Cerita Witho B. Abadi: "Golok Pembunuh Sapi" Bagian I

Kilatan halilintar yang diikuti pekikan guntur memanggil gumpalan awan hitam yang berkelebat menutupi langit. Di antara bayang-bayang pepohonan terlihat sebuah sosok bertudung hitam, seakan menyembunyikan identitas dirinya. Langkahnya cepat, namun sesekali terseok seolah menahan rasa sakit. Titik-titik merah mengikuti setiap jejak kakinya.

Tampaknya ia terluka.

Ia menengadah ke langit yang semakin gelap. Tetesan air mulai berjatuhan dari angkasa. Ia mempercepat langkahnya. Dengan memaksakan diri ia menghentakkan kaki, melompat bagaikan melayang, menembus rimbunnya pepohonan. Ilmu kaki ringan yang mencengangkan. Pasti orang ini bukan orang biasa.

Hujan turun teramat deras.

Selang beberapa menit, ia sampai di sebuah kuil kosong di penghujung hutan. Kuil ini sudah tua dan temboknya sudah banyak yang rusak. Warna di tembok itu sudah tak jelas lagi, tertutup lumpur di sana-sini. Papan nama kuil itu sudah patah menjadi beberapa bagian dan tak terbaca lagi.

Ia berhenti sejenak, mengamati kuil itu, kemudian dengan perlahan dan hati-hati melangkahkan kakinya ke dalam. Kondisi di dalam kuil cukup mengherankan bila dibandingkan dengan keadaan luarnya. Meskipun lantainya banyak yang telah rusak, namun kondisi ruangannya terlihat rapi, seolah ada yang merawatnya.

Di luar, kembali terdengar bunyi guruh bersahut-sahutan dan kilatan halilintar yang tiada henti. Orang itu kembali memperhatikan sekitarnya dengan waspada. Tangannya bersiap di gagang pedang yang menyembul dari balik bajunya. Air bercampur darah menetes dari bajunya yang basah kuyup diguyur hujan.

Dengan terseok-seok ia melangkah ke sudut ruangan, dimana terdapat bekas perapian. Di situ masih tersisa beberapa batang kayu bekas terbakar dan tumpukan jerami. Tampaknya kuil ini sering disinggahi orang.

Ia merebahkan dirinya sejenak, mengatur nafasnya yang tersengal, kemudian menyalakan api. Saat ia membuka tudung dan bajunya untuk memeriksa lukanya, tampaklah bahwa ternyata ia adalah seorang gadis yang berparas jelita.

Terlihat sebuah sayatan yang cukup dalam merobek pinggangnya dan hampir merenggut nyawanya. Luka itu masih terus mengeluarkan darah.

Angin yang bertiup dari kisi-kisi jendela kuil yang telah rusak membuat gadis itu meringis kedinginan dan mendekatkan diri ke perapian. Ia terbaring di samping perapian, kelelahan, dan lemah karena kehilangan banyak darah.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah suara tawa cekikikan. Dengan gerak refleks ia menyambar pedangnya dan berdiri dengan wajah meringis menahan sakit.

“Siapa disitu?!”

Dari arah loteng kuil yang gelap terdengar suara seorang laki-laki.

“Ups!, ketahuan....”

“Siapa kau? Tunjukkan dirimu!!” suara gadis itu meninggi.

Bukannya keluar dari persembunyiannya, sang pengintip itu malah tertawa sejadi-jadinya, membuat gadis itu semakin waspada. Diambilnya sebilah kayu yang masih terbakar dari perapian dan melemparnya ke arah suara itu.

Sang pengintip melompat, berkelit dari lemparan kayu bakar yang berapi-api itu. Ia mendarat tepat di depan si gadis dan mengelus wajahnya sambil tertawa kemudian melompat menjauh dengan gerakan salto di udara.

Merasa dipermainkan, si gadis segera mengayunkan pedangnya menyerang sang pengintip. Ilmu pedang gadis itu dapat dikatakan luar biasa, akan tetapi dalam keadaan terluka dan kelelahan gerakannya menjadi terbatas sehingga serangannya tidak efektif. Dengan mudah sang pengintip berkelit menghindari serangan gadis itu sambil terus tertawa.

Hanya beberapa gerakan saja, kesadaran gadis itu mulai hilang. Langkahnya goyah dan ia terjatuh, pingsan. Sang pengintip dengan cepat menangkapnya sebelum tubuh gadis itu menyentuh tanah.
*

Perlahan gadis itu membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Ketika kesadarannya telah pulih, ia segera waspada dan beranjak bangun namun rasa nyeri di pinggangnya membuat ia harus kembali berbaring.

Setelah rasa nyeri di pinggangnya hilang, ia memandang sekeliling. Ia berada di sebuah kamar yang sederhana namun tertata rapi dan bersih. Cahaya matahari dari yang masuk dari jendela menandakan bahwa saat itu siang hari.

Pintu kamar terbuka dan seorang lelaki dengan tongkat di tangannya masuk membawa semangkok obat. Lelaki ini memiliki rambut dan janggut yang memutih, menandakan umurnya yang tidak muda lagi. Ia masuk sambil meraba-raba dengan tongkatnya, berjalan mendekati tempat tidur dimana gadis itu berbaring. Tongkat kayunya meliuk-liuk ke sana ke mari mencari jalan hingga akhirnya berhenti di dada gadis itu.

“Hmmm.... apa ini... kok kenyal...” gumannya sambil menusuk-nusuk dada gadis itu dengan perlahan dan penasaran.

Mendapat perlakuan seperti itu, si gadis melotot.

“Itu dada saya tahuuu!”

Lelaki tua itu terkejut dan mundur beberapa langkah.

“Oh, kamu sudah sadar. Maaf saya buta, jadi tidak tahu kalau kamu sudah sadar”.

Si gadis menggerutu.

“Dimana saya?” tanya gadis itu.

Lelaki tua-yang-buta itu duduk di samping si gadis.

“Ini rumah saya” katanya sambil menyodorkan mangkok berisi obat kepada gadis itu.

“Minumlah dulu obat ini, biar kamu cepat sembuh”.

Gadis itu menerima mangkok berisi obat itu dan meminumnya. Rasanya sangat pahit sehingga ia hampir muntah. Namun ia memaksakan diri menghabiskannya sedikit demi sedikit.

“Siapa nama kamu?” tanya lelaki tua-yang-buta itu.

“Namaku Cenderawasih. Aku biasa dipanggil Asih.” Jawab si Asih.

“Ooh, nama yang bagus. Kalau saya biasa dipanggil Lukman”

Asih tersenyum.

“Anda seorang tabib?” tanya Asih.

Lukman mengelus-elus jenggotnya.

“Ahh.. semenjak saya buta, saya menjadi seorang ahli massage alias tukang pijit. Tapi sebelum itu saya pernah belajar ilmu pengobatan . . .”

Gadis itu mengangguk-angguk sambil meminum obat.

“Sayang semenjak saya buta, saya sering salah meramu obat sehingga banyak pasien saya yang mati”

“Pfffffffffffff!!!”

Mangkok di tangan gadis itu terlepas dan obat di mulutnya menyembur. Dengan terbatuk-batuk ia berusaha memuntahkan obat yang diminumnya.

“Jangan khawatir, bukan saya yang meramu obat itu. Saya membelinya di apotik dekat terminal”.

“Oooh, maaf, saya kira....”

“Tidak apa-apa. Itu juga obat kadaluarsa yang saya beli setengah harga” kata Lukman sambil tersenyum.

“Hoeeekkk!!”

Asih memasukkan jarinya sedalam mungkin ke dalam kerongkongannya, memaksa diri memuntahkan sisa-sisa obat yang terlanjur ditelan.

Lukman hanya tersenyum lagi.

Bah. Rasanya Asih ingin segera melompat dari tempat tidur dan pergi dari tempat itu saat itu juga. Entah mimpi apa dia saat pingsan hingga bertemu dengan orang tua yang aneh seperti ini.

“Eh, kalau boleh tahu, apakah anda yang menolong saya di kuil?”

“Bukan. Witho yang menolongmu dan membawamu ke sini”.

“Witho? Siapa itu?” tanya Asih penasaran.

Belum sempat Lukman menjawab pertanyaan itu, di depan pintu muncul seseorang laki-laki.

“Itu aku” kata laki-laki itu sambil menunjuk dadanya.

Lelaki bernama Witho itu adalah seorang muda yang tampan. Rambutnya panjang tergerai melewati bahunya. Di tangannya terpajang sebilah golok besar berwarna perak dengan batu-batu bulat berwarna merah di sepanjang sisi tumpulnya. di pangkal golok itu terdapat sebuah gambar tikus, dengan tulisan “Cap Tikus” yang melambangkan merek atau trademark dari pembuat golok itu. Di bagian tengah golok itu terdapat ukiran yang bertuliskan “WITHO PE GOLOK”. Di ujung golok itu terdapat sebuah stiker yang bertuliskan “Rp. 75000”.

Asih terpana dengan sosok di depannya. Orang inilah yang bertemu dengannya di dalam kuil. Hanya ada satu kata yang melintas dalam benak Asih; “Narsis”.

“Aku juga yang mengganti bajumu” kata Witho dengan ekspresi dingin.

Mata Asih langsung tertuju pada baju di tubuhnya. Memang, ini bukan lagi bajunya.

“Jangan khawatir, aku tidak berbuat macam-macam . . .”

Muka Asih memerah.

“Ada juga sih... pegang-pegang sedikit... mumpung ada kesempatan...” ekspresinya yang tadinya dingin dan berwibawa berubah menjadi mesum diiringi tetesan air liur dari sudut bibirnya.

Mata Asih melotot ke arah Witho. Ingin rasanya ia melabrak laki-laki itu. Entah kutukan apa, begitu bangun dari pingsan, yang ditemuinya adalah dua orang aneh yang menjengkelkan. Tapi bagaimanapun juga, merekalah yang telah menyelamatkan dirinya. Setidaknya ia masih berhutang terima kasih kepada dua orang ini.

Tiba-tiba dari luar terdengar keributan. Penduduk desa berkumpul di depan rumah Lukman sambil meneriakkan nama Witho. Lukman terkejut dan memandang Witho, namun karena ia buta, ia memandang ke arah dinding dapur. Wajah Witho yang tadinya mesum kini mengeras dan berubah menjadi serius. Senyum di wajahnya hilang berganti dengan ekspresi kejam. Asih bingung, tak mengerti apa yang terjadi.

“Saatnya membunuh” kata Witho dengan nada datar dan dingin, sambil berjalan keluar rumah dengan golok di tangannya, siap menumpahkan darah.

“Apa yang terjadi? Kemana ia pergi?” tanya Asih gugup. Ia merasakan ada sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Tidak apa-apa, ia akan segera kembali” kata Lukman menenangkan Asih.

“Kau istirahatlah, supaya cepat sembuh” lanjut Lukman sambil berjalan keluar kamar dengan tongkatnya meliuk-liuk mencari jalan.

Asih tak berkata apa-apa. Ia melongok ke luar jendela, mencari tahu apa yang terjadi namun kerumunan orang menghalangi pandangannya. Suara sabetan golok mendesah memecah teriakan dan sorak-sorai orang-orang yang berkerumun. Percikan darah berkelebat di udara yang membuat kerumunan itu mundur agar tak terkena percikan. Hembusan angin yang tadinya segar kini teracuni bau amis darah.

Tubuh Asih bergetar hebat, dadanya sesak. Di hadapannya sedang terjadi sebuah pertumpahan darah yang ditonton layaknya sebuah hiburan. Sungguh, tempat apa ini . . .

Ia memaksakan diri melompat keluar jendela dan berlari ke arah kerumunan itu dengan teriakan histeris.

“Berhentiiiiiiiiiiiiiiiii...!!!”

Sorak-sorai itu terhenti dan semua mata memandang ke arahnya, ia menyeruak diantara kerumunan itu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia terjatuh ke dalam genangan darah dan di hadapannya tampaklah sebuah pemandangan yang mengerikan.

Witho berdiri dengan gagah menyandang goloknya yang berlumuran darah. Di hadapannya terbaring 3 sosok yang tak bernyawa lagi dengan isi tubuh yang berceceran di tanah.

Ya, tak salah lagi, Witho baru saja membantai 3 ekor sapi yang tak berdaya.

Ketegangan tadi membuat energi Asih terkuras habis, tubuhnya lunglai dan ia jatuh pingsan di antara sapi-sapi tersebut.

Golok Pembunuh Sapi Bagian I

Esei Greenhill G. Weol: "Mari Gabung (R)evolusi Linux!"

Membuat Linux Lebih Baik...


