya inilah Anarkisma akhirnya harus mengalami rongrongan dari “dua kubu besar” ini. Jadi, agaknya kurang tepat jika ada yang mengatakan jika Anarkisma adalah “sempalan” dari Komunisma. Tokoh Anarkisma, Mikhail Bakunin, pada konferensi &lt;i style=""&gt;“The First International”&lt;/i&gt; tahun 1864 menolak keras Autoritarianisme yang menjadi sendi dasar dari Komunisma. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Alexander Bergman, David D. Friedman, Emma Goldman, Shusui Kotoko, Peter Kropotkin, Errico Malatesta, Nestor Makhno, Buenaventura Durruti, Voltairine de Cleyre, Hakim Bey, Saul Newman dan setumpuk nama lainnya adalah tokoh-tokoh Anarkisma selanjutnya. Banyak juga tokoh-tokoh dalam sejarah secara tidak langsung mengaku bahwa ia Anarkis, namun dalam secara ideal dan praktis mereka menganut Anarkisma. Beberapa diantaranya adalah: Leo Tolstoy, Henry David Thoreau, Gustave de Molinari, Guy Debord, William Godwin, Howard Zinn, Noam Chomsky, Jack Kerouac, dan, jangan kaget, Thomas Jefferson, Mohandas Gandhi, dan Karl Marx!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Thomas Jefferson, seorang pendiri Amerika Serikat, seorang penjunjung Demokrasi, mendukung Anarkisma dan mengkritik kekorupan sistem governansi Eropa dengan berucap: &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;"The basis of our governments being the opinion of the people, the very first object should be to keep that right; and were it left to me to decide whether we should have a government without newspapers or newspapers without a government, I should not hesitate a moment to prefer the latter. But I should mean that every man should receive those papers and be capable of reading them. I am convinced that those societies (as the Indians) which live without government enjoy in their general mass an infinitely greater degree of happiness than those who live under the European governments. Among the former, public opinion is in the place of law and restrains morals as powerfully as laws ever did anywhere. Among the latter, under pretense of governing, they have divided their nations into two classes, wolves and sheep. I do not exaggerate. This is a true picture of Europe”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(Sekali lagi, saya tidak sedang mempengaruhi anda. Saya yakin, anda cukup bisa menemukan makna yang paripurna. Tinggal sebuah bagian singkat lagi dalam tulisan saya ini. Tidak ada ruginya untuk terus membaca, bukan?)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Menjadi Anarkis!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Anarkisma memang bukan sebuah falsafah yang sangat sempurna, sebagaimana juga falsafah manapun di dunia ini. Saya tidak akan menyembunyikan fakta bahwa memang ada segelintir anarkis, mereka yang terpengaruh dengan “&lt;i style=""&gt;Nihilist Movement&lt;/i&gt;” di akhir abad ke-19 lalu, yang tiba pada sebuah pemahaman bahwa sesekali waktu perlu pelaksanaan “&lt;i style=""&gt;Propaganda of the Deeds”,&lt;/i&gt; yang salah satu metode taktisnya melibatkan “pernyataan publik” yang menggunakan tindakan-tindakan yang kemudian diterjemahkan sebagai kekerasan. Metode ini dalam kalangan anarkis sendiri sangat ditolak dan dicerca. Namun, secara umum pada prakteknya, Anarkisma adalah sebuah paham politik yang dalam menuju cita-citanya, masyarakat anarki/utopia, menentang kekerasan dalam bentuk apapun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Memang, label Individualisma, sosialisma, kolektivisma, mutualisma, serta label-label lainnya terus-menerus tertempel pada Anarkisma. Tetapi, sebagaimana rekaman sejarahwan George Richard Esenwein dalam bukunya &lt;i style=""&gt;"Anarchist Ideology and the Working Class Movement in Spain, 1868–1898"&lt;/i&gt; yang mencatat seruan “Anarkisma Tanpa Kata Sifat” dari Fernando Tarrida del Mármol sebagai ajakan untuk &lt;b style=""&gt;bertoleransi&lt;/b&gt;, ditambah dengan sifat-sifat dasarnya yang &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;egalitarian&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;indigenous, feminist, ecological&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;cultural-concious&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, saya menganggap bahwa Anarkisma adalah sesuatu yang layak kita pandang sebagai sebuah solusi untuk menghadapi kompleksitas permasalahan Umat Manusia hari ini. Saya tertarik kepada &lt;i style=""&gt;statement&lt;/i&gt; David Graeber and Andrej Grubacic, dalam buku &lt;i style=""&gt;"Anarchism, Or The Revolutionary Movement Of The Twenty-first Century"&lt;/i&gt; yang memberikan argumen bahwa oleh karena Anarkisma bukan sebuah paham yang “diciptakan” oleh seseorang saja, maka ia berkencerungan untuk terus berkembang berdasarkan prinsip-prinsip praktis yang lebih subjektif namun tidak melupakan objektifisma, dan secara alami men-&lt;i style=""&gt;disable&lt;/i&gt; fanatisme. &lt;i style=""&gt;Nature&lt;/i&gt; dari Anarkisma adalah &lt;i style=""&gt;“open doctrine”&lt;/i&gt; yang membuka ruang seluas-luasnya untuk &lt;b style=""&gt;kreativitas, kontekstualitas, serta identitas&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pada akhir tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa maksud tulisan ini adalah pertama: meluruskan pengertian Anarkisma, dan kedua: untuk menyampaikan bahwa, setelah saya sebelumnya pernah berkata &lt;b style=""&gt;“Panggil Saya Orang Minahasa”&lt;/b&gt;, sekarang, jika anda perlu label lain, maka P&lt;b style=""&gt;anggil Saya Seorang Anarkis&lt;/b&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anda?...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 315pt 0.0001pt 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-8376431114996002988?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/8376431114996002988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/esei-greenhill-g-weol-ke-jalan-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8376431114996002988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8376431114996002988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/esei-greenhill-g-weol-ke-jalan-yang.html' title='Esei Greenhill G. Weol: &amp;quot;Kembali ke Jalan yang Benar: MARI MENJADI ANARKIS!&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-676562676946824644</id><published>2008-07-08T07:33:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.197-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Michael "Bool" Sarungu Pelealu: "Komuni-Kasi (For Cupez de Man)"</title><content type='html'>+Cewe gaga anak teater!&lt;br /&gt;-Ha!? Oh bagus, bagus itu!&lt;br /&gt;+Mo pangge kenalan?&lt;br /&gt;_...Nanti jo sto!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-676562676946824644?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/676562676946824644/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/puisi-michael-sarungu-pelealu-for-cupez.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/676562676946824644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/676562676946824644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/puisi-michael-sarungu-pelealu-for-cupez.html' title='Puisi Michael &amp;quot;Bool&amp;quot; Sarungu Pelealu: &amp;quot;Komuni-Kasi (For Cupez de Man)&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-8081136363749595704</id><published>2008-07-08T07:23:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.203-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Kalfein "Kale" Wuisan: "Minahasan Tetengkoren I"</title><content type='html'>MINAHASAN TETENGKOREN&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Sekarang bukan ley zaman&lt;br /&gt;Torang mo tutu mata&lt;br /&gt;Tutu mulu rapat-rapat&lt;br /&gt;Duduk badiang&lt;br /&gt;Babahaga&lt;br /&gt;Matikutu&lt;br /&gt;Sekarang bukan ley zaman&lt;br /&gt;Torang maruku pa dorang pe kaki&lt;br /&gt;kong jilat-jilat cepatu&lt;br /&gt;mengemis keadilan&lt;br /&gt;Sekarang bukan ley zaman&lt;br /&gt;tong rupa sapi cucu idong&lt;br /&gt;ta iko-iko&lt;br /&gt;apa yang dong bilang&lt;br /&gt;Sekarang badiri sama tinggi&lt;br /&gt;pigi kase bobale&lt;br /&gt;dorang di atas kursi&lt;br /&gt;biar dong tau&lt;br /&gt;arti REVOLUSI&lt;br /&gt;I YAYAT U SANTI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-8081136363749595704?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/8081136363749595704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/puisi-kalfein-wuisan-tetengkoren-i.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8081136363749595704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8081136363749595704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/puisi-kalfein-wuisan-tetengkoren-i.html' title='Puisi Kalfein &amp;quot;Kale&amp;quot; Wuisan: &amp;quot;Minahasan Tetengkoren I&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-1115629260714810232</id><published>2008-07-08T07:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.212-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Alfrits "Ken" Oroh: "Suara Touna'as (For Minahasan Poets)"</title><content type='html'>Tenga malang&lt;br /&gt;Qta blum dapa tatidor&lt;br /&gt;Ta inga samua torang pe cirita&lt;br /&gt;Bagimana dulu torang penjaja Belanda&lt;br /&gt;Sampe sampe bekas pemerintah orba beking bodok&lt;br /&gt;Dorang seputar torang sejarah&lt;br /&gt;Sampe skarang bekas tentara so berkuasa&lt;br /&gt;Cuma segelintir orang tu mo batulis&lt;br /&gt;For mo beking butul torang pe asal usul&lt;br /&gt;Membangun Minahasa yang bermartabat&lt;br /&gt;Sastrawan harus angkat bicara&lt;br /&gt;Harus batulis&lt;br /&gt;HARUS…&lt;br /&gt;Jadilah TOU’NAAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-1115629260714810232?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/1115629260714810232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/puisi-alfrits-oroh-touna-for-minahasan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/1115629260714810232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/1115629260714810232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/puisi-alfrits-oroh-touna-for-minahasan.html' title='Puisi Alfrits &amp;quot;Ken&amp;quot; Oroh: &amp;quot;Suara Touna&amp;#39;as (For Minahasan Poets)&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-26368830351844468</id><published>2008-07-06T03:09:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.220-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Denni Pinontoan: "Mencoba Memaknai Globalisasi".</title><content type='html'>Utu yang tinggal di salah satu wanua terpencil di wilayah Minahasa tak lagi harus bersusah-susah untuk menonton final siaran langsung Euro 2008. Dia bisa langsung tahu, Spanyol  adalah juara Euro 2008. Cuma kopi pahit manis satu gelas, tv 21 inch, duduk di kursi empuk dan ditemani beberapa teman sekampung yang gila bola, Utu sudah bisa pergi ke dunia lain. Ini berkat Parabola yang kemudian yang menjadi bisnis TV Kabel menguntungkan bagi Om Benni sejak tahun 90-an. Film-film aksi dan kasih produksi hollywood dan bollywood juga sudah akrab dengannya setiap hari. Padahal, di lemarinya ada kartu Rumah Tangga Miskin. Besok dia akan antri di Kantor Pos Kecamatan untuk menerima BLT.    &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Utu, juga tak lagi pusing jika ingin bercakap-cakap langsung dengan adiknya di Jakarta. Dia punya seluler second, yang dibelinya dengan murah dari Alo yang sekarang mengganti hp-nya dengan fasilitas 3G. Cuma menekan beberapa angka di hp itu, dia langsung bisa bicara, tanya kabar juga kadang bercanda minta dikirimkan uang melalui rekening banknya kepada adiknya. Kadang canda itu membuahkan hasil. Tak dia kira, ketika mengambil waktu ke kota, cek di ATM, eh ternyata saldonya sudah bertambah.   &lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Keke, adik Utu yang lain, yang sementara kuliah di kota, sehari-hari ke warnet. Chatting dan kirim surat elektronik (e-mail) kepada teman sekolahnya waktu SMA yang sekarang bekerja di Amerika. Mereka saling menanyakan kabar, atau bercanda. Foto-foto yang dipotret pakai kamera digital temannya di Amerika bisa Keke lihat langsung di salah satu fasilitas emailnya. Temannya banyak bercerita tentang Amerika. Keke pun membagi ceritanya tentang suasana kampung kalau Natal, Tahun Baru atau Pengucapan Syukur yang baru dialaminya sejak temannya itu ke Amerika. Keke pun jadi tahu banyak seperti apa kehidupan di Amerika. Temannya pun tak jadi lupa kampung halamannya. Mereka jauh, tapi tetap sebagai teman dekat. Ketika di warnet, Keke seolah-olah sedang berada dekat dengan temannya itu. Keke juga menjadikan Google, Yahoo dan web mesin pencari lainnya untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Utu, Keke, Om Benny dan Alo, adalah kita di sini dan kini, yang sementara menikmati berkat tapi juga sementara terancam dengan globalisasi. Dunia telah menjadi datar, demikian Thomas L Friedman. Dunia seolah-olah tak ada lagi batas. Antara Utu, Alo, Keke, dengan George, Chelse, Jurgen, atau Suprapto, Inem, dan lain sebagainya adalah manusia-manusia di sebuah dusun kecil bernama bumi. Kemajuan teknologi dan informasi serta perdagangan antara negara, telah membuat dunia ini menjadi datar.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Ini membawa konsekuensi pada perubahan cara pandang, paradigma berpikir, sistem dan paradigma politik dan ekonomi. Kita memang akhirnya telah dibuat takut dengan globalisasi, tapi karenanya kita juga terhibur dan senang menonton pertandingan sepak bola di ESPN dan film-film Box Office di HBO. Itulah globalisasi yang adalah realitas sejarah, yang bukan nanti sekarang terjadi. Di Indonesia, sejak bangsa Spanyol, Portugis dan Belanda datang, globalisasi pun telah dimulai. Meski memang yang dominan waktu itu tampilannya adalah imprealisme, namun, di satu pihak, pendidikan modern oleh para zending yang diperkenalkan di Minahasa misalnya, harus disebut sebagai berkat. Di dunia ini, sejak Colombus melakukan perjalanannya dan merambah dunia-dunia baru, globalisasi pun dimulai. Begitu juga perjumpaan antara pedagang Arab, India, Persia dan Cina, dengan di Nusantara, yang dimulai pada abad ke-7, juga adalah usaha-usaha awal mendatarkan dunia. Jangan lupa juga ketika peradaban Islam menancapkan pengaruhnya dari Indus sampai Andalus.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Friedman pengarang buku “The World is Flat, Sejarah Ringkas Abad ke-21,” (Terj. Dian Rakyat, Jakarta, Oktober 2006) meyakini dunia mulai menjadi datar ketika perang dingin berakhir. Di saat itulah dunia bersepakat untuk tunduk pada satu sistem yaitu kapitalisme. Dunia modern, kemudian melahirkan evolusi teknologi informasi. Karena itu muncullah penemuan PC (personal computer), internet pun mendunia.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Tapi, kita bisa juga melihat sejarah kelahiran globalisasi ini dari kemerdekaan rasio (rasionalisme), yang kemudian antara lain memunculkan kapitalisme dan imprealisme. Rasionalisme adalah hasil pemberontakan terhadap dominasi agama (gereja) dengan kemutlakan doktrin dan tradisinya. Abad pertengahan, ketika Luther memberontak terhadap kemutlakan gereja, dan kemudian membuka ruang kritik terhadap doktrin, tradisi dan otoritas gereja yang kalau tidak diinterupsi bisa menjadi tahayul, maka manusia pun akhirnya merasa diri telah bebas merdeka.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Tapi prosesnya panjang sampai bayi globalisasi itu menemukan wujudnya yang menyeramkan, yaitu kapitalisme dan imprealisme. Ada revolusi Industri, ada Kemerdekaan Amerika, ada revolusi Perancis yang mengiringi proses perubahan wujud rasionalisme menjadi monster globalisasi. Kolonialisme Bangsa Barat atas Bangsa Timur, harus kita baca dalam upaya kapitalisme dan imprealisme menundukkan dunia. Ini berawal ketika rasionalisme kemudian lepas kontrol, dan akhirnya peradaban Barat merasa diri sebagai pusat dari segala-galanya. Kalau dulu gereja yang menganggap diri sebagai pusat kebenaran dan keselamatan maka di era rasionalisme yang tak terkontrol itu, peradaban Barat kemudian menjadi poros dunia untuk menilai berdosa (kafir) - tidak berdosa (suci), berbudaya-tidak berbudaya dan beradab-tidak beradab.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Perang Dunia Pertama dan Kedua, adalah jejak sejarah hitam dunia, yang harus kita sebut sebagai ekses dari usaha pendataran dunia. Tapi, pengalaman penjajahan, dan penderitaan karena dua perang dunia itu, akhirnya menjadi pemicu bagi bangsa-bangsa di Asia, termasuk bangsa-bangsa di Nusantara yang kemudian bersepakat secara darurat untuk mendirikan negara Indonesia. Prof. A.B. Lapian, sejarawan, mantan guru besar UI dan peneliti LIPI, dalam sebuah forum diskusi publik mengatakan, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah awal berdirinya sebuah bangsa dan 17 Agustus 1945 adalah kelahiran sebuah negara yang bernama Indonesia. Dua tahap sejarah kita itu, adalah antara lain reaksi politik bangsa-bangsa di nusantara ini ketika globalisasi telah menjadi jahat dengan kapitalisme dan imprealismenya.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Kembali pada kita di sini dan kini. Suka atau tidak, senang atau tidak, kita sebenarnya sedang menjadi bagian dari globalisasi. Tapi yang menjadi persoalan memang, bahwa kebanyakan kita masih bersikap pasif dalam proses yang sebenarnya mengandung banyak peluang itu. Globalisasi dalam wujudnya yang terakhir, misalnya apa yang disebut dengan neoliberalismenya, pada banyak hal memang cuma sampai membuat kita menjadi korban di dalamnya. Kita cuma sampai mampu membeli asesoris buatan Cina, daripada memproduksi dan mengekspornya sehingga kita mendapat untung dari globalisasi itu. Kita akhirnya menjadi korban pencemaran dan mendapat dampak negatif dalam kehidupan sosial dan tata politik dari kehadiran perusahaan-perusahaan tambang misalnya. Negara kita akhirnya harus tunduk pada pasar dunia soal kenaikan harga BBM, ketika hasil-hasil bumi kita kebanyakan sudah dijual kepada perusahaan-perusahaan multinasional. Cap tikus yang diproduksi oleh ribuan petani di Minahasa misalnya, hingga sekarang ini hanya dijadikan sebagai kambing hitam tindakan kriminal. Kita, rakyat dan pemerintah daerah, tidak kemudian berpikir serius untuk mengolah cap tikus menjadi bahan ekspor sampai ke rumah-rumah sakit di London atau bar-bar di Texas.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Tapi, globalisasi, dalam tampilannya terkini itu, akhirnya bukan lagi sesuatu yang harus kita lawan, dan berusaha menghilangkannya. Sejarah seolah-olah memang telah mengkodratkan kita, di sini dan kini untuk berada dalam proses pendataran bumi itu. Kita perlu berkawan dengannya. Karena bagaimanapun, globalisasi telah memaksa kita untuk berproses di dalamnya.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Memang sampai kini kita belum menemukan resep mujarab untuk menjinakan globalisasi itu sehingga bisa memberi untung bagi kita pada soal berekonomi. Tapi, poros dunia belum berhenti, sehingga, kita masih punya waktu untuk menjinakannyanya, asalkan kita belum kehabisan energi. Proses belajar dan berpengetahuan, beradab dan berbudaya, jangan pernah berhenti.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Dalam proses itu, berbudaya, bukanlah pertama-tama soal bahwa kita harus terlalu bernostalgia lagi dengan kelampauan sejarah Tanah kita. Berbudaya adalah proses berpengetahuan untuk memperbarui peradaban. Keke yang secara cerdas memaknai internet untuk belajar demi ilmu pengetahuan, adalah juga sedang berbudaya. Utu yang menikmati Indovision dengan segala tayangannya kemudian menemukan banyak hal baru tentang dunia luar, dan kemudian melakukan refleksi atau perenungan terhadap yang apa sedang terjadi di tanah adatnya sekarang, adalah juga sedang berbudaya. Begitu juga, dalam soal kebijakan politik pemerintah daerah kita, WOC, TFF di Tomohon misalnya, kalau paradigma dan spiritnya adalah untuk memperkuat ekonomi rakyat, yang caranya adalah promosi massal ke dunia internasional tentang segala potensi sumber daya alam daerah ini, menurut saya ini adalah juga sedang berbudaya.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Sehingga untuk memaknai secara cerdas globaliasasi itu, maka institusi politik, birokrasi, agama dan lain sebagainya harus dalam kesadaran sebagai bagian dari proses berbudaya. Politik yang berbudaya adalah kekuasaan untuk mengatur atau mengolah institusi pemerintahan dalam usaha mengarahkan rakyat atau publik pada tujuan hidupnya, yaitu sejahtera. Institusi birokrasi, atau pemerintah yang berbudaya, adalah institusi yang melayani dengan tulus dan jujur publik dalam usahanya memenuhi segala kebutuhan hidupnya untuk berpolitik, bersosial dan berekonomi. Pemerintah Pusat di Jakarta, akhirnya harus secara terbuka untuk kemudian memberlakukan otonomi daerah yang benar-benar menjadikan daerahnya kuat. Kalau daerah kuat, maka negara akan kuat pula menghadapi kapitalisme yang banyak ditakuti orang dalam globalisasi. Sementara agama yang berbudaya, adalah institusi religius yang terus menerus memperbaharui diri untuk menjadi gerakan moral dan spiritual rakyat dalam usahanya menuju ke keselamatan lahir maupun batin, bukan terutama di sana, tapi di sini dan kini. Dan semua itu terkandung pada apa yang sering kita sebut sebagai kearifan lokal. Kearifan lokal pada Tanah kita harus digali, diinterpretasi dan direvitalisasi.  Itu kira-kira usulan saya untuk memaknai globalisasi.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-style: italic;" align="justify"&gt;Tomohon, sehari setelah ToF 2008 di Tomohon.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-26368830351844468?