Saya kader Linux, seandainya ada partai Linux pasti sudah saya contreng, tetapi maaf, pada tulisan ini saya malah akan berusaha mengungkap kelemahan-kelemahan dari Linux. Tulisan-tulisan tentang Linux biasanya hanya mengungkap kelebihan-kelebihan, memuji habis-habisan, atau paling-tidak bersikukuh bahwa Linux adalah OS yang paling simpatik. Sering saya menemukan tulisan-tulisan di web yang isinya melulu sentimen yang tidak sehat terhadap Windows. Ini menurut saya justru kontra-produktif. Tulisan ini saya buat di Linux, memakai OpenOffice, jadi saya bukan pro-Windows, maniak Windows, apalagi hooligan Windows. Tulisan ini juga bukan untuk mengajak pembaca memandang masalah ini secara objektif, malah menginginkan kita, pengguna Linux, menjadi sangat subjektif. Saya akan memprovokasi anda dengan beberapa pengibaratan: Jika sebuah OS bisa diibaratkan oksigen, maka hampir semua kita harus mengakui bahwa sewaktu kita pertama mengenal komputer, kita menghirup udara yang bernama Windows (atau DOS yang adalah setali tiga uang). Atau, jika sebuah OS itu layaknya bahasa, agak sulit menepis fakta bahwa mother tongue kita adalah Windows. Bahkan, walau mungkin mengada-ada, bisa jadi Windows adalah cinta pada pandangan pertama kita! Saya sendiri sulit untuk berkata I hate Windows keras-keras, padahal saya tahu bahwa Windows itu “tidak fair”, “kapitalis”, atau malah “jahat”. Namun, susah disangkal bahwa kita semua terlibat hate-love affair dengan Windows, setidaknya kita berhutang sesuatu kepada Bill Gates. Saya sendiri, sejujurnya, satu tahun terakhir ini ber-dual boot Ubuntu – Vista. Namun akhir-akhir ini saya dipusingkan oleh sebuah pertanyaan yang saya pertanyakan kepada diri sendiri: sebenarnya apa yang kurang dari Linux sehingga saya seolah tak mampu melupakan Windows? Pikiran ini begitu membebani sehingga akhirnya menjadi titik berangkat menulis tulisan ini, anggaplah sebagai sebuah sesi confession dalam sebuah kelompok rehabilitasi.
Saya baru memiliki komputer sendiri sekitar lima tahun lalu. Oleh toko, komputer rakitan saya diinstali Windows XP ilegal. Saya ingat betul, RAM yang terinstal hanya 128 mb, berhubung komputer paket hemat. Pakai prosesor apapun, running Windows XP dengan RAM seperti itu pasti terasa lambat, kecuali hanya untuk putar musik dan mengolah kata. Opsi upgrade memori masih terhalang mahalnya modul RAM pada saat itu untuk ukuran kantong seorang mahasiswa. Belum lagi keluar dari kesulitan memori terbatas, tantangan berikut adalah mendapatkan software tambahan untuk keperluan-keperluan khusus semisal edit video, olah gambar, dan lain-lain. Alkisah, saya mulai berburu software ke teman-teman yang lebih dulu punya komputer pribadi. Saya pinjam CD-CD mereka, dan dengan modal CD kosong di-kopilah setumpukan software ilegal tersebut. Begitulah, tahun-tahun pertama berkomputer saya habiskan dengan cara yang 'pra-sejarah': berburu dan meramu! Sebenarnya ini tidak terlalu menarik untuk diceritakan karena anda mengalami hal yang sama, bukan? Tetapi, tunggu. Ada sebuah 'penemuan' yang kelak membawa saya memiliki kesempatan menuliskan kisah ini untuk anda. Setelah kurang-lebih tiga tahun menjadi 'manusia purba', suatu ketika, di antara tumpukan CD pinjaman yang diambil sekenanya dari seorang teman, saya temukan terselip sebuah CD yang setelah dieksplor ternyata tidak berisi satupun software. Sebuah CD merah dengan tulisan enigmatik: Ubuntu. Pendek cerita, saya kemudian mencoba banyak distro Linux. Beberapa diantaranya sangat bagus, sementara yang lain, bukan jelek, mungkin hanya tidak cocok untuk saya saja. Karena memiliki kecenderungan untuk 'cinta pada pandangan pertama', saya jadi lebih nyaman dengan Ubuntu (walaupun sebenarnya amat tertarik pada kecantikan Mandriva). Varian-varian Linux mini macam DSL dan Slax sebenarnya juga amat menarik karena tidak boros resource. Untuk Linux live USB saya pilih Slax. Ironis memang, justru setelah telah punya laptop berprosesor high-end dengan RAM 4 giga, saya menggunakan OS yang seharusnya saya gunakan empat-lima tahun lalu, andai saja saya kenal Linux lebih awal. Tetapi toh, kembali pada kejujuran, saya masih saja 'menyimpan' kekasih lama: CD installer Windows.
Tak bisa disangkal, dunia hari ini adalah dunia yang cenderung menilai segalanya dari tampilan. GUI dalam OS bisa menjadi daya tarik yang luarbiasa, baik dari segi kemudahan maupun keindahan. Untunglah, Linux yang text-based sudah menjadi sejarah. Tidak perlu lagi menjadi seorang 'kutu kode' untuk mengoperasikan Linux. Sekarang fungsi terminal dan sejenisnya telah banyak tergantikan oleh interface yang lebih user-friendly. Malah, tampilan Linux sekarang tidak bisa dikatakan jelek. Kita punya Compiz yang menyimpan banyak 'sihir' untuk membelalakkan mata bahkan untuk seorang pengguna OS Mac sekalipun. Tetapi Linux punya masalah klasik tentang dukungan driver, salah satunya terhadap driver graphics, yang menyebabkan tidak di semua komputer bisa tercipta keindahan ala Linux (atau perlu proses panjang dan rumit, malah bisa gagal instal, seperti pada kasus chipset SIS). Lebih jauh, game yang adalah salah satu daya tarik dunia komputer yang terbesar harus menjadi warga negara kelas dua di Linux karena masalah di atas. Wine, PlayOnLinux, dan emulator Windows API lainnya masih dalam penyempurnaan, sementara saya sedang ketagihan main CS. Untunglah masih ada dual-boot…
Ubuntu punya repository software yang melimpah, semua orang tau itu. Varian-varian Linux yang lain sebenarnya juga tidak kalah. Macam software yang tersedia juga lengkap, mulai dari pengelola resep makanan sampai meng-hack paswor WPA. Hampir semua software populer Windows memiliki match-nya di Linux, dengan kwalitas yang cukup baik. Penciptaan softwarenya pun terus berlangsung, mulai dari sumber resmi sampai yang community-maintained, dari seluruh dunia pula. Pokoknya semua tersedia gratis on-line. Tunggu! On-line? Aduh, jika anda punya koneksi internet yang tidak lelet, atau punya DVD Repo, pasti semuanya semudah satu-dua-tiga. Tetapi jika tidak? Ubuntu 8.10 out-of-the-box saja perlu codec multimedia yang harus diunduh dulu, untuk dapat memainkan file mp3 anda. Anda bisa saja berkunjung ke warnet terdekat dan menggoogle software yang anda butuhkan, tetapi kemudian jika yang anda temukan adalah sorce code atau paket yang perlu di-compile lagi sebelum bisa digunakan, pekerjaan bisa jadi panjang, untuk seorang advanced user sekalipun. Memang Linux punya 'exe'nya sendiri macam paket deb di Ubuntu yang memangkas keribetan, tetapi masih ada benturan jika dependensinya ternyata belum komplit. Eksekutabel Windows saya telah menumpuk puluhan CD. Perlu sebuah fungsi, tinggal cari, instal, dan kerja. Rupa-rupanya faktor ketersediaan software masih sangat berpengaruh karena lagi-lagi saya mesti berpaling pada Microsoft...
Linux is Freedom, begitu bunyi slogan yang sangat sering kita dengar. Kehadiran Linux adalah untuk memberikan kebebasan kepada pengguna PC untuk memilih dan juga mencipta apa yang mereka inginkan. Tidak salah, memang kebebasan memang layak diperjuangkan oleh, untuk, dan bagi siapa saja di dunia ini. Namun, kebebasan hanya akan benar-benar berarti serta berguna buat seseorang yang telah tau akan berbuat apa dengan kebebasannya itu, serta siap menerima konsekuensi-konsekuensinya. Perkaranya jadi lain buat orang yang tidak tau. Kebebasan, malah, bisa berarti chaos. Eksistensi Linux yang serba beragam semestinya menjadikan kebebasan jadi sebuah nilai lebih bagi Linux. Tetapi kebebasan disini dapat menjadi kelemahan. Bagaimana bisa? Begini: Windows saja, dengan varian-variannya yang bisa dihitung dengan jari, GUI yang cenderung tak banyak perubahan (kecuali tambahan transparansi dan animasi) dan punya life-cycle bertahun-tahun itupun oleh pengguna PC umum sudah dibilang rumit. Nah, Linux dengan naturenya memberi kebebasan pilihan, yang hadir dengan beragam opsi, dari ragam distro sampai ragam desktop environment, menjadi kelihatan lebih rumit bagi banyak orang. Anda mungkin kemudian mengatakan bahwa Linux memang adalah sebuah media pembelajaran, agar yang tidak tau menjadi lebih tau. Linux seharusnya menjadi sarana memperkaya pengetahuan, menjadi batu gerinda otak. Itu benar dan saya juga berpikir demikian. Tetapi marilah kita jujur melihat kondisi mayoritas pengguna PC hari ini. Setelah membeli sebuah komputer, kebanyakan orang menginginkan sebuah PC itu bekerja untuk mereka, bukan sebaliknya. Komputer diinginkan sebagai sesuatu yang intuatif dan mudah dioperasikan, bukan sesuatu yang membuat mereka mengkerutkan alis mata. Komputer bagi kebanyakan pengguna adalah sebuah alat untuk membuat hidup menjadi lebih mudah, bukan malah sebaliknya. Harus diakui, dalam memberikan kemudahan bagi penguna umum, Linux masih ketinggalan dibanding Windows. Kita jangan melupakan fakta bahwa pada produk teknologi kemudahan penggunaan adalah salah satu hal yang menentukan dan menjadi pertimbangan konsumen. Konsumen rela membayar mahal asalkan mereka mendapatkan kemudahan dan kenyamanan. Itulah penyebab mayoritas pengguna PC di dunia tetap menginstal Windows, walau bajakan, ketimbang Linux yang sudah legal, gratis lagi, dengan performa setara, bahkan lebih dari Windows dalam banyak hal. Namun, kelebihan Linux dibanding Windows sayangnya amat berhubungan dengan kemampuan pengguna (atau teknisi) untuk mengidentifikasi apa yang dibutuhkan, dari mana yang dibutuhkan itu bisa diperoleh, serta kemampuan mengetikkan jawaban-jawaban berupa beberapa baris bahasa biner dalam terminal. Rupanya, lebih banyak orang merasa lebih baik melanggar hukum atau merogoh kantongnya dalam-dalam asalkan tetap bisa point and click. Begitulah, sangat natural bagi manusia untuk menginginkan kemudahan. Teknologi memang diciptakan untuk memberikan kemudahan-kemudahan. Ada sebuah kisah tentang kemudahan yang saya alami belum lama berselang ini. Beberapa waktu lalu, seorang sahabat meminta saya membantunya untuk membangun sebuah warnet kecil-kecilan di rumahnya. Saya setuju membantu, asalkan hanya pada bagian merakit CPU dan menginstal OS, karena sejujurnya hanya itu yang saya bisa. Karena saya tidak bisa membangun jaringan, saya rekomendasikan seorang teman yang lulusan TI. Dalam sehari saja seluruh pekerjaan yang menjadi bagian saya telah selesai. Unit-unit telah terakit lengkap dengan OS yang super lengkap, hasil remaster dari Ubuntu. Tinggal menunggu 'orang jaringan' itu untuk datang menyambung-nyambung kabel dan jreng! Saya menyangka semua teknisi yang terdidik secara formal dan mampu membangun jaringan berbasis Windows akan mampu pula membangun jaringan berbasis Linux. Ternyata ia ‘buta’ Linux, jadi kelanjutannya mudah ditebak. Karena pemilik menginginkan kemudahan, sebagai konsekuensi warnetnya itu harus buru-buru tutup jika terdengar akan ada razia Windows. CD kopian Windows XP saya telah kembali menunaikan tugasnya...
Begitulah kenyataan-kenyataan Linux yang saya hadapi. Silahkan anda menambahkan bagian anda. Namun, seharusnya kita tidak berhenti sampai di sini. Semua hal yang saya tulis di atas bukanlah untuk mereduksi Linux, justru sebaliknya, mengajak kita berpartisipasi bersama untuk membuat Linux menjadi lebih baik. Sebuah sesi kelompok terapi tak lengkap tanpa memberi ruang untuk prasaran, tentu saja menurut ideal masing-masing. Saya bukan pakar komputer, apalagi pakar Linux, saya hanya seorang sastrawan yang menggunakan Linux dalam berkarya. Mudah-mudahan sumbang saran saya berikut ini bisa diterima:
Hari lepas hari Linux sudah semakin populer, terima kasih kepada Graphical User Interface yang semakin intuitif. Penggunaan Linux sebenarnya cukup sederhana untuk dipahami, asalkan dibiasakan. Alangkah baiknya jika pengunaan Linux bisa semakin luas dalam dunia pendidikan formal seperti SMP dan SMA (kalau memungkinkan Pre-School dan SD). Selain bisa mengajarkan tentang 'taat hukum' dengan tidak menggunakan produk bajakan, itu akan memperkenalkan Linux lebih dini kepada anak-anak usia sekolah yang masih punya daya ingat kuat. Sederhananya, mereka jadi tau bahwa selain Windows ada juga Linux, dan kemudian belajar mengoperasikannya, dan terlahirlah sebuah generasi yang selain melek huruf, juga melek Linux! Tidak heran jika di depan hari banyak yang akan menjadi operator, bahkan teknisi Linux yang handal. Linux memang bagian dari masa depan. Tinggal bagaimana para pengambil keputusan dalam Dunia Pendidikan Formal untuk menempatkannya dalam blue print bahan pembelajaran. Akan sangat menolong jika Linux dimasukkan kedalam Kurikulum Nasional, namun jika hal ini masih perlu perjuangan panjang, guru-guru mata pelajaran Komputer dapat memperpendek jalur dengan menyelipkan pembelajaran Linux. Secara informal pun sosialisasi Linux bisa dilaksanakan. Seminar-seminar tentang Linux sebaiknya lebih banyak diselenggarakan. Pelatihan-pelatihan Linux lebih gencar dilaksanakan. Linux User Group lebih banyak lagi dibentuk dan berperan. Forum-forum Linux di internet diperbanyak, yang telah vakum dihidupkan kembali. Tulisan-tulisan berupa artikel, esei, atau opini tentang Linux diperbanyak. Jika memungkinkan, karya sastra – puisi, prosa, dan drama, dapat ditulis dengan menyelipkan penggambaran Linux. Lebih beragam media yang digunakan, akan lebih luas pengaruhnya.
Fokus lanjut adalah kepada ketersediaan software. Saya tau ini tidak mudah, software-software Linux kebanyakan merupakan 'peghabis waktu senggang' dan 'proyek rumahan' dari para programer. Walau demikian, saya yang hanyalah pengguna Linux, selalu merasa bahwa orang-orang ini, para programer dan pengembang Linux, adalah tidak kurang dari para saint dan tidak lebih dari malaikat. Untuk karya yang dihasilkannya, kebanyakan dari mereka tidak menerima bayaran. Banyak proyek-proyek software Linux mengumpulkan dukungan dana lewat donasi dan dari berjualan kaos. Proyek-proyek software libre – open source sebenarnya mendapatkan bahan bakar hanya dari satu faktor: semangat. Tinggal bagaimana kita membantu mengobarkan semangat mereka. Ada beberapa cara yang menurut saya dapat kita lakukan. Pertama, dengan mendownload hasil karya mereka, bahkan yang masih dalam versi beta sekalipun. Rating download bisa membuat pengembang merasa diperhatikan dan dihargai, serta versi-versi beta yang kita coba dapat membantu penyempurnaan sebuah proyek melalui feedback laporan bug dan saran-saran. Kedua, dengan membeli merchandise. Ada sebuah ungkapan: “if you really love a project, then for goodness sake, buy a T-shirt!”. Ini agak rumit bagi yang berada di belahan berbada dari dunia, namun mereka yang punya kartu kredit sebenarnya tidak sulit. Nah, jika para pengembang sudah merasa didukung, saya pikir tidak akan menunggu lama untuk munculnya software-software baru yang berkwalitas. Mungkin juga, jika keadaan semakin membaik, para pengembang dapat duduk bersama dan menyatukan kepala mereka untuk memikirkan kemungkinan pengembangan software dengan cross-platform independent installer. Alangkah mudahnya jika semua eksekutabel Linux akan langsung terinstal tanpa perlu memusingkan dependensi, juga dapat langsung diinstal pada distro manapun, tanpa proses converting lagi. Jika standar universal dapat diadakan, tentunya tanpa mengganggu independensi antar-distro, sebuah (r)evolusi akan terjadi dalam dunia Linux, yang menurut saya akan membuatnya lebih baik.
Di Windows saja kita sudah cukup kerepotan mengenai driver pada saat migrasi dari XP ke Vista. Paling-tidak nanti pada tahun kedua semenjak Vista RC mempublik barulah development driver dari manufaktur berhasil mengejar, padahal Vista adalah produk Microsoft, raksasa dengan kapital besar dan mengantongi perjanjian kerjasama dengan ratusan, malah mungkin ribuan, pengembang software dan manufaktur perangkat keras. Sebenarnya, permasalahan kompatibilitas perangkat keras di Linux membawa kita lebih jauh kepada permasalahan yang sangat fundamental. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dibalik ini semua? Saya bukan ahli ekonomi, ahli hukum, apa lagi ahli politik, namun saya cukup mampu melihat bahwa fakta Microsoft sebagai penguasa sebagian besar dari pasar OS di seluruh dunia adalah yang menciptakan ‘stagnasi’ dalam pengembangan yang intensif dalam soal dukungan software dan hardware terhadap Linux. Para pengembang software dan manufaktur perangkat keras tentu memilih mengembangkan dukungan terhadap OS yang paling populer, paling banyak market share, sebab akan lebih menguntungkan. Di lain pihak, Microsoft telah mengikat banyak dari pengembang software serta manufaktur hardware dalam kontrak-kontrak yang tentu saja berpihak kepadanya. Kemudian Microsoft ‘menyerang’ eksistensi dari proyek-proyek open source secara legal-formal dengan berbagai tuduhan pelanggaran hak paten. Selanjutnya, Microsoft ‘membelah’ dunia Linux dengan keberhasilannya ‘menggandeng’ SUSE Linux. Tak heran, dalam menghadapi pihak-pihak yang dianggapnya mengancam eksistensinya, Microsoft memang menerapkan kebijakan Embrace, Extend, and Extinguish, sebuah skenario tua kolonialisme/kapitalisme. Sebuah perusahaan dengan kapital tak terbatas memiliki kekuasaan atas pasar yang dominan dan ingin mengkekalkan diri dengan cara apapun. Kekuasaan selalu dominatif, dominasi berarti ekspansi, ekspansi memaksa perpecahan, perpecahan berujung pada penaklukan. Menurut hemat saya, sebagai sebuah firma yang mengejar profit, Microsoft tidak dapat begitu saja kita salahkan. Mempertahankan penguasaan pasar adalah hal yang lumrah bagi sebuah perusahaan yang berdagang produk, selama itu dilakukan dengan cara-cara terhormat. Jika pertarungan Linux vs Windows dapat digolongkan kepada perang produk, apakah karena Microsoft adalah sebuah korporat raksasa maka dengan mudahnya Linux akan kalah? Saya yakin tidak. Dalam sebuah peperangan, selama ada yang tetap bergerilya, perlawanan masih akan terus berlangsung dan kemenangan tinggal menunggu waktu. Bentuk ‘gerilya’ untuk konteks ini adalah dengan memperkuat komunitas-komunitas yang tetap berkarya serta mendukung Linux. Bentuk perlawanan berikut adalah dengan menciptakan produk-produk Linux yang lebih user-oriented. Permasalahan driver memang cukup kompleks dan serius,. tetapi jika masalah driver ini terpecahkan, misalnya, saya dapat mengkonek semua periferal (termasuk gadgets) dan bisa langsung operasional, atau main game tanpa diskriminasi FPS, dengan akselerasi video yang baik pula, atau teman-teman saya yang menggunakan laptop dengan chipset yang tidak disupport Linux tidak terhalang hang diawal instalasi, saya kira Linux bisa membuat tersenyum beberapa bibir lagi.
Pada 25 Agustus 1991, Linus Torvalds, seorang mahasiswa Universitas Helsinki, mengumumkan untuk pertama kali kepada dunia tentang yang secara jujur diakuinya sebagai sesuatu yang 'dilakukan layaknya sebuah hobi' dan 'mungkin tidak akan besar'. Namun nyatanya Linux tidak hanya seumur jagung. Hari ini, Linux digunakan sebagai OS mulai dari perangkat genggam sampai superkomputer. Ini berarti bahwa dunia membutuhkan Linux, tidak hanya Windows. Memang, panji-panji perseteruan telah dikibarkan dan tak mungkin diturunkan lagi. Saya tau, banyak pendukung Linux yang ‘militan’, yang melakukan apa saja untuk mengkonfrontasi Windows, mulai dari memaki-maki di forum, sampai membuat artworks yang melecehkan pihak Windows. Namun, marilah kita menempatkan perseteruan ini menjadi sebuah perlombaan yang terhormat antara dua ‘bangsa’ yang berdaulat. Perlombaan yang seharusnya berakhir dengan pengakuan eksistensi dari masing-masing pihak. Saya harus katakan: Linux tidak bisa mengalahkan Windows. Linux memang tidak untuk mengalahkan Windows. Sebaliknya, Windows tidak akan menghancurkan Linux, selagi semangat kita masih berkobar untuk mempertahankan kebebasan kita untuk memilih. Linux harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan Windows. Linux adalah alternatif yang dibutuhkan oleh dunia. Linux hadir untuk mengatakan bahwa pilihan telah kembali ke tangan kita. Karena semuanya telah di tangan kita, mari membuat Linux menjadi lebih baik. Mari gabung (r)evolusi Linux!

Diskusi Kebudayaan Mawale Movement






Beberapa dokumentasi dari diskusi-diskusi kebudayaan telah dilaksanakan.
Mo di batu, di kobong, di gedung, di klas, di ruma, di radio, di televisi ato dimanapun, tong yang muda-muda bicara tentang Minahasa Hari Ini!

Esei Freddy Sreudeman Wowor: "PEMUDA MINAHASA DAN PERUBAHAN ZAMAN".

Salah satu masalah mendasar yang kerap kali menghantui kaum muda minahasa adalah masalah kepercayaan diri. Masalah kepercayaan diri ini, menurutku terkait sekali dengan politik pencitraan yang dilakukan oleh para penguasa dari setiap zaman di sepanjang lintasan sejarah orang Minahasa.
Pada zaman kompeni-hindia belanda misalnya, kita disebut sebagai orang-orang alifuru yang berarti orang-orang yang tidak beradab. Usaha pembentukan citra kita sebagai orang yang tidak beradab terutama dilakukan dengan mengeksploitasi leluri-leluri atau kisah-kisah masa lalu kita terutama yang terkait dengan soal asal usul yaitu kisah Lumimuut dan Toar. Kisah Lumimuut dan Toar sebagai persetubuhan antara ibu dan anak yang semula hanya merupakan salah satu versi dari sekian versi yang ada di dalam leluri-leluri para walian di seluruh wilayah Malesung kemudian ditetapkan oleh para ahli dari eropa sebagai versi yang dominan. Hal ini jelas tidak bisa dilepaskan dari politik kebudayaan kaum orientalis yang senantiasa menetapkan bahwa barat beradab dan timur tidak beradab, barat paling maju dan timur paling terbelakang. Politik kebudayaan yang senantiasa menempatkan segala hal pada posisi oposisi biner. Wacana yang memang menjadi landasan dari politik imperialisme.
Pada zaman awal kemerdekaan, orang minahasa disebut sebagai antek-antek atau kaki tangan penjajah. Orang-orang yang makan roti belanda. Citra ini dibangun dengan landasan pemikiran bahwa selama masa penjajahan Belanda, orang minahasa menikmati status lebih dibandingkan bangsa-bangsa lain di masa itu. Hal ini dibuktikan dengan melihat banyaknya orang minahasa yang terpelajar dan kemudian menjadi pegawai di kantor-kantor milik pemerintah atau menjadi tentara. Kedudukan-kedudukan ini menempatkan orang minahasa secara ekonomi lebih mampu.
Pada era pemerintahan orde lama dan orde baru, orang minahasa juga mendapat status baru sebagai kaum pengkhianat. Ini terkait dengan peristiwa piagam Permesta yang telah mengakibatkan peperangan dan korban baik manusia maupun materi. Politik pencitraan dimasa ini sangat terkait dengan usaha sistematis untuk membatasi peran orang minahasa di bidang sipil dan militer.
Pertanyaan kemudian yang bisa dimunculkan adalah mengapa harus ada usaha-usaha pembunuhan karakter terhadap orang minahasa dan bagaimana sebenarnya perkembangan kaum muda maesa di setiap zaman ?
Menurutku, adanya usaha-usaha pembunuhan karakter ini justru sangat terkait dengan kehadiran kaum muda. Munculnya generasi baru di setiap zaman berarti munculnya motor penggerak perubahan dari sebuah zaman yang baru. Munculnya generasi baru sangat menentukan kemajuan dan masa depan Minahasa, untuk itulah maka generasi baru ini harus dibuat kehilangan jati dirinya. Kehilangan identitasnya. Kehilangan rasa percaya dirinya. Sebab generasi yang telah kehilangan rasa percaya dirinya akan senantiasa hidup dalam kebimbangan dan tidak bisa lagi menentukan sikap. Ia akan selalu ikut arus tidak perduli arus itu akan membawanya ke dalam jeram kehancuran.
Adapun perkembangan kaum muda maesa di setiap zaman adalah sebagai berikut:
Pada zaman colonial, kaum muda minahasa banyak yang menjadi guru dan sangat berperan dalam proses pendidikan di seluruh wilayah nusantara. Dalam perkembangan kemudian, kaum intelektual yang dengan sadar mengambil kelebihan dari pengetahuan barat ini menjadi pelopor ideologis maupun praktis bagi perjuangan melawan penjajahan colonial belanda. Kita bisa menyebut antara lain, Ward Kalengkongan, ahli budaya yang kemudian menjadi sahabat dekat dan guru ideology dari Douwes Dekker Tokoh Nasionalis pendiri Indische Partij yang menuntut Hindia diperintah oleh Orang Hindia – Indie voor de Indier. F.D.J Pangemanann, pengarang dan pelopor pers, J.H. Pangemanan, pelopor pers dan pendiri Rukun Minahasa di Semarang. Sam Ratulangi, pelopor pers, futurolog. Ketua indische vereniging (Perhimpunan Indonesia). Arnold Mononutu, wakil Perhimpunan Indonesia di Prancis.
Pada zaman kemerdekaan,kita bisa menyebut antara lain J.F Malonda, sastrawan dan filsuf, penulis buku Membuka Tudung Filsafat Purba Minahasa. Giroth Wuntu, penulis roman Perang Tondano, H.M Taulu, penulis sejarah Minahasa dan Kisah pingkan Matindas (Bintang Minahasa), Jappy Tambayong (Remi Silado) Seniman serba bisa
Pelopor puisi Mbeling. Benni Matindas, penulis karya filsafat setebal seribuan halaman berjudul Negara Sebenarnya. Harry Kawilarang, wartawan dan penulis buku tentang terorisme internasional.
Pada penghujung era Orde Baru juga muncul gerakan budaya melalui kegiatan sastra,teater dan musik melalui Teater Kronis Manado, KONTRA, dan Teater Ungu. Gerakan budaya ini kemudian bermuara pada apa yang sekarang dikenal sebagai Mawale Movement : Gerakan Membangun Tempat Tinggal. Gerakan yang bertolak dari penulisan karya sastra berbahasa Melayu-Manado dan juga bahasa minahasa, eksperimentasi teater dan musikalisasi puisi serta pembangunan basis dan jaringan kebudayaan di seluruh Sulawesi Utara lebih khusus lagi Minahasa, Minahasa Selatan Minahasa Utara, Tomohon dan Minahasa Tenggara.
Apa yang bisa dijadikan permenungan dari kisah kaum muda Minahasa dari zaman dahulu sampai zaman sekarang adalah semangat untuk senantiasa menuntut pengetahuan yang lebih maju dan sikap kritis serta semangat kepeloporan untuk melakukan perubahan. Si Tou Timou Tumou Tou.