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/26368830351844468/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/esei-denni-pinontoan-memaknai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/26368830351844468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/26368830351844468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/07/esei-denni-pinontoan-memaknai.html' title='Esei Denni Pinontoan: &amp;quot;Mencoba Memaknai Globalisasi&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-3784559835376685202</id><published>2008-05-26T00:06:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.229-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Rickson Karundeng: "Oh, Weta' Ndo'on"</title><content type='html'>Gondrong keremus nyanda ba urus&lt;br /&gt;Cuma tunggu orang mo urus&lt;br /&gt;Masih ba ingus so bobou cap tikus&lt;br /&gt;Tiap hari ba mimpi kampus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kase pinsil cuma se patah&lt;br /&gt;Kase pacol nimbole pegang&lt;br /&gt;Kase tali cuma tau pake ba gantong&lt;br /&gt;Kasiang mama pe anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-3784559835376685202?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/3784559835376685202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/05/puisi-rickson-karundeng-weta-ndo.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3784559835376685202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3784559835376685202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/05/puisi-rickson-karundeng-weta-ndo.html' title='Puisi Rickson Karundeng: &amp;quot;Oh, Weta&amp;#39; Ndo&amp;#39;on&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-231784805872395059</id><published>2008-05-26T00:03:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.236-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Logonk: "Ikang-Ikang"</title><content type='html'>(lebe gaya dari ikang fawzy&lt;br /&gt;lebe gaga dari ikan coelacanth)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/1/&lt;br /&gt;Tasopu di pante jengki&lt;br /&gt;Balanga yang ikang da bawa lari&lt;br /&gt;Waktu dia dong mo goreng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajuz sanang skali&lt;br /&gt;Dia inga deng ni balanga&lt;br /&gt;Ungke deng uti yang basuarsuar di pasar&lt;br /&gt;Boleh mo tatawa lantarang bole mo makang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mar ikang nya ada&lt;br /&gt;So lari ulang ka laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;Biar talinga pongo&lt;br /&gt;Deng pongo-pongo panta tabuka&lt;br /&gt;Tu ungke pancari ikang barado senar di atas parao&lt;br /&gt;Nya lama le tu ikang ta maso box es&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas parao basandar di pante&lt;br /&gt;uti-uti kacili ba babantu angka ikang&lt;br /&gt;“Ini ambe uti,” ungke kase satu ekor ikang basar&lt;br /&gt;uti kacili tatawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mar ikang nya tatawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;Bobow pidis&lt;br /&gt;Hele mata baaer idong baingus&lt;br /&gt;Mama da bumasa di blakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapa dengar mama bilang&lt;br /&gt;Waktu bagoreng ikang&lt;br /&gt;“Ini manado, mo lari kamana ngana,&lt;br /&gt;Di balanga nga pe tampa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikang tabadiang&lt;br /&gt;Babadiang mar bagidi-gidi mo lia&lt;br /&gt;Pidis bekeng mandi suar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/4/&lt;br /&gt;Abis makang&lt;br /&gt;Roko seken deng tole&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manado nya cuma kopi deng cingkeh, sob.&lt;br /&gt;banya yang nga musti lia,” kita basuara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tu roko tole seken&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh, bobow ikang nga pe mulu,” tole protes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/5/&lt;br /&gt;abis minum cap tikus deng tole&lt;br /&gt;pulang-pulang mabo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pas maso pintu&lt;br /&gt;“Makang ni balanga,” ajus bataria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajus lempar balanga pa tape kapala&lt;br /&gt;Balanga jadi rupa capeo&lt;br /&gt;Ikang di puru tatawa&lt;br /&gt;“no nga pikir jo tu makang,” ikang baterek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuki dang!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-231784805872395059?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/231784805872395059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/05/puisi-logonk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/231784805872395059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/231784805872395059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/05/puisi-logonk.html' title='Puisi Logonk: &amp;quot;Ikang-Ikang&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-5289369591271776362</id><published>2008-05-11T06:11:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.244-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MAWALE MOVEMENT'/><title type='text'>Esei Greenhill G. Weol: "Kebudayaan Minahasa Tak Pernah Mati: Lebih Jauh Tentang Don Juan, Kontemporaritas Kesenian, dan Eksistensi Mawale Movement</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;“If you want to know your past - look into your present conditions. If you want to know your future - look into your present actions”&lt;/i&gt;. – Buddhism Proverb&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saya ada Desember itu. Akhir tahun lalu tepatnya. Saya ingat benar, karena kerumunan seperti ini jarang tercipta: lusinan pekerja teater, pencipta dan pembaca puisi, sejumlah orang yang menonton (banyak yang berasal dari dua kelompok pertama tadi), dan, ini plusnya, ada seorang pengayom seni-budaya. Setelah sedikit tukar kata, sepotong-dua pisang goreng dan berbatang-batang rokok, tetamu dan semua yang hadir diundang kedalam gedung Pingkan Matindas untuk menyaksikan pentas perdana sebuah naskah adaptasi sebuah lakon komedi karya Moliere oleh Eric MF Dajoh, sutradara teater senior Sulawesi Utara, yang juga bedirektur hari itu. Saya duduk di ruang panas dan pengap yang dipaksagelapkan dengan seorang kawan bersama calon istrinya yang lagi hamil tua anak pertama mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jean-Baptiste Poquelin, &lt;i style=""&gt;a.k.a&lt;/i&gt; Moliere bukan penulis lakon pertama yang mengkertaskan legenda “Don Juan” atau “Don Giovanni”, ada paling-tidak empat penulis yang menggarap kisah ini sebelum Moliere. Sekitar empatpuluhan tahun sebelumnya, pada 1620, dipublikasikan &lt;i&gt;El burlador de Sevilla y convidado de piedra&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;The Trickster of Seville and the Stone Guest&lt;/i&gt;) oleh Tirso de Molina. Konon, Moliere banyak terinpirasi dari karya yang paling dulu terbit ini, apalagi karakter utama cerita. Cuma, ending yang agak ditekuk Moliere, karakter ciptaannya- Don Juan, adalah seorang atheis, kemudian dimusnahkan api neraka. Versi Molina lebih “&lt;i style=""&gt;morale&lt;/i&gt;”, bertobat dan mencari pengampunan. Memang, sepanjang masa, legenda Don Juan laku digarap para penulis. Sebutlah nama-nama penulis raksasa semisal Byron, Pushkin, Dumas, Tolstoy, Shaw, dan sederet nama lain. Kisah si playboy jaman bahela ini pun banyak menginspirasi kesenian lain, seperti musik, rupa, bahkan sinema. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penggunaan&lt;i style=""&gt; term&lt;/i&gt; “&lt;i style=""&gt;Don&lt;/i&gt;” sebenarnya tidak tekstual. Naskah Moliere menulis &lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;Dom&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; Juan ou le Festin de pierre &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;(&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Dom Juan or The Feast with the Statue)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; sebagai judul. “Dom” adalah kependekan dari gelar Prancis, “Dominus”. Jadi, latar dari versi Moliere adalah Prancis dengan segalah riuh-rendah sosialitanya saat itu, bukan Spanyol pedesaan, seperti yang sering disalahsangkakan. Lebih lanjut mengenai kesalahan-kesalahan lain, pada hakikatnya “Don” Juan (saya bergabung saja dengan kesalahan mayoritas, ketimbang disangka salah ketik) ditulis sebagai sebuah naskah dengan konsepsi &lt;i&gt;satire&lt;/i&gt;, bukan komedi. Perbedaannya? Tipis, tetapi sangat fundamen, dan bukan tujuan tulisan ini untuk membeberkannya. Sekedar menggambarkan, berikut petikan teks terjemahan naskah Don Juan dalam bahasa inggris, dialog Sganarelle (dalam versi Dayoh, Sagan), silahkan anda analisa sendiri:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;"By his death everyone gets satisfaction. Heaven offended, laws violated, girls led astray, families dishonored, relatives outraged, wives ruined, husbands driven to despair, they all are satisfied. I am the only unlucky one. My wages, my wages, my wages!"&lt;/i&gt; (Fort, Alice B. and Kates, Herbert S., &lt;i style=""&gt;Don Juan or The Stone Death,&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Minute History of the Drama&lt;/i&gt;, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;New York&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;: Grosset &amp;amp; Dunlap, 1935. p. 47. Nov 27, 2007).&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang jelas, pemilihan konsep yang tepat akan mempengaruhi penyutradaraan dan, pada gilirannya, pementasan. Juga, entah disengaja atau tidak, naskah Don Juan versi Indonesia buah terjemahan Winarsih Arifin yang kemudian diadaptasi oleh Dajoh ini mencantumkan karakter bernama Don Luis, sebagai &lt;i&gt;ayah&lt;/i&gt; sang Don Juan. Dari beberapa sumber yang lebih primer, saya temukan bahwa karakter Don Luis adalah seorang &lt;i&gt;teman lama&lt;/i&gt; dari Don Juan. Bisa jadi saya yang salah, atau ini karena hakikat adaptasi itu sendiri, atau juga jangan-jangan Winarsih bukan menterjemah naskah Moliere, tetapi versi-versi karya penulis lain yang memang berjumlah puluhan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam dalam buklet pementasan “Don Juan Laki-Laki Dari Utara – Laki-Laki Bataru” terdapat sebuah pengkajian yang menekankan “Don Juan-&lt;i&gt;ism&lt;/i&gt;” sebagai sesuatu yang menggambarkan kejahatan, kerakusan dan kekurangajaran. Ia digambarkan sebagai seseorang lelaki yang penuh nafsu, perayu dan penipu wanita, yang selalu menginginkan seks dari tiap wanita, dimana saja, kapan saja. Pendek kata, secara frontal karakter Don Juan digambarkan sebagai sebuah simbol amoralitas. Saya ingin menawarkan sebuah perspektif yang berbeda: Don Juan adalah seorang pria yang (ternyata) mencintai dengan tulus semua wanita yang ia dekati, seseorang dengan karunia untuk memahami kecantikan wanita lebih dari sekedar sedalam kulitnya, serta seorang &lt;i&gt;gentleman&lt;/i&gt; yang mampu membuat wanita merasa bangga dengan tiap sentimeter tubuhnya. Ia, sebenarnya, justru yang menjadi korban dari nafsu para wanita! Lebih jauh, Don Juan adalah seseorang yang justru menjadi korban dari lingkungan, kebudayaan, dan