Puisi Frisky Tandayu: "Pinabetengan Nyanda Mati".

Masa so berganti

Pinabetengan nyanda mati

Nyanda cuma ganti kuli

Pinabetengan harga mati

Cuma besar deng nasi milu

Pinabetengan nda pernah malu

Dunia so datang deng era baru

Pinabetengan nda ragu-ragu

Pulang kampung gantong capatu

For mo sambut tu hari baru

Pinabetengan musti maju

Nyanda Cuma baganti baju

Kalo datang bulan desember

Cuma bete dengan saguer

Dari pada Cuma for pamer

Nentau kote orang koruptor

Jangan ragu bangun tu kampung

Masi banya tana di gunung

Biar makang nda nasi gunung

Asal nyanda utang malendong

Pinabetengan tanah lahirku

Nyanda cuma sampe bakuku

Mari samua baku beking maju

Torang samua nda cuma batu

Esei Denni Pinontoan: "Melampaui Demokrasi".

Demokrasi sebagai Pengganti Monarkhi?
Praktek awal sistem demokrasi dalam usaha menata kehidupan bersama sebuah masyarakat terutama dalam kehidupan negara-kota telah dimulai di Yunani, kira-kira pada abad 6 SM. Kebanyakan kita sudah tahu bahwa kata demokrasi ini berasal dari dua kata Yunani, yaitu demos dan kratein. Demos berarti orang banyak dan kratein berarti memerintah. Dalam pengertian umum, demokrasi adalah sistem pemerintahan yang mengedepankan aspirasi orang banyak atau rakyat kebanyakan.

Namun, dalam dalam tampilannya yang modern, sistem pemerintahan demokrasi disebut-sebut sebagai kritik terhadap kekuasaan absolut monarkhi. Demokrasi yang kita kenal sekarang, sejatinya adalah produk dunia modern. Reformasi Luther di abad 16, antara lain telah melahirkan semangat kritik, kemajuan dan subjektifitas. Semangat inilah yang kemudian melahirkan beragam pendekatan keilmuan, antara lain rasionalisme, empirisme dan positivisme. Berikut berbagai ideologi, seperti kapitalisme, sosialisme, komunisme dan nasionalisme, adalah juga produk dari modernisasi dalam hal berpikir tersebut. Hasil dari modernisasi berpikir ini antara lain munculnya Revolusi Amerika 1775-1783, Revolusi Perancis pada tahun 1789 serta Revolusi Industri di Inggris.

Demokrasi yang dikampanye-kampanyekan dan digalak-galakan di Dunia Ketiga, seperti di Indonesia dewasa ini, pada dasanya adalah untuk melanjutkan idealisme pemikiran modern Eropa itu. Negara bangsa di Dunia Ketiga, pada proses kelahirannya kebanyakan terinspirasi dari ide-ide demokrasi yang berkembang sejak Revolusi Amerika, Perancis dan Industri Inggris tersebut. Oswaldo de Rivero dalam bukunya The Myth Of Development (2008), bahkan dengan tegas mengatakan, Revolusi Industri di Eropa dan Amerika itulah yang telah memberi sentuhan terakhir kepada bentuk Negara bangsa yang dikenal sekarang ini.

Gagasan-gagasan dasar demokrasi yang dihasilkan oleh pemikiran modern Barat itu berkisar pada kebebasan, keadilan, perdamaian, dan persamaan hak. Bandingkan dengan apa yang kemudian terkenal dari Revolusi Perancis itu: persaudaraan, persamaan dan kebebasan. Yang mendahului revolusi-revolusi itu adalah sejumlah pemikiran-pemikiran kritis di kalangan filsuf, seperti Thomas Hobbes, John Locke, Montesquieu, Rosseau dan lain sebagainya. Tapi, apakah benar, idealisme demokrasi itu benar-benar nyata dalam prakteknya?

Demokrasi dan Proyek Hegemoni Negara
Pada banyak hal, pemikiran-pemikiran yang rasionalistik sejumlah pemikir Eropa ini juga telah ikut membidani lahirnya Revolusi Industri yang ikut melembagakan kapitalisme di bidang ekonomi. Globalisasi di bidang ekonomi yang masih merupakan persoalan di sejumlah negara bangsa di Dunia Ketiga hingga dewasa ini, antara lain juga adalah warisan dari sistem ekonomi yang lahir di masa-masa menguatnya rasionalisme abad 18-19 itu. Bahkan, bisa kita duga bahwa sistem pemerintahan demokrasi sepertinya adalah cara yang sengaja untuk dikampanyekan dan digalakkan di Dunia Ketiga pada masa-masa kelahirannya di awal abad 20 adalah untuk memuluskan penguasaan di bidang ekonomi oleh Negara-negara Eropa dan Amerika khusunya hingga hari ini. Kapitalisme, rupanya menemukan ruangan yang nyaman untuk berkembang ketika begara-negara bangsa melakukan eksprimen untuk menerapkan sistem demokrasi. Mudah-mudahan logika saya ini tidak keliru.

Sebab, menariknya kekuasaan absolut negara yang disebut Hobbes dengan Leviathan, akhirnya kini berubah wajah dalam negara bangsa atas nama nasionalisme. Ketika suatu negara bangsa berhasil berdiri, dan mengalami euphoria yang luar biasa karena kebanggaan berhasil mengusir pihak penjajah asing dari tanahnya, maka demokrasi dipilih sebagai sistem alternatif untuk mengurus negara bangsa baru itu. Pemilu dilaksanakan, yang antara lain untuk memilih penguasa baru, di legislatife dan eksekutif khusunya. Kepala negara baru (presiden atau perdana menteri), yang dipilih berdasarkan suara terbanyak, diterima sebagai cara yang paling tepat untuk mengganti raja dalam sistem yang monarkhi. Dalam kampanye-kampanye, dan pewacanaanya, baik oleh negara maupun lembaga-lembaga ilmu pengetahuan, demokrasi akhirnya dibedakan secara radikal dengan sistem monarkhi apalagi teokrasi. Bahwa, dalam sebuah negara bangsa baru yang majemuk, mestinya pemimpin negaranya bukan karena berdasar pada geneologis, atau wangsit dari langit, tapi harus dipilih berdasarkan suara terbanyak dalam sebuah Pemilihan Umum (Pemilu) yang melibatkan rakyat. Itulah kehendak orang banyak orang yang terlembaga. Wakil-wakil rakyat juga harus dipilih oleh rakyat sebacara langsung, dan mereka yang mendapat suara terbanyaklah yang pantas menjadi media perjuangan aspirasi rakyat. Setidaknya begitu wacana-wacana demokrasi sampai hari ini.

Tapi, cerita berulang. Apa yang dipotret oleh Machiavelli di akhir abad 15 dan awal abad 16 tentang kejahatan politik seorang Cesare Borgia, dan apa yang menjadi ajaran Hobbes di Inggris pada abad ke 17 tentang kelahiran negara, yang pada dasarnya negara itu akhirnya menjadi lembaga hegemoni kebebasan individu, kini menjadi fenomena menyeramkan di negara-negara bangsa yang mempraktekkan sistem demokrasi modern. Leviathan tetap ada, dan menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat. Dalam negara bangsa, dia tak lagi seorang raja, melainkan negara.

Pemilu untuk Menghasilkan Tirani Mayoritas
Demokrasi, pada prakteknya, hanyalah bentuk lain dari sistem monarkhi. Bahwa, demokrasi bagaimanapun tetap mengandung kekuasaan. Dan, negara bangsa, yang telah memindahkan kekuasaan absolut itu dari diri seorang raja ke lembaga pemerintahan/rezim atau lebih tepatnya lembaga negara itu, pada akhirnya harus menggunakan kekuasaan untuk menundukkan kebebasan individu. Leviathannya Hobbes, ternyata tak berhasil dihancurkan oleh demokrasi. Ini terjadi, ketika rakyat hanya diposisikan dan ditempatkan sebagai individu-individu pemilih, bukan pengontrol atau yang ikut bersama-sama dalam proses pemerintahan. Rakyat, dengan segala taktik rezim yang terpilih berdasar suara terbanyak itu, selalu diusahakan untuk terasing dari proses bernegara/berpolitik.

Pemilihan Umum (Pemilu), yang dipercayai sebagai satu-satunya cara ideal untuk memilih pemimpin negara dan wakil-wakil rakyat, dalam sejarahnya hanyalah kemudian untuk mengesahkan penguasaan mayoritas (elit yang memegang kendali kekuasaan/kuat secara kuantitas politik) terhadap minoritas (rakyat yang terasing dari kekuasaan/lemah secara politik). Suara terbanyak sebagai penentu kemenangan dalam sebuah kompetisi dan suksesi dalam sistem demokrasi akhirnya rawan menciptakan penguasa yang lalim dan otoriter (tirani mayoritas). Sejumlah penguasa tiran di era negara bangsa, adalah produk dari Pemilu dalam sistem demokrasi, di mana rakyat diminta harus datang ke tempat-tempat pemungutan suara, apapun bentuk partisipasinya untuk memilih calon-calon penguasa. Karena itulah sehingga Golput dianggap rezim sebagai sikap yang tidak bertanggungjawab untuk pembangunan negara.

Menariknya, sampai saat ini, apa yang disebut Samuel Huntington partisipasi aktif sebagai yang ideal untuk sebuah demokratisasi, belum terbukti, atau memang keliru. Dan era ini yang lebih gila ternyata. Kalau dulu, menjadi raja tiran karena berdasar mitos pemilihan dewa/ilah, tapi di era demokrasi ini menjadi penguasa tiran justru karena dilegitimasi oleh rakyat melalui Pemilu, dan tampilannya seolah-olah logis dan rasionalistik.

Kampanye, seperti yang sedang ramai-ramainya di negara bangsa Indonesia sekarang ini, katanya sebagai sebagai salah satu tahapan Pemilu untuk mensosialisasikan visi, misi dan program-program partai politik. Sementara partai politik, pada kenyataannya adalah alat atau media negara untuk usaha penundukkan secara terselubung. Dan para caleg, adalah mereka-mereka yang dipersiapkan untuk menjadi pengkhotbah segala mitos kesejahteraan dari negara. Sebab, segala janji itu, akhirnya hanya akan menjadi mitos, dan barangkali tepatnya takhyul bagi rakyat. Partai politik atas nama demokrasi hanyalah candu bagi kebanyakan rakyat kita.

Bukit inspirasi Tomohon, 22 Maret 2009

Esei Andreas Harsono: "Jurnalisme Warga (Gereja)".

Seri Pendidikan Media, Komunikasi dan Kebudayaan
Yakoma PGI



HASUDUNGAN Sirait mudah dikenali dengan kumis baplang ala Joseph Stalin. Namun nada bicaranya lembut. Celananya, warna krem model pendaki gunung dengan banyak kantong. Kesannya, bergaya anak muda.

Suatu siang September lalu, saya menemui Sirait di kedai kopi Starbucks di Plasa Semanggi, sebuah mal Jakarta, untuk bicara soal kegiatannya dua tahun terakhir ini. Sirait beberapa kali membantu Yayasan Komunikasi Massa PGI (Yakoma PGI) melatih para pekerja media gereja. PGI singkatan dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Ia adalah organisasi payung 86 gereja-gereja Protestan di Indonesia sejak berdiri Mei 1950. Saya ingin tahu bagaimana Sirait memandang media komunitas gereja-gereja ini?

Dia memesan kopi. Saya mengambil teh hijau.

“Aku latar belakang HKBP,” katanya.

Huria Kristen Batak Protestan, atau HKBP, adalah gereja dengan sekitar 3 juta anggota. Ini menjadikan HKBP sebagai gereja terbesar, bukan saja di Indonesia, namun juga di Asia Tenggara. Mayoritas anggotanya, tentu saja, orang Batak. Pusatnya ada di Pearaja, sebuah desa di Kabupaten Tapanuli Utara.

Sirait menambahkan dia juga pernah memberi pelatihan berbagai media pesantren di Pulau Jawa. Institut Studi Arus Informasi, sebuah organisasi nirlaba Jakarta, pernah minta Sirait membantu pelatihan media pesantren. “Aku (dulu) lebih akrab dengan pesantren daripada gereja.”

Ketika Yakoma PGI minta dia ikut melatih media gereja, Sirait minta waktu untuk mempelajari beberapa penerbitan gereja. “Setelah Tobelo dan Batam, baru pemahaman aku lebih komprehensif,” katanya.

Tobelo, sebuah kota di Pulau Halmahera, didatangi Sirait ketika Yakoma PGI mengadakan lokakarya media gereja 24-28 April 2007. Dia juga bicara dalam acara pelatihan 25-29 Juni 2007, yang diadakan Gereja Batak Kristen Protestan, di Pulau Batam. Agustus lalu, Sirait ikut jadi instruktur semiloka “media rakyat” di Manado.

Saya mulai mengenal Hasudungan Sirait ketika rezim Presiden Soeharto membredel mingguan Detik, Editor dan Tempo pada Juni 1994. Kami sama-sama protes pembredelan tersebut. Kami juga sama-sama ikut menandatangani Deklarasi Sirnagalih, pada 7 Agustus 1994, guna mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sebuah serikat wartawan untuk melawan sensor media.

Waktu itu ada peraturan bahwa satu-satunya organisasi wartawan yang diakui pemerintah Indonesia adalah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ikut meneken Deklarasi Sirnagalih berarti melanggar hukum. Departemen Penerangan dan PWI minta polisi menindak anggota-anggota AJI. Ada empat kawan kami masuk penjara: Ahmad Taufik, Danang K. Wardoyo, Eko Maryadi dan Tri Agus Siswowiharjo. Sirait dipecat dari PWI. Dia juga kehilangan pekerjaan dari Bisnis Indonesia. Dia lantas bekerja untuk mingguan D&R selama tiga tahun, secara anonim. AJI baru bisa bergerak di atas tanah sesudah Presiden Soeharto mundur dari tahta pada Mei 1998. Empatbelas tahun berlalu, Sirait kini lebih sering jadi instruktur wartawan. Dia tinggal di Bogor, sudah menikah dengan dua anak, serta belakangan merintis majalah bulanan etnik Batak bernama Tatap.

Sirait seorang trainer yang baik. “Wartawan berkualitas,” kata Jufri Simorangkir dari Suara GKPI, bulanan milik Gereja Kristen Protestan Indonesia, yang berpusat di Pematang Siantar. Pendeta Simorangkir mengenal Sirait ketika ikut program di Batam.

Menurut Hasudungan Sirait, persoalan utama media gereja-gereja Protestan di Indonesia, baik di sebelah barat (Jawa dan Sumatera) maupun timur (Sulawesi, Sangir, Talaud, Halmahera, Ambon, Sumba dan sebagainya) adalah kekurangan perhatian dari para pemimpin sinode.

“Pengurus media pesantren hebat, sumber daya manusia berlapis-lapis, training lebih sering diadakan di kalangan pesantren. Yang bisa menyamai teman-teman Muslim hanya media Katholik,” kata Sirait.

“Kecenderungan sinode (gereja Protestan) gagah-gagahan bikin media.”

Namun alokasi biaya sedikit, tidak ada tim khusus, tidak ada guidance. “Kalau terbit ya sekali setahun atau dua kali.”

Isi media gereja-gereja Protestan, cenderung masih hanya khotbah, peletakan batu pertama atau seremoni gereja. Dari segi tata letak, umumnya tidak menarik. Kebanyakan media gereja sangat tergantung hanya pada kerajinan dan ketekunan pengurus media itu sendiri. “Kalau yang ngurus rajin, ya sering terbit, kalau tidak, ya ngacak.” Banyak pengelola media gereja mengharapkan ada kebijakan khusus dari gereja agar media dikelola sungguh-sungguh. Namun ketika pengurus media bikin terobosan sendiri, mereka sering diveto oleh sinode.

Saya menelepon Greenhill Weol di Tomohon untuk minta masukannya soal media gereja di Minahasa. Weol redaktur budaya radio Suara Minahasa. Tomohon adalah ibukota intelektual Minahasa. Markas besar Gereja Masehi Injili Minahasa, gereja terbesar di Pulau Sulawesi, juga terletak di Tomohon. Radio Suara Minahasa dikelola oleh Yayasan Suara Nurani pimpinan Bert A. Supit, seorang cendekiawan Minahasa, yang dulu juga mengurus GMIM. Weol mengatakan di Minahasa, GMIM juga punya beberapa penerbitan namun kadang-kadang terbit, kadang-kadang tidak. “Dana ada kalau ada proyek politik,” kata Weol. Maksudnya, bila ada politikus Minahasa lagi kampanye, dia bisa memberikan dana kepada penerbitan gereja. “Asal ada tiga atau lima fotonya dimuat,” kata Weol. Politisi Minahasa, tentu saja, suka berdekatan dengan GMIM mengingat gereja ini paling besar di Sulawesi Utara.

Pendeta Jufri Simorangkir cerita pada Februari 2006, dia ditunjuk sinode Gereja Kristen Protestan Indonesia menyunting Suara GKPI. “Dua tahun saya mengelola majalah ini sendirian. Saya yang mengetik. Saya yang ambil foto. Saya yang antar ke percetakan. Saya yang distribusi.” Tebal majalah antara 90 hingga 112 halaman.

Setiap bulan, Simorangkir mengambil hasil cetakan majalah di Medan. Dalam perjalanan pulang Medan-Pematang Siantar, biasa ditempuh tiga jam, Simorangkir dan seorang sopir mengantar 1,200 dari 3,000 Suara GKPI ke berbagai jemaat GKPI.

Menariknya, ketika ditunjuk untuk mengelola Suara GKPI, Simorangkir bahkan belum kenal komputer. “Modal kosong semua!” katanya. Dia harus belajar mengetik. Pelatihan Yakoma PGI, yang diikutinya di Batam, dinilainya sangat berguna. Dia belajar bahwa ruang redaksi dan usaha harus dipisah. Kini Suara GKPI sudah mendapat tambahan seorang karyawan. Simorangkir juga tidak menambah materi khotbah di Suara GKPI. Bahkan majalahnya kini sudah ada cerita pendek, humor dan banyak berita.

Simorangkir memuji majalah milik Gereja Batak Karo Protestan dan Gereja Kristen Protestan Simalungun. “Mereka sudah lebih terbuka. Iklan-iklan sudah masuk.”

Saya tanya Sirait, dari pengalamannya melatih media gereja, media mana saja yang tergolong baik?

“Yang paling baik GKJW Malang,” jawabnya.

“Rapi sekali mereka.”

Gereja Kristen Jawi Wetan, atau GKJW, adalah gereja Jawa timuran dengan pusat kota Malang. Mayoritas anggotanya, tentu saja, orang Jawa. Sinode gereja ini didirikan pada Desember 1931. Kini anggotanya sekitar 150,000 orang. Jumlah ini sangat kecil bila diingat Jawa Timur adalah basis Nahdlatul Ulama. Total populasi Provinsi Jawa Timur sekitar 34.5 juta dan sekitar 96 persen warga Muslim.

Sirait mengatakan ketika membaca Warta GKJW, dia merasa pengelola Warta GKJW terlihat upayanya serius melibatkan umat. Ada lembaran remaja, ada lembar orang tua, ada berita perkembangan di kitaran warga. Jufri Simorangkir juga setuju dengan kesimpulan Sirait. Simorangkir menyebut Warta GKJW mirip “majalah sekuler” … walau 80 persen isinya “soal rohani.”

Di kalangan HKBP sendiri, menurut Sirait, ada majalah Immanuel yang sudah berumur 120 tahun dan terbit dari Peuraja. Majalah bulanan ini terbit terus-menerus, tidak terganggu, dulu format kecil, kini format majalah. “Cuma isinya sabda pendeta semua.”

“Sayang!”

“Pengasuhnya pendeta semua.”

Saya mengalami kesulitan menghubungi Siman P. Hutahean, pendeta yang merangkap pemimpin redaksi Immanuel. Saya hubungi lebih dari 10 kali lewat telepon HKBP Peuraja, namun tak berhasil. Hutahean termasuk pendeta yang ikut acara Yakoma PGI di Batam.

Kalau format Immanuel tidak bisa ditawar, Sirait usul HKBP bikin outlet yang lebih interaktif, untuk remaja, anak-anak dan dewasa. Dunia media sudah berubah. Kini sudah ada televisi, internet, radio komunitas, blog, You Tube, Facebook dan macam-macam. Namun mayoritas media gereja masih bergulat dengan majalah. Media gereja kurang dalam banyak hal. “Cari duit nggak susah, cari orang yang susah. (Media) Katolik jauh lebih baik,” katanya.

Media gereja Protestan, juga kurang berkembang karena ada kekuatiran di kalangan sinode, media bisa jadi bumerang. “Takut disasar. Padahal tidak juga,” kata Sirait.

Dampaknya, ada kesenjangan informasi antara gereja dan umat. Umat sangat dinamis, dapat informasi dari mana-mana. “Itu tidak bisa diimbangi gereja. Paradigma gereja tidak berubah. Mereka cenderung menapis, semacam pakai kacamata kuda.”

Kalau informasi umum juga ada di media gereja, maka gereja bisa memberitahu soal, misalnya, mengapa harga-harga bahan pangan naik atau mengapa banyak korupsi. “Gereja nggak hanya isinya khotbah soal keselamatan,” kata Sirait.

Dia berpendapat media gereja seharusnya jadi media komunitas, “Dari kita, untuk kita. Bagaimana antara jemaat gereja bisa sharing pengalaman? Itu tidak mereka dapatkan dari Kompas atau Suara Pembaruan atau Suara Merdeka.”

Pukul dua siang, Hasudungan Sirait bilang mau pulang agar bisa tepat waktu untuk “memandikan anak.” Saya tersenyum. Si kumis baplang ini bahagia sekali bisa memandikan anak-anaknya setiap sore. Kami meninggalkan Plasa Semanggi.



PADA awal Juli 2008, selama empat hari saya jadi trainer dalam sebuah pelatihan situs web Panyingkul.com di Makassar. Kata "panyingkul" dalam bahasa Makassar artinya persikuan atau pertigaan. Panyingkul sebuah media nirlaba, yang mengusung citizen journalism atau "jurnalisme orang biasa."

Pesertanya ada 11 orang. Pelatihan diadakan di Biblioholic, sebuah perpustakaan publik, di Jl. Perintis Kemerdekaan Km 9. Perpustakaan ini terletak dalam sebuah rumah besar yang disewa oleh Matsui Kazuhisa, seorang konsultan Japan International Cooperation Agency. Matsui meminjamkan ruang tamu serta lantai dua rumah ini untuk kegiatan anak-anak muda. Siang malam, selalu ada anak muda berkumpul.

Panyingkul.com menyebut para wartawannya sebagai "citizen reporter." Sengaja dalam bahasa Inggris, sesuai terminologi aslinya dari Oh My News, sebuah situs web dari Korea Selatan, agar tak timbul salah paham. Lily Yulianti, redaktur Panyingkul, mengatakan rekan-rekannya dari Oh My News International di Norwegia, Israel maupun Brazil, juga tak menterjemahkan "citizen reporter" ke bahasa masing-masing. Mereka tetap pakai istilah “citizen reporter.” Lily kini bekerja sebagai wartawan radio NHK di Tokyo. Dia dulu juga pernah bekerja untuk harian Kompas dari Makassar.