rezim ortodoks dimana ia berada. Ia tak lebih dari seseorang dengan pola pikir berbeda yang harus menjadi &lt;i&gt;outcast&lt;/i&gt; yang tak diterima oleh masa dimana dia hidup. Bagaimana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tetapi segala diferensiasi atas nama penyesuaian dan perubahan yang dipaparkan Dajoh di atas panggungnya ini bukan pertanda kelemahan. Ini justru yang menjadi nilai lebih dari lakon garapannya. Jadi, sewaktu saya duduk di gedung tadi, sebelum lampu panggung menyala, saya telah benar-benar siap untuk menerima sebuah adaptasi yang betul-betul adaptatif se-adaptif adaptasi itu memungkinkan dari sebuah karya Moliere! Dan... Itulah yang terjadi. Saya turut jadi saksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saya juga ada pada dua malam pementasan garapan Dajoh ini di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), belum lama berselang, bahkan turut naik panggung. Bukan sebagai seorang pemain dalam naskahnya, tetapi sebagai performer gitar dalam musikalisasi puisi. Sebagai seorang (mantan) gitaris, tentu saya sangat berbangga bisa tampil di panggung GKJ, karena tidak sembarang seniman, seberapa hebatpun dia, dapat unjuk kebolehan di gedung yang telah menjadi pusat performans kesenian semenjak dua abad silam tersebut. Melalui perbincangan dengan Benni Mamoto, &lt;i style=""&gt;maecenas&lt;/i&gt; yang memungkinkan pentas Don Juan tampil dua malam di GKJ itu, saya jadi tahu kalau ada dua syarat harus dipenuhi seorang seniman untuk mendapatkan keleluasaan manggung di gedung peninggalan kolonal itu. Pertama: memang piawai di bidangnya, dan kedua, yang terpenting: punya sponsor/produser (backing?) yang betul-betul terpercaya bonafiditasnya. Saya bangga bukan hanya karena terciptanya sebuah fakta saya menjadi seorang pemain gitar dari Minahasa yang pernah (dan mungkin yang pertama) tampil di GKJ, tetapi terlebih bahwa sebuah bentuk kesenian dari &lt;i style=""&gt;movement&lt;/i&gt; kebudayaan Minahasa kontemporer, yakni musikalisasi puisi, berhasil mempenetrasi Jakarta langsung di sebuah pusat standarisasi keseniannya. Di jakarta, booming musikalisasi puisi baru mulai menggema dua atau tiga tahun terakhir. Jadi, kepada gitaris-gitaris lain yang saya jumpai, saya sering berseloroh bahwa sekarang saya sudah bisa “gantung gitar” dengan tenang, hehehe! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Memang, tidak ada &lt;i style=""&gt;standing &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;ovation&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; odiens selepas musikalisasi puisi, dan juga pentas teaternya, namun selama tiga jam lebih ramuan pentas naskah Don Juan dan pembacaan puisi tersebut saya sering mendengar tawa geli penonton, atau cerocosan-cerocosan, menanggapi idiom-idiom khas Orang Manado yang sering &lt;i style=""&gt;tasosuru&lt;/i&gt; di dialog-dialog. Pentas memang terus-terusan mengumbar stimulasi &lt;i style=""&gt;emotional recall&lt;/i&gt;, membongkar ingatan-ingatan romantik para penonton, dengan pendekatan unsur-unsur yang memang sangat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;Manado&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;i style=""&gt; skali&lt;/i&gt;. Begitu pula 15 menit musikalisasi 15 halaman puisi Fredy “Cupez” Wowor yang &lt;i style=""&gt;punchline&lt;/i&gt;nya adalah &lt;i style=""&gt;“…kita inga…”&lt;/i&gt; itu, juga seakan memaksa penonton ber&lt;i style=""&gt;flashback&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Approach&lt;/i&gt; seperti ini menurut saya wajar-wajar saja mengingat keterangan pelaksana bahwa target pementasan ini adalah para Kawanua. Wajar juga jika kemudian Nano Riantiarno, direktur Teater Koma yang ternyata datang &lt;i style=""&gt;bauni&lt;/i&gt;, memilih mengapresiasi keberanian Dajoh mengeksploitasi kekayaan lokalitas dalam naskah garapannya ini. Menurut saya, hakikat sebuah kaya seni salah satunya adalah usaha berkomunikasi pencipta karya dengan penikmat karya itu. Komunikasi, dalam banyak kasus, dapat saja terjadi dengan baik walau tanpa banyak memusingkan faktor teknis. Maka, menurut saya, komunikasi telah terjadi di dua malam pementasan Don Juan di GKJ, tanpa perlu lagi menyoal pas-pasannya penguasaan teknis teaterikal para pendukung pentas ini, terlepas dari penampilan Sylvester “Ompi” Setligt sebagai Sagan, yang memang sukses mengenerasikan proyeksi komikal yang brilian, walau sebenarnya saya masih kurang yakin kalau ini buah tangan sang sutradara, karena sehari-hari, di luar panggung, Ompi memang berkarakter sangat komikal. Sayangnya, karena pentas keseluruhan mengambil pendekatan komunikasi verbal, Iverdikson Tinungki, pemuisi senior Sulut yang tampil dengan puisi mantra andalannya justru yang seolah kehilangan &lt;i style=""&gt;touch&lt;/i&gt;. Penampilan pembaca puisi lain maksimal, khusus Gembala Teddy Batasina dan Pendeta Haezar Sumual, tampil memukau, padahal mereka bukan penyair. Terlepas plus-minusnya, t&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;oh sehari setelah pementasan Don Juan oleh BalaiTeater di GKJ tersebut, harian-harian ibukota dihiasi berita kesuksesan penampilan tim garapan Dajoh ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saya pribadi justru merasa kagum kepada Benni Mamoto yang bahkan turut menjadi performer dalam iven GKJ tersebut, membacakan sebuah puisi dengan iringan kolintang &lt;i style=""&gt;O Ina Ni Keke &lt;/i&gt;yang divokali oleh sang istri tercinta. Pengalaman perdana ini membuat Kombes ini &lt;i style=""&gt;basuar dingin&lt;/i&gt; juga. Rupanya, tatapan penonton lebih membuat gugup ketimbang sorot mata seorang kriminal sekelas Imam Samudra yang sehari-hari diakrabinya! Saya kemudian harus meminjam ujaran Benni Matindas, seorang filsuf dan budayawan Minahasa, penulis seribuan halaman buku “Negara Sebenarnya”, yang sering berkhotbah bahwa perkembangan kebudayaan Minahasa haruslah melalui pembangunan kesenian yang memberi ruang seluas-luasnya untuk eksplorasi kreativitas dan pengembangan intelektualitas. Jika Mamoto (akhirnya) mulai melirik kesenian-kesenian kontemporer dalam usahanya mengayomi kesenian dan kebudayaan di Sulawesi Utara, di Minahasa khususnya, tentu saja itu bukan kebetulan. Saya merasa terhormat bisa menyaksikan proses itu mulai terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketika di pertengahan tahun sembilan puluhan tercipta sebuah &lt;i style=""&gt;core&lt;/i&gt; seniman-seniman &lt;i style=""&gt;avant garde&lt;/i&gt; di Fakultas Sastra UNSRAT yang kemudian mengusung panji Teater Kronis, saya berada di dalamnya. Kami mengklaim sebagai sebuah kelompok yang muncul dari ketidakberadaan. Maksudnya, kelompok ini akhirnya harus &lt;i style=""&gt;survive&lt;/i&gt; dengan segala keterbatasan, mulai dari keterbatasan kebebasan berekspresi (eksis di masa represi Orde Baru, membaca satu puisi saja sering harus ditebus dengan &lt;i style=""&gt;drop-out&lt;/i&gt;), keterbatasan referensi (menegaskan bahwa tidak pernah berkiblat pada siapapun, kecuali kepada literatur-literatur internasional, &lt;i style=""&gt;dus, self-educated&lt;/i&gt;), sampai keterbatasan properti (tidak punya kostum pentas, sering memilih berteater setengah telanjang, berbalurkan cat atau lumpur). Teater Kronis memilih untuk, kalau tidak mementaskan naskah sendiri, mendekonstruksi (bukan cuma mengadaptasi) naskah-naskah teater lain. &lt;i style=""&gt;Repertoir&lt;/i&gt;nya: mulai dari naskah “Lebih Hitam Dari Hitam” Iwan Simatupang, pelopor drama dan prosa absurd Indonesia, yang di bongkar-pasang menjadi “Jiwa Dari Dunia Yang Hilang Jiwa”, sampai “&lt;i style=""&gt;Ma’ame&lt;/i&gt;: Ratapan Anak-Cucu Lumimuut-Toar”, sebuah dekonstruksi “Ratapan Mati” karya Hugo Ball, pengarang eksil di Swiss, seorang tokoh &lt;i style=""&gt;Zurich Movement&lt;/i&gt;. Masih di masa yang sama pula, experimentalis-experientalis dari lingkaran yang sama memulai penggabungan musik dan pembacaan puisi. Musikalisasi puisi, mulai ala The Doors, Talkin’ Blues, Heavy Rock, sampai Rap-Hip Metal digarap. Menyusul kemudian tampil KONTRA (Komunitas Pekerja Sastra Sulawesi Utara), masih dari core yang sama, meramaikan (mungkin lebih tepat mengejutkan) jalanan Manado hampir setiap hari dengan &lt;i style=""&gt;Street Theater, Happening &lt;/i&gt;dan&lt;i style=""&gt; Performance Art&lt;/i&gt;. Konsep penampilan serta pemanggungan teater seperti ini, pada saat itu, adalah benar-benar baru untuk tataran Indonesia sekalipun. Hari ini, jaringan seni-budaya yang berbenang merah dengan &lt;i style=""&gt;core&lt;/i&gt; ini, yang kini bergerak bersama dalam sebuah kesadaran Mawale Movement, tak bisa disangkal lagi adalah merupakan jaringan &lt;b style=""&gt;terbesar&lt;/b&gt; di se&lt;i style=""&gt;enteru&lt;/i&gt; Utara Sulawesi, merangkum empat puluhan kelompok, dari teater, sanggar tari, study club, sanggar rupa, bahkan kelompok musik. Di dunia akademik melibatkan kelompok-kelompok dari UNSRAT (Manado), UNIMA (Tondano), UNG (Gorontalo) UKIT (Tomohon), Politeknik Negeri Manado, UG (Gorontalo), STAIN (Manado). Di luaran, merangkum kelompok-kelompok dari berbagai penjuru Minahasa dan Gorontalo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Radio Suara Minahasa punya “Leput 412”, sebuah program kebudayaan mingguan yang telah berjalan dua tahunan. Terakhir, acara ini menampilkan profil sebuah kelompok teater kampus. Seminggu sebelumnya peluncuran CD album sebuah band lokal Tomohon, “Paeyus”. Sebelumnya ada &lt;i style=""&gt;lauching&lt;/i&gt; tiga buku sastra, dua kumpulan puisi dan satu kumpulan cerpen dari tiga penulis muda. Lima buku puisi dari Arie Tulus, seniman paripurna Minahasa, juga luncur di acara ini. Yang paling sering acara ini menampilkan dialog kebudayaan interaktif. Total jenderal, ada paling-tidak belasan buku yang telah diperkenalkan kepada publik dalam acara ini, ada berbagai kelompok kesenian, mulai sanggar dari selatan Minahasa sampai teater gereja di Minahasa Utara, pernah singgah, ada puluhan konsep, ratusan ide, tak terhitung proses kreatif, dan yang paling penting: pemaparan peta terkini konstelasi kebudayaan Minahasa kontemporer secara &lt;i style=""&gt;real-time&lt;/i&gt;. Sebagai &lt;i style=""&gt;host&lt;/i&gt; acara ini, saya jadi punya banyak bukti dan juga sekaligus menjadi saksi bahwa kebudayaan Minahasa ternyata tak mati (apalagi mati suri, seperti beberapa sangkaan pesimistis yang sering terdengar). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sayang, saya tidak bisa ke R.S. Kandouw ketika sms dengan berbagai puji-syukur itu masuk. Saya lagi berada di pelosok Minahasa, mencari materi buat Seni-Budaya Minahasa, sebuah program Radio Suara Minahasa yang mengangkat kesenian tradisional. Istri (akhirnya mereka menikah) dari kawan yang sedang hamil ketika bersama kami menyaksikan “Don Juan Laki-Laki Dari Utara – Laki-Laki Bataru” pentas perdana, telah melahirkan seorang bayi perempuan yang mereka beri nama Festival Hanayori Karema. Tiga kata yang, menurut orangtua bayi mungil itu, menggambarkan segala eksistensinya. Jika bukan untuk konsumsi media cetak (yang telah menyediakan sedikit celah untuk tulisan-tulisan budaya), seharusnya tulisan ini masih puluhan halaman lagi mengulas tentang Mawale Movement, seiring dengan bertambahnya permintaan penjabaran ide gerakan budaya ini dari berbagai pihak, dari berbagai belahan dunia. Tetapi, layaknya sebuah &lt;i style=""&gt;movement,&lt;/i&gt; seperti juga bagaimana seharusnya memaknai karakter Don Juan, yang terpenting bukanlah &lt;b style=""&gt;idenya&lt;/b&gt;, namun &lt;b style=""&gt;eksistensinya&lt;/b&gt;. Saya kemudian mensaripatikan Mawale Movement menjadi tiga kata: &lt;b style=""&gt;Identity, Creativity, &amp;amp; Contextuality&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;I Yayat U Santi!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Sastrawan, Budayawan, Cultural Jurnalist Radio Suara Minahasa – Tomohon&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-5289369591271776362?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/5289369591271776362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/05/esei-greenhill-g-weol-minahasa-tak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5289369591271776362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/5289369591271776362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/05/esei-greenhill-g-weol-minahasa-tak.html' title='Esei Greenhill G. Weol: &amp;quot;Kebudayaan Minahasa Tak Pernah Mati: Lebih Jauh Tentang Don Juan, Kontemporaritas Kesenian, dan Eksistensi Mawale Movement'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-3319718725695042831</id><published>2008-04-27T08:00:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.255-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi-Puisi Op's: "Sajak Kepada Para Kekasih, Remaja-Remaja...".</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1026" style="'position:absolute;" from="0,1.1pt" to="225pt,1.1pt" strokeweight="1.5pt"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 1; margin-left: -1px; margin-top: 0px; width: 302px; height: 3px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/SUARAM%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" shapes="_x0000_s1026" height="3" width="302" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial;"&gt;SAJAK KEPADA &lt;st1:place st="on"&gt;PARA&lt;/st1:place&gt; KEKASIH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Padamu kuberikan hati bulat-bulat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Hingga tak ada hati di dada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kalau bintang dan matahari bisa kupinjamkan padamu,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Pasti langit jadi hitam pekat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Walau sedikit aromaku, tak pernah kau tawarkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Perihal cinta yang kuberi Cuma-Cuma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Dalam sendiri dan hening&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;aku kembali berkhayal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Mandi kesenangan dalam kolam matamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sambil melahap jantungmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Walau aku masih dihujan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Jubah tak pernah basah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Karena akulah hujan yang telah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Jatuh cinta pada bumi, sejak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Beribu-ribu abad yang silam,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Berganti awan, lalu kembali hujan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Namun kau dan kawananmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;masih membutuhkan oksigen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Cerita hujan sudah kuno&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kalau bisa menawarkan hati lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;aku pasti sudah mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tiffany Hv BT&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1027" style="'position:absolute;" from="0,1.25pt" to="3in,1.25pt" strokeweight="1.5pt"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 2; margin-left: -1px; margin-top: 0px; width: 290px; height: 3px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/SUARAM%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_s1027" height="3" width="290" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial;"&gt;REMAJA REMAJA TELANJANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Remaja-remaja telanjang,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;yang duduk di atas penindasan kapitalisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;mereka harus telanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;di bawah purnama pucat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Remaja-remaja telanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;tertawa di atas duri kemelaratan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;dan mereka bugil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;dalam rongsokan demokrasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;remaja-remaja telanjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;dimanakah mimpimu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;ketika kau ditelanjangi ayahmu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-3319718725695042831?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/3319718725695042831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/puisi-puisi-op-kepada-para-kekasih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3319718725695042831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3319718725695042831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/puisi-puisi-op-kepada-para-kekasih.html' title='Puisi-Puisi Op&amp;#39;s: &amp;quot;Sajak Kepada Para Kekasih, Remaja-Remaja...&amp;quot;.'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-3264837500604868449</id><published>2008-04-27T07:58:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.265-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen Op's: "Manado Love Story"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;“Ros, kiapa ngana*?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Suara itu menyela haru yang nampak dalam kaca-kaca di bola mata ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;“O, Nda*……!” Jawaban pendek yang searah dengan desah nafas panjang yang memaksa keluar setelah sesak dalam dada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Entah apa melanda emosi ini.Sedih, Gundah, Gelisah.Melewati Mega Mall, Kawasan Ruko dan gedung-gedung yang tak beraturan sampai di parkiran Ritzy hotel, pikiranku kosong, tak ada apa-apa hanya seperti ruang kosong,gelap yang udarapun enggan menghuninya dan debu pun tak sudi meniti setiap permukaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Mungkin inilah yang namanya berada di titik nol. Blank. Di titik dimana kita kosong, kita lelah dan letih dengan semua gejolak yang berkecamuk di dalam dada sedangkan kita tidak berhasil menuntaskannya dalam kenyataan dengan propaganda logika apapun. Mungkin hal seperti itu yang membuat banyak orang bunuh diri, untuk lari dari keadaan yang tak pernah bisa diartikan dengan ringan dan lenggang, dengan tenang dan enteng dan nyaman. Bahkan ketika harus melukis senyum terpaksa tak ada satu syaraf yang mampu mengerjakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Padahal, Malam dengan pemandangan dari kamar ini adalah yang paling kusukai, gelap, dengan lampu-lampu jauh di belakang gedung-gedung itu para nelayan yang menjaring ikan di pesisir pantai Manado, Seperti kunang-kunang. Sepi. Sudah seharusnya ala mini membantuku tapi tetap tidak berhasil atau karena hanya otakku tak mampu menerjemahkan gejolak apa yang dialami mereka, ketakutan dan malapetaka yang sedang bergumul dengan ikan-ikan dalam jaring itu. Atau gundah yang merenggut rasa para nelayan itu. Kendati TV yang dari tadi kusetel ke program yang paling kusuka telah membuat sedikit kerusuhan di dalam ruangan kecil ini. Kuletakkan pisau itu di meja. Usai mengunyah dua buah irisan apel merah kuambil Laptop dan mulai mengetik beberapa baris kalimat. Lihat, aku bisa dengan tenang dan nyaman memainkan jari-jari kusut ini di atas tuts-tuts keyboard laptop butut ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Malam ini, Sepertinya bergerak perlahan dan lama sekali dan sangat lelah tidak seglamor penampilannya dengan lampu-lampu jalan yang menjulang sendirian atau lampu-lampu kecil yang berkejar-kejaran di sepanjang jalan Boulevard. Tapi hari telah Lelah berjalan menghabiskan detik-detik yang penat. Otakpun lelah memikirkannya. Di sudut jalan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ada sepasang insan yang sedang memadukan emosinya masing-masing. Semoga saja berhasil, Sedang aku sedang berusaha sekuat tenaga mencocokkan hati dan pikiran serta emosi untuk sekedar menimati malam ini. Oleh karena tadi siang kudapati diriku lelah melewati jalan yang menurut orang lain itu benar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;“Brapa hari ini ngana laeng skali, Roza?