Panyingkul adalah sebuah fenomena penting dalam jurnalisme di Makassar. Tujuan mereka melawan dominasi media mainstream yang meletakkan loyalitas terhadap warga lebih rendah daripada loyalitas kepada pemilik media, penguasa maupun pemasang iklan. Lily rajin melancarkan kritik terhadap media Makassar macam harian Fajar maupun Tribun Timur.

Selama empat hari, kami belajar dengan macam-macam contoh. Saya mengajak peserta diskusi soal-soal dasar dalam jurnalisme. Bagaimana bikin wawancara? Bagaimana merekam dan menulis deskripsi? Bagaimana menggunakan monolog dan dialog? Kami juga membaca beberapa naskah, termasuk "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" karya Alfian Hamzah, maupun "Hiroshima" karya John Hersey. Kami juga menonton dokumentasi pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Para peserta punya background macam-macam. Ada arkeolog, ada pelaut, ada peneliti. Beberapa mahasiswa juga ikutan. Ketika memeriksa pekerjaan rumah mereka, saya senang melihat kecepatan mereka menangkap materi latihan.

Saya bertanya-tanya mengapa media gereja tak mencoba mengarah pada citizen journalism macam Panyingkul.com?

Panyingkul.com maupun Warta GKJW sama-sama merupakan media komunitas. Satu melayani komunitas Makassar. Satunya melayani komunitas gereja Jawa Timur. Mereka dipersatukan oleh semangat melayani warga masing-masing lewat jurnalisme.

Singkat kata, kebanyakan media, dari Immanuel hingga Suara Pembaruan, dari BBC World Service hingga Al Jazeera, melayani komunitas sesuai khayalan mereka masing-masing. Internet membuat batas khayalan menjadi lebih terbuka. Internet membuat semua orang, yang mengerti bahasa media terkait, secara teoritis bisa membaca apa isi media tersebut. Media gereja teoritis bisa mengembangkan diri lewat citizen journalism dengan melibatkan warga-warga gereja ikut mengisi media mereka.

Namun Pendeta Jufri Simorangkir memberi tanggapan. “Kelemahan majalah gereja adalah dia jadi corong pimpinan.”

Saya kira pernyataan Simorangkir, maupun kritik Sirait, mengingatkan saya bahwa media gereja kebanyakan belum menjalankan jurnalisme. Ia lebih tepat dikategorikan sebagai public relation atau propaganda. Boro-boro bicara soal citizen journalism. Jurnalisme biasa pun belum berjalan.

Propaganda adalah suatu peliputan serta penyajian informasi dimana fakta-fakta disajikan, termasuk ditekan dan diperkuat pada bagian tertentu, agar selaras dengan kepentingan kekuasaan, yang menguasai media komunikasi tersebut. Jarak propaganda dan jurnalisme bisa lebar, tapi juga bisa sangat tipis.

Jurnalisme adalah bagian dari komunikasi. Namun tak semua bentuk komunikasi adalah jurnalisme. Menyamakan propaganda dengan jurnalisme, atau menyamakan pengabaran injil dengan jurnalisme, saya kira akan menciptakan kebingungan yang serius, dengan daya rusak besar. Saya kira masalah ini perlu didiskusikan dengan jernih di kalangan gereja-gereja Protestan.

Media gereja seharusnya bekerja berdasar prinsip-prinsip jurnalisme umum. Bukan berdasarkan pada theologi Kristen. Bukan berdasar pula pada pendekatan gothak-gathok “jurnalisme Kristiani.” Saya harus menyebut isu ini karena belakangan ada saja orang yang mencoba menawarkan apa yang disebut sebagai “jurnalisme Islami.” Jargon-jargon ini akan menciptakan kekaburan. Kalau jurnalisme dikaitkan dengan pemahaman lain, entah itu fasisme, komunisme, kapitalisme atau agama apapun, definisi yang lebih tepat, saya kira, adalah propaganda.

Media gereja seyogyanya dipikirkan lebih luas untuk kepentingan umat. Ia lebih baik diletakkan secara independen dari struktur sinode. Para redakturnya tidak ikut duduk dalam kepengurusan sinode.

Namun saya juga sadar bahwa tidak semua orang, termasuk pengelola media gereja, bisa punya pemahaman yang serius terhadap suatu isu, apalagi banyak isu. Ini juga terjadi dalam dunia wartawan mainstream. Namun inilah tantangan rutin bagi setiap wartawan, profesional maupun amatir, dalam memahami suatu isu dan menuliskannya. Para pemimpin sinode sudah selayaknya mulai belajar memahami jurnalisme dan mengubah cara pandang mereka terhadap media gereja. Propaganda sebaiknya diubah jadi jurnalisme.

Lantas apakah jurnalisme itu?

Pada April 2001, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dua wartawan Washington D.C., menerbitkan buku The Elements of Journalism. Mereka menyajikan sembilan elemen jurnalisme sesudah bikin diskusi dan wawancara dengan 1.200 wartawan selama tiga tahun. Buku itu segera dianggap sebagai referensi penting para wartawan. Ia diterjemahkan ke puluhan bahasa lain, termasuk Bahasa Indonesia, dan dijadikan pegangan banyak ruang redaksi. Di Jakarta, ia dipakai oleh Kompas, The Jakarta Post, Tempo, Republika, Jawa Pos dan sebagainya. Pada 2007, Kovach dan Rosenstiel menerbitkan edisi revisi dimana mereka menambahkan elemen kesepuluh khusus soal hak dan tanggungjawab warga.

Saya kira sepuluh elemen ini menerangkan dengan jernih apa jurnalisme itu.

• Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran;
• Loyalitas utama jurnalisme kepada warga;
• Esensi jurnalisme adalah verifikasi;
• Para praktisi jurnalisme harus menjaga independensi mereka dari sumber-sumber mereka;
• Jurnalisme harus berlaku sebagia pemantau kekuasaan;
• Jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga;
• Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting jadi menarik dan relevan;
• Jurnalisme harus menjaga agar berita menjadi komprehensif dan proporsional;
• Para praktisinya harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka;
• Warga punya hak dan kewajiban dalam jurnalisme.

Elemen kesepuluh muncul karena apa yang disebut Lily Yulianti sebagai citizen journalism. Intinya, warga punya hak dan kewajiban ikut berpartisipasi dalam mencari, melaporkan, menganalisis dan menyebarluaskan informasi. Elemen kesepuluh muncul, tentu saja, disebabkan oleh teknologi internet: blog, kamera telepon, You Tube, Facebook dan sebagainya. Ia membuat warga bisa berperan secara lebih luas dalam jurnalisme. Panyingkul.com membuktikan bahwa warga biasa, kebanyakan non-wartawan, bisa mengelola situs web, yang hendak menandingi media mainstream di Makassar.

Saya kira media gereja sulit menghindar dari trend ini. Cepat atau lambat, bila gereja mau tetap relevan, mereka harus membuka pintu terhadap “citizen reporter.” Blog akan jadi ujung tombak perubahan. Saya mulai memperhatikan banyak sekali anak-anak muda Kristen bicara soal Tuhan lewat blog. Media gereja bisa berkembang dengan melakukan kolaborasi lewat blogger.

Priambodo RH dari Lembaga Pers Dr. Soetomo mengatakan Agustus lalu ada sekitar 650 ribu blog di Indonesia. Jumlahnya akan meningkat seiring meningkatnya penggunaan internet. “Perkembangan jurnalisme warga saat ini baru seumur kepompong, belum menjadi kupu-kupu. Karena itu untuk melahirkan jurnalisme warga yang indah dibutuhkan pembelajaran.”

Namun banyak wartawan ragu apakah orang yang kurang terlatih dalam jurnalisme bisa menulis berita secara bertanggungjawab? Ada yang menyebut kehadiran internet menciptakan “tsunami informasi.” Isinya, kebanyakan copy-paste dan sampah. Kekuatiran ini bukan tanpa dasar. Mei lalu, Roy Thaniago, seorang mahasiswa Jakarta, menulis berita dalam blog miliknya http://thaniago.blogspot.com/ “Pastor Kemalingan, Karyawan Paroki Dipukul Polisi.”

Thaniago mempertanyakan mengapa seorang karyawan Paroki Bunda Hati Kudus, dicurigai dan dilaporkan ke polisi oleh satu pemuka gereja gara-gara pastor kehilangan uang tunai Rp 15 juta dan dua kamera. Dia menulis tanpa melakukan verifikasi pada pastor maupun si pemuka gereja. Dia sempat bikin repot gereja. Cukup ramailah!

Citizen journalism bukannya tanpa masalah. Priambodo membuat 10 panduan bagi “citizen reporter.” Mereka tidak boleh melakukan plagiat; harus cek dan ricek fakta; jangan menggunakan sumber anonim; perhatikan dan peduli hukum; utarakan rahasia secara hati-hati; hati-hati dengan opini narasumber; pelajari batas daya ingatan orang; hindari konflik kepentingan; dilarang lakukan pelecehan; serta pertimbangkan setiap pendapat.

Saya percaya makin bermutu jurnalisme dalam suatu komunitas, maka makin bermutu pula informasi dalam komunitas itu. Maka makin bermutu pula komunitas tersebut. Saya juga percaya senantiasa ada orang macam Hasudungan Sirait, yang tulus membantu para “citizen reporter” maupun media gereja untuk belajar jurnalisme dengan teratur.

“Benar sekali kritik Pak Hasudungan itu. Kalau GKPI punya orang macam Pak Hasudungan Sirait, pasti kami pakai orang berkualitas itu,” kata pendeta Simorangkir.



Red:
Andreas Harsono wartawan, pernah bekerja untuk harian The Nation (Bangkok), Associated Press Television (Hong Kong), The Star (Kuala Lumpur) dan Yayasan Pantau (Jakarta). Ia mendapatkan Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard 1999-2000. Kini sedang menulis buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.

Naskah Teater Andre GB: "Tentang Penantian".

DAFTAR PEMERAN:
1.Sosok I (laki-laki/mayat)
2.Sosok II (perempuan/mayat)
3.Sosok III (laki-laki/penarik tandu)
4.Sosok IV (perempuan/wajah duka)
5.Sosok V (laki-laki/penari 1)
6.Sosok VI (perempuan/penari 2)

Terdengar musik mengalun. Sedang di tengah panggung terdapat dua buah bangku dari kayu panjang yang tanpa sandaran punggung dan sandaran tangan diletakkan sejajar. Posisi dua buah bangku tersebut adalah vertikal. Memanjang memotong panggung. Terdapat jarak sekitar dua depa laki-laki dewasa diantara kedua bangku tersebut. Dan sebuah loyang hitam (bisa terbuat dari plastik atau kaleng) berada sebagai pemisah kedua bangku kayu tersebut. Dalam loyang tersebut, ada berbagai jenis tangkai bunga yang semuanya terbuat dari plastik. Sangat banyak hingga menggunung didalam loyang tersebut. Sedang di kedua sisi bangku kayu tersebut ada dua buah gundukan tak dikenali yang diselimuti oleh kain hitam seutuhnya. Lalu di sisi luar yang semakin mengarah ke pinggiran sayap panggung, terdapat tungku kecil yang mengepulkan asap berbau kemenyan. Asap putih namun pekat. Sedang di sekeliling semua itu, ada nyala lilin yang melingkari. Tak kalah menyengat bau pewangi mayat yang ikut meramaian kelam.
Di atas kedua bangku kayu tadi, masing-masing terbaring sosok tubuh. Di bangku sebelah kanan (arah kiri penonton) terdapat tubuh perempuan berjubah destar terusan bermotif bunga. Warna-warninya begitu semarak. Kepalanya berada di depan panggung, sedang kepala sosok tubuh yang disebelahnya berada dalam posisi yang berlawanan meski kedua tubuh sosok itu sama-sama memandang keatas. Sedang diatas bangku kayu yang terletak disebelahnya, terdapat tubuh seorang lelaki. Telanjang dada. Sedang celana panjang yang selimuti kakinya berwarna hitam tanpa motif. Menelan pekat busana sosok disebelahnya. Tangan kedua tubuh ini terjalin dan menyatu di atas dada. Menuju ketenangan abadi. Sedang dari atas panggung tampak berjatuhan serpihan kelopak kembang kamboja berwarna putih. Jumlahnya seperti salju.
Salju kelopak kamboja berhenti ketika muncul sosok lain dari sayap kiri panggung.

Sosok III: (Dari arah sisi kiri panggung muncul dengan wajah tertunduk dengan langkah pelan dan berat, menarik sebuah tandu yang terbuat dari kayu dan dianyam dengan rotan hutan. Di atas tandu tersebut terdapat sebuah sarang burung yang terbuat dari ilalang liar, tiga buah nisan beton belum bertulis nama, dan sebilah parang panjang berlumur darah hingga mengeluarkan bau amis. Ada juga beberapa daun kering berukuran besar diatasnya. Menjadi alas dari bangkai ayam jantan yang juga termuat di atas tandu tersebut. Rambutnya yang basah terurai kebawah sedikit menutupi wajahnya.)
(Berjalan terus hingga ke tengah panggung. Tepat membelakangi loyang dan menghadapi sebatang lilin tunggal. Tandu terlepas dari genggaman hingga menghempas tanah. Wajahnya kini diangkat tegak. Terlihat jelas duka dan amarah berpeluk jadi satu. Beberapa saat mengelilingi lilin tersebut lalu kemudian jatuh tersungkur. Tangis yang tertahan terdengar darinya.)
(Mengambil salah satu nisan tak bernama tersebut lalu dengan meski terlihat kasar mengacungkannya ke langit dengan kedua tangannya. Di sertai raungan parau pedih)
Ini adalah sisa dari mezbah nazarku. Janji dan rindu yang dianyam oleh luka menjadi satu. (Nisan secara perlahan mulai diturunkan, kemudian dengan tangan sebelah kiri di sangga berdiri). Ini adalah kelana sukmaku menembus batas sepi. Pelangi yang gagal kulukis di atas bebatuan, cermin yang retak ketika salju senja dan menua, purnama yang yang kutitipkan namun hilang dicium sajak-sajak amis.
Ini adalah kenajisan Tuhan yang bersemayam di pucuk air yang kemarin dikirim kebumi. Tentang tandusnya senyum yang kusalib di sudut-sudut rindu. (Meraung).
(Suara meninggi). Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh. Akan kucincang waktu yang telah meleraiku darimu. Kan kusembelih leher malam yang beri padaku tangis. (Mengambil lilin lalu mengacungkannya keatas). Dalam kesemuan abadi, ditepian remah-remah gelap, kukirimkan doa untukmu. Doa dalam sebentuk daging yang kuiris dari kusut bilik jantungku. Masih merah dan segar, setawar getir yang kini sedang kukunyah. (Menikamkan lilin keperut).
Sosok IV: (Muncul dari sisi kanan panggung. Rambutnya terurai dan menyembunyikan wajahnya yang luka dan duka. Destar terusan putih yang dia gunakan memeluk tubuhnya yang berjalan gontai dan lemah).
Pabila memang Tuhan mau kabulkan pintaku, aku hanya memohon agar waktulah yang mati. Lalu kenapa selalu janji yang harus teringkari? Aku bukan pendendam sepi yang ingin tidur lelap dicambukan bisu. Aku sekedar raga raga sederhana yang percaya pada airmata pasir yang mengendap dilangit, kemudian bersua lagi ketika dewasa. Aku adalah racikan kopi polos dalam lipatan gula. Lagipula daun-daun yang mekar dimusim gugur tak pernah sombongkan diri. (Memeluk tubuh sosok III).
Aku berikan sumpahku padamu, juga pada Tuhanku. Disetiap sujudku, cintamu adalah syahadat bagiku, tanpa kerumitan bahasa. Apakah kau masih ingat ketika kunyalakan korek lalu dengan getir yang terlahir senyum, kudapati sendiri pekat nikotin itu menyetubuhimu. Dan aku jelas cemburu. Sebab kau telah kutebus dari Tuhanmu bahkan dari Tuhanku sekalipun. Kau telah jadi milikku. Biar jadi embun yang menanti surya, meski lupa akan karib kita. Tak mengapa. Bukankah itu juga cinta?
(Berjalan didepan sosok III). Lalu kenapa keabadian ini yang kau pilih? Kenapa bukan tebing yang kau daki? Kenapa bukan arus yang kau perangi? Kau dan aku sama-sama tak kenal siapa itu waktu. Bukankah untukmu telah kubunuh gemerlap masa lalu? Namun, jika ini pilihan, maka jalanmu adalah sunah bagiku. (Mengambil posisi duduk di samping kiri sosok III/sebelah kanan penonton, mengambil botol kecil dari balik kantong bajunya lalu meminumnya).
Kuharap surga kita sama hingga esok pagi bisa kutemukan senyummu untukku. (Mati)

Musik mengalun, dan perlahan dua gundukan yang tertutupi oleh lembaran kain hitam yang berada di samping kedua bangku tampak bergerak. Ternyata ada dua manusia dibalik itu. Seorang laki-laki (Sosok V) dan seorang lagi perempuan (Sosok VI). Laki-laki yang muncul belakangan berada disamping tubuh perempuan yang berada diatas bangku tersebut, sedang perempuan yang muncul belakangan berada disamping tubuh tubuh laki-laki yang terbaring diatas bangku kayu tersebut. Gerakan mereka sangat pelan. Mendekati kedua bangku yang berada disamping mereka. Dari ujung kaki, sampai keujung kepala mereka gerayangi kedua tubuh yang tergeletak di atas bangku tersebut. Masing-masing sendiri. Tenggelam dalam kebisuan gerak yang mereka tarikan. Setelah itu, kedua sosok (Sosok V dan VI) yang muncul belakangan melangkahi kedua kepala masing-masing tubuh yang terbaring diatas bangku tersebut. Lalu bergerak mendekati loyang yang terletak ditengah-tengah pembaringan kedua tubuh tadi. Membongkar gundukan bunga plastik yang ada didalamnya. Mencari sesuatu. Hingga tangkai-tangkai bunga plastik tersebut berhamburan keudara. Setelah tangkai-tangkai bunga didalam loyang tersebut habis dan benda yang mereka cari tak ditemukan, keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Berusaha untuk saling mengenal. Kemudian saling mendekat dan saling menggerayangi.

Sosok VI: Jika memang ini adalah mata yang bekukan hati, kenapa tak kulihat ada namaku terpahat didalamnya?
Sosok V: Dalam pandangku, hanya ada sebentuk rindu dalam sepotong puisi bagi satu cinta saja. Apakah kau bait sajak berikut tuk lengkapi goresan rindu ini?
Sosok VI: Aku adalah kepingan senja bagi harimu, tapi kenapa tak ada tangan angin yang memeluk dan berikan aku kebenaran yang tak kutemukan dari rahim yang melahirkanku?
Sosok V: Nestapaku kini tlah kuceraikan jika memang jumpa ini adalah ikrarku yang terbayarkan. Lalu untuk apa mengundang angin? Biarkanlah angin pergi berlalu seperti masa laluku yang kubunuh dijurang ingat.
Sosok VI: Bumi adalah senyum dalam musim, angin adalah nafas untuk pelangi.
Sosok V: Adalah percuma menangisi musim, nanti juga ia kan berpulang. Sedang pelangi, usahlah kau kejar, sebab jatuhnya selalu kan kebumi meski tanpa kehadiran angin sekalipun.
Sosok VI: Pelangi adalah titian hati menjemput mimpi. Jalan menuju sudut sepi agar kita mencumbui sunyi setibanya disana, dalam genggaman. Apakah kau si pemilik tangan itu?
Sosok V: Cinta hanya sekedar rasa. Sebuah ingin memiliki sampai mati. Genggaman tak pernah abadi, ciuman tak selalu hangat ketika dingin. Janji hanya upaya agar jantung tak membeku di musim panas.
Sosok VI: Lalu apakah jantungmu pernah membeku karena teriris waktu? Dapatkah aku melihat bekas guratan itu?
Sosok V: Itu tinggal kenangan demi gadisku karena tlah kusalibkan masa lalu.
Sosok VI: Aku adalah tubuh yang mencintai ingatan.
Sosok V: Aku juga bukan pemuja lupa.
Sosok VI: Apa kau adalah mentari dalam layu gemerlap malam? Apa kau si pencari embun yang menantiku sejak gelap?
Sosok V: Aku adalah malam yang mencari tetes resapan kemarin.
Sosok VI: Maka kau bukanlah dia, dan ini bukanlah surga yang kau tuju. Karena ini adalah taman penantianku terhadap nazar cinta.
Sosok V: Aku adalah kelana menembus sepi dan kau bukanlah purnama itu. Tapi aku yakin inilah adalah surgaku karena disinilah ku bangun candi janjiku pada kasihku, sang bulan yang tak mampu menyanyi.
Sosok V & VI: Kita bukanlah takdir yang dirajut agar bersama. Kita adalah temu yang terlarang. (Bergerak saling menjauh, kemudian kembali mengerayangi kedua tubuh yang terbaring diatas bangku kayu).
Sosok VI: Mungkinkah kau si empunya pandang yang didalamnya tertulis namaku? Cintamu yang kini menyusulmu dalam kejaran waktu?
Sosok V: Apakah kau si empunya nama yang tersimpan dalam lihatku? Cintamu yang kini menyusulmu dalam kejaran waktu?
Bersamaan dengan itu, kedua tubuh (Sosok I dan Sosok II) yang terbaring diatas bangku bangkit perlahan. Kemudian menggeleng.
Sosok I: Kembara ini baru kumulai. Dan entah dimana akan berakhir.
Sosok II: Meski waktu akan tua dan layu bersamaku, hati ini takkan lelah terus menunggu kedatanganmu.
Sosok I dan sosok II kemudian kembali lagi berbaring diatas panggung (lampu padam).

Puisi Charlie Samola: "INTROSPEKSI MOMAKE ORANG SULUT"

Ada yang bilang “Babi !”

Lantaran Babi sadap kalu so jadi Babi Putar



Ada yang bilang “Anjing !’

Lantaran Anjing sadap kalu so beking jadi RW



Ada yang bilang “Cuki !”

Lantaran samua orang suka Baku Cuki



Ada yang bilang “Pendo !”

Lantaran Parampuang biasa suka terima Pendo



Ada yang bilang “Lubang Puki !”

Lantaran Laki-laki suka skali bage tu Lubang Puki



Kalu ada yang bilang “Cuki Mai !”,”Kuda Cuki !”deng “Pemai !”

Lantaran apa kang ? mo kase alasan apa ?

Puisi Chandra Dengah Rooroh: "I Will Not Sell My Minahasa".

I will not sell Minahasa
with kawasaran, maengket, watu pinawetengan..

I will not sell Minahasa
with religion, politics, lands and prides...

I will not sell Minahasa
with Keke, tuama, pakakaan, paadean...

I will not sell minahasa
with everything comes from Minahasa...

why...
because I will keep Minahasa
with kawasaran, maengket, watu pinawetengan..

I will keep Minahasa
with tumatenden, waruga, tumotowa

I will keep minahasa
with religion, pakampetan, pasaruan, pasuwengan...

I will keep Minahasa
with waraney, Tounaas, walian, Ukung...

why...
because I'm Minahasa...
I'm MINAHASA!!!

and Minahasa is Victory...
if you are Minahasa, you are free..

I JAJAT U SANTI!!!

Esei Denni Pinontoan: "Neoliberalisme dan Gerakan Kultural Tou Minahasa"

Wajah Lain Kolonialisme dan Imprealisme dalam Neoliberalisme

Awal dari kolonialisme Bangsa Barat (Spanyol, Portugis, dan menyusul Inggris serta Belanda) terjadi sekitar akhir abad 15, yaitu antara lain ditandai dengan ditemukannya benua Amerika oleh Colombus. Kolonialisme kemudian semakin gencar dilakukan bangsa Barat kira-kira mulai awal abad 16. Sejak itu perlahan tapi pasti dunia mulai berporos pada satu peradaban, yaitu Bunia Barat. Sementara Dunia Timur dianggap kafir, bodoh dan terkebelakang. Padahal, di dunia Timur ini jauh sebelum kelahiran peradaban Barat itu, telah lebih dulu lahir beragam kebudayaan dan agama, misalnya Hindu dan Budha di India dan Tao dan Kong Hu Cu di Cina. Kelahiran agama-agama itu sekaligus juga menandai adanya peradaban maju di Dunia Timur sejak berapa abad SM. Di Dunia Timur inilah terdapat beragam sumber daya alam yang kemudian diincar oleh bangsa Barat.

Kolonialisme dan Imprealisme Bangsa Barat kepada Bangsa Timur berjalan bersamaan dengan Misi Kristen (lihat David J. Bosch, Tranformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah. Jakarta: BPK, 1999, hlm. 353-357). Pemahaman teologis gereja Barat, bahwa agama Kristen sebagai satu-satunya wadah keselamatan dunia seolah-olah melegitimasi bangsa Barat untuk menjajah dan mengeksploitasi Bangsa Timur sampai kira-kira pertengahan abad 20. Penjajahan oleh Bangsa Barat ini kemudian berjalan bersamaan dengan kapitalisme, yang antara lain dimungkinkan dengan menguatnya rasionalisme, dan pola pikir subjek-objek di abad Pencerahan. Bangsa Timur akhirnya menjadi objek selama berabad-abad untuk dieksploitasi tenaga manusia dan sumber daya alamnya. Selama ini, misi Kristen terus menjadi semangat bagi usaha penaklukan itu. Soal korelasi antara pemahaman teologis Kristen, khusus aliran teologi Calvin telah dikaji oleh Max Weber dalam bukunya Die protestantische Ethik und der 'Geist' des Kapitalismus. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Etika Kristen Protestan dan Kapitalisme yang diterjemahan dari terjemahan bahasa Inggris The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Weber menulis bahwa kapitalisme berevolusi ketika etika Protestan (terutama Calvinis) mempengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler, mengembangkan perusahaan mereka sendiri dan turut beserta dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan untuk investasi. Dalam kata lain, etika Protestan adalah sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi masal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme. Pemikiran ini juga dikenal sebagai "Thesis Weber".