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;masih dengan pertanyaan yang sama yang selalu menyulam semua emosi dalam satu kumparan benang yang sebenarnya sudah membuatnya &lt;i style=""&gt;malimbuku&lt;b style=""&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt; &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Lelah menjadi baik. “ Nda eh! Biasa-biasa jo nda ada masalah, ngana tenang jo!” sehingga tidak pernah merasa bahagia sekecilpun. Saat ini seharusnya aku bahagia, dicintai, menikmati semua kehidupan yang kulewati. Dari kenangan naek &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Hoya &lt;/i&gt;yang hanya setiap bulan sekali, film Rano Karno, Lydia kandow, yang terlalu dewasa untuk ku tonton saat itu dan kusaring tapi otak ini sudah bisa menerima dengan baik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemudian goyangan New Kids On the Block, Debbie Gibson, Tommy Page yang wajahnya pernah selalu menghiasi setiap buku tulis yang dijual di toko buku, yang kupunya saat di kelas 3 SD, dan si Unyil tidak pernah kutonton karena memang tidak suka boneka dan lebih suka baca majalah Anita Atau lagu-lagu melankolisnya Richard Marx, Koleksi Skuls di masa remaja sampai masa-masa dengan sepatu bergaya boot Dr. Martin itu,Baju gaya Baby doll, rambut gaya poni &lt;i style=""&gt;kroll &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mejeng berjam-jam di President shopping sampai Film Titanic dan Matrix di T.O. Atau bisa dikatakan dari masa kejayaan Soeharto sampe SBY sekarang. Apa yang sudah kudapat? Selain hidup dengan lelah.Semua itu tidak ada arti. Aku hanya bernafas di dunia itu, hanya bergerak dalam lingkungan itu yang sangat membosankan buatku. Tidak ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Aku telah menikmati semuanya Tuhan. Sampai Tidak ada larangan, tidak ada hambatan lagi, tidak ada dera dan tidak ada airmata. Yah, sampai di detik ini, aku sudah lelah menjadi seorang yang baik, penyabar, periang, takut berbuat sesuatu yang merusak nama baik, takut dicap orang aku bukan orang baik-baik. Karena aku berasal dari keluarga yang cukup terpandang dan terhormat di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ini.Dan aku lelah, toh selama ini aku selalu dan bahkan sering tersenyum sedang hati sedang menangis. Aku menampakan diri sebagai perempuan yang paling sempurna tanpa satu cacat cela di mata orang banyak. Hanya Tuhan yang tahu. Atau memang aku diciptakan untuk itu. Menyenangkan orang lain, sedangkan aku tersiksa. Membangun orang lain sedangkan aku lemah. Menyuruh orang lain berlari sedangkan aku cacat sedang berjalanpun terseok-seok. Semua tapi tidak ada yang sangat membutuhkan aku hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;“ Roz, sadar ngana e, O Tuhan ?” itulah penggalan kalimat terakhir yang bisa kudengar dari mulut perempuan yang berdiri depanku, yang adalah teman baik, Selalu dekat kemana aku pergi diapun pergi. Cukup akrab dengan semua kegilaan, semua kesenangan dan semua kesedihan yang pernah kuciptakan.Dia diam saat ini. Tak bergerak hanya bibirnya yang komat-kamit. Entah apa yang dia khotbahkan otakku tak mampu menerjemahkannya. Aku telah mati mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Hari ini adalah hari pertama aku kembali ke tanah ini, setelah meninggalkannya hampir &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; tahun yang lalu. Aku kembali, bukan untuk keluarga atau sanak saudara, atau teman atau siapapun. Aku kembali untuk mengembalikan keberadaan tubuhku ke tempat pertama kali dikirim surga ke bumi dan untuk mengusik sesuatu yang ganjil dalam diriku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Air bening yang tidak pernah kuinginkan bergulir melewati pipiku seketika basah dan terhenti di sudut bibirku. Tuhan, inikah jalan itu? Bukankah aku adalah seorang wanita paling kuat yang pernah kau ciptakan, aku bisa melewati semua hal yang paling buruk sekalipun dengan baik, sesuai dengan skenario yang Kau tulis untuk kulakoni. Bukankah aku adalah orang-orang yang bisa memenangkan pertarungan hidup? Tapi mengapa hari ini aku lelah, Tuhan. Aku lelah mencari ketenangan itu. Bukankah setiap hari aku mencarimu ke gereja tapi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang kudapati hanya pandangan orang-orang yang bola matanya hampir mau melekat ke badanku. Aku mencari Engkau yang tersenyum di bibir orang-orang itu. Setiap hari aku mencoba mencari Tuhan lewat nyanyian, lewat doa tapi Tuhan tidak pernah ada untukku. Dan tidak ada seorangpun yang bisa membantuku melewati hari-hari ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Pemilik suara itu tiba-tiba beranjak, pamit dan pergi. Sebenarnya dia tahu situasi ini bukan saatnya bercanda. Dia membiarkan aku mengemas waktu ini untuk menenangkan diri. Yah, ada saatnya manusia itu harus menangis sendiri dan tertawa sendiri dan bahkan bercinta sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Cinta? apa itu? Cinta kah namanya? Aku tidak pernah tahu apa artinya itu walaupun telah kusimpan dalam memori ribuan definisi cinta dari para ahli tapi tidak ada yang bisa menerjemahkannya dengan benar. Dan hari ini aku telah bercinta dengannya karena besok aku akan menghabisinya seperti Apel itu. Karena dia harus pergi bersama-sama denganku kemanapun aku pergi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Malam ini udara membuat semua roh yang bersemayam dalam diriku gerah. Aku harus keluar. Aku harus berjalan keluar. Seperti ada yang menuntunku keluar dari ruangan kamar ini. Menuju area trotoar sepanjang jalan Sam Ratulangi dan tak lebih dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; puluh meter dari tempatku berdiri. Indera-inderaku mengajak organ-organku bergerak menuju sekumpulan orang yang sedang mengerumuni sesosok mayat yang sudah bersimpah darah di sebuah jalan sepi. Seorang Perempuan yang sudah mati. Itu temanku itu tadi, Teman yang sangat dekat denganku.Mati? Dia sudah tak bernyawa.Siapa yang membunuhnya? Bukan aku. Bukan.Tuhan tahu itu. Tapi mengapa pisauku yang tergeletak di samping tubuhnya. Baju itu punyaku. O, Tidak. Bukan aku. Atau? Aku? Bukan. Aku tidak membunuh. Aku. Aku tahu siapa pembunuhnya. O Tuhan. Tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Orang-orang itu sangat riuh ketika polisi mulai berdatangan ada yang berkata “ de pe nama Roza, dia ba bunung diri”…………&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="border-style: none none dotted; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 3pt; padding: 0in 0in 1pt;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;*&lt;i style=""&gt;kiapa&lt;/i&gt; = kenapa/ada apa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;*&lt;i style=""&gt;ngana&lt;/i&gt; = kamu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;*&lt;i style=""&gt;nda&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;= tidak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;*&lt;i style=""&gt;malimbuku&lt;/i&gt; = kusut dan menyimpul -untuk benang/tali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-3264837500604868449?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/3264837500604868449/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/cerpen-op-love-story.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3264837500604868449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3264837500604868449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/cerpen-op-love-story.html' title='Cerpen Op&amp;#39;s: &amp;quot;Manado Love Story&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-8466969492985323201</id><published>2008-04-27T07:11:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.275-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen Denni Pinontoan: "Tuhan"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku, Ema, seorang anak perempuan berusia 11 tahun. Sekarang duduk di bangku sekolah dasar kelas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sebenarnya di akte kelahiran nama lengkapku adalah Rema. Teman-teman di sekolah yang suka memanggilku Ema. Aku tak tahu dengan jelas apa arti namaku itu. Kata ibu, sebenarnya tidak ada arti khusus untuk nama itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Ayahmu yang memberi nama itu. Tak tahu, ia cuma menyebut, nama Rema enak di dengar,” begitu kata Ibu suatu hari ketika aku bertanya tentang arti namaku itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sebenarnya bukan soal nama Ema atau Rema yang ternyata tidak punya arti khusus itu yang sekarang ini menggelisahkan hatiku. Kegelisahaanku lebih kepada kenyataan-kenyataan hidup ini. Aku gelisah melihat seorang anak laki-laki yang seumurku di persimpangan jalan itu yang kurus kering, berbaju kumal dan dikelilingi lalat biru. Aku juga gelisah melihat para Pol PP di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kami yang menertibkan warung milik orang tua temanku, Uti. Aku sangat gelisah melihat di televisi pejabat yang dituduh melakukan korupsi tapi masih santai memberikan penyataan membela diri kepada para kuli tinta. Aku juga gelisah, dengan kesulitan yang ibuku alami ketika akan membeli sembako dan minyak tanah karena harganya tiba-tiba naik dan langkah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku lebih gelisah, ketika tahu ada kelompok di sebuah agama yang mengklaim bahwa Tuhannya yang paling benar. Tuhan di agama lain, kata mereka, salah. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; penutupan rumah ibadah yang tidak dilakukan oleh pemerintah karena tidak memiliki ijin, tapi justru dilakukan oleh kelompok radikal dalam sebuah agama. Bahkan, aku menjadi sangat gelisah ketika bom bisa saja tiba-tiba meledak di sekolah kami karena keganasan para teroris yang mengaku sedang membela Tuhannya itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Anehnya, ayah, ibu, para guru di sekolah dan para tetanggaku, ternyata tidak gelisah pada peristiwa dan hal-hal yang aku gelisahkan itu. Mereka justru sedang gelisah dengan aku. Mereka heran dan menjadi gelisah, ketika anak seumurku sudah berpikir dengan penuh kegelisahan fenomen-fenomena sosial dan politik itu. Mereka heran dan sulit percaya kalau aku, Ema, anak perempuan yang baru duduk di kelas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;SD&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; ini sudah bisa memberi komentar seperti orang dewasa, dengan bahasa-bahasa teknis peristiwa atau fenomena-fenomena itu. Mereka yang gelisah, menjadi gusar, bahwa aku yang masih bocah ini sudah berpikir hal-hal yang menurut mereka, bukan duniaku itu. Kata mereka aku lebih baik belajar lagi menghitung dan membaca sehingga menjadi pinter, daripada menggelisahkan fenomena-fenomena itu. Itu bukan urusanku, kata mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sebenarnya aku pernah berkata kepada mereka, bahwa kegelisahanku terhadap semua fenomena itu datang sendiri. Aku tidak tahu roh apa dan darimana yang menggerakan hati dan pikiranku untuk menjadi gelisah dengan semua itu. Ia seperti kekuatan magis yang datang dari alam gaib. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Kegelisahanku ini tidak sama dengan calon kepala daerah yang tiba-tiba menyatakan keprihatinan terhadap kemiskinan dan kebodohan. Aku tidak sama dengan mereka yang datang memberi bantuan sembako dengan harapan mendapat dukungan suara waktu pemungutan suara. Sungguh mati, aku tidak merekayasa semua itu. Masakan anak sekecilku ini sudah bisa membuat rekayasa politik? &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;Kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; sebenarnya itu yang lebih aneh, daparida kegelisahanku ini?” begitu argumenku kepada Pak Guru Odi yang menanyakan keanehan pada diriku yang lihat itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Banyak orang memang merasa bahwa ada yang aneh dalam diriku. Aku sebenarnya menganggap ini biasa-biasa saja. Bukankah nilai agama dan budaya mengajarkan begitu, bahwa manusia harus memiliki kepekaan terhadap penderitaan manusia lain, bahkan alam ini. Om Beni, yang sehari-sehari bekerja sebagai dosen di salah perguruan tinggi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kami, lebih positif melihat keberadaanku ini. Katanya pada ayahku, bahwa aku ini tergolong anak yang jenius. Aku, katanya harus dibimbing dengan baik dan terus dsekolahkan sampai ke perguruan tinggi karena aku memiliki potensi intelektual untuk menjadi pemikir di masa depan. Betulkah? Aku tidak tahu. Mudah-mudahan saja Om Beni benar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Karena ini ternyata menjadi masalah serius bagi ayah dan ibu, para tetangga serta guru-guruku di sekolah, ayah kemudian berusaha melakukan berbagai cara untuk mengatasi persoalan ini. Tadi malam ayah mengungkapkan rencananya mendatangkan pendeta ke rumah kami besok pagi untuk mendoakan aku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku bingung, kenapa ini menjadi masalah serius? Bukankah siapapun dia, punya kewajiban untuk mengungkapkan kegelisahannya terhadap fenomena-fenomena hidup itu? Dan siapapun juga mestinya &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; punya hak untuk mengungkapkan dalam bentuk tindakan kegelisahannya terhadap persoalan yang sedang dihadapi. Aku juga bingung kenapa harus pendeta yang datang, kalau memang ini membutuhkan doa? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bukankah ayah, atau ibu bisa berdoa? Bahkan merekalah yang mengajarkanku berdoa sebelum tidur, hendak makan, bangun pagi dan di hal-hal tertentu lainnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Kenapa ini menjadi masalah serius?” tanyaku kepada ayah tentang rencana itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Ema, kamu harus tahu, bahwa kau ini bukan anak biasa. Kamu lebih suka menonton siaran berita atau dialog daripada menonton Naruto. Kamu akhirnya menjadi malas ke sekolah minggu, karena menurutmu itu tidak cocok denganmu. Ketika berbicarapun isinya bukan soal siapa nama presiden RI pertama dan seterusnya. Kamu juga tidak hafal nama menteri-menteri kabinet sekarang ini. Bahkan lebih parah lagi kamu tidak tahu nama bukit tempat Yesus disalib. Ini masalah serius, Ema!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Tapi kenapa harus pendeta yang mendoakanku, yang menurut ayah ini dilakukan karena aku anak aneh?” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Ema, pendeta itukan adalah hamba Tuhan yang diurapi untuk memberi pengajaran dan tuntutan rohani kepada kita sebagai umat. Jadi, pendetalah yang tepat untuk mendoakanmu,” jawab ayah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Oke. Oke kalau begitu. Silakan saja pendeta itu datang ke rumah. Siapa tahu, berdoa ke langit minta coklat jatuhnya batu,” kataku agak kesal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Hei, anak kecil kamu jangan keterlaluan, ya!” Ayah juga agaknya ikutan kesal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Maaf, ayah. Ema hanya bercanda. Masakan tidak boleh bercanda?” kataku sambil lalu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kalau bubur yang menjadi nasi, seperti masakan ibu kemarin, boleh kau tertawakan. Tapi ini masalah serius, Ema,” ayah berkata dengan sedikit marah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Bukan bubur menjadi nasi, ayah. Tapi, nasi menjadi bubur. Begitu,” kataku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengkoreksi kalimat ayah yang salah itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya. Iya, maksud ayah begitu. Kamu, sok tahu saja,” ayah tak lagi marah karena sedikit malu salah bicara. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Baiklah ayah kalau begitu rencananya. Ya, besok aku siap didoakan oleh pendeta. Sudah dulu, ya, ayah, Ema mau menonton berita dulu. Ema mau tahu perkembangan kebijakan pemerintah terkait dengan usaha pengentasan kemiskinan. Kabarnya pemerintah telah menyiapkan anggaran jaminan pengaman sosial sebesar Rp.1,432 triliun untuk membantu 19,1 juta keluarga miskin. Bantuan tersebut akan diberikan sebesar Rp.75 ribu per kepala keluarga mulai Maret 2008. Ya, lagi-lagi pemerintah menerapkan kebijakan yang rawan penyimpangan. Kasihan rakyat miskin yang hanya dihargai dengan angka-angka rupiah seperti itu,” kataku menutup pembicaraan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Keesokan paginya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Pendeta yang dimaksud ayah datang memang tepat waktu. Waktu itu sebenarnya masih pagi, kira-kira pukul 05.30. Sebenarnya jam-jam seperti ini aku harus bersiap-siap ke sekolah, tapi kata ayah, untuk hari ini aku tak usah sekolah dulu. Ayah telah mengirim &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ijin ke sekolah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Selamat Pagi, Ema,” sapa seorang laki-laki dewasa yang ternyata adalah pendeta &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;itu. Ia telah menunggu di ruang tamu. Waktu itu aku baru keluar dari kamar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Selamat pagi juga Pak Pendeta. Apa kabar?” balasku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Puji Tuhan, sehat walafiat,” jawab Pak Pendeta. “Kalau kamu, Ema?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ya, seperti yang Pak Pendeta lihat, baik-baik dan sehat jasmani maupun rohani.” kataku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dengan nada biasa. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Puji Tuhan kalau begitu. Kamu anak manis Rema,” pendeta itu berkata. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Pendeta juga manis,” kataku menggoda. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ayah dan ibu yang duduk mengapitku memandangku dengan tatapan yang penuh isyarat agar aku lebih sopan lagi berbicara dengan Pak Pandeta. Si pendeta yang duduk langsung berhadapan denganku tampaknya mengerti itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Rema, kamu ini anak manis,” Pak Pendeta berbicara. “Kamu anak perempuan yang manis. Duniamu adalah dunia anak kecil, yang mestinya lebih banyak meluangkan waktu untuk rekreasi dan sudah tentu belajar dan mengerjakan PR yang diberikan oleh ibu dan bapak gurumu di sekolah. Tidak usahlah dulu kau memikirkan hal-hal yang belum menjadi urusanmu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Itulah yang aku duga sebelumnya, bahwa menyelesaikan masalah ini hanya akan menyudutkan aku. Bukankah menyudutkan namannya ketika ayah, pak pendeta, guru-guru di sekolah dan tetangga kemudian seolah-olah menganggap apa yang aku lakukan selama ini adalah salah? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Oh, jadi begitu ya, Pak Pendeta. Rema cuma ingin bertanya. Apakah yang yang Rema lakukan ini, yaitu merasa gelisah dengan berbagai bentuk kejahatan hidup ini adalah salah? Kenapa justru menurut orang dewasa ini sebagai sesuatu yang tidak wajar? Kenapa, Pak Pendeta?” Aku bertanya dengan serius. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ayah memandangku dengan wajah yang tidak senang. Barangkali ia ingin berkata bahwa aku jangan banyak berkomentar atas apa yang Pak Pendeta katakan. Aku mengerti itu. Tapi, keinginanku untuk menjelaskan semua hal terkait dengan pandangan mereka terhadap diriku mengalahkan isyarat ayah itu. Akupun segera bersiap-siap memberi jawab atas penjelasan selanjutnya Pak Pendeta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ya, Pak Pendeta maklum dengan sikapmu. Tapi yang kami khawatirkan bahwa nantinya kamu akan menjadi anak yang tidak normal. Kamu tidak seperti anak-anak lain yang menikmati dunia anak,” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pak Pendeta beretorika. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ha…aku akan menjadi anak tidak normal?!” aku terkejut setengah mati dengan jawaban dari pemimpin umat itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Maksud Pak Pendeta, kamu ini bisa menjadi lain dari anak-anak sebayamu,” Pak Pendeta membalas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Rema pikir, inilah akan persoalannya sehingga semua ribut ketika Rema menyatakan kegelisahaan terhadap persoalan-persoalan hidup itu. Menurutku, ini menjadi soal karena kebanyakan kita, dan terutama manusia-manusia dewasa yang banyak itu sudah tidak biasa lagi memikirkan atau bahkan melakukan hal-hal yang baik, yaitu soal perdamaian, penegakan keadilan dan kesejahteraan. Manusia dewasa sudah menjadi individualis. Hidup orang dewasa yang kita lihat justru hanya mereduksi makna hidup. Orang dewasa berlomba-lomba memenuhi keinginan berkuasa dan kaya saja. Kalau begitu Rema ragu, kalau orang-orang dewasa sekarang ini benar-benar percaya Tuhan, termasuk Pak Pendeta,” aku berkata sedikit menyerang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Cukup Rema! Kamu memang sudah keterlaluan. Siapa yang mengajarkanmu bersikap tidak sopan terhadap Pak Pendeta?! Rema…” ayah berkata dengan emosi sehingga tidak melanjutkan kalimatnya itu. Ia sangat marah dengan sikapku itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Robi,” Pak Pendeta berkata kepada ayahku dengan tenang. “Biarkan anakmu bicara.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mendengar kalimat Pak Pendeta itu, ayah hanya bisa memandangku kecewa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Rema. Maksud kami sebenarnya baik. Ini sebenarnya soal dirimu, masa depanmu dan kebahagianmu. Kalau kamu sudah terbeban dengan segala persoalan itu, kamu tidak bisa lagi merasakan senangnya masa kanak-kanak. Semua ada waktunya, Rema,” Pak Pendeta berkata dengan tenang. Ia tidak seemosi ayah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku hanya diam. Bukan karena sudah tidak ada jawaban, tapi hanya agar tidak ada ketegangan lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ibu dan ayah, serta Pak Pendeta, tidak tega melihat kebahagianmu hilang hanya karena memikirkan hal-hal itu.” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ibu yang dari tadi hanya berdiam akhirnya bicara juga. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku sebenarnya berusaha menahan agar tidak bicara lagi. Tapi, aku ternyata tidak tahan untuk menjelaskan semua ini. Aku akhirnya harus bicara lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ayah, Ibu dan Pak Pendeta. Rema tidak bermaksud mau berbantah-bantahan dengan kalian semua. Tapi, tolong mengertilah dengan keadaan Rema ini. Maaf kalau Rema sudah lancang berbicara. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan maaf juga kalau Rema harus bicara lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Begini: Rema percaya Tuhan, dan agama. Tapi, terus terang Tuhan dan agama yang Rema percayai sekarang ini hanya diajarkan dan diturunkan oleh ayah dan ibu. Kepercayaan ayah dan ibu terhadap Tuhan juga diturunkan oleh kakek dan nenek, dan seterusnya begitu. Kepercayaan kita ternyata tradisi saja. Tidak kurang tidak lebih. Pak Pendeta apalagi. Selain awalnya kapercayaan itu adalah juga diturunkan oleh orang tua, tapi juga ini kemudian diperkuat oleh jabatan Pak Pendeta sebagai pemimpin umat yang mengabdi kepada gereja sebagai lembaga. Persoalan Rema yang berikut, karena kepercayaan kita kepada Tuhan hanya karena tradisi dan tuntutan lembaga agama, maka yang terjadi, kita kemudian menjadi pasif menyikapi fenomena kemiskinan yang kian meluas, ketidakadilan yang terjadi di mana-mana. Kita kemudian menjadi orang munafik,” aku berkata menjelaskan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Inilah ternyata waktunya bagiku untuk menjelaskan kegelisahaanku pada kepercayaan kepada Tuhan dan agama, yang berwujud pada sikapku yang tidak senang dengan berbagai fenomena jahat itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena mereka tidak bereaksi dan tampak masih menunggu apa yang akan aku katakan lagi, aku pun melanjutkan penjelasanku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Terus &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terang selain kegelisahan yang tampak itu, dalam diriku juga sedang terjadi pergolakkan. Kepercayaan kepada Tuhan dan agamaku ternyata diinterupsi oleh semua kenyataan itu. Di mana Tuhan ketika semua itu terjadi? Apakah Dia sengaja membiarkan semua ini terjadi? Aku kemudian masih harus lagi mencari Tuhan. Aku tidak menghentikan langkah kaki mencari Tuhan hanya di agama ayah dan ibu serta Pak Pendeta. Aku sedang berusaha mencari jawab atas semua itu. Dan, aku, Rema, anak perempuan kecil, yang menurut kalian aneh ini, di tempat ini menemukan sebuah kesimpulan atas pencarian semua itu, bahwa Tuhan tidak seperti yang kita bayangkan, sebagai sesuatu yang tak bernama tak berwujud dan berada di seberang sana. Tuhan yang sesungguhnya adalah kita yang telah mencapai tahap akhir proses hidup. Dan proses itu sebenarnya adalah jalan menuju kesempurnaan hidup. ‘Aku’ yang telah berada untuk orang lain, telah memberi makna bagi kehidupan ini dan telah ikut berjuang memanusiakan manusia, adalah capaian akhir proses perjuangan hidup kita. Di situlah kita menjadi Tuhan. Itu penjelasanku. Semoga dimengerti,” aku mengakhiri penjelasanku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kalau begitu, Tuhan tidak seperti pemahaman kita, sebagai yang sakral dan suci karena ketidaberwujudannya. Apakah ini bisa menjawab sikap orang beragama yang mengatasnamakan Tuhannya kemudian meledakan bom untuk membunuh? Apakah ini bisa menjelaskan sikap kita yang kemudian menjadikan Tuhan seperti barang dagang yang dijual di tanah lapang? Bagaimana dengan persoalan klaim kita kepada kebenaran yang abstrak terhadap Sorga dan Neraka yang selalu kita sebut berada di seberang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan konsekuensi dari dari keberadaan kita di sini, di dunia ini? Apakah ini juga kritik terhadap aku, yang selalu mengkhotbahkan nama Tuhan di mimbar namun tidak mengerti dengan kegelisahanmu terhadap kemiskinan dan ketidakadilan yang selama ini agama sebagai lembaga abaikan? Rema, aku mengerti sekarang.” Pak Pendeta berbicara dengan penuh kelegaan. Ia seolah-olah baru mendapat pencerahan atas kebutaannya selama ini terhadap arti menjadi manusia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ayah dan ibu, tak mengeluarkan banyak kata. Mereka diam mematung memandang aku. Pak Pendeta mengangguk-angguk. Rupanya dia setuju dengan pemikiranku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku, yang sedang mencari Tuhan ini, dalam posisi duduk manis. Aku merasa lega dan bahagia. Aku pikir inilah kebahagianku di masa anak-anak ini. Aku senang telah mengawali proses hidup yang masih panjang dengan sebuah kesadaran tentang proses menjadi menuju ke kesempurnaan. Aku baru di awal proses panjang menjadi Tuhan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Tomohon, 12 Februari 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-8466969492985323201?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/8466969492985323201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/cerpen-denni-pinontoan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8466969492985323201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8466969492985323201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/cerpen-denni-pinontoan.html' title='Cerpen Denni Pinontoan: &amp;quot;Tuhan&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-6017620140152638830</id><published>2008-04-26T19:37:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.304-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Haiku-Haiku Fredy Sr. Wowor: "Minahasan Haiku"</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Blanketed with ashes&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;I’m leaning on the grass&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Above the skies&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;The sky my roof&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;And the earth my floor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;I’m the son of the open air&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Looking back to my whole life&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;I found my self&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lost in memories&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ride the wind&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;I follow the sun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;And the moonlight drive&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;On the stage&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Alone&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;I’m doing nothing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lost in The Piper At The Gates Of Dawn&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;I’m screaming – Doctor doctor !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Barret was gon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-6017620140152638830?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/6017620140152638830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/haiku-haiku-fredy-sr-wowor-haiku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/6017620140152638830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/6017620140152638830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/haiku-haiku-fredy-sr-wowor-haiku.html' title='Haiku-Haiku Fredy Sr. Wowor: &amp;quot;Minahasan Haiku&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-3035261381963440086</id><published>2008-04-26T18:52:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.320-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Logonk Tritaniangga: "Biru"</title><content type='html'>Walau sunyi dan mimpi jadi batas&lt;br /&gt;Ku terus jangkau langit biru&lt;br /&gt;Dan ceburi jiwa di biru laut&lt;br /&gt;Hingga kutemui kerlip bintang biru&lt;br /&gt;Yang pancarkan cahaya megah&lt;br /&gt;Sebagai karyamu ya Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi terlalu indah ter-impi yang pemuja&lt;br /&gt;Yang menatap langit dengan etetes harap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;('tuk jauh melangkah menginjak khayangan dan tinggalkan jejak tapak hina)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat pun 'kan menolak dengan mimpi biru ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Seperti yang pernah tercoret di dinding Teater Hall Fak. Sastra UNSRAT, bersilam masa...)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-3035261381963440086?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/3035261381963440086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/puisi-logonk-tritaniangga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3035261381963440086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/3035261381963440086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/puisi-logonk-tritaniangga.html' title='Puisi Logonk Tritaniangga: &amp;quot;Biru&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-8504974481097840298</id><published>2008-04-26T18:49:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.328-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi-Puisi Chandra Dengah Rooroh: "Tonsea I - III"</title><content type='html'>Tonsea I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung klabat&lt;br /&gt;Pante batu nona&lt;br /&gt;Terminal airmadidi&lt;br /&gt;Pancurang tumatenden&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangga noh qta&lt;br /&gt;Lahir di tanah kaya&lt;br /&gt;Banya budaya&lt;br /&gt;Lengkap pariwisata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangang Cuma lia- lia&lt;br /&gt;Datang kamari kong haga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling Cuma satu yang ngana mo inga,&lt;br /&gt;Captikus tumaluntung, tola- tola ular sawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tonsea II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So ini noh tu hebat&lt;br /&gt;orang- orang nda kalah kuat&lt;br /&gt;dari rektor sampe tukang mabo&lt;br /&gt;samua lahir disini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orang torang bukang panjaha&lt;br /&gt;Cuma mo suka lebe dapa lia&lt;br /&gt;Biar so abis doi&lt;br /&gt;Tetap bagaya aksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngoni suka tau&lt;br /&gt;Kyapa torang bagitu??&lt;br /&gt;Lantaran torang ada moto,&lt;br /&gt;“biar kalah nasi, yang penting nda kalah aksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tonsea III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laeng basiul…&lt;br /&gt;Laeng ba kokuk…&lt;br /&gt;Qta tatawa…&lt;br /&gt;Mar dia nyanda farek…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bajalang beking diri&lt;br /&gt;Pake baju blung klar manjae&lt;br /&gt;Apalagi tu calana&lt;br /&gt;Rupa so nda ada tu kil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukang main cewe tonsea&lt;br /&gt;Gaga- gaga mar nimbole ja gara&lt;br /&gt;rasa tu muka sama deng balanga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1488836625481100454-8504974481097840298?l=sastra--minahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/feeds/8504974481097840298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/puisi-puisi-chandra-dengah-rooroh-i-iii.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8504974481097840298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1488836625481100454/posts/default/8504974481097840298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra--minahasa.blogspot.com/2008/04/puisi-puisi-chandra-dengah-rooroh-i-iii.html' title='Puisi-Puisi Chandra Dengah Rooroh: &amp;quot;Tonsea I - III&amp;quot;'/><author><name>Kontributor Tetap Blog Ini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02563637490772398725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1488836625481100454.post-4345284551929642967</id><published>2008-04-26T18:45:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T06:24:49.345-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Angga: "Lingua Script"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jangn beking orang;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berkerut dahi….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Angka alis mata…..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena keanggunan kata…..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style