Soal kaitan misi Kristen di beberapa abad lampau itu dengan kolonialisme dan imprealisme Bosch berkata: “Dengan datangnya puncak era imprealisme, setelah 1880, tidak dapat lagi keraguan mengenai persekongkolan lembaga-lembaga misi dan usaha kolonial. Kesejajaran antara perkembangan-perkembangan puncal imprealisme dan puncak misi menjadi semakin jelas tampak (Bosch: 1999, 473).

Berabad-abad dalam suasana terjajah, ternyata telah melahirkan semangat bagi bangsa-bangsa jajahan di dunia Timur untuk memerdekakan diri. Sampai di jelang pertengahan abad 20, sejumlah negara jajahan di Asia, misalnya Indonesia, berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme dan imprealisme Barat. Sejumlah nation state kemudian lahir di Asia. Bahkan R.A.D Siwu juga menjelaskan bahwa sejak itu negara-negara bangsa baru bekas jajahan itu kemudian giat melakukan pembangunan yang antara lain dengan cara modernisasi dan industrialisasi (Siwu dalam Exouds No. 16, Tahun XII, 2005. Tomohon: Fakultas Teologi UKIT, 2005, hlm. 34). Tapi itu ternyata belum akhir cerita penaklukan Barat terhadap sebagian bangsa yang baru lahir di Asia.

Kolonialisme dan imprealisme kemudian tampil dalam wajah lain, yaitu kapitalisme dan neoliberalisme. Dari sekian masalah di negara bekas jajahan di Asia, yang masih ada hingga sekarang adalah kemiskinan. Ini menjadi sangat kontras dengan sumber daya alam melimpah yang dimiliki oleh sebagian besar bangsa bekas jajahan itu. Meski berkorelasi langsung dengan masalah jumlah penduduk yang tinggi, serta urbanisasi, tapi kapitalisme dan neoliberalisme yang antara lain dimungkinkan oleh globalisasi yang digalakkan oleh Amerika juga harus dipertimbangkan sebagai faktor penting penyebab persoalan tersebut. Mansour Fakih (dalam Jurnal Wacana, Yogyakarta: Insist, 2000) sangat fasih mengulas “monster” kapitalisme dan neoliberalisme sebagai faktor penting penyebab sejumlah persoalan di masyarakat Dunia Ketiga.

Fakih menjelaskan, globalisasi sebagai pengganti pembangunan yang bercorak kapitalis (yang telah gagal itu), ditandai lewat mendunianya sistem pasar, investasi dan produksi perusahaan-perusahaan transnasional (TNCs). Ketiga aktor utama globalisasi menurut Fakih adalah World Trade Organization (WTO) atau organisasi perdagangan global, IMF (International Monetary Fund) atau Dana Moneter Internasional, dan World Bank atau Bank Dunia. Dua lembaga keuangan terakhir tersebut adalah lembaga-lembaga pemberi utang di Dunia Ketiga, yang sangat dipengaruhi oleh Amerika.

Mengenai istilah Dunia Ketiga ini, mengutip Peter Worsley, Noer Fauzi, dalam bukunya Memahami Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga (Yogyakarta: Insist, 2005), menjelaskan: “Istilah ‘Dunia Ketiga’ pertama kali diperkenalkan pada Agustus 1952 oleh Alfred Sauvy, seorang ahli demografi Perancsi untuk menggambarkan negara bangsa yang baru bermunculan di akhir Perang Dunia ke-2 terutama Asia dan Afrika. Istilah “Dunia Ketiga” kian popular setelah konsolidasi Negara-negara anti kolonialisme dan Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, yang kemudian dalam golongan ini kemudian masuk pula Negara-negara Amerika Latin.

Soal istilah kapitalisme, Samir Amin (dalam Jurnal Wacana, Yogyakarta: Insist, 2000) mengatakan: “Revolusi Industri, 1800-1920 merupakan tahap panjang pertama kapitalisme, sekaligus merupakan periode mekanisasi industri. Mengenai istilah “Neoliberalisme” oleh sejumlah pakar mengkaitkannya dengan fenomena kebangkitan kembali liberalisme lama di masa yang baru. Menurut Fakih, “Para penganut faham ekonomi neo-liberal percaya bahwa pertumbuhan ekonomi dicapai sebagai hasil wajar dari adanya ‘persaiangan bebas’.” Sementara Globalisasi dalam bidang ekonomi di abad 21 lebih dipahami sebagai proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara.

Pentingnya Gerakan Rakyat Berbasis Kultural Bagi Tou Minahasa

Pegelaran kuasa-kuasa Neoliberalisme yang tampak dalam sejumlah perubahan pengaturan politik dan ekonomi global telah memberikan dampak bagi Indonesia. Indonesia bahkan menjadi negara yang mempraktekan sistem kapitalisme atau menjadi kaki tangan dari negara-negara kapitalis. Henk Schulte Nordhot dan Gerry van Klinken dalam buku yang disunting mereka, Politik Lokal di Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: KITLV, 2007) mengulas pengaruh kapitalisme dan neoliberalisme bagi tata politik dan ekonomi Indonesia. Nordhot dan Klinken dalam buku itu bahkan mengatakan, kondisi ini membuka ruang yang lebar untuk terjadinya korupsi. Selama 30 tahun rezim Orde Baru berkuasa, 30 % dari bantuan asing yang mencapai 30 miliar dolar AS dikorupsi oleh penguasa dan kroni-kroninya.

Selama berkuasa, rezim Orde Baru yang tunduk pada pola dan sistem neoliberalisme secara sistematis melakukan upaya penyeragaman kultur, pemusatan kekuasaan, dan eksploitasi atas kekayaan alam masyarakat daerah. Pola manajemen pemerintahan yang kapitalistik bisa dikatakan sebagai faktor penting penyebab terberangus dan terpinggirnya nilai-nilai masyarakat adat. Kearifan local sebagai modal social masyarakat adat perlahan-lahan terkikis oleh terjangan kapitalisme. Negarapun akhirnya dengan sengaja lebih memilih pola kapitalisme dalam melaksanakan usaha pembangunannya. Tapi kita lihat sendiri, selama 30 tahun Soeharto dengan pola manajemen pemerintahan yang seperti itu tidak berhasil membawa rakyat Indonesia ke era tinggal landas, malahan yang didapat kandas di tengah jalan. Negarapun akhirnya mengorbankan keragaman kulturnya termasuk mengeksploitasi secara besar-besaran sumber daya alam demi capaian pembangunan yang kuantitas itu.

Atas nama modernisasi, pemerintahpun membuat kebijakan yang kebanyakan di antaranya tidak berpihak pada keragaman kultur dan rakyat. Tarikan modernisasi ternyata lebih kuat dari pada usaha menjaga dan melestarikan identitas bangsa. Industrialisasi yang tampil bersamaan dengan modernisasi, dan itu yang dulunya Soeharto bilang sebagai pembangunan Indonesia, pada akhirnya hanya meminggirkan rakyat kecil. Akhirnya, ketika globalisasi yang memakai perangkat modernitas telah menjadi keniscayaan, maka tersentaklah kita. Apa kekuatan kita menghadapinya?

Fakih mengatakan: “…sesungguhnya globalisasi tidak ada sangkut paut dengan slogan kesejahteraan rakyat atau keadilan social di Negara-negara Dunia Ketiga, melainkan lebih didorong oleh kepentingan modal berskala global milik Negara-negara kaya dan perusahaan raksasa.

Bahkan menurut Fauzi, neoliberalisme di Dunia Ketiga merupakan babak kelanjutan dari pembangunisme. Namun, menurut Fauzi, neoliberalisme yang menggelar kuasa-kuasanya dengan cara yang berbeda dengan pembangunanisme, telah menjadi konteks baru dari gerakan-gerakan rakyat berbasis kultural di Dunia Ketiga. Maksudnya, kuasa-kuasa neoliberalisme yang hanya mengeksploitasi dan memiskinkan itu mendapat tantangan dengan lahirnya suatu kesadaran baru yang berwujud dalam gerakan-gerakan rakyat.

Agaknya, meski kondisi kita, rakyat dan masyarakat adat ibarat anak manusia yang kondisi tubuhnya lemah akibat perang, tapi, revolusi, kebangkitan peradaban dan pembebasan selalu datang dalam kondisi yang hampir rusak seperti ini. Kondisi yang menyengserakan seolah-olah mendorong kita untuk memaksimalkan semua potensi dalam melakukan gerakan perlawanan. Maka, sebuah gerakan rakyat berbasis kultural bagi Tou Minahasa adalah harga mati untuk sebuah perjuangan membebaskan diri dari cengkeraman totaliterianisme negara dan neoliberalisme global.

Gerakan rakyat berbasis kultural mari kita pahami sebagai cara untuk menemukan makna sebenarnya menjadi manusia dengan maryarakatnya yang merdeka. Gerakan rakyat berbasis kultural adalah gerakan pembaruan pemikiran dan aksi dalam merespon atau bahkan melawan kuasa-kuasa yang menindas, termasuk kuasa penyeragaman oleh negara yang masih berlanjut dan kuasa neoliberalisme yang telah menghancurkan kearifan lokal Tou Minahasa.

Apa yang harus kita buat dalam konteks gerakan rakyat berbasis kultural itu? Pertama, menurut saya adalah dengan cara memaknai kembali budaya kita Minahasa. Ini terkait dengan usaha pembaruan pemikiran kebudayaan kita. Interpretasi baru terhadap sejumlah sistem nilai peninggalan leluhur, seperti mapalus, prinsip “Si Tou Timou Tumou Tou”, semangat egaliter dan demokratis yang khas Minahasa perlu dilakukan. Kedua, semua elemen masyarakat Minahasa mestinya memiliki kesadaran bersama yang berwawasan nasional dan global yang berpijak dari perspektif lokal untuk memahami fenomena-fenomena yang sedang berlangsung. Misalnya, kita barangkali perlu bertanya, kenapa kita tiba-tiba menjadi konsumtif dan hedonis dengan gemar menikmati produk-produk kapitalis yang sebenarnya hanya mengeyangkan perut kita sesaat, tapi memiskinkan kaum kita? Kenapa kita kemudian berkelahi dengan kehadiran perusahaan-perusahaan milik asing seperti PT. MSM di Likupang? Tidak bisa kah kita sepahaman untuk menolak kuasa-kuasa ekonomi yang berbahaya bagi keselamatan Tanah ini? Kita juga perlu bertanya, apakah desentralisasi yang kita maknai antara lain dengan melakukan pemekaran di sana-sini, memang adalah kebutuhan kita? Berikut kita juga perlu mencermati fenomena korupsi yang dilakukan oleh kepala-kepala daerah atau pejabat-pejabat di daerah kita. Apakah mereka itu (yang diduga atau telah terbukti melakukan korupsi) memang rakus adanya, atau jangan-jangan otonomi daerah ini adalah perangkap yang sengaja dirancang oleh rezim untuk menghancurkan persatuan dan kesadaran kultural kita?

Ketiga, gereja-gereja atau agama-agama lain di Tanah Minahasa perlu melakukan evaluasi terhadap model berteologi yang sedang dijalankan sekarang. Sebab, pendahulu kita, telah cukup melakukan beberapa pencitraan negatif terhadap Tanah Minahasa dengan mengkafirkan sejumlah kearifan lokalnya. Berteologi dengan memperhatikan kekhasan dan kesakralan Tanah Minahasa adalah upaya teologis gereja atau agama-agama dalam ikut serta pembaharuan kehidupan peradaban Tanah Minahasa. Keempat, perguruan-perguruan tinggi, negeri atau swasta mestinya menjadi basis bagi (calon) pemikir-pemikir Minahasa untuk usaha kebangkitan Minahasa bersama. Di UKIT (YPTK), khususnya Fakultas Teologi, saya tahu memiliki kepedulian yang tinggi bagi usaha kemajuan Tanah Minahasa. Sejumlah hasil penelitian dosen maupun mahasiswa, menunjukkan semangatnya untuk memaknai Injil dalam konteks Tanah Minahasa. Usaha ini positif karena dengan begitu kita kemudian tidak mensubordinasi kebudayaan Minahasa di atas Injil. Pengalaman lalu, dengan masih kuatnya dominasi teologi Barat gereja tak lebih dari sebuah lembaga “sakral” yang kerjanya hanya medikte kebudayaan.

Kita memang akhirnya tak lagi harus berharap banyak dari negara untuk kemajuan tanah kita. Sebab, negarapun ada dalam penderitaannya sendiri akibat dikoyak-koyak oleh kuasa neoliberalisme sebagai bentuk kolonialisme dan imprealisme yang baru.

Inilah tantangan Tou Minahasa di abad globalisasi dan postmodern ini.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di

Harian Komentar Edisi 28 dan 29 November